Third Vision, An Interview With Grimes

grimes-31

Entah karena musik atau pesonanya yang luar biasa menarik, terlalu banyak alasan untuk jatuh cinta kepada Claire Boucher alias Grimes, you’ll lose count.  

It’s surreal to finally meet you,” ucap saya pelan setelah memperkenalkan diri sambil berusaha keras menyembunyikan star struck yang muncul. “It’s been surreal for me too to be here in Indonesia,” balas Claire Boucher sambil tersenyum memamerkan giginya yang seperti kelinci. Perlu diakui jika bertemu dengan seorang musisi yang lagu-lagunya kamu dengarkan setiap hari memang selalu terasa surreal, dan kebetulan kata itu pun bisa mewakili image seorang Claire Boucher yang lebih dikenal dengan nama Grimes. Berkat album Visions yang merupakan salah satu album terbaik tahun lalu dan sense of style yang unik, semua media baik musik maupun fashion seakan berlomba mengeksposnya demi mengejar hype atau berusaha mengungkap kerumitan dan kejeniusan di kepalanya, sesuatu yang tak akan bisa kamu pahami bahkan bila kamu sudah membaca semua artikel yang berhubungan dengannya. Musik ethereal synth pop yang ia buat adalah seni terbaik yang bisa dihasilkan dari perangkat elektronik, namun ia tak mempunyai email atau bahkan telepon pribadi, sehingga Twitter dan Tumblr miliknya menjadi satu-satunya akses untuk melakukan kontak dengannya. To sum it up, she’s as mystical as a fairy.

Siang itu, hanya beberapa jam sebelum gig perdananya di Indonesia, ia menyempatkan waktu untuk ritual press interview di sebuah restoran di Kemang. Mengenakan kaus hitam bertuliskan VIRGN, celana pendek jeans, dan rambut yang kini berwarna ginger, ia terlihat seperti anak sekolah seni yang menutupi rasa gugup dengan selalu tersenyum dan membelalakan mata. Tangannya yang dipenuhi cincin dan tato bikinan sendiri ikut bergerak setiap ia membicarakan sesuatu dengan semangat, seperti tur Asianya kali ini misalnya. “It’s been amazing! Saya sempat keracunan makanan di Malaysia, tapi selain kesialan itu, tur ini sangat membuka mata saya. Saya belum pernah ke negara-negara Asia Tenggara sebelumnya, pretty life changing, I guess,” ungkapnya. Jakarta menjadi kota keempat dalam rangkaian tur ini yang diakuinya sangat menyita waktu sehingga ia baru sadar jika keesokan harinya, tanggal 17 Maret, ia akan berulangtahun yang ke-25, sesuatu yang memang tak terlalu dipikirkannya. “Saya biasanya tidak melakukan hal khusus, karena ulang tahun saya bertepatan dengan St. Patrick’s Day yang merupakan hari libur paling buruk di Kanada dan Amerika,” ucapnya sambil tertawa, “It’s a bunch of drunken frat boys yang muntah di jalan, berteriak, dan saling berkelahi di antara mereka, it’s an Irish holiday. Awful.”

St. Patrick’s Day jelas bukan sesuatu yang menarik antusiasme gadis yang melewati masa sekolahnya dengan hang out di komunitas goth dan membuat ilustrasi bergaya grunge, bakat khusus yang masih dijaganya dengan membuat sendiri artwork di album Visions dan kolaborasinya dengan YSL dalam bentuk koleksi kapsul t-shirt cowok baru-baru ini. Setelah rutin mendatangi acara musik underground di Montreal, ia tertarik mencoba membuat musik sendiri saat masih menjadi mahasiswi Sastra Rusia dan mengakui idola musik pertamanya adalah pianis klasik Rusia, Sergei Rachmaninoff. Dengan influens musik yang sangat luas, mulai dari Marilyn Manson, TLC, Aphex Twin, hingga K-pop, Claire berhasil mengambil the best essence dari semua aliran musik tersebut dan meramu musiknya sendiri yang menjadi archetype dari generasi online musician di era post-internet saat ini. Online musician yang saya maksud adalah para musisi yang bermula dari iseng bereksperimen dengan software perangkat musik di kamar tidur mereka, merekam lagu, mengunggahnya ke internet, menarik perhatian Pitchfork dan ratusan blog indie music lainnya hingga akhirnya ditahbiskan menjadi hype.

grimes-34

Para musisi online tersebut umumnya adalah remaja-remaja canggung yang tidak siap untuk tampil di media dan memainkan lagu mereka di atas panggung berpenonton lebih dari seratus orang. Claire mungkin adalah seorang media darling, namun dengan terbuka ia mengungkapkan kecemasannya sebelum tampil di atas panggung. “Rasanya selalu menakutkan sejujurnya. Saya biasanya tampil sendirian dan sering berbicara melantur di atas panggung. Namun, saya rasa semakin sering saya melakukannya, saya pun semakin terbiasa untuk berinteraksi dengan crowd,” ungkapnya. Untuk menemaninya di panggung, dalam tur ini ia mengajak beberapa penari lokal, adik lelakinya bernama Mac, dan Ami Dang, seorang penyanyi berdarah India yang bertindak sebagai opening act sekaligus backing vocal untuknya. Ia pun menceritakan alasannya dalam memilih Ami Dang, “Saya rasa Ami Dang membuat musik yang benar-benar baru. Dia memainkan sitar dan musik tradisional India namun dia juga membuat powerful beats. Dan saya rasa fakta jika dia membuat dan memainkan musiknya sendiri sangat menunjukkan sosok wanita independen, and I always support that,” tandasnya, merujuk pada topik female empowerment yang menarik minatnya. Ia lantas menyebut nama Beth Gibbons, frontwoman dari Portishead, sebagai all-time private icon, “Dia membawakan musik dengan cara yang seperti saya inginkan. Dia tak tampil untuk kepuasan orang lain dan benar-benar passionate dan unpretentious saat berada di atas panggung. “

Karen, tour manager Claire, mengingatkan saya jika 10 menit yang diberikan untuk interview sudah habis. Saya pun menutup interview dengan bertanya tentang album selanjutnya pasca-Visions. “Tur ini adalah tur terakhir saya untuk album Visions, finally I’m done everything with that album. Dan setelah merampungkan tur ini di Jepang dan Coachella, saya akan kembali masuk studio untuk merekam lagu-lagu baru. Saya sama sekali tidak sempat membuat lagu selama setahun terakhir kemarin, so it’s time to get back to music!” Jawabnya bersemangat sambil menyebut jika ia ingin berkolaborasi dengan female rapper seperti Angel Haze atau Kitty Pryde, dan membayangkan musiknya nanti akan seperti Nine inch Nails dengan vokal Jigglypuff, seekor Pokemon berbentuk kucing pink bundar yang menghipnotis lewat nyanyiannya. Now, how can you not fall in love with her?

grimes-27

 As published in NYLON Indonesia April 2013

Photo by Rude Billy

 

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s