Sweet Disposition, An Interview With Ayushita

Membintangi film yang akan ditayangkan di Sundance Film Festival dan bersiap merilis album solo perdananya, Ayushita tengah melangkah riang dengan visi baru. 

Mendengar nama Ayushita Nugraha, mungkin kamu langsung teringat dengan Bukan Bintang Biasa alias BBB. Dalam grup musik besutan Melly Goeslaw tersebut, Ayu dan 4 artis muda lainnya menarik perhatian publik dengan konsep mereka yang menekankan jika masing-masing personelnya memang artis serba bisa. Saya sendiri selalu merasa gadis kelahiran Jakarta 23 tahun lalu tersebut memang punya sesuatu yang lebih dibanding artis-artis sebayanya yang lain. There’s some sort of big potential yang sayangnya masih terasa belum dimaksimalkan, seakan menunggu sebuah outlet atau momen yang tepat untuk akhirnya tersibak. Fortunately, that time has finally come for her.

Diiringi musik swing dan Motown yang memenuhi sebuah kafe di bilangan Kemang, Ayushita yang terlihat segar dengan rambut panjangnya mulai bercerita tentang dua proyek besar yang sedang dijalaninya. Yang pertama, dalam waktu dekat ia akan terbang ke Amerika untuk menghadiri Sundance Film Festival, di mana film terbarunya akan melakukan world premiere. Berjudul Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta (What They Don’t Talk About When They Talk about Love), film garapan Mouly Surya tersebut terpilih dalam kategori The World Dramatic Competition untuk festival yang berlangsung di Salt Lake City, Utah itu. Di film ini ia memerankan salah satu tokoh utama bernama Fitri, gadis tuna netra yang berjumpa dengan Edo (diperankan Nicholas Saputra), seorang punk rocker dengan gangguan pendengaran yang menyamar menjadi dokter. Premisnya memang merujuk pada cerita cinta, namun jelas yang terpapar kali ini adalah cinta yang lebih rumit karena keterbatasan fisik mereka berdua. “Di film ini para pemain lebih dibebaskan mengembangkan karakter dan tidak terpaku vision Mbak Mouly sebagai director. Tidak ada pressure sama sekali dan waktu aku fix dapat peran ini, aku diajak ngobrol panjang lebar dengan Mbak Mouly berdua saja tentang film ini karena ceritanya kan masalah perempuan, and she’s convinces me that I can do it,” ungkap Ayu yang mengaku sempat ragu-ragu untuk memerankan penyandang tuna netra, sebuah peran yang mendorongnya melakukan observasi di panti tuna netra, belajar huruf Braille, memakai makeup sendiri tanpa melihat, sampai belajar pijat.

Exactly? Dari umur 3 tahun,” jawab Ayu tentang awal kariernya. “Dulu foto baju anak-anak, iklan, dan waktu SD sempat ditawarin sinetron tapi aku nggak mau,” kenangnya sambil tersenyum. Nama Ayushita sendiri resmi dikenal publik saat ia selesai mengikuti ajang Gadis Sampul 2004 yang bersamaan dengan syuting perdananya untuk FTV berjudul Bekisar Merah garapan Miles Production. Perannya sebagai cewek tomboy yang menyamar sebagai anak laki-laki untuk bermain bola membuatnya dinominasikan untuk Piala Vidia FFI 2004 dalam kategori Pemeran Wanita Utama Terbaik. Walau akhirnya kalah dari Ria Irawan, dalam ajang yang sama, ia meraih penghargaan khusus Aktris Pendatang Baru Terbaik. Sejak itu kariernya melesat dengan membintangi beberapa judul film lainnya dan terlibat dalam BBB.

ayushita2

Terjun ke dunia showbiz yang keras dari usia dini, apakah ia memiliki semacam regret tersendiri? “I’m sure have once in a while,” jawabnya sambil menyesap iced tea dengan hati-hati. “Waktu itu aku pernah ngambil satu produksi yang mungkin karena aku terbiasa dengan produksi jangka panjang, all of sudden I must do an instant and very industrial thing. I was so shocked, kayak yang ‘Gila, ternyata kayak gini banget ya?’ Aku selalu memerlakukan satu produksi sama dengan lainnya, I give my best. Tapi yang satu ini feedback-nya memang kurang seimbang jadi waktu itu sempat bikin males, akhirnya aku lanjutin kuliah yang pending dua tahun,” ungkapnya serius sambil menyinggung tentang kuliahnya di jurusan Performing Arts Communication di London School. “Aku ternyata lebih senang mengerjakan sesuatu dengan preparation. I don’t say I hate that industrial thing, I feel thankful for the experiences. Dari situ juga aku akhirnya merasa jauh lebih happy karena aku jadi punya banyak waktu untuk bikin sesuatu seperti album musik aku sendiri,” lanjutnya.

Yup, proyek besar kedua Ayushita saat ini adalah sebuah album solo debut. Di bawah label Ivy League Records milik Ramondo Gascaro dari band Sore yang juga menaungi Payung Teduh dan Darryl Wezy, Ayu menunjukkan potensi lain dalam dirinya lewat lagu-lagu garapan Mondo, Ricky Virgana dari White Shoes & The Couples Company dan Anda Perdana berupa pop eklektik yang easy listening. Proyek ini sendiri tercetus setahun lalu dari sebuah jamming iseng antara Ayu dan Ricky yang mengunggah rekaman video mereka meng-cover lagu The Bird & The Bee ke YouTube. Album yang direncanakan rilis sekitar bulan Februari atau Maret ini berisi 8 lagu dengan dua lagu berbahasa Inggris, dan judul albumnya sendiri akan bertajuk Morning Sugar. “Yang milih judulnya kakak aku, Karin. I dunno why, she really loves those words, haha. Morning Sugar itu buat aku sendiri adalah suatu hal yang menyenangkan, jika ada yang bilang ‘Morning, sugar!it’s such a sweet thing,”

Saat mendengar single berjudul “Fufu-Fafa” di iPod-nya, kesan yang terdengar adalah musik pop yang fresh dan laidback seperti lagu-lagu yang dibawakan Zee Avi, Bic Runga atau Dia Frampton. Untuk influens musikal sendiri, Ayu tak terpatok genre tertentu, ia mendengarkan beragam musik, mulai dari R&B, 90’s alternative rock, jazz hingga classic. “Kalau untuk lagu aku sendiri, dari komentar yang sudah dengar ada yang bilang genrenya ini genrenya itu, beda semua pendapatnya. Aku sih bebasin aja ke yang dengar, terserah mau bilang genrenya apa, nggak mau mengotakkan album aku sendiri,” tukasnya. Selain warna vokal Ayu yang berkarakter, yang membuat album ini terasa menjanjikan tentu tak lepas dari otak kreatif di balik aransemen musiknya yang menarik. Untungnya, Ayu tak menjumpai kendala saat menyatukan visi antara pembuat lagu dan dirinya. “Penyesuaian antara karakter suara dan musik itu pasti ada. Sebelum mereka buat lagu, aku maksa mereka dengerin suara aku dulu biar tau cocoknya gimana karena kan belum tentu apa yang mereka bikin bisa cocok aku nyanyiin. Tapi mereka tetap bebas berekspresi, aku nggak maksa misal aku suka lagu seperti apa, mereka harus bikin yang kaya gitu. As long as kita sama-sama suka ya diterusin,” ungkapnya.

Dengan dua proyek besar yang seakan menjadi momen turning point untuk seorang Ayushita, baik secara personal maupun profesional, bagaimana Ayu memandang dirinya sendiri saat ini? Ia sempat berpikir sejenak sebelum akhirnya memberi jawaban, “Apa ya? Mungkin beda dari sebelumnya, aku sekarang merasa lebih chic. Banyak yang lama nggak ketemu aku bilang ‘hah kok lo cewek banget sekarang?’ haha… Ya nggak tau deh mungkin sekarang umurnya lagi seneng centil, haha. Sama dengan albumnya, terserah orang mau bilangnya kaya gimana tapi this is Ayushita now,” lugasnya dengan senyuman cerah.

As published on NYLON Indonesia January 2013

Photo by Rude Billy.

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s