Rebel With A Cause, An Interview With Hightime Rebellion

Tidak ada cara yang paling asik untuk berontak selain lewat musik. Hightime Rebellion menunjukkan caranya.

Ketika kami sedang menyusun rubrik Radar untuk Music Issue tahun lalu, kami menghabiskan waktu dengan mendengarkan begitu banyak musik Indonesia dari berbagai genre. Salah satu yang akhirnya terpilih adalah band asal Jakarta bernama Hightime Rebellion yang menarik perhatian kami begitu mendengar lagu mereka. Dimotori oleh vokalis Miyane Soemitro, vokalis/pianis/songwriter Rendy Surindrapati, gitaris Jason Sutrisno, bassist Pulung Wahyuaji, gitaris Adji Dimas Ramayanda dan drummer Reza Arafat, formasi awal band ini tercipta ketika Rendy bertemu dengan Arafat di sebuah pesta, pertemuan itu kemudian berujung kepada ide untuk membuat suatu band. Arafat kemudian mengajak rekannya Pulung dan Jason untuk bergabung ke band yang kala itu masih belum memiliki nama, selang beberapa saat, masuklah Miyane menjadi vokalis sehingga konsep pun berubah menjadi duet vokal wanita-pria. Terakhir, Dimas yang sebelumnya menjabat sebagai drummer di band terdahulu Rendy ikut bergabung untuk menjadi partner Jason dalam departemen gitar. Mungkin masih banyak di antara kamu yang belum pernah mendengar nama mereka, tapi band yang terbentuk sejak tahun 2007 ini sudah memiliki basis penggemar tersendiri dan pengalaman di atas panggung yang cukup, di antaranya adalah saat mereka dua kali tampil di gig Superbad! Di manamereka dipercaya menjadi headliner utama dan Erlend Øyebeserta rekan-rekannya di The Whitest Boy Alive turut berdansa dan meneriakkan melody shout dari lagu “Sympathy For The Devil” ketika menyaksikan mereka membawakan lagu “Waking Hour” dan menginspirasi mereka untuk memasukkan melody shout itu ke proses recording lagu itu.

Saat diminta mendeskripsikan musik mereka, mereka balik meminta pendapat saya. Well, setelah mendengarkan beberapa lagu mereka, saya menarik kesimpulan jika garis besar mereka adalah pop dengan twist berupa reverb gitar dan aransemen yang agak psychedelic sehingga terciptalah wall-of-sound yang danceable. Selain aransemen yang terdengar begitu lush, vokal Miyane yang punya ciri khas tersendiri pun menjadi nilai jual istimewa dari band ini. Lalu sudah sampai mana proses pembuatan album mereka? “It’s called Magical Mystery…cause it’s still a mystery haha” Canda Miyane yang langsung disahuti oleh Rendy “Wow, that’s interesting… Sejujurnya untuk album, ibaratnya orang membuat ilustrasi masih dalam tahap sketching. Sudah pakai pensil, masih diwarnain tapi belum di-outline”. Pulung menimpali dengan berkata “Yang pasti, hope it will taste like your favorite food.” Untuk penulisan lirik, mereka mempercayakannya ke Rendy dan Miyane. Rendy yang bekerja sebagai penata musik untuk berbagai produksi iklan TV mengaku terinfluens oleh Bob Dylan, Fran Healy dan Richard Ashcroft saat membuat suatu lirik, “Biasanya dari sebuah melodi atau kata yang menarik. Kalau sudah ada satu yang nyangkut, sisanya akan tertulis dengan sendirinya seperti mengisi Teka Teki Silang.” Jelas Rendy, sedangkan Miyane yang mendapat inspirasi dari banyak musisi wanita seperti Karen Carpenter, Blondie dan The Pretenders dalam menulis lirik menjawab: “Adanya rangsangan dari melodi-melodi yang dimainkan berulang-ulang oleh cowok-cowok ini. Kalau tema biasanya hasil dari over-analyzed things in my head, haha.”

Mungkin masih agak lama sampai kita bisa mendengarkan album debut mereka, tapi beberapa lagu sudah dapat didengarkan di MySpace mereka, salah satunya adalah “Crest of Mind” yang juga dapat diunduh gratis. Saat saya mewawancarai mereka untuk artikel ini, mereka belum mempunyai manajer (walau tak lama kemudian mereka di-sign oleh FFWD Records) sehingga setiap personel memiliki peran dengan sendirinya sesuai karakteristik masing-masing. Ada yang luwes bila bertemu orang, ada yang cenderung teknis, ada yang jarang bicara tapi selalu memiliki solusi yang tepat. Saat sesi pemotretan dimulai, sedikit banyak terlihat beberapa karakter mereka, Arafat ternyata sangat luwes bila diminta berpose, sedangkan Rendy yang terlihat pendiam di depan kamera, adalah orang yang paling vokal ketika diajak berbincang tentang bandnya. Saya bertanya ke Miyane tentang bagaimana rasanya menjadi satu-satunya perempuan di kelompok ini, dan dia menjawab dengan antusias “Seperti Goggle Pink, seru rasanya! Kadang dimanja karena jadi satu-satunya cewek tapi terkadang harus jadi ibu-ibu cerewet yang harus ngawasin mereka. Love them!” ungkapnya. Dari pandangan mata, jelas terlihat mereka sudah sangat nyaman berada di antara satu sama lain, Rendy pun menyudahi interview ini dengan berkata, “Selalu bercanda dan tertawa bersama menurut saya adalah kunci supaya kami kompak, kalo main musik terlalu serius it’ll ruin the whole concept of rock n’roll.”

As published in NYLON Indonesia April 2011

Foto oleh Anton Jhonsen.

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s