Here Comes The Sun, An Interview With Backwood Sun

Bersiaplah, musik Magic Folk yang diusung Backwood Sun adalah penanda momen paling bersinar dalam folk scene Indonesia saat ini.

Entah kamu menyadarinya atau tidak, musik folk dan segala subgenrenya (folk rock, folktronica, psych folk, dll) sedang mengalami fase “revival” kembali. Barometernya adalah munculnya band-band seperti The National, Band of Horses dan Fleet Foxes di Amerika Serikat, sementara di Inggris lahir scene baru bernama nu-folk dengan nama-nama seperti Laura Marling, Mumford & Sons dan Noah and the Whale. Berkat internet dan keandalan band folk masa kini yang menggabungkan esensi folk tradisional dengan bunyi yang modern, perlahan folk menjadi genre yang accessible dan memasuki ranah pendengar musik mainstream dengan titik puncaknya adalah band folk Bon Iver yang meraih 4 nominasi Grammy tahun ini dan memenangkan dua diantaranya sebagai Best New Artist dan Best Alternative Music Album. Folk pun tak lagi identik dengan pria-pria berjenggot karena musik folk paling menarik sekarang ini justru dimainkan oleh anak-anak muda seperti duo kakak-beradik First Aid Kit dari Swedia atau tiga gadis cantik bernama The Staves dari Inggris, sedangkan dari Indonesia sendiri kita mempunyai The Trees & The Wild, Deugalih & Folks, Afternoon Talk serta lima pemuda Jakarta yang membentuk band folk yang terbilang masih sangat fresh saat ini dengan nama Backwood Sun.

Seperti biasa, pertemanan dan selera musik yang sama menjadi faktor pencetus Lim Rendy (vokal/gitar), Bowo Pranoto (gitar), Chandra Wijaya (bass), Martius Forus (keyboard/tamborin) dan Ready Febrian (drum) untuk bergerak dalam satu band yang telah melewati banyak proses sebelum akhirnya mereka merasa nyaman di jalur folk. Band psychedelic rock bernama Bang Bang Shoes adalah cikal bakal band ini di mana Lim, Bowo, Chandra dan Martius adalah anggotanya, sementara saat itu Ready masih sibuk mencicipi berbagai genre mulai dari grind sampai Drum N Bass, sambil menjadi freelance photographer yang sempat beberapa kali memotret Bang Bang Shoes sebelum akhirnya menjadi bagian dari Backwood Sun yang terbentuk tahun lalu. “Sebenarnya musik Bang Bang Shoes dan Backwood Sun sendiri nggak jauh berbeda, intinya masih harmonisasi vokal, cuma kalau sebelumnya kental dengan psikedelia berbalut overdrive, nah di Backwood Sun ini lebih akustik dan clean,” ungkap Lim yang menjadi songwriter dan komposer utama. Lalu apa arti nama band ini sendiri? “Backwood Sun itu kalau dijabarkan dalam Bahasa Indonesia yang baku berarti ‘Matahari di Desa’, kenapa demikian? Karena suasana itulah yang coba gue bangun dalam materi yang sedang digarap ini, suasana yang hangat, mungkin.” Jawab Lim sambil tersenyum.

Mendengarkan lagu-lagu seperti “Got a Morning”, “Red Valley” atau “Wilderness” dari demo album mereka, The Mystery of Woods, imaji yang terlintas di benak saya adalah perjalanan ke pegunungan asing saat matahari mulai tenggelam. There’s a sense of some warmness namun di saat yang sama juga terasa mendebarkan. Mereka sendiri mengaku influens terbesar dalam bermusik datang dari musisi 60 dan 70-an seperti Bob Dylan, The Byrds, Beach Boys, Graham Nash, Neil Young, Vashti Bunyan, Kitaro, sampai Richard Stoltzman dengan menekankan harmonisasi pada bagian vokal dan unsur psikedelia dalam musik yang mereka sebut Magic Folk. “Wait, Magic Folk?” Tanya saya, Ready pun mencoba menjelaskan, “Kami masing-masing punya karakter dalam satu band, karena semua personel punya selera masing-masing nggak cuma folk saja, jadi kami mix sedemikian rupa sehingga terciptalah apa yang kami sebut Magic Folk,” penyataan Ready kemudian diteruskan oleh Chandra, “Di dalam musik kami terdapat banyak unsur, ada unsur budaya Barat dan Timur dengan folk sebagai garis besarnya.” Sementara untuk soal lirik, seluruhnya diserahkan kepada Lim yang banyak terinspirasi dari mimpi-mimpi yang ia alami (dia seorang lucid dreamer), yang saya rasa cukup menjelaskan dari mana asalnya lirik bernaratif dalam setiap lagu mereka.

Well, I don’t know it’s because magic or not, faktanya adalah walau hanya berbekal album demo berisi 5 lagu yang direkam di kepingan CD-R, lagu mereka bisa menarik pendengar dari banyak negara seperti Amerika (“Yang paling banyak di fan page Facebook kami.” cetus Lim), Inggris, Yunani, Jepang, Meksiko dan salah satu single mereka “The Man Has Come” juga terdapat di situs label Inggris bernama TakeAimFire. Walau mengaku musik hanya sampingan dari daily job mereka, tapi mereka terlihat cukup serius dalam bermusik. Band yang telah bernaung di Sinjitos Records ini tengah menyiapkan album penuh yang rencananya dirilis tahun depan. Masih lama memang, namun untuk saat ini kamu bisa menunggunya dengan mendatangi berbagai gig mereka yang semakin padat dari hari ke hari atau menonton live session mereka di Black Studio yang diunggah di YouTube baru-baru ini. Ibarat hari, mereka baru saja memasuki awal pagi yang cerah, dan saya percaya there’s even brighter days waiting for them.

 

As published in NYLON Indonesia April 2012

Photo by Muhammad Asranur.

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s