Through The Lens: Noran Bakrie

Boleh cerita sedikit tentang dirimu?

Saya Noran, secara KTP tinggal di Jakarta tapi tahu benar rumahnya lebih luas dari Jakarta, hehe. Rumah saya itu ada di mana pun kaki saya menapak. Kesibukan saat ini di Verve Reps, saya representing beberapa ilustrator & fotografer di situ. Di luar itu, kalau ada yang minta saya fotoin untuk project-nya, saya fotoin, atau saya buat project foto sendiri aja sekalipun nggak ada yang minta, hehe.

Apa yang membuatmu tertarik dengan fotografi?

Its simplicity. Nggak usah repot-repot berkata-kata untuk menjelaskan, cukup satu foto saja kadang bisa langsung buat ribuan orang mengerti.

Tempat paling menarik yang kamu datangi, so far?

Semuanya berkesan. Personally saya merasa sangat nyaman di Pulau Fraser dan di Kepulauan Great Barrier Reef, saya suka bagaimana dunia terasa di situ, warna hidup jadi cuma 5: krem (warna pasir), hijau (warna hutan), biru (warna laut dan danau), putih dan biru cerah (warna langit). Tenang banget. Saya suka landscape di Pulau Rinca, Komodo & Alor. Out of earth. Oh dan saya juga menemukan “rumah” di kepulauan di Andaman Thailand, it’s my personal sanctuary.

Apa arti traveling untuk kamu?

Buat saya, the road is home. Saya merasa paling nyaman ketika dalam perjalanan. Ada sebongkah besar “ketidaktahuan” ketika kita datang ke tempat baru, dan bongkahan itu yang membuat hidup menjadi menarik. Ada rasa ingin belajar, rasa ingin mengerti, ada rasa kerendahan hati juga ketika kita bertemu budaya baru, prinsip hidup baru, cara pikir baru, penduduk lokal dan orang-orang asing; perasaan bahwa saya cuma setitik jiwa bagai debu di antara hamparan jiwa-jiwa lainnya di bumi itu, mengajarkan saya untuk melepas ego saya dan mengutamakan kebaikan untuk semuanya.

Destinasi impianmu saat ini?

Ingin kembali ke Afrika lagi. Namibia, Madagascar, Kenya, Seychellen & Mauritius, Pulau Socotra, hampir semuanya di benua itu. Oh dan ingin sekali explore Amerika Selatan. Doain ya!

Tolong ceritakan tentang foto-foto yang kamu kirimkan ini

Ini adalah catatan saya ketika backpacking ke Macau dan Hong Kong. Waktu itu rencana backpack saya lumayan impulsive, saya lagi chatting sama web designer (kami lagi ngerjain project bareng) yang kenal banget juga nggak, tapi ternyata gampang disetanin. Saya cuma nanya ke dia, “Jadi kita mau backpack ke mana, hutan, pantai, gunung apa kota?” dan dia jawab, “Semuanya.” – Jadilah kami merencanakan itinery Macau – HK – Thailand – India – Nepal, yang rasanya memegang rekor tercepat kalau ada award untuk travel planning, haha. Tau-tau dalam setengah jam kemudian kami sudah punya tiket pesawat untuk ke semua negara itu.

Hal-hal paling berkesan selama di sana?

Semua yang janggal terasa menyenangkan: dari angin super kencang di Macau, bangunan kuno Cina kolonial (kami menginap di sebuah hospedaria bekas lokasi shooting Wong Kar Wai), sampai keramahan penduduknya dan kebiasaan mereka untuk jogging seharian dimana-mana. Yang kita lakukan selama di Macau sebenarnya cuma satu: nyasar tanpa arah, dari pagi sampai malam. Kalau ingin ke tempat tertentu, dengan polosnya nanya ke orang di jalan, salah turun bis, salah belok, sampai akhirnya sampai juga tanpa mengerti gimana caranya kok bisa sampai. Tapi syukur, semua tempat yang kami lewati itu menarik, dari kasino sampai hutan gantung. Kalau capek, kami berhenti di kedai kopi/dimsum lokal dan nguping cara bicara atau cerita pengunjungnya yang lagi ngobrol, buat saya itu menyenangkan. Kegiatan nyasar itu masih kami lakukan sampai mau berpindah negara, niatnya mau ke Hong Kong, kami salah arah pas naik bis, turun di perbatasan Shenzen Cina, dan dengan bloonnya nanya, “Ini ke Hong Kong, bukan?” Hahaha.

Hong Kong lebih teratur dari Macau, saya amazed dengan kota itu. Kami tinggal di sebuah gedung dodgy, Chung King Mansion, terkenal sebagai sarang narkoba dan prostitusi. Isinya imigran Afrika, Pakistan, India – badannya gede-gede semua. Kalau mau ngantri lift, selalu dagdigdug soalnya mata mereka besar-besar dan menatap tajam ke antrian, hahaha. Kalau malam, kami bisa mendengar teriakan-teriakan pelacur imigran Afrika yang lagi jualan di Tsim Sha Tsui, padahal kamar sewaan kami di lantai 20-an. Oh, ngomong-ngomong soal kamar sewaan, saya masih ingat kalau kamar itu kasurnya banyak kutunya, jadilah semalaman kami garuk-garuk nggak bisa tidur hahaha. Tapi nggak satu pun dari itu bisa membuat saya sebal, saya sudah terlanjur mencintai Hong Kong.

As published in NYLON Indonesia June 2012 “Through The Lens” feature.

All photos by Noran Bakrie

http://noranbakrie.com/

 

 

 

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s