Through the Lens: Ainur Rasyidah

Semakin banyaknya perempuan yang bersenjatakan kamera DSLR di media pit untuk berjuang memotret momen terbaik dalam suatu pertunjukan musik menunjukkan jika stage photography bukan lagi monopoli dari para fotografer pria belaka. Dalam artikel berjudul Stage Presence yang saya tulis untuk NYLON Indonesia Maret 2013, saya mewawancarai lima gig photographer perempuan tentang serunya menangkap momen yang menampilkan pesona sang performer dan emosi yang mereka ekspresikan di atas panggung.  Here’s the first instalment.

Ainur copy

Tell us a bit about yourself.

My name is Ainur Rasyidah, people call me Sida or Ainur. I always call myself as a “Vintage Owl”. Because I love vintage stuffs and vintage fashion style.  And Owl, karena gue biasa konsentrasi bekerja di rumah pada malam hari dan biasanya gue baru bisa tidur jam 3 pagi hampir setiap hari, hahaha! Nickname itu menjadi identitas gue dan signature gue. And I always thought I am a lucky music fan, karena profesi dan hobi gue bisa membuat gue mengenal bahkan berteman dan bekerja bersama musisi-musisi dan para idola gue di dunia musik, hahaha!

 Sejak kapan kamu menjadi gig photographer, and what was your first gig?

Sejujurnya gue lebih suka dan ingin menyebut diri gue nantinya sebagai music photographer, tidak terbatas hanya gig atau konser saja. Gue resmi bergabung di Gigsplay sekitar awal bulan Maret 2012, dan resmi bergabung di irockumentary pada bulan April di tahun yang sama. Senang sekali rasanya karena gue memang ingin bergabung di salah satu media tersebut dan ternyata gue dapat kesempatan untuk bergabung di keduanya! Gig pertama gue untuk Gigsplay adalah “Tribute to Morrissey” yang diadakan di Borneo Beerhouse tanggal 9 Maret 2012. Sedangkan gig pertama gue untuk Irockumentary adalah “Enjoy Yourself! On Record Store Day” tanggal 22 April 2012 lalu di Aksara Kemang.

 Apa yang mendorongmu menjadi gig photographer?

I always love to share stories and memories! Dan musik bisa dibilang bagian terbesar dalam hidup.  Gue sangat berharap foto gue bisa mengabadikan cerita seru di gig atau konser tersebut dan membangkitkan kembali memori menyenangkan orang-orang yang berada pada momen itu. Dan gue punya cita-cita memotret festival-festival musik di seluruh dunia seperti Coachella, Fuji Rock Festival, Glastonbury, dll.  Itulah kenapa gue ingin menjadi fotografer.

Natasha Khan by Sidainur

 Apa cerita di balik foto ini?

This is Natasha Khan aka Bat For Lashes live at Laneway Festival 2013 in Singapore. Gue mungkin bisa dibilang baru menjadi fans Bat For Lashes. Ketika gue punya kesempatan untuk memotret Laneway Festival tahun ini dan bisa menyaksikan live performance-nya, ditambah gue berhasil foto bareng dengan Natasha, gue sangat bahagia! Hahaha. Foto ini adalah momen ketika dia selesai membawakan lagu pertama. Seems like she was very excited to be there, ditambah dengan penonton yang juga bersemangat tinggi, hampir di sepanjang penampilan senyum tidak pernah hilang dari wajah Natasha membuatnya nampak seperti bersinar. She looks so bright and sings beautifully flawless! Momen yang gue tangkap ini diharapkan bisa menceritakan how bright she was on that stage. Ditambah dengan Laneway Festival 2013 adalah festival musik luar negeri pertama yang gue potret, foto ini sangat berkesan buat gue hahaha.

 Gig paling berkesan yang pernah kamu datangi?

Sampai saat ini yang paling berkesan buat gue adalah Sigur Ros concert di Fort Canning Park, Singapore. Sigur Ros masuk dalam daftar musisi dan band yang harus gue foto ketika gue menjadi photographer. Dan ketika hal itu terkabul, bisa memotret dan menonton mereka langsung, gue senang sekaligus terharu. Musik yang mereka mainkan secara live yang lebih dramatis dan indah, visual dan lighting yang luar biasa, ditambah hujan yang turun di lagu terakhir dan berhenti ketika lagu selesai dimainkan cukup membuat gue menangis terharu dan kegirangan sepanjang nonton konser itu. It was MAGICAL! Sedangkan gig lokal paling berkesan adalah Dream Together Happily Ever After, Soft Launching L’alphalpha edition by Koola Stuffa di Aksara Kemang Jakarta tanggal 8 April 2012. Suasana yang sangat hangat, seru dan akrab ketika L’alphalpha manggung dengan sangat bersemangat membentuk lingkaran di tengah-tengah toko dikelilingi penonton di sekitar mereka sangat berkesan buat gue. There’s nothing but laugh and joy floating in the air back then!

 Apa kamera yang biasa kamu gunakan?

My camera is Nikon D90 with 18-105 f/3.5 lens. Kadang juga memakai lensa Tamron 17-50 mm f/2.8 atau Nikkor fix lens f/1.8. Gue memakai kamera itu dari awal menjadi fotografer hingga sekarang. Nantinya ingin menambah lagi lensa dan lainnya supaya hasil fotonya semakin bagus hahaha.

 What’s your secret photography tips?

If you enjoy the music and the gig’s atmosphere, you’ll get great pictures and share great stories! Ada kalanya gue harus liputan ke gig yang band atau acaranya belum pernah gue kenal atau datangi. Supaya tidak canggung gue harus mencoba menikmati susasana dan musik yang ditampilkan. And it is always works for me! Tapi juga harus tetap konsentrasi jangan sampai lengah karena terlalu menikmati suasana atau musik supaya tidak kelewatan momen-momen menarik. Gue pribadi sangat suka memotret interaksi antar anggota band di atas panggung atau gestur tubuh yang menarik ketika mereka menyanyi atau bermain musik. Momen-momen tersebut adalah momen yang selalu gue tunggu ketika memotret.

 Musisi/Band/Gig yang ingin kamu foto?

Gue punya daftar sekitar 10 musisi yang menjadi tujuan kenapa gue harus jadi Gig Photographer. Diantaranya adalah The Strokes, Mew, Radiohead, dan Bjork adalah beberapa nama musisi yang menjadi tujuan kenapa gue harus menjadi music photographer! Dan gue punya cita-cita mengumpulkan profile photos musisi-musisi lokal favorit seperti L’alphalpha, Stars & Rabbit, Sapphira Singgih, Luky Annash, dll. Siapa tahu nanti bisa gue jadikan buku juga hahaha.

 Any advice for other girl who want to be gig photographer?

Be consistent! Sekarang sudah banyak sekali gig photographer, ditambah kebijakan penonton boleh membawa kamera DSLR pada beberapa gig dan music festival. Jangan pernah merasa tersaingi oleh mereka dan kemudian berhenti di tengah jalan. Tunjukkan bahwa lo bisa mengambil foto yang lebih baik dari mereka dan jangan berhenti di tengah jalan. Being gig or music photographer is super fun!

 Selain fotografi, apa lagi yang kamu kerjakan?

Gue sekarang bekerja menjadi Motion Editor di sebuah perusahaan yang baru berdiri pada pertengahan tahun lalu dan fokus di bidang edukasi. Seru dan gue jadi banyak belajar dalam arti sebenarnya di bidang pekerjaan ini hahaha. Selain itu gue menjadi freelance graphic designer, photographer, dan video editor. Saat ini gue juga sedang berusaha mewujudkan cita-cita membuat visual untuk musisi-musisi lokal favorit gue ketika mereka manggung, atau video-video klip semacam fanmade untuk lagu-lagu mereka.

 What’s the perks of being gig photographer?

The chance of getting new friends and partners, capturing great moments and atmospheres into pictures, and experiencing so many exciting music events! Mungkin orang berpikir jadi gig fotografer itu keuntungan yang paling enak adalah karena dapet akses gratis di gigs, konser-konser, dan festival-festival. Eits, siapa bilang? Justru untuk keistimewaan yang satu itu tanggung jawabnya besar. Fotografer harus menunjukkan hasil yang sepantar dengan akses yang sudah diberikan serta mengikuti aturan yang telah ditentukan seperti misalnya deadline hasil foto. Banyak keistimewaan dan keuntungan lainnya selain akses gratis, in my opinion.

Fotografer favoritmu?

Banyak sekali sebenarnya hahahaha! Kalau dari internasional, yang paling gue suka adalah Maria Louceiro dari Portugal. Style dan warna foto-foto karyanya bagus sekali, mysterious and dreamy at the same time! Sedangkan fotografer lokal, Agung Hartamurti Wirawan (Irockumentary), Nikensari Prista, Lionindra Harviana (irockumentary), Ahmad Haffiyan Faza adalah beberapa nama  fotografer-fotografer favorit gue. Gue suka foto-foto mereka yang mempunyai ciri khas dan mampu menangkap momen yang bercerita, serta attitude mereka dalam dunia fotografi sangat patut dijadikan contoh yang baik walaupun mereka semua masih muda.

 Apa yang membedakan fotomu dari jepretan fotografer lainnya? Do you have any signature style?

Jujur, saat ini gue masih mencari style foto yang akan menjadi ciri khas gue, entah dari segi komposisi, momen, warna, dan lain sebagainya. Gue ingin nantinya ketika orang-orang melihat foto karya gue, mereka langsung berkata: “Oh that’s Vintage Owl’s photo!” Tapi saat ini nama dan watermark “Vintage Owl” yang gue pakai untuk menjadi identitas dan ciri khas gue dan sudah cukup diingat oleh beberapa orang dan itu cukup membuat gue senang.

http://www.flickr.com/photos/singingowl/

As published in NYLON Indonesia March 2013 “Stage Presence” feature.

 

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s