Cool Japan

Jepang boleh saja dihempas Korean Wave atau bahkan Tsunami, namun scene musik Jepang selalu mempunyai tempat tersendiri di peta musik internasional berkat eksplorasi visual dan sounds yang mendobrak batas. Berikut adalah nama-nama yang mengibarkan kembali slogan Cool Japan.

Trippple Nippples

Sangat sulit untuk menjelaskan musik Trippple Nippples. Coba bayangkan saja tiga orang gadis Jepang bernama Yuka Nippples, Qrea Nippples dan Nabe Nippples yang bernyanyi dan bergoyang liar diiringi musik gabungan electropop dan dance punk yang dimainkan dua pria Australia dan satu pria Amerika yang tak kalah lantangnya. Fast and furious saja tidak cukup untuk menjelaskan penampilan mereka yang seperti ledakan acid di pesta sekolah seni paling seru dan paling absurd. Saya pertama kali mengetahui eksistensi mereka saat menonton seri dokumenter Tokyo Rising dari label sepatu boots terkenal Palladium, di mana Pharell Williams datang ke Tokyo sebagai host dan menyusuri creative industry Tokyo pasca tragedi gempa bumi dan Tsunami yang melanda Jepang bulan Maret tahun lalu. Di video itu (you still can watch it on YouTube, by the way), saya melihat aksi mereka di sebuah klub dengan mengenakan kostum handmade (beberapa kostum yang pernah mereka pakai meliputi spaghetti basi, bulu ayam hingga lumpur) juga body painting dan membuat semua penonton, termasuk Pharell, ikut berjingkrak kesetanan. Tak hanya Pharell, grup elektronik legendaris Devo pun terpincut dan mengajak Trippple Nippples menjadi opening act dalam US Tour mereka. Mendengar lagu-lagu energetik  seperti “LSD”, “Quetzalcoatl” atau “Cavity” (yang bercerita tentang seorang cewek yang menggosok gigi dengan lollipop dan berkumur dengan Cola), kamu hanya punya dua pilihan: terbengong karena takjub atau ikut berdansa seperti orang gila, which is the more fun option, obviously.

 

Mademoiselle Yulia

Istilah It Girl mungkin tidak terlalu familiar di Jepang, tapi jika ada satu cewek Jepang yang berhak menyandangnya, maka dia adalah Mademoiselle Yulia. Gadis berusia 24 tahun ini sudah membuat pesta-pesta underground paling hip di Tokyo sejak masih duduk di bangku kelas 2 SMA, termasuk pesta electro DJ legendaris bernama Neon Spread di tahun 2005 sepulangnya ia dari Inggris dan merilis mixtape bernama sama yang berisi lagu-lagu electro yang dimainkan di event itu. Sejak saat itu ia menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam club scene Jepang berkat kontribusinya sebagai MC, DJ, penyanyi juga style icon yang terkenal dengan rambutnya yang dicat biru (dicat sendiri olehnya yang sempat belajar di sekolah tata rambut) dan edgy wardrobe (mulai dari Jeremy Scott sampai baju vintage yang di-customize sendiri), jauh sebelum Lady Gaga terkenal. Saat ini, di antara berbagai kesibukannya yang meliputi menjadi kolumnis NYLON Japan, mendesain aksesori berdesain rockabilly dengan label Giza dan berkolaborasi dengan banyak musisi andal seperti Towa Tei, Uffie, Verbal, Teriyaki Boyz, termasuk yang paling terbaru dengan will.i.am di lagu “Blow Your Mind”, Yulia merilis album debutnya berjudul Mademoworld dengan single “Gimme Gimme” yang catchy dan video klip keren buatan seniman terkenal asal Perancis, Fafi. Dengan tur dunia bertajuk Angee Yung Robotz dan tampil di berbagai media style berpengaruh seperti Vice, Vogue dan NYLON, she’s more than ready to rule your world.

Nisennenmondai

Jepang punya sejarah panjang tentang girl band, yang bisa ditelusuri mulai dari Shonen Knife, The 5.6.7.8’s, Stereopony hingga The Suzan yang memainkan musik dengan pesona tersendiri dan skill yang tak kalah keren dari para musisi pria, namun trio perempuan Tokyo bernama Nisennenmondai mempunyai bekal yang lebih dari cukup untuk membawa fakta itu ke level selanjutnya. Masako Takada (gitaris), Yuri Zaikawa (bassist) dan Sayaka Himeno (drummer) membentuk Nisennemondai yang namanya diambil dari istilah Jepang untuk “Y2K bug” sejak tahun 1999 dan telah merilis tujuh album hingga saat ini. Melihat penampilan mereka yang tampak malu-malu khas perempuan Jepang, mungkin kamu tak akan menyangka jika mereka adalah maestro dalam hal meracik musik Japanoise dengan influens post-rock dan bebunyian eksperimental yang menari di garis tipis antara harmoni dan pure chaos. Walaupun tidak terlalu tertangkap radar media mainstream, berkat lagu-lagu instrumental garda depan seperti “Destination Tokyo”, “Sonic Youth”, “Ikkkyokume” dan “This Heat”, mereka sukses menjadi cult tersendiri di kancah internasional. Band ini pernah tampil sebagai opening act untuk Battles, Hella, Thurston Moore dan No Age serta menghiasi headline berbagai festival seperti Death By Audio di Brooklyn, Roskilde Festival di Denmark dan juga tur ke berbagai negara Eropa.

Kyary Pamyu Pamyu

Kiriko Takemura awalnya hanya satu dari ratusan anak SMA Jepang yang senang hangout di Harajuku, tempat di mana mereka bisa memakai pakaian seaneh mungkin tanpa resiko dihujani pandangan aneh dari orang-orang sekitar, namun ada suatu “Faktor X” dalam wajah imut dan personality-nya yang mengundang para fotografer street fashion untuk membidiknya sebagai model majalah mereka dan menjadikannya idola lokal tersendiri dengan nama Kyary Pamyu Pamyu. Tidak butuh waktu lama, popularitasnya terus naik ke skala yang lebih luas berkat blog pribadinya yang penuh tulisan menarik dengan bahasa slang bikinannya sendiri dan merilis koleksi bulu mata palsu rancangannya. Next thing she know, di usianya yang ke-18 tahun dia dikontrak Warner Music Japan dan menjadi penyanyi pop Jepang paling menarik saat ini dengan merilis single-single SUPER catchy (ya, saya harus meng-capslock kata itu) seperti “Cherry Bon Bon”, “Candy Candy” dan terutama “PonPonPon”, lagu bernada adiktif dengan video yang menjadi international hit di Youtube dan iTunes. Setelah merilis album debut Moshi Moshi Harajuku dan otobiografi Oh! My God! Harajuku Girl, Kyary sempat pergi ke Amerika Serikat untuk penampilan perdananya di luar negeri dengan tampil di Culver City dan membuat kita kembali terpesona dengan gaya street style Harajuku yang fantastically weird. Saya pun berpikir sendiri, mungkin kah Kyary pergi ke Amerika untuk mengambil kembali tahta Harajuku Princess dari tangan Gwen Stefani? Well in the mean time, kamu bisa melihat videonya di YouTube dan bersiaplah menekan tombol replay berulang kali.

White White Sisters

Jangan tertipu dengan nama band ini, pertama: Yuya Matsumura (vokalis/gitaris/programmer) dan Kazumasa Ishii (drummer) bukan perempuan kakak beradik, dan kedua: walau sekilas nama mereka terdengar innocent, nyatanya dua pemuda Nagoya ini memainkan electro-rock dengan elemen industrial yang mengingatkanmu akan era terbaik Nine inch Nails dan Boom Boom Satellites. Well, gaung musik industrial memang telah lama pudar, namun Kazu dan Yuya membawa daya tarik tersendiri ke genre ini berkat gabungan bunyi instrument organik dan digital, di mana Kazu menggebuk drumnya seakan tidak ada hari esok dan Yuya mencabik gitarnya sambil menyanyikan lirik berbahasa Inggris dengan efek loop dan vocoder (bayangkan saja Daft Punk bertemu Trent Reznor) yang terdengar di lagu-lagu seperti “Wasted”, “Spica” dan “Imperfect Conflict” dari EP mereka, [euphoriaofeuphobia] yang juga dirilis di Amerika Serikat. Dengan live performance yang selalu didukung visual mapping oleh VJ dan Art Director Kouta Tajima, duo ini berhasil memukau penonton di Summer Sonic, Canadian Music Week dan SXSW.

As published in NYLON Indonesia April 2012

Foto Trippple Nippples oleh Cedric Diradourian. Mademoiselle Yulia oleh Kazunobu Yamada. Nisennenmondai oleh Kim Hiorthoy. Kyary Pamyu  Pamyu oleh Natalie. White White Sisters oleh Sachie Kimura.

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s