Let It Flow, An Interview With Swimming Elephants

Bagi Swimming Elephants, bermusik tanpa harus menjadi pretensius itu jauh lebih menyenangkan

Ketika pertama kali mengetahui eksistensi band ini dari blog musik seorang teman, rasa tertarik langsung muncul ketika membaca nama mereka yang unik. Rasa tertarik itu semakin berkembang ketika mendengar single pertama mereka yang berjudul “At the Zoo”, sebuah lagu yang menangkap perhatian sejak ketukan drum pertama dan membuat kita terhanyut untuk mendengarkannya sampai selesai berkat aransemen yang terasa mengalir. “Let it flow” adalah esensi yang saya tangkap dan frasa yang sama mungkin juga dapat mewakili konsep Swimming Elephants itu sendiri. Bayangkan saja, sejak band ini terbentuk di tahun 2009, pengalaman live performance mereka dapat dihitung dengan jari, salah satu yang paling berkesan adalah ketika tampil di Jaya Pub, di mana penampilan mereka mendapat respons yang begitu positif. Minimnya jam terbang bukan disebabkan tidak ada tawaran, tapi karena daily job yang hanya mengizinkan mereka tampil di akhir pekan. Keenam personel Swimming Elephants memang memiliki kesibukan masing-masing di luar musik, vokalis/gitaris Rizki Yogaswara (Yogas) bekerja sebagai telco engineer, gitaris Gilar Di Aria (Gilar) adalah pegawai kantoran, drummer Wisnu Andita Rahmadi (Ninu) bekerja di perusahaan leasing, vokalis/keyboardist Saras Juwono seorang environmental engineer dan keyboardist Aprilia D. H bekerja sebagai graphic designer, sedangkan bassist Ranggi Mukti Rakasiwi yang berhalangan hadir untuk photo shoot artikel ini adalah seorang product designer.

Berawal dari Yogas, Ninu dan Gilar yang sudah saling mengenal sejak bersekolah di SMP yang sama, mereka sering mengisi waktu luang mereka dengan iseng bermain musik, satu aktivitas yang jika meminjam istilah mereka bisa disebut dengan “pertemanan permusikan”. Kegiatan ini terpaksa berhenti ketika Gilar pergi ke Melbourne untuk studi perfilman. Selesai kuliah, Gilar kembali ke Jakarta dan mengajak Yogas dan Ninu untuk membentuk band yang membuat dan menyanyikan karya mereka sendiri. Mereka kemudian mengajak Saras dan disusul oleh April dan Ranggi yang resmi bergabung di bawah nama Swimming Elephants sejak dua tahun lalu. “Untuk nama, kebetulan waktu itu gue teringat salah satu scene dari film Tarsem Singh yang berjudul The Fall, dan gue suka aja kalo scene itu digambarin secara literal, syukur-syukur setelah dirembukin ternyata yang lain pada setuju.” Jelas Gilar tentang nama bandnya. Lalu bagaimana mereka mendeskripsikan musik yang mereka mainkan? Yogas menjawab pertanyaan saya dengan berkata: “Masalah genre kita nggak pernah ngebatesin, begitu juga influens. Apa yang klop sama kita aja. Masing-masing personel punya selera sendiri walaupun agak mirip. Nah benang merahnya itu mungkin yang jadi Swimming Elephants. Walaupun influens macem-macem, aliran musik masih dalam wadah pop kok.” “Mungkin playful pop kali ya?” cetus Gilar sebelum dijawab oleh Ninu, “Nggak ngerti soal genre, yang gue tau cuma mainin musik yang cocok di hati.”

Kalimat Ninu tersebut dapat mencerminkan sikap mereka dalam bermusik. Musik bagi mereka bukan sebagai sarana untuk mencari uang, band ini pun mereka anggap sebagai workshop untuk bermain musik dan cara berekreasi untuk melepas kejenuhan dalam bekerja. Prioritas mereka bukanlah mencari label rekaman, membuat album paling hebat, mencari popularitas dan motif-motif pretensius lainnya. Karena itu mereka tak merasa harus dikejar target untuk membuat album atau video klip sebagai media promosi, Atas dasar semangat bersenang-senang yang sama juga, mereka saling memberi kebebasan untuk membuat lagu atau saling bertukar instrumen di setiap lagu yang berbeda ketika sedang berada di atas panggung. Walaupun begitu, mereka satu suara ketika mengungkapkan rencana mereka dalam waktu dekat ini, yaitu mengumpulkan materi-materi yang belum selesai dan membuat lagu baru untuk dijadikan EP yang diharapkan dapat keluar tahun ini serta memperbanyak jam terbang untuk tampil di gigs.

Untuk menutup sesi interview kali ini saya pun meminta pendapat mereka tentang musik Indonesia saat ini, masing-masing personel memiliki pendapat sendiri, di antaranya menurut Gilar: “Apresiasi mayoritas pendengar musik lokal agak backwards menurut gue, karena buat sebagian dari mereka, musisi lokal yang paling bisa menyerupai band atau musisi luar malah bagus, Kebanyakan mentalitasnya masih mentalitas fans cover band, bukannya mencari honesty atau mungkin bahkan originality, nggak salah sih, tapi sayang aja.“ Sedangkan Saras berpendapat “Benar-benar berkembang pesat dan tiba-tiba, sudah seperti ledakan penduduk. Kayaknya sekarang ini banyak banget orang yang menjadikan bermusik sebagai main income-nya. There is absolutely nothing wrong with that, cuma suka miris aja karena seringkali musik sekedar dijadikan bahan untuk jualan, instead of something to pamper the ears.”

Dari jawaban tersebut jelas terlihat walaupun proyek musik ini terkesan santai, mereka pun sebenarnya sangat concern dan tanggap terhadap scene musik Indonesia saat ini. Untuk sekarang, biarkan mereka merenangi arus mereka sendiri dan kita pun masih di sini dengan sabar menunggu karya-karya mereka selanjutnya.

As published in NYLON Indonesia April 2011

Photo by Anton Jhonsen.

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s