Down to the Rabbit Hole, An Interview With Stars and Rabbit

Mendengarkan lagu Stars and Rabbit seperti membaca buku cerita yang tak ingin kamu letakkan sebelum selesai.

Saat tengah bersiap menyiapkan Radar 10 Local Music Heroes untuk Music Issue NYLON Indonesia tahun ini (April 2012), tentu saja kami sudah mempunyai bayangan siapa saja yang akan termasuk di dalamnya dan jujur saja salah satu yang paling pertama saya ingat adalah duo musisi Yogyakarta bernama Stars and Rabbit. Walaupun saya sudah mendengarkan beberapa lagu mereka sejak akhir tahun lalu dan ingin segera menulis tentang mereka, saya sengaja menyimpannya untuk edisi spesial musik ini, so, here it is.

Dijumpai di sebuah studio musik di bilangan Senopati, Stars and Rabbit yang terdiri dari gitaris dan arranger Adi Widodo dan Elda Suryani sebagai singer-songwriter baru saja menyelesaikan interview shoot untuk sebuah acara televisi, sebuah kegiatan yang tampaknya semakin lumrah bagi mereka belakangan ini. Memadukan vokal Elda yang unik dan kemampuannya menulis lirik imajinatif dengan musik gubahan Adi yang catchy, mereka tak hanya menjadi omongan di media musik dalam negeri, tapi juga sampai ke berbagai publikasi di Inggris, Italia hingga Islandia, walaupun mereka belum merilis album satu pun sampai saat ini.

Saat bertemu, mereka sedang membicarakan dialek daerah dari berbagai kota yang pernah mereka tinggali dengan bersemangat, terutama Elda yang sangat ekspresif saat menceritakan sesuatu. Elda yang baru sampai di Jakarta sehari sebelumnya terlihat ceria, walaupun mengaku dirinya baru saja sembuh dan mengalami kecelakaan kecil jatuh dari tangga. Jadwal Stars and Rabbit sendiri lumayan padat, menghabiskan satu hari di Jakarta untuk beberapa interview dan besoknya mereka langsung berangkat ke Bandung untuk sebuah gig. Anyway, pertanyaan pertama tentu saja bagaimana mereka bertemu. “I know him from my ex-boyfriend. They had a band. 6 or 7 years ago, dan kami berteman baik sejak itu. Tapi kami sempat hilang kontak dua tahun terakhir.” ungkap Elda. “Kalau aku sudah ngefans sama Elda sejak dia masih main di bandnya yang dulu, Candles. Dari dulu sebenarnya kami sering sharing masalah musik dan aku sempat beberapa kali bantuin beberapa project Elda, kami sempat lost contact cukup lama sampai akhirnya di pertengahan tahun 2011, Elda menghubungi aku buat project baru. Karena terlalu banyak rasanya hal-hal yang sayang untuk kami abaikan begitu saja, karena pemikiran dan visi yang sama, akhirnya kami melanjutkan project ‘Stars and Rabbit’ ini.” lanjut Adi. Walaupun saat itu mereka sudah memiliki beberapa lagu seperti “Like It Here”, “Rabbit Run” dan “Worth It”, nama band justru baru mereka pikirkan belakangan. Stars and Rabbit sendiri sebenarnya adalah nama akun personal twitter Elda, yang akhirnya dipilih karena dirasakan cocok untuk lagu mereka yang memang cenderung whimsical dan manis.

Bicara tentang musik mereka yang whimsical, hal itu tak lepas dari vokal Elda yang kerap dibilang mirip Joanna Newsom, Emiliana Torrini dan Cerys Matthews, namun gadis pengagum Jewel dan Vanessa Carlton ini mengaku jika cara bernyanyinya memang keluar begitu saja tanpa dibuat-buat, sama seperti lirik yang ia tulis. Walau tak bisa memainkan instrumen, jika mendapat inspirasi yang datangnya bisa dari mana saja, Elda akan mencoret-coret di buku doodling yang sering ia bawa, humming dan memetik senar gitar berdasarkan insting. Di saat itulah ia membutuhkan bantuan Adi yang akan menerjemahkan apa yang ada di pikiran Elda lewat musik. Proses bermusik yang berjalan dengan sangat natural untuk mereka. Lucunya, walau chemistry bermusik mereka sangat kuat, namun mereka mengaku jika sebenarnya mereka tidak terlalu nyambung kalau di luar musik. Untuk hang out pun mereka memiliki lingkup pertemanan masing-masing, walau tak bisa dipungkiri jika kedekatan keduanya memang terasa. “Dia itu sudah seperti kakak saya.” kata Adi sambil tersenyum, yang langsung disahuti oleh Elda, “Haha, kita kan cuma beda dua bulan padahal!”

Walaupun kini Adi menetap di Jakarta dan bekerja di sebuah Production House, sementara Elda masih menetap di Jogja sambil mengurusi toko handmade miliknya yang bernama Little Garage. Mereka mengungkapkan dengan yakin jika sampai kapanpun Jogja adalah rumah mereka, walaupun mereka sendiri bukan orang asli Jogja. “Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, Jogja dikelilingi gunung, laut, bukit dan orangnya pembawaannya laid back semua. Padahal dulu sebelum pindah dari Surabaya, aku sempat menolak tinggal di Jogja, eh begitu sampai di sini jadi nggak mau kemana-mana rasanya,” ungkap Elda. “Tapi itu juga yang menjadi salah satu ‘bahaya’ tinggal di Jogja, saking nyamannya banyak yang nggak mau mengembangkan diri keluar. Seperti adegan orang-orang yang makan bunga lotus di kasino di film Percy Jackson.” Lanjut gadis yang kerap memakai topi-topi lucu saat manggung ini. “If you want to do something, you must act now. Nggak usah takut, karena semua pasti ada jalannya sendiri.” Tutupnya dengan senyum lebar.

As published on NYLON Indonesia April 2012

photo by Muhammad Asranur

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s