Irresistible Inconsistency, An Interview With Protocol Afro

You can call it what you want, yang jelas Protocol Afro akan membuatmu berdansa dengan lagu-lagu mereka tanpa terkukung oleh genre. 

Suka atau tidak, kita hidup di masyarakat yang gemar menempelkan label ke semua hal, tak terkecuali musik. Berbicara soal label atau genre dalam musik pun akan selalu menjadi dikotomi tersendiri, di satu sisi genre bermanfaat sebagai terminologi untuk membicarakan sebuah band dan musik yang mereka mainkan, serta secara umum memudahkan kita saat mencoba mengenalkan sebuah band ke pendengar baru, namun di sisi lain genre juga bisa menjadi semacam pagar kecil yang membatasi band tersebut untuk berkembang. Sebagian musisi akan nyaman-nyaman saja berada di kotak genre yang mereka buat sendiri atau diberikan orang lain, sementara sebagian lainnya seperti Protocol Afro menolak untuk dibatasi oleh genre.

We called itInconsistent Pop’, dasarnya tetap indie rock tapi nuansa pop-nya tetap ada dan lebih bebas menginjeksikan genre apapun ke musik kami.” Ujar Mayo Falmonti yang menjabat sebagai bassist, manajer dan co-founder yang membentuk band Jakarta ini bersama vokalis Aryadita Utama alias Ditto, gitaris Giano Valentino, drummer Kristian Harahap dan gitaris Panji Prasetyo tahun 2007 silam. Saya sendiri pertama kali mendengar nama band ini sekitar dua tahun lalu lewat single mereka kala itu, “Radio”, satu lagu bernuansa post-punk dengan vokal Ditto yang sekilas mirip Brandon Flowers dari The Killers. Lama menghilang dari radar saya, di tahun 2011 mereka kembali dengan single “Music (Dance With Me)” yang terdengar dancey dan berwarna lebih uplifting dibanding lagu sebelumnya serta tampil di Baybeats Festival di Singapura dengan tambahan satu personel, Ferdi Salim di synths/keyboard. Suatu prestasi tersendiri bagi band yang saat itu belum merilis album dan belum dikenal bahkan oleh publik di negeri sendiri. “Apresiasinya luar biasa, padahal di saat bersamaan di negara sendiri band ini tidak dikenal sama sekali, gue kasih demo ke acara dan pensi sering ditolak, tapi pas approach Baybeats, malah goal, padahal sebelum Baybeats itu baru manggung tiga kali. Menurut gue, miracle from God bisa dapat kesempatan gitu.” Kenang Mayo tentang gig itu yang kemudian menjadi turning point bagi band ini. Berkat ulasan bagus dari media dalam dan luar negeri, nama mereka perlahan semakin dikenal dan mereka memutuskan untuk lebih serius dalam bermusik dengan merilis self-titled EP berisi 4 lagu dan tampil di berbagai kesempatan seperti HelloASEAN 2011 di Nusa Dua, Bali dan acara 811 Show di Metro TV.

Kini, dengan materi-materi baru seperti “Light It Up”, “Electricfire” dan “The Youth” yang berbenang merah aransemen dancey dan anthemic, mereka siap menuju langkah berikutnya. I don’t care its cliché or not, namun pertanyaan soal nama band selalu menarik bagi saya, termasuk Protocol Afro yang membuat saya bertanya-tanya karena tak ada satu pun personel yang berambut Afro. Saya mengharapkan jawaban yang mencengangkan dan memang itu yang saya dapat. Siapa sangka jika nama Protocol Afro datang dari situs name generator? “Bosan di kantor, gue iseng cari nama band di situs band name generator dengan menggunakan keyword ‘Mayo’ dan muncul ‘Mayo & The Protocol Afro’, akhirnya ‘Mayo & The’ dicoret, dan ‘Protocol Afro’ dipilih jadi nama bandnya.”  Ungkap Giano yang disambut tawa oleh semua personel. Saya sempat bertanya pernahkah mereka terpikir untuk mengganti nama, namun semua personel mengungkapkan jika mereka telah stuck in comfort dengan nama itu, “Mungkin bisa dibilang nama ini yang memilih kami. Dari sekian ratus ribu kemungkinan nama yang keluar, tapi entah kenapa nama yang muncul adalah nama yang telah mengantarkan kita sampai di sini.” tukas Ditto dengan serius.

Walau sehari-hari disibukkan dengan daily job masing-masing (diantaranya ada yang berprofesi sebagai jurnalis tv, marketing saham, graphic designer dan kuliah S2), mereka dengan senang hati mencurahkan perhatian lebih untuk proyek musik ini. Tak hanya sekedar memainkan instrumen masing-masing, setiap personel memiliki porsi tugas ekstra yang berbeda-beda. Mayo adalah manajer yang rajin menyambangi EO acara dan media untuk mengenalkan band mereka, Giano berperan sebagai mastermind dalam setiap lagu yang digarap, Pandji membuat visual/animasi saat mereka tampil, sementara Kristian dan Ferdi mengurusi marketing dan promosi. Kalau Ditto? Well, Ditto punya opini sendiri tentang bagaimana cara band ini bergerak, “Ibarat tubuh, Mayo is the heart, that keeps us going, Giano the brain blessed with inspiration, Kris the legs that move us in the right direction, Panji and Ferdi are the hands that make things happen, and me the face, because I look better than the other lads,” ujarnya sambil tertawa. Lalu apa rencana Protocol Afro selanjutnya? “Yang pasti sih full debut album yang rencananya bakal rilis pertengahan atau akhir tahun ini, dan selain itu juga video clip. Ada juga rencana untuk bikin conceptual live videos, yang sempat kita omongin bersama, tapi belum terlaksana. Selain itu sekarang juga lagi coba approach beberapa teman-teman musisi dalam dan luar negeri untuk me-remix lagu kami. Sudah ada satu, by the way, yaitu Riot !n Magenta (electropop duo dari Singapura) yang me-remix single kami, ‘Music (Dance With Me)’.” jawab Ferdi mewakili teman-temannya. Mereka boleh saja memainkan musik yang inkonsisten namun satu hal yang konsisten saya tangkap dari band ini adalah kekompakan dan semangat mereka yang tinggi. Yang jelas saat mendengar harapan mereka untuk bisa tampil di luar negeri kembali, saya rasa hal itu bukan angan-angan siang bolong belaka.

As published in NYLON Indonesia April 2012

Photo by Muhammad Asranur

http://soundcloud.com/indische-partij-records

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s