Q&A With… Eka Nusa Pertiwi

Tak banyak orang yang berkesempatan di-direct langsung oleh Garin Nugroho untuk film pertamanya, Eka Nusa Pertiwi adalah salah satu dari segelintir nama tersebut. Mahasiswi jurusan Teater di Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini merasakan debut layar lebar sebagai tokoh utama di film Mata Tertutup karya Garin yang bertema sosial, politik dan agama.  Selain bermain di berbagai film indie, kini aktris berusia 22 tahun ini sedang menyiapkan pertunjukan teater dari naskah The Lover karya Harold Pinter yang akan digelar di Jakarta dan Jogja bulan November nanti, di mana ia menjadi aktris sekaligus sutradara.


Hi Eka, apa saja kegiatanmu saat ini?

Kesibukanku saat ini masih tetap berkesenian (teater, tari, silat PGB bangau putih). Aku juga sering main film indie di Yogyakarta (Pesan Dari Cinta) yang baru aja menang di Festival LA Light indie movie love story tahun ini sebagai Best Cinematografi dan Favorite movie. (Lovely Husband) juara ke-2 dan sebagai Aktris Terbaik di festival film s-cream6 2012, yang diadakan oleh Fakultas Ekonomi UII Yogyakarta. Rencana 30 Juni 2012 menari di karya ujian akhir koreografi S2 ISI Yogyakarta yang mengangkat kebudayaan Kalimantan “hu dog”. 4 juli 2012 menyutradarai di tugas akhir koreografi S2 ISI Yogyakarta yang mengangkat tentang komunitas “BISSU” di Sulawesi. Dan tangal 9-10 Juli main teater di tugas akhir S2 Teater ISI Yogyakarta. Itulah kesibukanku saat ini. Dan sedang mempersiapkan pertunjukan untuk tahun depan. Pertunjukan tersebut adalah riset tentang S3 Keaktoran. Pertunjukan tersebut lebih menggunakan basic tubuh, sebagai orientasi pertunjukan tersebut yaitu “Butoh” kesenian kontemporer Jepang.

Bagaimana rasanya bermain di Mata Tertutup?

Seneng banget bisa bekerja sama dengan mas Garin. Banyak banget pelajaran yang aku dapat di film tersebut mengenai sosial, politik, agama, akting, menyutradarai dan bagaimana manusia memaknai apapun dalam hidup. Itu yang paling penting, karena zaman sekarang kalau meleset sedikit tentang penafsiran kita tentang apa yang kita baca dan kita maknai, akan fatal akibatnya. Bisa-bisa seperti tokoh yang aku perankan dalam film tersebut, hehe. Sebagai sutradara, mas Garin punya cara berbeda-beda dalam menyikapi aktor/aktris dalam filmnya. Kita sering diskusi tentang hasil adegan yang telah selesai take, di pagi hari sebelum kami akan shooting untuk hari tersebut. Dari sana aku bisa mengevaluasi diriku untuk take selanjutnya. Beliau juga sangat ramah dan akrab kepada semua talent. Kalau bekerjasama dengan bu Jajang, aku kenal nama beliau dari suaminya yaitu Arifin C Noor. Aku suka banget dengan naskah-naskah beliau secara semiotika dan pesan yang ingin disampaikan, keren. Ketika bekerja sama dengan bu Jajang, walau kita nggak ada adegan bareng di film tersebut, tapi banyak pelajaran yang aku dapatkan ketika aku melihat beliau berlatih untuk film ini. Kekuatan akting, energi, power dan pemaknaan beliau terhadap tema yang diangkat, sangat menarik bagiku.

Bagaimana kamu berhasil mendapat peran itu?

Prosesku sampai mendapatkan peran sebagai Rima sama seperti yang lain. Ikut casting, dan apa yang aku bisa, aku lakukan. Awalnya agak ragu untuk ikut karena kriterianya perempuan pakai jilbab, tapi aku coba aja dulu. Bersyukur diterima. Aku diberi tema untuk presentasi aktingku lalu setelah itu improvisasi dengan tema yang telah diberikan. Ketika aku diberi peran tersebut, yang aku senangi dari peranku, pemikiran tokohku yang unik, mahasiswi yang ingin memberontak kepada keadaan zaman, tapi dia tidak punya kekuatan dan massa karena dia juga tidak suka bersosialisasi dan merasa tidak memiliki kecocokan dengan lingkungannya. Hahaha, itu menurutku sama saja membenturkan kepala ke tembok yang sangat kokoh. Tapi ketika dia merasa cocok dengan ideologi di sebuah komunitas, dia sangat percaya dan ternyata hanya dimanfaatkan. Miris banget sebagai perempuan. Prosesnya sangat menantang dan membuat aku membaca lagi buku-buku Catatan Pinggir Gunawan Muhammad dan novel Nawa el Sadawi Perempuan Di Titik Nol. Dan membuat catatan kecil dari apa yang aku baca untuk dialog dalam peranku.

Latar belakang akting kamu sendiri?

Awalnya aku tertarik dengan sebuah komunitas teater saat kelas 2 SMA jadi ikut terjun ke dalamnya dan senang nonton pertunjukan teater. Setelah lulus SMA aku langsung memilih jurusan Teater di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, agar aku bisa fokus kepada keaktoran dan kesenian. Lalu aku belajar tari klasik Yogyakarta dan Silat PGB bangau putih yang pusatnya di Bogor. Karena menurutku banyak elemen yang harus dilatih oleh seseorang untuk akting. Melatih tubuh tidak hanya sebagai stamina dan kelenturan tapi bagaimana kita menyadari dan yakin terhadap tubuh kita saat akting di atas panggung dan di kamera agar terlihat natural sebagaimana tokoh yang kita perankan.

Apa yang paling kamu nikmati dari berakting?

Dari akting aku bisa belajar banyak tentang disiplin ilmu apapun. Bagaimana manusia tidak hanya berpikir, tapi juga melakukan apa yang dipikirkan. Berpikir lalu dipraktekkan lalu dipikirkan lagi. Dari akting, aku bisa belajar banyak tentang sudut pandang manusia terhadap kehidupan karena latar belakangnya. Belajar menerima kenyataan hidup dan positive thinking. Kedengarannya memang sederhana tapi ketika dijalankan, banyak banget rintangannya. Tapi ketika kita menyadarinya, banyak yang kita dapatkan. Film, aku suka nonton film yang ada unsur sejarahnya. Aku juga suka akting di film, menantang untuk lebih dalam memainkan emosi dan mengelola emosi. Menurutku film adalah media yang sangat mudah dikonsumsi oleh masyarakat pada saat ini, apalagi anak muda.

Aktor atau aktris favoritmu?

Aktris favoritku Christine Hakim, duh pingin banget main bareng beliau. Apalagi melihat aktingnya di Tjoet Nja’ Dhien. Aku merasa bahwa dia lah Cut Nyak Dien sungguhan. Dan Suzanna. Kalau dari luar negeri, Nicole Kidman dan Anthony Hopkins.

Proyek selanjutnya?

Aku sedang mempersiapkan pertunjukan teater dengan naskah The Lover karya Harold Pinter. Rencana pementasannya awal November tahun ini yang akan aku pentaskan di Yogyakarta dan Jakarta. Salah satu peran dalam tokoh tersebut aku perani dan sutradarai. Kisahnya tentang suami-istri yang telah berumah tangga selama 10 tahun, tidak memiliki anak. Timbul kejenuhan dalam rumah tangga tersebut karena merasa tidak ada konflik dalam rumah tangganya, maka dari itu mereka sengaja menciptakan konflik dan terjebak oleh konflik yang diciptakannya.

Photo by Hendra Bahagia

Advertisements

2 thoughts on “Q&A With… Eka Nusa Pertiwi

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s