Anatomy of Noise, An Interview With A.F.F.E.N

Mengemban kata “Fabulous” dalam nama band bisa jadi terdengar pretensius, namun A.F.F.E.N membuktikan jika mereka mampu live up for the name. 

Jika beberapa waktu lalu kamu pergi ke Bandung, mungkin kamu pernah mendengar sebuah kafe mungil bernama Beat ‘N Bites milik Riko Prayitno (gitaris Mocca yang kini juga membentuk band The Triangle) yang saban Jumat malam kerap mengadakan acara free jamming/open mic, di mana banyak musisi seantero Bandung berkumpul untuk sekedar mengobrol atau iseng jamming yang akhirnya membuahkan proyek musik terbaru, seperti A.F.F.E.N misalnya. Dimotori oleh Hariz Lutfi Asa (gitar akustik & vokal), Babam Bramaditia (gitar elektrik & vokal), Elmo Rinaldy (gitar elektrik & vokal), Mochammad Ifsan (bass), Hari Nurdin (drum) dan Ebong Permana (cello), band ini muncul dari lingkup pertemanan yang terbentuk di tempat tersebut.

Single berjudul “Like Life’s Easily Ended” yang saya dengar sekitar bulan November lalu adalah impresi awal yang menarik untuk band Bandung ini. Dimulai dengan petikan gitar dan bass yang membuka jalan bagi marching drum, gempuran reverb juga dentingan glockenspiel di pertengahan lagu, aransemennya memang terdengar ramai namun entah bagaimana terasa nyaman dan harmonis. Saya pun mencoba mencari tahu lebih jauh dengan mengetik kata “AFFEN” di Google namun yang keluar justru foto-foto hewan primata, karena ternyata affen dalam Bahasa Jerman memang berarti kera. “Awalnya muncul kepanjangannya dulu, ‘Anatomy For Fabulous Emergency Noise’ karena kami ingin membuat sebuah musik yang fabulous tapi masih bisa memberikan sentuhan noise di dalamnya, pas coba disingkat baru muncul nama A.F.F.E.N.” ungkap Babam saat saya menceritakan hal itu.

Berturut-turut, saya juga mendengarkan beberapa lagu lainnya seperti “Another Dream Story” dan “Emily” dari akun Bandcamp mereka yang sama menariknya dan mulai menarik benang merah musik mereka yang dengan cerdas menggabungkan banyak elemen musik dalamnya, satu hal yang mungkin berasal dari fakta jika mayoritas personelnya pernah tergabung di beberapa band lainnya seperti Babam yang menjadi gitaris Local Drug Store dan additional player Mobil Derek atau Ebong yang juga menjadi pemain cello di Nada Fiksi misalnya. Secara umum, musik mereka mengarah ke post-rock, namun banyak istilah seperti Hypnotizing Rock dan Garage Post-Rock yang kemudian tersemat ke mereka. “Haha, kalau Hypnotizing Rock itu didapat dari pendapat beberapa teman yang bilang karena alunannya dreamy jadi agak menghipnotis, hehe. Sebetulnya nggak mematok satu genre tertentu sih, mungkin iya core-nya post-rock, tapi kemudian kami masukin influence masing-masing ke lagunya, eh ternyata blend.” Ungkap Hariz yang juga menjadi penulis lirik lagu-lagu mereka. Untuk tiga lagu yang telah saya sebut sebelumnya, Hariz yang berkuliah di jurusan Psikologi mengaku terinspirasi dari topik-topik seputar child abuse dan suicidal tendencies. “Ya, sebetulnya cerita di EP pertama kami banyak diambil dari akumulasi cerita orang-orang yang curhat ke gue. Beberapa kali dapat cerita tentang orang-orang yang sempat mencoba bunuh diri dan ternyata semuanya memiliki kesamaan, mereka di masa kecilnya pernah mengalami tekanan mental atau child abuse.” Ungkap pria berkacamata ini dengan serius.

Walaupun temanya cenderung berat, namun tak lantas membuat musik mereka depresif. Lagu-lagu mereka justru seperti menunjukkan suatu harapan bagi yang merasa terpuruk, melalui irama lembut cello yang terselip di riuhnya instrumen lain, terutama di lagu “Last Lullaby”. “Awalnya, kami sempat terpikir untuk ngisi line dengan string di beberapa lagu biar makin terasa emosi lagunya, tadinya mau ajak seorang violist, tapi kayanya udah banyak dan kami rasa cello player masih langka, ya udah kami cari deh sosok langka itu dan bertemu lah Ebong”  ujar Babam menceritakan alasan mereka membutuhkan pemain cello dalam band yang baru terbentuk tahun lalu ini. Selain cello, mereka juga memasukkan beberapa toys instrument. Tak hanya yang modern seperti glockenspiel, tapi juga alat musik tradisional seperti gamelan mini dari Bali, suling yang mengeluarkan suara burung, native American shaker, karinding dan “Satu lagi yang kami nggak tau namanya, tapi suaranya kaya gemuruh gitu…kalau kata Ebong itu namanya ‘Gemuruh Nestapa’ hahahaha”  runut Babam yang kerap memakai headdress Indian sebagai ciri khasnya ini.

Sebagai band yang terbilang baru, pengalaman manggung adalah salah satu yang mereka kejar saat ini. “Semua gig adalah best experience sih buat kami. I mean, gigs jadi satu sarana yang sangat suportif terhadap perkembangan musik indie, jadi semuanya best experience, mudah-mudahan makin banyak gigs yang support musisi-musisi lokal di Indonesia.” tandas Babam saat ditanya gig terbaik mereka sejauh ini. Well, mengingat jika single pertama mereka juga dirilis digital oleh BFW Records di Manchester (UK), Bakery Netlabel (Swedia) dan beberapa komunitas indie di Jepang, Rusia, Jerman, dan Malaysia, serta keberhasilan mereka menjadi salah satu finalis di ajang Global Bite Music Awards (sebuah music awards dengan finalis dari seluruh dunia yang kerap disebut sebagai “World Cup of Independent Music”), bukan tidak mungkin dalam waktu dekat ini mereka akan menyusul banyak band indie Indonesia lainnya yang berkesempatan tampil di luar negeri. I think you better get used to hear their name from now on.

As published in NYLON Indonesia April 2012

Foto oleh Muhammad Asranur

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s