Higher Ground, An Interview With Nina Nikicio

Nina

Tidak pernah berhenti di satu titik adalah kunci Nina Nikicio untuk selalu setingkat lebih tinggi. 

“Gue lagi mentok. Gue lagi bosan banget sama Jakarta,” tukas Nina Nikicio sambil menyesap minumannya. “Lagi bosan sama scene-nya, karena gue melihat fashion designer atau brand owner dijadikan sesuatu yang hip sekarang. Brand atau webstore popping up anywhere, tapi sedikit yang memang benar-benar berkonsep. Ada yang cuma nempel brand doang tapi beli baju di mana, itu kan nggak ada bedanya sama jualan di Mangga Dua,” cetusnya lagi dengan cuek dan lugas. Well, kalimat itu mungkin terdengar agak pedas, namun keluar dari mulut seorang desainer yang telah mencapai status cult tersendiri seperti dirinya, keluhannya yang jujur itu memang terasa benarnya.

Sekarang ini, rasanya tak ada pencinta fashion yang tidak mengenal nama Nina Nikicio. Nina dan brand Nikicio memang langsung menjadi talk of the town sejak pertama merilis koleksinya tahun 2007 lalu. Design aesthetic yang modern dan tak terikat tren dengan aura yang lekat dengan kata “edgy” dan “cool” adalah faktor utamanya. “It seems like yesterday. Dari dulu gue nggak mau tergantung sama keluarga untuk soal uang jadi pas awal bikin Nikicio itu ya pakai duit sendiri hasil kerja. Jahit sendiri. Gue ingat untuk show perdana gue tahun 2007 lalu, gue bikin hand embroidery di selimut gede banget. Semuanya gue kerjain sendiri, sampai sekarang selimut itu masih ada lho! Haha!” ungkap desainer kelahiran 1985 ini saat mengingat lagi awal kariernya.

Nina pun terkenal dengan konsistensinya dalam meluncurkan koleksi setidaknya dua kali setahun di bawah lini Mixte dan Femme. Ia juga selalu aware dengan perkembangan yang ada, Nikicio termasuk label Indonesia pertama yang mengundang para fashion blogger untuk datang ke fashion show-nya, langkah yang lantas diikuti banyak desainer lainnya. Lima tahun berlalu, namun excitement orang-orang pada label ini masih terjaga kuat. Mungkin baru Nina yang bisa membuat orang rela datang ke sebuah fashion show di hari Sabtu jam 10 pagi, suatu momen yang menjadi breakthrough tersendiri baginya. “Gue deg-degan setengah mati, jam 10 kurang 15 orang masih dikit tapi pas jam 10 teng antrean udah ramai. Itu menurut gue momen yang membuat gue berpikir ‘I made it this far’, antusiasme orang untuk dateng ke show gue ternyata segitunya.”

Penyandang gelar bachelor untuk Fashion Design dari Lasalle College of The Arts, Singapura ini juga menceritakan masa-masa ketika ia sempat bekerja sebagai fashion designer untuk label menswear di daerah Clarke Quay Singapura dengan bos orang Inggris yang sangat galak untuk hal tailoring dan fitting. Dari lecturer di Lasalle, ia juga belajar pentingnya konseptual atau cerita di balik suatu koleksi. “Setiap bikin koleksi, mereka selalu nanya ini konsep di baliknya apa? Jadi gue nggak bisa bikin koleksi asal desain aja tapi nggak tau ceritanya apa. They always ask me to do one book, tebal banget yang isinya research dan sketch.” Setiap pelajaran itulah yang akhirnya menjadi fondasi yang selalu ia terapkan dalam mendesain.

Nina yang mengaku dirinya seorang workaholic ini juga tipe yang tak ragu untuk terus belajar. Karena itu sepulangnya ke Jakarta, ia mengambil Fashion Business di Lasalle Jakarta dan dalam waktu dekat, ia berencana mengambil program bachelor jurusan Fashion Design atau Fashion Merchandising di RMIT University, Melbourne. Hal itu juga menjadi salah satu cara untuk mengatasi kebosanan yang ia rasakan saat ini. “Biar belajar lagi bagaimana cara running business-nya biar bisa lebih smooth, karena gue merasa masih kurang di situ,” ungkapnya.

Menyeimbangkan antara idealisme dan sisi komersial bagi siapapun yang berkecimpung di industri kreatif adalah hal yang gampang-gampang susah, bagi Nina sendiri dua aspek itu harus berjalan beriringan. “Sejak gue belajar fashion business, gue sadar sebagai desainer lo nggak bisa berdasarkan idealisme lo aja. Sebagai business owner, lo harus bikin gimana brand lo bisa tambah besar. Lagian idealisme gue masih bisa keluar dari print dan campaign yang gue bikin,” tandasnya.

“Gue nggak pernah bikin resolusi atau plan apapun, kecuali untuk koleksi gue ya, hehe. Gue harus punya production calendar.untuk label gue. Gue sendiri stop bikin resolusi dari tahun 2009, tadinya gue mau stop ngerokok, eh tapi sampai sekarang belum bisa, jadi ya sudahlah, daripada gue tambah stress,” jawab Nina saat ditanya apakah ia termasuk orang yang gemar mencanangkan resolusi tertentu setiap tahunnya. Jika segala prosedurnya telah selesai dengan lancar, Nina akan terbang ke Melbourne bulan Februari nanti. Lantas, bagaimana dengan kelanjutan label Nikicio sendiri? “Gue nggak tau opportunity apa yang ada di sana, tapi kalau misalnya gue harus mindahin Nikicio ke sana kenapa nggak? Kalau misalnya gue pindah bukan berarti Nikicio juga stop, tapi cuma pindah ikut gue aja,” jawab Nina dengan tersenyum. Well, kalau benar seperti itu, mungkin untuk sementara kita akan kehilangan sosok darling designer ini di Jakarta, namun jika next endeavor ini bisa mengantarkannya ke level yang lebih dari yang telah ia jajaki sekarang, why not?

As published in NYLON Indonesia January 2013

Photo by Andre Wiredja

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s