The Warring Sound, An Interview With Polka Wars


Satu hal yang lebih menarik dari nama Polka Wars? Their music, of course. 

Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore, tapi temperatur hari itu masih ridiculously hot dan ketika saya menjumpai para personel Polka Wars, tampaknya mereka sedang terlibat debat yang tak kalah panasnya. “Setiap kami ngumpul pasti 60% nya diisi dengan debat, dari ngomongin musik sampai hal-hal nggak penting haha.” Ujar Giovanni Rahmadeva, drummer band Jakarta ini. Berdebat memang cara mereka menghabiskan waktu dengan efektif sambil menstimulasi ide-ide baru, dan saat ditanya siapa yang paling jago debat di antara mereka, serempak mereka menunjuk vokalis/gitaris Karaeng Putra Adjie yang ternyata seorang juara debat di kampusnya (Fakultas Teknik UI). Polka Wars sendiri terbentuk dari pertemanan saat Aeng, Xandega Tahajuansya (bass) dan Billy Saleh (gitar) masih bersekolah di Al-Izhar Pondok Labu, sebelum Deva yang dua tahun lebih senior menawarkan bantuan untuk menjadi drummer di band yang sebelumnya bernama Polka Walks ini.

My first question, of course, nama band mereka yang cukup menarik perhatian, yang tentu saja sudah melewati proses debat panjang dan masing-masing membuat list nama band untuk diusulkan, termasuk nama “Zolim Mental” dan “Zinah Astral” usulan Dega (he used to play metal). “Sengaja diganti ‘walks’ nya biar lebih gampang diucapin dan kesannya lebih rusuh, lebih jagoan haha, kalau ‘polka’ kan kesannya imut atau feminin,” ujar Billy. “Kalau dicari bisa ada maknanya, tapi apa sih nama doang, kami juga bukan band yang mentingin banget nama, jadi ya nggak dipikirin banget, lebih fokus ke musiknya sih,” cetus Dega tentang nama bandnya, “Tapi gue juga mikir kalau band namanya udah catchy pasti lebih cepat nyangkut lah, lo nggak tau bandnya tapi mungkin pernah dengar namanya, kalau di poster gig lumayan bisa bikin orang penasaran lah.”  Tambahnya.

While their name in some way suggest hipster friendly tunes, faktanya dua lagu yang ada di akun Soundcloud mereka yaitu “Coraline” dan “Horse Hooves” adalah indie alternative/post-rock beraransemen dinamis yang mengiringi Aeng bernyanyi dengan suara bariton. “Agak sebal sih, soalnya untuk lagu Ini vokal gue memang keluarnya kaya gini, untuk lagu yang lain feel-nya pasti akan beda. Mungkin karena masih jarang range vokal bariton di Indonesia jadi orang refer-nya selalu ke Paul Banks.” Jawab Aeng tentang vokalnya yang sering dibilang mirip vokalis Interpol itu. “Sebenarnya kalau influence banyak banget, tapi mayoritas orang yang baru dengar lagu kami bilangnya ini Interpol banget ya, Local Natives banget, ini kekinian atau apalah.” Ungkap Deva. “Lebih banyak ke Interpol karena vokalnya juga sih. Gue sama Aeng memang suka Interpol tapi waktu bikin lagu ini nggak pernah mikir Interpol sama sekali dan hal itu keluar dengan sendirinya. Gue juga belum lama ini baca interview vokalis Fleet Foxes tentang album barunya yang dibilang berbau Simon & Garfunkel, dia jawab yang namanya influence itu memang ada di alam bawah sadar kita.” Sambung Dega.

Terbentuk tahun lalu, mereka menghabiskan setahun pertama untuk proses songwriting serta mengeksplor musik yang mereka buat, d imana setiap personel mempunyai peranan kreatif yang sama besar. Horn section yang ada di penghujung “Coraline” misalnya, tercetus dari inisiatif Deva meminta Uga Swastadi, temannya yang kuliah musik di Berklee, untuk membuatkan horn section danmengajak Sistha Anindya mengisi part saxophone dan keyboard di lagu itu. Untuk saat ini, mereka tengah berkonsentrasi memantapkan materi yang ada dan memperbanyak pengalaman manggung. “Main live itu seperti rediscovering ourselves sebagai band, contohnya ‘Horse Hooves’ udah dibawain berapa kali dan bentuknya sudah beda banget dari versi teaser yang kami upload dan mungkin nanti rekaman finalnya juga akan beda.” Ucap Dega. Short term plan mereka yang lain adalah mencari manajer dan tentu saja mempersiapkan debut album dengan maksimal. “Gue pengen punya semacam prasasti di mana ada yang mengingatkan gue tentang masa tertentu saat gue bahagia dan gue bikin sesuatu.” Tegas Dega yang disepakati teman-teman sebandnya.

Polka Wars jelas masih bisa dibilang sebagai anak kemarin sore dan tentu banyak “perang” lain yang harus mereka hadapi untuk survive di industri ini, tapi dengan dua lagu yang menjanjikan itu, anggap saja, they’re already win the first battle.

As published in NYLON Indonesia November 2011

Foto oleh Tito Van D’artie

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s