World Citizens, An Interview With Young Magic

Young Magic mendokumentasikan setiap kota dan memori dalam perjalanan lewat album debut mereka, Melt. 

Hi Lex, sorry for the long delay, we’ve just got back from a crazy time in Texas,” demikian Melati Malay, vokalis/gitaris dari trio kolektif musisi Young Magic, membuka email balasan interview yang memang telah cukup lama saya tunggu. Perjalanan mereka ke Texas untuk tampil di SXSW memang bisa dibilang cukup gila di mana Melati bersama dua rekannya, Isaac Emmanuel (vokalis/sampler) dan Michael Italia (perkusi/sampler) harus hitchhiking ke venue festival tahunan tersebut dan berhadapan dengan soundman yang tidak becus sehingga show pertama mereka cukup berantakan. Untungnya, penampilan kedua mereka yang mendapat jadwal sebelum Chairlift adalah kebalikannya, semua berjalan lancar dan mereka bisa tampil maksimal.

Well, berkendara ke Texas selama 30 jam dan harus langsung naik ke atas panggung begitu sampai memang terdengar tak menyenangkan, namun mereka bertiga telah terbiasa dengan perjalanan jauh, termasuk ke Reykjavik untuk tampil di Iceland Airwaves bulan Oktober lalu, tour keliling Amerika Serikat dan Kanada bersama Youth Lagoon, dan saat membalas email ini pun mereka sedang berada dalam mobil dari Washington DC menuju Chicago untuk mini tour bersama Korallreven. Proyek musik ini berawal saat Isaac meninggalkan rumahnya di Australia dengan hanya membawa sebuah koper untuk menyusuri Eropa, New York lalu ke Meksiko sambil membuat musik dengan instrumen apapun yang bisa ia temukan. Saat di Meksiko, ia menghubungi teman lamanya di Melbourne, Michael, yang ternyata juga sedang melakukan perjalanannya sendiri sambil membawa alat perekam portable untuk dokumentasi. Mereka memutuskan bertemu di New York bersama teman lama mereka, Melati, seorang vokalis kelahiran Indonesia yang berdomisili di Brooklyn dan akhirnya sepakat menyatukan musik masing-masing dengan menyewa tempat di atas bekas panggung cabaret tahun 1920-an di kota Big Apple tersebut. “New York mempunyai sejarah menarik tentang imigran, kaum nomad, dan budaya para pemikir revolusioner. Saya ingin dikelilingi energi tersebut dan berharap mendapat pengaruh dari hal itu.” tukas Melati tentang keputusan mereka berlabuh di New York.


Hasil dari tiga kepala dengan tiga cerita perjalanan yang berbeda tersebut adalah Melts, sebuah album debut rilisan Carpark Records yang mengaburkan batas masa lalu dan masa depan lewat unsur world beats, psych, dream pop hingga hip hop yang terwujud dalam lagu-lagu seperti “Sparkly”, “You With Air”, “Night In The Ocean”, termasuk lagu berjudul “Jam Karet”. Setiap lagu adalah kolase bunyi wanderlust yang dibuat di 10 kota dunia, meliputi Buenos Aires, Berlin, Melbourne, Bristol, Rio de Janeiro dan tentu saja, Brooklyn. “Saya rasa, unsur wanderlust itu adalah bagian tak terpisahkan dari kami dan tak sebatas eksplorasi dalam bermusik saja, namun juga menyentuh keseharian dan rencana kami yang akan datang. Tempat terbaik bagi saya adalah berdiri di ujung tebing sambil melihat lautan kemungkinan yang tak berujung. Musik kami adalah suara yang tercipta jika ada satu atau dua lapisan yang tercuri dari dunia nyata. There aren’t defined edges or obvious outlines that slap you in the face, instead, it all tends to bleed into each other.” ungkap Melati yang lahir di Jakarta dan menghabiskan masa kecilnya di Indonesia dengan naik kuda di Bromo, menyaksikan lelehan lahar Merapi dan belajar bermain Gamelan di kota asal ibunya, Yogyakarta.

Saat ditanya tentang musisi yang berpengaruh dalam musik mereka, Melati justru memberikan saya link ke beberapa mixtape yang telah mereka buat, dan salah satunya adalah The Maps, sebuah mixtape berisi lagu musisi favorit mereka (Prince Rama, Dom Salvador, Dorothy Ashby, dll), rarities, remixes, demo dan lagu-lagu b-side dari Melts yang bisa diunduh gratis di cargocollective.com dan juga diproduksi dalam bentuk kaset yang dikemas dengan halaman-halaman berwarna National Geographic. Sebuah langkah menarik yang juga memperkuat musik mereka yang memang kental dengan berbagai cultural image. Seperti biasa, saya menutup interview ini dengan bertanya tentang next project mereka sebelumnya, yang dijawab cepat oleh mereka dengan kalimat. “Another album, another adventure, another story.”

As published in NYLON Indonesia June 2012

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s