The Alpha Kids, An Interview With L’Alphalpha

Seperti anak kecil yang menggemaskan, L’Alphalpha dengan cepat menjadi kesayangan semua orang.

Selalu ada dinamika dalam perkembangan musik indie di Indonesia, terlepas dari perdebatan panjang tentang definisi musik “indie” itu sendiri. Ibarat pasang-surut, ada masa di mana muncul begitu banyak band indie berkualitas dan setelah itu tiba tahun-tahun stagnansi tanpa hadirnya nama yang standout. Untungnya, saat ini kita sedang memasuki fase “the next wave”, ditandai oleh band-band baru dengan warna yang terasa segar dan berbeda. Darimana barometernya? Tidak usah jauh-jauh, lihat saja sejumlah gigs yang sedang gencar digelar dan amati nama-nama yang menghiasi headline-nya, salah satu yang paling bersinar adalah sebuah band asal Jakarta yang bernama L’Alphalpha. Band yang belakangan merajai berbagai gig di Jakarta dan Bandung setelah merilis album debut berjudul When We Awake, All Dreams Are Gone.

Berbicara tentang L’Alphalpha, prinsip “the more is the merrier” dapat menjadi kalimat kunci untuk membukanya. Berawal dari sepasang teman bernama Yudhistira Mahendra (Yudish) dan Herald Reynaldo (Herald) yang membentuk band acoustic noise pop dengan nama Alphalpha, yang diambil dari nama salah satu anak kecil di film Little Rascal, sebelum akhirnya berkembang menjadi band empat orang dengan Tercitra Winitya (Ciwi) di keyboard dan Ildo Reynardian (ildo) sebagai drummer, menggantikan posisi Yudish yang akhirnya beralih menjadi gitaris. Menandai awal yang baru, mereka memodifikasi nama band dengan tambahan “L apostrof “ seperti ejaan Perancis dan merekrut dua personil lagi yaitu pianis Byatriasa Ega (Yayas) dan pemain biola Purusha Irma (Irma) yang sesuai dengan tujuan mereka yang ingin terdengar lebih megah dan konseptual. Formasi enam personel inilah yang menjadi L’Alphalpha yang kita kenal sekarang, sebuah band yang musiknya kerap didefinisikan sebagai post-rock, Skandinavia dan ambience, tapi bagaimana mereka memandang musik mereka sendiri? “Orang bilang musik kami agak Skandinavia, agak post-rock, gue sih setuju tapi sebenarnya dibanding genre kami lebih suka menyebutnya sebagai konsep. Konsep kami intinya musik yang ambience dan sinematik. Karena kebetulan di album ini yang dominan nulis lirik itu gue maka memang cenderung ke post-rock.” jelas Herald si vokalis.

Proses membuat album ini sudah dimulai sejak tahun 2009 namun tersendat di tahun pertama karena masalah budget dan kendala waktu, sebagian personel berdomisili di Jakarta sementara Herald dan Ciwi saat artikel ini ditulis masih tercatat sebagai mahasiswa di ITB, dan sempat membentuk band indie pop bernama Jodi In The Morning Glory Parade. Baru di tahun kedua mereka fokus menggarap album yang tadinya direncanakan hanya sebagai album mini dan dijalankan dengan etos Do It Yourself. Mereka dengan berani memilih jalur self-release, di mana mereka mengurus segala sesuatunya bahkan memasukan setiap keping CD dengan tangan mereka sendiri. Ketika launching di HeyFolks! pun mereka mengurus dekorasi hingga sound system sendiri. “Capek tapi terbayar dengan rasa puas, kami menjalani prosesnya dari awal dan jadinya lebih menghargai musik kami sendiri. Puasnya lebih terasa dan ownership-nya jadi lebih tinggi juga.” Tutur Herald, “Begitu tau kami self-release, teman-teman mendukung dengan turun tangan langsung secara maksimal. Jadi untuk band manapun, jangan takut self-release karena pasti banyak orang-orang yang akan membantu,” sambung Yudish. Proses mengurus pemesanan CD pun menjadi kepuasan sendiri ketika membaca pesanan yang datang dari Kalimantan hingga Cina. “Nggak nyangka aja musik kami sampai ke tempat yang bahkan belum pernah kami kunjungi, ini juga salah satu keuntungan self-release, karena kalau lewat label kami nggak akan tau sudah sampai kemana saja flow album ini “ ujar Yudish. Walaupun nama mereka sedang melambung tinggi, mereka mengakui masih agak terkejut dengan banyaknya orang yang menyukai mereka, “Mungkin yang paling bikin seneng sih kalau buka last.fm, biasanya kan top listener-nya kita-kita sendiri, sekarang udah gak tau siapa.” Celetuk Herald sambil tersenyum.

Salah satu yang unik dari band ini adalah walaupun mereka memainkan musik yang terdengar dingin dan muram, mereka memasukkan toys instrument dalam aransemennya sehingga terdengar lebih dreamy serta membuat packaging yang terkesan manis. “Waktu kita masih berdua, Herald selalu bilang cover itu penting. Kita bisa tau Rolling Stones atau Beatles dari cover albumnya aja, hal itu kemudian terpatri dan ketika akhirnya beneran bikin album, kita serius mikirin kemasan yang cocok dan memorable.” Jelas Yudish. Album debut mereka akhirnya dikemas seperti buku dongeng pengantar tidur dengan ilustrasi klasik khas buku Enid Blyton. Proses mencari ilustrator yang cocok pun cukup memakan waktu, setelah browsing sana-sini, akhirnya yang mereka cari datang dari lingkungan pertemanan mereka sendiri dengan dipilihnya Diani Apsari, senior Herald di kampus, yang membuat semua artwork berbasis cat akrilik di album yang mengangkat tema mimpi ini. Berbicara tentang mimpi, mimpi apa yang belum terwujud? “Kami ingin membuat konser berskala besar, mungkin dengan konsep orkestra atau berkolaborasi dengan musisi Indonesia idola kami. Kalau launching kemarin kan hanya sekedar showcase dan media gathering, jadi impian paling dekat adalah konser, doakan saja semoga ada yang mau mensponsori.” Jawab Yudish mewakili rekan-rekannya. Untuk band seperti L’Alphalpha, saya rasa hal itu bukan sekedar mimpi kemarin sore, mereka jelas punya passion dan drive yang mampu mewujudkan setiap mimpi indah mereka.

As published in NYLON Indonesia April 2011

Foto oleh Anton Jhonsen.

http://www.lalphalpha.com/

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s