Art Talk: The Melancholic Dreams of Ika Putranto

Ada banyak alasan untuk jatuh cinta dengan sebuah karya seni. Untuk saya pribadi, karya seni ibarat suatu jendela untuk melihat dimensi lain yang dibangun psyche sang seniman dan dalam kasus Ika Putranto, dunia yang tercipta dari sapuan kuasnya adalah dunia dreamy dan melankolis. Hewan-hewan misterius, bunga-bunga aneh dan gestur manusia yang “muted” menjadi ciri khas dari lulusan DKV UPH yang sekarang bekerja sebagai freelance graphic designer tersebut. Tak puas berkarya di atas kanvas, kini Ika mulai bereksperimen dengan medium yang lebih masif.

Boleh cerita sedikit tentang masa kecilmu? Bagaimana pengaruhnya untuk karyamu kini?

Dari kecil saya memang sudah suka banget sama seni, dulu sempat bercita-cita jadi pianis atau violinist, tapi bakatnya mentok, haha. Waktu kecil itu saya sangat “fairy tale”, suka banget baca buku dongeng sama mama. nonton film-film Disney dan film balet, banyak mengkhayal. suka buka buku-buku papa yang tentang lukisan. Mungkin ini yang bikin influence karya saya sekarang. style lukis saya sebenarnya agak mundur, impressionism (abad 19). Yang paling terlihat sih, stroke tarikan garis kuas saya pendek-pendek seperti era itu dan pencampuran warnanya juga searah.

Bagaimana proses berkarya seorang Ika?

Untuk proses produksi karya, biasanya saya mulai sendiri dari konsep dulu, biasanya dipikirin di kepala saja. Terus saya mencari mood board, warna, tone, mood, gestur, objek dan menggabungkan semuanya menjadi kesatuan karya. Dimulai dengan sketsa pensil di kanvas. Kalau instalasi seperti yang saya buat untuk ekshibisi “MAPS. Re imagined” di Di.Lo.Gue tempo hari, saya punya partner produksi. Namanya Miebi Sikoki, dia geek genius yang jago banget bikin science thingy dan konstruksi. Biasanya setelah saya diskusi teknis sama dia, dia yang akan bikin skema produksi teknisnya, setelah itu baru dikasih lagi ke saya untuk finishing. Untuk penggunaan material jenis kayu dan kaca, saya juga konsultasi sama dia.

Apa medium favoritmu dan kenapa?

Cat air dan acrilyc. Kanvas, kertas dan kayu. Karena tekstur dan mood yang dihasilkan dari media-media itu banyak yang bisa dieksperimen.

Sejauh ini, pameran mana saja yang paling berkesan untukmu?

Pameran gabungan 7 seniman perempuan di Linggar Gallery, kuratornya Mia Maria. Sangat berkesan karena range umur artist dan pengalamannya sangat beragam, saya  belajar banyak dari senior-senior seniman perempuan. Sempat ikut young artist exhibition di Korea dan acara bienalle di Italia, tapi cuma submit karya saja, nggak ikut ke sana. Terakhir, pameran di Dia.Lo.Gue Artspace, kuratornya Mitha Budhyarto, juga sangat berkesan karena pertama kali membuat karya berukuran cukup masif dan eksperimen media baru. Judul karyanya “Through the Looking Glasses”.

Apa inspirasi di balik instalasi “Through the Looking Glasses” tersebut? Alice in Wonderland kah?

Judulnya memang diambil dari buku keduanya Alice in Wonderland. Tapi kalau secara konsep sebenarnya nggak. Di sini saya bercerita tentang “boundaries” dan “perception“. Kaca merupakan analogi dari batas-batas yang transparan. Ada, tapi tidak terlihat. Saya ingin menunjukkan kalau batasan-batasan itu bisa ditembus. untuk hewan-hewannya sendiri merupakan alegori dari sifat-sifat saya dan mimpi. Untuk perception-nya dilihat dari bentuk instalasinya yang kalau dilihat dari beberapa sisi akan terlihat berbeda. seperti persepsi, tergantung sudut pandang kita saja melihatnya.

Jika bisa memilih, kamu ingin hidup di era apa? 

Saya ingin merasakan hidup di tahun 1800-an atau 1900-an, hehe. Well mannered etiquette and wardrobe. Di era tersebut saya sangat tertarik dengan art movement-nya, karena silang disiplinnya kuat. Literatur musik dan seni rupa saling bertautan.

Apa pendapatmu tentang seni di kalangan anak muda Indonesia?

Secara general saya merasa seharusnya seni diperkenalkan lebih dini. Dari kecil sudah mulai menikmati museum atau baca buku. Akses seni di Indonesia agak susah ya? Galeri-galeri bagus kebanyakan cuma ada di Jakarta, Bali, Jogja dan Bandung. Itu pun jadwal acaranya kurang terpublikasi.  Mungkin seharusnya bisa lebih diperkenalkan supaya lebih accessible.

Apa rencana selanjutnya?

Saat ini saya lagi mau bikin project baru yang lumayan beda dari yang sudah saya buat. Saya juga ingin membuat artist collective bersama dua partner saya yaitu Miebi Sikoki, dia bagian high tech dan konstruksi dan satu lagi Dibyokusumo, dia director dan video artist. Ingin explore seni dengan teknologi.

 

As published in NYLON Indonesia August 2012

http://fauxisfraud.blogspot.com/

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s