The Epiphany of Dee, An Interview With Dewi Lestari

Menjawab penantian panjang para penggemar serial Supernova, Dewi Lestari memberikan kepingan puzzle terbarunya, Partikel. 

Delapan tahun bukan waktu yang singkat untuk menunggu sesuatu yang kamu idamkan, dan dalam hal ini, sesuatu itu adalah sebuah buku karya Dewi “Dee” Lestari. Terlepas apakah kamu penggemar karya penulis Indonesia atau bukan, saya yakin kamu tahu tentang Supernova: Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh, novel pertama Dee yang dirilis tahun 2001 dengan respons yang sangat baik. Berturut-turut, Dee lalu merilis sekuelnya, Akar di tahun 2002 dan Petir di 2004 yang membuatnya mendapat fan base yang loyal serta menjadi salah satu nama paling menarik dan dicintai di ranah literatur negeri ini. Pembaca pun terus dibuat penasaran dengan kelanjutan serial yang akan dirilis dalam 6 buku ini (heksalogi) dan saya yakin saya bukan satu-satunya orang yang kerap “meneror” Dee tentang kapan episode-episode selanjutnya dirilis. Namun, Dee tampaknya ingin beristirahat sejenak dari Supernova dan menulis beberapa buku seperti Filosofi Kopi, Rectoverso, Perahu Kertas dan Madre dalam rentang waktu 8 tahun itu, hingga akhirnya tanggal 13 April lalu tepat pukul 4:44 sore, buku keempat Supernova yang berjudul Partikel dirilis serentak di beberapa toko buku terpilih. Menjelang dirilis, Partikel sudah menimbulkan histeria tersendiri di dunia maya berkat promosi di Twitter yang berhasil menyedot perhatian para penggemar lama yang memang sudah lama menanti dan penggemar baru yang tak kalah penasaran. Di beberapa situs yang menyediakan pre-order, Partikel pun masuk ke daftar best seller hingga sudah naik cetak dua kali bahkan sebelum benar-benar dirilis.

Partikel sendiri masih mengikuti pattern dari dua episode sebelumnya, Akar dan Petir yang menceritakan satu tokoh sentral sebagai inti cerita (Bodhi dan Elektra, respectively). Partikel memperkenalkan tokoh Zarah, seorang gadis yang memiliki kedekatan khusus dengan alam, yang harus berhadapan dengan banyak misteri besar dalam hidup dan rangkaian twist of fate yang mengantarkan gadis kelahiran Bogor ini ke berbagai penjuru dunia sebagai seorang wild life photographer dengan misi mencari ayahnya yang tiba-tiba menghilang. Dee dengan luwes memadukan hal-hal yang membuatmu berpikir keras dengan cerita yang mudah dicerna menjadi kesatuan cerita yang enggan kamu lepas sebelum selesai. Di balik elemen rumit (suatu hal yang menjadi keasikan tersendiri serial ini) seperti UFO, konservasi alam, enteogen, spiritualitas, religi, dan sains, Partikel juga bisa disebut sebagai coming-of-age story dari seorang Zarah, di mana sejak belia ia kerap berbenturan dengan sistem sosial dan agama yang penuh stigma, mempertahankan prinsip pribadinya, broken marriage orangtuanya, mencari arti “rumah” sebenarnya, melepas virginitas, serta jatuh cinta dan patah hati seperti gadis-gadis lain seumurnya.

Tak lama setelah menyelesaikan novel ini, saya menghubungi Dee untuk berbincang tentang Partikel dan episode-episode berikutnya.

Awalnya, hal yang paling ingin saya tanyakan adalah begitu lamanya rentang waktu dari Petir ke Partikel, but you already explain about it on the book itself, jadi saya akan mengganti pertanyaan tersebut dengan:  how do you feel right now setelah Partikel akhirnya dirilis?

Mixed of feelings. Yang mendominasi tentu saja rasa lega, sekaligus excited ingin tahu respons pembaca bagaimana, apalagi mereka yang sudah menunggu bertahun-tahun. So far, I’m overwhelmed with the warm response, beyond happy!

Bolehkah saya meminta Anda untuk sedikit mengingat kembali saat pertama kali memulai menulis Supernova?

Saya menulis Supernova tahun 2000, tak lama setelah saya mengalami semacam “epifani” personal yang mengubah total pandangan saya terhadap spiritualitas, religi, dan sebagainya. Dulu tujuannya bikin Supernova sebetulnya tidak lebih dari berbagi penelusuran spiritual pribadi saya.

Bagian apa yang paling susah dan menyenangkan dalam menyelesaikan Partikel?

Paling susah adalah waktu. Saya menulis Partikel dalam kondisi sudah ada anak dua, yang satu sudah SD, yang satu masih balita, di tengah gempuran berbagai urusan pekerjaan dan mengurus rumah tangga. It felt almost impossible. Tapi dengan dukungan suami saya dan orang-orang rumah, keleluasaan dari penerbit, dan juga tekad yang memang sudah bulat untuk menyelesaikan manuskrip Partikel, akhirnya bisa juga. Yang paling menyenangkan tentunya adalah proses menulis itu sendiri. Bisa tenggelam dalam semesta kehidupan karakter saya. It’s a pleasant and exciting process, bahkan saat sulit sekalipun. If it’s pain, then it’s a good pain.

Buku-buku atau materi apa saja yang paling membantu Anda sebagai referensi/bahan riset untuk Partikel?

Setiap bagian atau babak punya referensi tersendiri. Tiga yang paling membantu adalah buku-buku dan penelitian Paul Stamets tentang fungi, Graham Hancock tentang enteogen, dan Birute Galdikas tentang orang utan. Selain itu masih banyak lagi, tapi bisa dibilang pondasi terkuat adalah tiga penulis tadi.

Di Partikel Anda menuliskan dengan begitu gamblang tentang efek dari enteogen, apakah Anda juga mencoba mengonsumsinya untuk mengetahui efeknya?

Sayangnya tidak. I wish, though. Tiga tahun lalu saya sudah berencana ke Peru, tapi batal karena hamil anak kedua. Akhirnya, murni riset. Tapi, pengalaman bermeditasi amat sangat menolong. Ketika saya membaca dan tanya jawab dengan mereka yang sudah mengalami, saya sangat bisa relate.

Saya tidak bisa menahan diri untuk bertanya, kapan episode berikutnya, Gelombang, akan dirilis? Apakah Anda sudah mulai menulis beberapa bagiannya atau belum sama sekali?

Semua episode Supernova sudah saya buat konsepnya sejak 2001. Jadi embrio Gelombang sudah lama ada. Rencananya saya menulis maraton, sih. Jadi tidak ada proyek menulis lain sampai Supernova selesai.

Bagaimana dengan project lainnya? Saya dengar Perahu Kertas sedang difilmkan, bagaimana keterlibatan Anda dalam pembuatannya?

Perahu Kertas sudah selesai syuting, akan tayang Agustus. Saya menulis skenario dan menggawangi hingga proses casting kemarin. Sisanya sudah di tangan Hanung Bramantyo dan para produser. Untuk menulis, saya akan melanjutkan penulisan Supernova selanjutnya. Sekarang masih dalam tahap riset. Ada beberapa buku saya lain yang akan difilmkan juga, tapi saya nggak akan terlibat jauh. Mau menyelesaikan Supernova dulu.

How do you manage to balance the family life and writing?

I don’t think there’s any certain formula to that. Dijalankan saja, lengkap dengan trial dan error tentunya. Selalu ada konsekuensi. Ketika menulis Partikel, saya sempat “disapih” (berhenti menyusu – red.) oleh Atisha, anak kedua saya, padahal saya masih berencana menyusuinya. Mungkin dia merasa vibrasi ibunya jadi agak lain. Tapi begitu manuskrip selesai, pelan-pelan dia balik lagi menyusui. Sekarang sudah normal lagi. Suamiku, yang untungnya terapis, juga kenyang dengan ups and downs yang saya alami, ketika stuck, ketika riset mentok. He was really, really, my strongest pillar throughout the process.

Untuk sekarang, apa yang sedang Anda inginkan?

Beristirahat dulu. It was quite a roller coaster, secara batin terkuras tiap kali menulis intensif.

Apa mimpi-mimpi Anda yang belum terwujud?

Hmm. Apa, ya. Saat ini rasanya saya lebih condong melihat sesuatu jarak pendek, nggak terlalu panjang-panjang lagi. Dalam jarak dekat ini “impian” saya adalah menyelesaikan Supernova. Tapi sebetulnya itu lebih ke target daripada “mimpi”.

Ok, any last word for this time?

Bacalah Partikel. Hehe.

As published in NYLON Indonesia May 2012

Advertisements

One thought on “The Epiphany of Dee, An Interview With Dewi Lestari

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s