Something Poetic, An Interview With Rain Chudori

Selayaknya hujan, setiap cerita yang ditulis Rain Chudori menyimpan banyak emosi tersembunyi. 

Tanpa disadari, tiga profil yang saya tulis untuk Radar NYLON Indonesia edisi Januari 2012 lalu semuanya merupakan storyteller dengan cara mereka sendiri. Pikiran itu melintas saat saya bengong di dalam taksi menuju lokasi interview, yang apa daya harus terjebak macet dan diperparah hujan deras yang turun. Coincidentally, orang yang akan saya temui sebentar lagi juga bernama Rain. Sesampainya di tempat yang dijanjikan, dengan mudah saya bisa menemukan sosok gadis berperawakan mungil yang sedang asik membaca majalah di salah satu meja. Saya bergegas menghampirinya dan meminta maaf atas keterlambatan saya. Dressed in black with deadpan expression, sepintas dia terlihat intimidatif, tapi begitu ia membuka mulut, yang keluar adalah sapaan yang ramah.

Yang sedang duduk di depan saya adalah Rain Chudori-Soerjoatmodjo, seorang penulis muda yang namanya tengah bersinar berkat cerita-cerita pendek berbahasa Inggris karyanya yang sudah dimuat di berbagai media seperti Jakarta Post, Tempo dan Jakarta Globe. Dunia tulis-menulis sama sekali bukan hal yang asing bagi gadis kelahiran 1994 ini. Kakeknya adalah seorang wartawan Kantor Berita ANTARA, sementara ibunya, Leila S. Chudori, adalah nama besar di dunia sastra Indonesia dan ayahnya, Yudhi Soerjoatmodjo, adalah fotografer jurnalistik yang kerap membuat esai foto. Ia bercerita bila semuanya bermula saat salah satu cerpennya berjudul Blue, yang sebenarnya adalah tugas sekolah, dikirim ke Jakarta Post oleh ibunya tanpa sepengetahuan dirinya. Cerpen itu dimuat dan mendapat respons positif. Sejak itu karyanya semakin sering dimuat dan tawaran menulis berdatangan, termasuk menulis novel dwi-bahasa, Serdadu Kumbang, yang berdasarkan dari film berjudul sama. Hal yang sebetulnya tidak mengherankan, karena bila kamu membaca salah satu karyanya, kamu pun akan mengerti. Emosi yang selalu tertangkap dari tulisan penggemar Haruki Murakami ini adalah beautifully sad, real, and poignant. “My mom says I was writing in realism, I write about real life, what’s there, I think my writing is more observation of life.” Ucapnya.

Sejak kecil, ia ingat setiap bangun tidur yang dia cari adalah buku, dia banyak membaca cerita klasik Charles Dicken dan Jane Austen, sebelum kemudian menyukai novel klasik Rusia seperti Anna Karenina dan karya Anton Chekhov. Sounds deep right? Tapi bagaimana sih keseharian seorang Rain? “I like tweeting, watching film, being with my friends and boyfriend, going to concerts. I’m pretty regular teenager actually.” Jawabnya sambil tersenyum. Saya pun bertanya iseng apakah ia juga sering membaca cheesy story? “No, but I watch bad TV show, like Jersey Shore, it’s so bad you wanna watch it, just for laugh, haha.” Rain yang saat artikel ini ditulis masih duduk di kelas 3 SMA dan sedang menyiapkan diri mendaftar kuliah jurusan English atau Film Writing memproklamirkan dirinya sebagai movie buff. “Saya selalu ingin menjadi penulis, but with film I think I can explore even broader art form.” Cetusnya. Sebelumnya ia juga pernah menulis resensi (500) Days of Summer untuk Jakarta Post, berdasarkan kebiasaannya menganalisa film yang ia tonton. “I love both. But at some level, film always reach more audiences, nggak semua orang suka baca buku, tapi mayoritas orang suka nonton.” Ungkap Rain yang menyebut American Beauty sebagai film favoritnya.

Punya ibu yang juga seorang penulis terkenal membuat tulisan mereka kerap dibandingkan, untuk itu Rain punya tanggapannya sendiri, ”They’re kinda similar with themes like juxtaposing personal life experience and political condition as background, I just recently realized how much she influence my works.” Dari sekian banyak cerita yang pernah ia tulis, mana yang menurutnya paling personal? “Smoking with God. It contain one of my deepest anger, it’s basically about my parents relationship and the peak point of their broken marriage.” Jawabnya dengan gamblang. Saat ini ia tengah menyiapkan antologi kumpulan cerpen yang pernah ia buat. “Konsepnya adalah kumpulan cerita dari satu kompleks perumahan di mana setiap rumah punya cerita masing-masing.”

Sampai di penghujung interview ini, saya melontarkan pertanyaan yang sudah saya simpan dari tadi, which is perihal namanya yang unik. “I keep asking my parents and they keep changing their answers, I mean sometimes they says it’s from the weather but sometimes they say I was named after Rain Phoenix, sibling of River and Joaquin Phoenix,” jawabnya ringan. Dia sendiri mengaku kalau dia tidak begitu menyukai namanya dan lebih memilih nama Marigold atau Luna sebagai alter-ego dirinya. Well, apapun nama yang ia pilih, bagi saya she’s still one of the most interesting girl out there.

 As published in NYLON Indonesia January 2012

Photo by Luca Knegtering.

Click the links to read her short stories:

Blue

Something Poetic

Smoking With God (part 1)

Smoking With God (part 2)

 

 

 

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s