The Cool Kip, An Interview With Kip Berman from The Pains of Being Pure At Heart


Kip Berman dari The Pains of Being Pure At Heart adalah contoh anak baik-baik yang tampil keren dengan caranya sendiri.

Kip Berman, vokalis dan gitaris The Pains of Being Pure At Heart, terbiasa hidup dalam dikotomi. Saat masih sekolah dulu, ia mendengarkan Nirvana, The Exploding Hearts, Sonic Youth dan rajin mendatangi acara-acara punk namun selalu menyempatkan diri untuk belajar dan membuat PR. Kini, pemuda kurus yang dulu mengenakan celana khaki di gig punk dan menggambar simbol anarki di meja sekolahnya ada di depan saya sebagai frontman salah satu band indie-pop paling menarik saat ini. Peggy Wang (keyboardist), Alex Naidus (bassist) dan Kurt Feldman (drummer), personel lain dari band asal Brooklyn ini masih melakukan sound check, menyisakan Kip sendirian untuk menghadapi rentetan interview hari itu. Wajahnya terlihat lelah namun senyumnya langsung mengembang saat saya menghampirinya di ruang kecil di dalam Balai Sarbini, tempat yang menjadi venue penampilan pertama mereka di Indonesia. Terlepas dari hujan deras disertai petir hari itu, ia mengaku sudah menikmati segelas kopi dan beberapa donut, jadi “So far so good,” jawabnya sambil tersenyum saat saya menyapanya.

Rutinitas interview dan touring ke berbagai kota di dunia jelas bukan sesuatu yang mereka targetkan saat mulai bermain musik bersama sejak tahun 2007 lalu, Band ini terbentuk dengan spontan saat Alex dan Kip ingin merayakan pesta ulang tahun Peggy dengan tampil di sebuah gudang pabrik di Brooklyn, di mana mereka menyanyikan 5 lagu dalam durasi 10 menit saja. Dari situ mereka mengajak Kurt, teman sekamar Kip untuk mengisi posisi drummer dan mulai tampil di berbagai gig-gig kecil. Nama The Pains of Being Pure At Heart mungkin terdengar seperti nama band emo, namun pada kenyataannya band ini kerap dicap sebagai musik twee dengan referensi dari My Bloody Valentine dan band-band C86. Mereka jelas bukan yang pertama membuat kembali musik-musik bermelodi pop dengan reverb dan noise di sana-sini, namun berkat lagu-lagu seperti “Contender”, “Everything With You” dan “The Tenure Itch” yang terdapat di self-titled debut mereka dan fakta jika keempat anak ini berasal dari Amerika Serikat di mana twee adalah sesuatu yang undetected, membuat mereka mempunyai nilai lebih yang akhirnya membuat Pitchfork menobatkan mereka sebagai The Best New Music. Thanks to the internet, nama mereka kini tak hanya dikenal anak-anak hip di New York saja, tapi juga seluruh dunia.

Band yang awalnya harus menempuh perjalanan jauh ke Tallahassee hanya untuk tampil di depan penonton berjumlah lima orang di sebuah toko sandwich kini menjadi headliner untuk festival musik sekelas Coachella, SXSW, Summer Sonic dan menghabiskan banyak hari di kota-kota asing yang tak pernah didatangi sebelumnya dalam rangka tur album kedua mereka, Belong. “Apa yang saya nikmati dari tur? Hal yang paling dasar tentu saja berpergian itu sendiri,” ujar Kip, “Seperti Jakarta misalnya, ini adalah salah satu tempat di dunia yang mungkin tak bisa saya datangi jika saya mempunyai pekerjaan reguler. Saya memiliki kesempatan untuk bertemu orang-orang menarik di berbagai penjuru dunia yang menyukai hal-hal yang saya sukai juga lewat musik.” Lanjutnya sambil kemudian menyebutkan tiga hal yang paling ia rindukan di rumah, which are laundry, his girlfriend dan masakan ibunya.

“Saya tidak minum alkohol sebelum tampil, beberapa orang merasa lebih nyaman jika mereka minum dulu sebelum show, tapi saya ingin menampilkan sisi terbaik saya yang bisa ditunjukkan dalam setiap show. Biasanya saya hanya mondar-mandir di sekitar venue atau bermain scrabble di ponsel saya bersama personel lainnya.” Ungkapnya saat saya bertanya tentang pre-show ritual. Suatu pernyataan menarik dari vokalis yang menyanyikan banyak lirik patah hati berbau teenage angst seperti “You’re taking toffee with your vicodin, something sweet to forget about him,” di lagu “Young Adult Friction” dan baru-baru ini merilis EP berjudul Acid Reflex yang berisi 4 lagu dari album Belong yang di-remix oleh Saint Etienne, Twin Shadows, Violens dan Washed Out. “Tapi setelah show, biasanya saya pergi minum-minum bersama orang-orang yang datang ke show saya.” Lanjutnya. Well, either its beer or just milkshake, Kip adalah sesosok teman minum yang asik untuk membicarakan musik indie atau anarkisme.

As published in NYLON Indonesia April 2012

Foto oleh Muhammad Asranur.

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s