High And Dried, An Interview With Dried Cassava

Tanpa perlu berekspektasi terlalu tinggi, Dried Cassava membuktikan mereka siap melompat lebih jauh bersama album debut mereka, Mind Thieves.

Memang tak ada yang lebih menyenangkan daripada bermain band dengan teman-teman yang sudah akrab sejak lama, salah satu contohnya adalah Dried Cassava, band Jakarta yang menarik perhatian para pencinta musik berkat lagu-lagu alternative rock mereka yang kental dengan unsur blues dan funk. Terdiri dari vokalis & gitaris Baskoro Adhi Juwono, drummer Kago Mahardono, bassist Bana Drestanta dan Nandie Daniel Febryan sebagai gitaris, rasanya memang sudah cukup lama kita tak mendengar band Indonesia dengan aransemen funk yang begitu asik tanpa terkesan berlebihan, dan keempat lulusan SMA Pangudi Luhur Jakarta ini berhasil melakukannya nyaris tanpa cela. Setelah bulan lalu saya sempat menulis sedikit tentang album debut mereka yang berjudul Mind Thieves, menjelang sore di bilangan Kemang saya berkesempatan untuk mengobrol langsung dengan band yang terbentuk tahun 2005 ini.

“Awalnya gue sama Nandie suka main akustikan, terus akhirnya diseriusin bikin band dengan ngajak Kago dan Bana. Pertama-tama kami sering mainin lagu-lagu Rage Againts the Machine, Incubus dan Radiohead, ikutan kompetisi sampai akhirnya mulai membuat lagu sendiri, tapi belum terpikir untuk sampai bikin album. Dulu kita berharapnya sih ditarik sama label, tapi kalau nungguin ditarik label itu rasanya terlalu lama jadi kami ngumpulin uang sendiri, rekaman di Sinjitos sampai akhirnya kami rilis Mind Thieves di bulan Juni kemarin.” Ungkap Baskoro yang akrab dipanggil Abas tentang bagaimana mereka terbentuk.

Selalu ada cerita menarik tersendiri jika berbicara tentang nama band, tak terkecuali bagi Dried Cassava, nama yang mungkin akan membuat sebagian dari kita mengerutkan kening dan bertanya-tanya. “Kami baru sadar arti Dried Cassava itu sekitar dua hari setelah ditentukan, jadi ceritanya kami mau ikut satu gig yang paling besar, jadi kami memutuskan cari nama yang akan dipakai seterusnya. Gue random buka-buka kamus lalu menemukan dua kata itu, dried cassava, yang terjemahannya di kamus itu adalah ‘gaplek’, gue kira gaplek di situ adalah kartu domino, personel yang lain juga sudah setuju dan nggak ada yang sadar artinya. Baru ketika sudah masuk poster, ada teman gue yang nanya ‘Eh nama band lo itu Dried Cassava ya? Itu artinya bukannya singkong kering ya?’ terus dari situ gue baru sadar, ternyata gaplek yang dimaksud di kamus itu adalah sejenis makanan tradisional yang terbuat dari singkong haha” cerita Nandie panjang lebar tentang nama bandnya yang langsung disambut tawa keras teman-temannya.

Seperti yang telah saya tulis, mereka memang membawakan musik dengan aransemen funk yang kerap mengingatkan orang akan lagu-lagu awal Incubus walau tentunya mereka mempunyai twist-twist tersendiri dalam mengemas musik mereka. “Kalau ditanya genre, pas bikin lagu kita nggak pernah yang sengaja mau bikin lagu pop atau funk, biasanya ya bahasa simpelnya sih ‘nih gue ada lagu pelan, atau nih gue ada lagu tapi baru piano doang’” terang Abas begitu ditanya tentang konsep musik yang mereka usung. Mendengarkan beberapa track dalam album Mind Thieves seperti “Menjual Kaum Hawa”, “Be Myself” dan “Freefall”, setiap lagu terdengar memiliki cirinya tersendiri dan jauh dari kata repetitif, saya pun bertanya tentang proses pembuatan lagu-lagu mereka dan apakah cukup mewakili setiap personel, “Mungkin ide awalnya kebanyakan dari gue atau Abas, tapi dalam prosesnya sampai lagu itu jadi ada kontribusi dari semua personel, misalnya lagu ‘Mr.Woody’ ada unsur reggae-nya, itu idenya dari Kago. Karena gue pikir kalau kita main band berempat ya idenya juga harus datang dari kita berempat. Yang penting lagu itu terdengar harmonis di telinga kami berempat dan sudah nyaman belum kita maininnya.” Jawab Nandie dengan serius.

Lalu, bagaimana dengan produksi Mind Thieves itu sendiri? “Untuk materi sudah terkumpul lama terus rekamannya sekitar tiga bulan, yang bikin lama itu persiapannya  karena kami kan ngurus segala sesuatunya sendiri.” Ungkap Abas. “Soalnya nggak merasa cocok sama beberapa label yang approach kami dan ada kekhawatiran kalau takutnya hal-hal yang dikerjakan sama label ternyata bisa kami kerjakan sendiri. Ya ada untung-ruginya, yang terasa itu mungkin masalah distribusinya, tapi di sisi lain uang yang didapat juga langsung masuk ke band.” Timpal Nandie. Untuk masalah promosi sendiri, sama seperti mayoritas band saat ini, band yang turut tampil di Java Rockin’ Land tahun lalu ini juga memanfaatkan situs social network, khususnya Twitter. “Besar banget pengaruhnya ya, kami jadi bisa tahu kalau ternyata single ‘Paradox’ kami menjadi heavy rotation di salah satu radio di Pontianak dan banyak yang request, lucu juga sih padahal gue sendiri nggak tahu Pontianak di mana, belum pernah kesana haha” ungkap Abas yang  memancing tawa personel lain yang kemudian dengan kesengajaan yang usil bertanya kepadanya di mana letak kota itu (“Kalimantan…” – jawab Abas dengan tersenyum). Sepanjang interview ini memang terasa kalau mereka telah lama berteman, banyak tawa dan ledekan-ledekan kecil yang saling mereka lempar satu sama lain, pertemanan yang terjalin sejak masih memakai seragam sekolah sebelum mereka melanjutkan kuliah di universitas yang berbeda-beda. Apakah ada masalah tentang hal itu? “Mungkin ada masalah sedikit di jadwal, kalau ada yang ujian atau apa ya terpaksa harus cari additional player. Kalau sekarang sih sudah beda sama dulu ya, kalau dulu kami ingin banget ke atas jadi kalau ada tawaran manggung ya diambil semua walaupun ada personel yang nggak bisa,” jelas Abas. “Biasanya yang diganti itu gue, soalnya jadwal kuliah gue kadang-kadang sampai hari Sabtu, padahal gig justru banyaknya pas weekend kan,” sambung Kago. Azas pertemanan itu tak berhenti di personel band saja, dua manajer dan additional player mereka juga direkrut dari teman-teman SMA mereka. “Mungkin itu kekurangan kami juga, karena awalnya kami ngeband cuma buat have fun, ngeband ya main aja nggak mikir tentang manajemen atau apalah tapi pas bikin album ya sadar ternyata nggak bisa gitu juga, nggak bisa santai-santai terus, harus ada yang ngurusin dan follow up juga.” Ucap Abas.

Mungkin terlalu dini untuk berandai-andai akan seperti apa Dried Cassava nantinya, untuk sekarang mereka mengaku menikmati saja apa yang telah mereka lakukan dan tak bisa dipungkiri jika album pertama adalah salah satu momen paling penting bagi sebuah band, demikian juga yang dirasakan oleh mereka. “Yang pasti lega sih. Ibaratnya album ini adalah dokumentasi perjalanan Dried Cassava dari terbentuk sampai hari ini, banyak yang positif walaupun ada juga yang negatif. Suatu kebanggaan yang tiada tara untuk kami.” Tutup Nandie sambil tersenyum.

As published in NYLON Indonesia October 2011

Foto oleh Philea Adhanti

Advertisements

One thought on “High And Dried, An Interview With Dried Cassava

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s