Gone With The Wind, An Interview With Timur Angin

Timur Angin mengajak kita mengintip sudut dunia lewat bidikan kameranya. 

Ada sejuta alasan kenapa orang senang berpergian. Sebagian dengan tujuan rekreasi dan menghilangkan penat, sementara sebagian lainnya pergi mencari inspirasi dan menceritakan kembali apa yang diperoleh dari perjalanannya. Beberapa akan bercerita lewat catatan tulisan dan yang lain memilih mengabadikan momen-momen tersebut lewat jepretan foto, seperti yang dilakukan oleh Timur Angin, seorang fotografer dengan reputasi yang sudah dikenal baik oleh dunia fotografi Indonesia. “Memotret dan bikin karya, daripada uang habis untuk membeli barang-barang bermerk atau mempercantik mobil, misalnya. Lagian kan kalau gue bisa balik modal hehe.” Jawabnya dengan enteng tentang motivasinya berpergian.

Sebagai fotografer, Timur tentu terbiasa dengan pekerjaan yang meliputi foto fashion, wedding, hingga corporate, tapi kecintaannya pada fotografi justru datang dari foto-foto scenery yang ia tangkap dalam perjalanannya. Entah ada kaitan dengan namanya atau tidak, yang jelas pria berumur 33 tahun kelahiran Jogjakarta ini memang senang berpergian ke berbagai tempat baik dalam maupun luar negeri dan seringkali destinasinya adalah tempat-tempat yang bukan menjadi tujuan wisata populer. Mulai dari Asia Tenggara, Cina, India, Tibet hingga Israel pernah dijajakinya.

Dalam berpergian, Timur lebih menyukai metode backpacking dan membaur dengan para penduduk lokal ketimbang berdiam diri di hotel. Bukan rahasia jika backpacking memang menawarkan cerita-cerita menarik di balik segala tantangannya. “Pernah waktu ke kota Chengdu, Cina, cari alamat kok nggak ketemu-ketemu. Berasa bego banget, padahal ya cuma muter-muter di situ. Mungkin terbiasa dengan ketidakberesan kota Jakarta, pas nemu kota yang teratur malah bingung sendiri.” Ucap Timur sambil tersenyum. Namun kesulitan mencari alamat mungkin tak ada apa-apanya jika dibandingkan pengalaman bertransportasi yang jauh dari kata layak. “Backpacking dari India menuju Nepal lewat jalan darat. Berjejalan naik kereta ekonomi di India. Waktu itu pas lagi winter, jendelanya bolong dan dinginnya minta ampun, toiletnya juga parah kondisinya dan pengemis mondar-mandir. Sebenarnya sama aja kaya di Jawa, tapi karena di India jadinya lebih parah. Hahaha, pengalaman hidup sih intinya.” Kenangnya ketika diminta menceritakan salah satu pengalaman berkesan yang dialaminya.

 Interaksi dengan masyarakat setempat pun tentu tak dapat dihindari, lantas bagaimana Timur menyikapi hal tersebut?  “Sebagai turis, pasti mudah kok berinteraksi. Bahkan nggak perlu mengerti bahasanya pun pasti berhasil. Apalagi yang backpacking. Kalau sama pelayan restoran, interaksinya mungkin hanya sebatas bayar bill. Tapi kalau ingin tahu lebih dalam, mending baca Lonely Planet. Kita nggak pernah tahu tabiat orang yang kita ajak bicara kayak gimana, entah itu lokal atau sesama backpacker, yang penting selalu waspada.” Jawabnya. Dan dia pun menceritakan ada keuntungan tersendiri ketika mengatakan dirinya berasal dari Indonesia, “Beberapa kali pasti berhasil dalam hal tawar-menawar. Kalau bilang bahwa kita sama-sama berasal dari negara miskin yang korup pasti tawaran kita akan diiyakan oleh si pedagang, contohnya seperti di Myanmar dan Kamboja, haha.”

Untuk masalah destinasi, Timur mengaku tidak terlalu pilih-pilih. Pantai, gunung atau perkotaan siap dikunjungi, yang penting lokasinya menarik untuk hunting foto. Dari sekian banyak tempat, jika harus menyebut satu, mana yang menjadi the best place he ever visit? “Tel Aviv karena nggak mudah bagi orang Indonesia untuk dapat izin masuk ke sana, kalau ke Jerusalem mungkin lebih umum.” Jawabnya. Dari kota ini juga ia mendapat souvenir paling memorable, yaitu kaus bendera Israel yang sampai sekarang belum pernah dipakai keluar rumah. Selain foto dan koleksi fridge magnet dari berbagai negara, Timur juga gemar mencicipi sajian lokal yang tak ditemukan di tempat lain seperti susu dan burger daging yak yang dicicipinya di Tibet.

Pertanyaan terakhir dari saya adalah destinasi impian selanjutnya, dan dengan semangat ia menjawab kawasan Amerika Selatan. “Terinspirasi oleh foto-foto karya Alex Webb. Matahari di sana bagus banget nggak kaya di Jakarta, terus ambience manusia dan lingkungannya selalu berwarna. Yang pasti langit biru seperti di Bali dan mau apa-apa juga murah. Lagian gue juga senangnya sama negara-negara eksotis. Ketimbang negara plesir yang major seperti Amerika atau Eropa, tapi kalau dibayarin orang sih nggak apa-apa juga kesana. Hahaha.”

 As published in NYLON Indonesia June 2011

All photos by Timur Angin

http://timurangin.com/

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s