Sweet Dreams, An Interview With Silver Swans

Silver Swans mengajakmu bermimpi indah bersama album terbaru mereka, Forever.

Saya kurang percaya dengan yang namanya love at the first sight, tapi sebagai seseorang yang harinya dihabiskan untuk mencari band-band baru yang menarik, I do believe with love at the first heard. Kamu tahu kan terkadang kita hanya membutuhkan beberapa detik intro atau sebait lirik untuk menyukai sebuah lagu. Well, itulah yang saya rasakan saat pertama kali mendengar lagu berjudul “Secrets” dari duo electro dream pop bernama Silver Swans ini. Memadukan vokal soprano yang ethereal milik vokalis Ann Yu yang dikemas dengan blissful synth dari DJ dan produser Jon Waters, “Secrets” adalah lagu pop jenial dengan modus operandi yang mengingatkanmu akan momen-momen termanis Asobi Seksu, The Knife, School of Seven Bells dan Ladytron. “Jon menghubungiku untuk berkolaborasi dalam sebuah lagu. Saya belum pernah membuat musik elektronik sebelumnya jadi saya sangat excited untuk mencobanya. Lalu saya menyadari betapa saya menikmati proyek ini jadi kami terus stay in touch dengan bertukar file-file musik lewat email. Akhirnya terkumpul koleksi materi lagu yang cukup banyak walaupun kami sangat jarang bertemu langsung. That’s when we decided we should meet more often, haha.” Ungkap Ann yang sebelumnya juga dikenal sebagai vokalis LoveLikeFire, band indie rock asal San Fransisco yang sudah merilis tiga album.

Dengan influens awal yang meliputi The Radio Dept., Cocteau Twins, old school R&B hingga Enya, Jon dan Ann menganalogikan musik dream pop yang mereka buat dengan kota tempat tinggal mereka sekarang, San Fransisco. “Saya jatuh cinta dengan kota ini setiap harinya. Kota ini sangat menginspirasi untuk bermain musik dan cuacanya yang silih berganti hangat dan berkabut sangat sesuai dengan mood-ku yang sering naik-turun.” Ujar Ann yang lahir di Las Vegas. Rasa yang sama juga dialami oleh Jon yang berasal dari Inggris, “San Fransisco adalah rumah kedua saya. Saya besar di Birmingham, sebuah kota yang dipenuhi pabrik dan atmosfer yang secara umum terasa suram. SF memiliki suasana dingin dan lembap yang sama namun dengan sinar matahari yang cukup untuk membuatmu merasa nyaman.”

Setelah di tahun 2010 mereka merilis album debut bertajuk Realize The Ghost, kini mereka kembali dengan album baru berjudul Forever yang dirilis oleh Twentyseven Records, label New York milik Clyde Erwin Barretto yang juga merilis The Drums dan memperkenalkan musisi Swedia seperti Pelle Carlberg ke audiens Amerika. Album berisi 11 lagu ini masih menawarkan hook synth yang cantik namun dengan warna yang lebih beragam dari pendahulunya, mulai dari Afro-pop (“Arrows” dan “Let It Happen”), doo-wop (“Diary Land”) hingga dub (“Mother of Pearl”), walaupun momen favorit saya di album ini tetap di lagu-lagu seperti “Secrets” dan “Meet Me Somewhere Nice” yang dreamy, shoegaze-y dan misterius. “Forever bercerita tentang teman dan kekasih.  Album ini ibarat memeluk bantal di tengah malam sambil berbincang dengan teman lamamu sampai pagi menjelang. Tentang memandang mata seseorang yang kamu sukai dan tersesat dalam rasa suka itu, tentang berpegang kepada kesedihanmu dan menjadikannya sesuatu yang indah. It’s about dreams that will never die.” Cetus Ann tentang konsep album yang desain sampulnya menampilkan dua orang yang sedang berpelukan (which are Ann’s cousin and her boyfriend) tersebut.

Sebelum ini, mereka juga sempat meng-cover beberapa lagu dari Fleet Foxes, The National dan “Video Games” milik Lana Del Rey yang sukses menimbulkan hype tersendiri di berbagai blog musik berkat kesuksesan mereka membawakan lagu itu dengan gaya mereka sendiri yang nostalgic. Hal apa yang membuat mereka tertarik untuk meng-cover sebuah lagu? “Saya selalu terbius dengan nostalgia dari sebuah lagu. Sesuatu dari cara seseorang menyanyikan sebuah cerita yang bisa membuatmu sedih. Kami sempat membicarakan untuk meng-cover lagu Weezer dari album Pinkerton atau Blue Album. Saya melewati masa remaja sambil mendengarkan Weezer dengan relijius dan kurasa akan menyenangkan untuk kembali ke masa-masa itu dengan membawakan salah satu lagu mereka dengan gaya kami.” Jawab Ann dengan bersemangat. Yang jelas, berbekal album bagus dengan review media yang juga bagus, mereka sukses mendapatkan spot di SXSW tahun ini di antara banyak gig lainnya sambil berharap bisa tampil di Asia dan Eropa. Sebagai penutup, saya pun meminta duo ini mengungkapkan rahasia terbesar mereka yang belum terungkap. Saya mengharapkan jawaban yang whimsical atau sureal, namun dengan enteng mereka menjawab: “We love Nicki Minaj.”

Well, that’s quite surreal for sure.

As published in NYLON Indonesia April 2012

Foto oleh Miwah Lee.

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s