Swedish Hymn, An Interview With Pallers

Lewat Pallers, Johan Angergård kembali membuatmu jatuh cinta lagi dengan dinginnya musik Swedia.

Saya yakin di satu titik hidupmu, kamu pasti pernah mendengar Swedish pop semacam Club 8, Jens Lekman, The Cardigans atau setidaknya band-band indie pop Indonesia yang banyak terinfluens oleh band-band daerah Skandinavia tersebut. Musik pop Swedia memang memiliki tempat tersendiri di ranah musik berkat kemampuan mereka meramu musik pop yang kreatif serta easy listening dan bila bicara tentang Swedish pop, mau tak mau kita harus menyebut Labrador Records sebagai ujung tombak dari scene ini berkat rilisan-rilisan influental seperti The Radio Dept, Pelle Carlberg, Sambassadeur dan banyak lagi. Di balik label ini ada seorang Johan Angergård yang merupakan tokoh penting bagi musik Swedia berkat perannya sebagai personel Acid House Kings, Club 8 dan The Legends atau pun menjadi produser untuk musisi-musisi muda Swedia seperti Amanda Mair. Kini bersama bekas teman satu flat-nya, Henrik Mårtensson, ia membuat proyek musik terbaru bernama Pallers dan merilis album debut The Sea Of Memories yang berisi lagu-lagu ambient down-tempo dengan soundscape elektronik yang kaya akan cerita.

Hi Johan, apa kabar? Apa saja yang sudah kamu lakukan hari ini?

Johan: Cukup baik. Saya seharian ini bekerja di Labrador menyiapkan rilisan Amanda Mair, apakah kamu sudah mendengarnya? Mungkin belum…albumnya baru keluar di Swedia. Dia gadis berumur 17 tahun yang sangat bertalenta. Sekarang saya akan membuat segelas kopi dan memasang vinyl Depeche Mode.

Sounds great, sekarang tolong ceritakan tentang proyek barumu, Pallers.

Johan: Saya dan Henrik sudah saling kenal cukup lama. Bertahun-tahun lalu saya punya band bernama Poprace bersama Karolina Komstedt (dari Club 8). Kami mencari pemain bass dan Karolina memberitahuku tentang Henrik, teman sekelasnya yang bermain bass dan mendengarkan The Smiths.  That sounded pretty great to us jadi kami mengajaknya bergabung. Henrik sebenarnya pernah co-writing sebuah lagu untuk Club 8 dan kami pernah membuat lagu instrumental bareng untuk Summer Songs EP. Pallers juga tercipta tanpa disengaja, saya merekam vokal untuk lagu, mengirimnya ke Henrik dan dia mulai memproduksinya. Hasilnya ternyata cocok dan lahirlah Pallers.

Bagaimana kalian membagi tugas untuk proyek musik ini?

Henrik: Kami berdua menulis lagu. Johan bernyanyi dan saya lebih banyak mengerjakan programming dan beat making, namun kami selalu berusaha menjaga lagu-lagu itu sesuai arah yang kami berdua mau. Lalu kami melakukan final touch dan mixing. Proses yang cukup memakan waktu sebetulnya, namun membuat kami berdua sama-sama puas.

Dibandingkan proyek-proyek musik sebelumnya, apa hal paling standout dari Pallers yang ingin kalian tonjolkan?

Johan: We have a very three-dimensional sound. Musik kami terbentuk dari banyak detail-detail kecil yang terjadi bersamaan dan menciptakan lanskap suara yang luas seperti sebuah dunia sendiri. Sebenarnya masih bisa dibilang musik pop karena melodi-melodinya terdengar pop, hanya saja setiap lagu dibangun dan terstruktur dengan cara yang sama sekali tidak pop.

Saat mendengarkan CD kalian, saya merasakan sensasi dingin tersendiri, apakah kalian setuju jika orang melabeli musik kalian sebagai Chillwave? Atau kalian merasa istilah Chillwave itu sendiri agak overrated?

Henrik: Kurasa semua “waves” selain ocean waves itu overrated. Saya tak melihat banyak persamaan antara kami dengan band-band yang disebut Chillwave. There is far too much ice on our waters for waves to form. Namun setiap orang bebas menyebut musik kami sesuka mereka. Tapi sebutan “Chillwave” itu sendiri juga nggak terlalu keren kok, apa sih artinya? “Death Metal”, “Stoner Rock” adalah genre yang terdengar keren. I´d join a genre if it had a name like that.

Johan: Saya tidak mendengarkan band-band Chillwave.

Swedia selalu memiliki tempat tersendiri di industri musik, apa pendapatmu sebagai orang yang bisa dibilang key figure untuk scene ini?

Johan: Saya tahu orang-orang yang mendengarkan band-band dari Labrador akan memandangnya sebagai sesuatu yang Swedish. Dan memang semua band Labrador berasal dari Swedia…tapi saya selalu ingin membuat sesuatu yang menjadi scene tersendiri dan saya selalu memandang Labrador sebagai label internasional. It’s just my taste in music dan saya berusaha memengaruhi selera musik itu ke orang lain. Kurasa saya menjadi tokoh penting dalam musik Swedia hanya kebetulan saja. I just wanted to be a key figure in my very own scene.

 Apakah kalian memiliki satu momen dari musik, film atau buku yang mengubah hidup kalian yang terus mengendap di sub-concious masing-masing dan muncul  lewat karya kalian?

Henrik: The Smiths really changed my life dan caraku melihat diri sendiri dan orang lain tapi saya tak pernah memikirkan mereka saat membuat musik. Sejak tahun 1995, Autechre juga mengubah pandanganku pada musik dan saya sering memikirkan style bermusik mereka dengan sadar. Kita tentu mendapat inspirasi dari hal-hal yang kita lihat, baca atau dengarkan dan entah bagaimana mereka akan muncul saat kita membuat sesuatu. Autechre, The Smiths, Burial, film seperti Gummo dan My Life as a Dog atau buku The Dice Man adalah hal-hal yang mengubah hidupku tapi jika salah satu dari mereka muncul di musik kami, saya tidak bisa mengingatnya.

Johan: Saya juga akan bilang The Smiths. Mereka memengaruhi banyak sisi dari hidupku, it’s silly. Saya mungkin saat ini sedang mengerjakan sesuatu yang benar-benar lain jika saya tak pernah menemukan mereka.

Apa yang sedang kalian dengarkan akhir-akhir ini?

Henrik:  HTRK, Grouper, Andy Stott, Jacques Greene, Demdike Stare dan Starlet.

Johan: Amanda Mair, A Place to Bury Strangers, Cosmetics, King Creosote dan Jon Hopkins.

 Rencana berikutnya untuk Pallers?

Henrik:  More music.

Apa pesan kalian untuk yang sedang membaca artikel ini?

Johan: Thank you for being you. Jangan lupa berkunjung ke Pallers.se!

Henrik: Have fun and take care of your loved-ones!

As published in NYLON Indonesia April 2012

Foto oleh Henrik Mårtensson

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s