The Blind Truth, An Interview With Ayushita & Nicholas Saputra

Apa saja hal-hal yang tidak dibicarakan ketika kita membicarakan Nicholas Saputra dan Ayushita Nugraha? Let’s find it out together.

The early bird catches the worm” menjadi mantra penyemangat saat saya harus meninggalkan rumah lebih pagi dari biasanya menuju sebuah studio foto di daerah Kuningan demi jadwal cover photoshoot dan interview bersama Nicholas Saputra dan Ayushita Nugraha untuk edisi Mei. Mereka sebetulnya bukan nama asing bagi majalah ini, Nicholas pernah menjadi cover NYLON Guys Indonesia edisi April 2011, sementara saya sempat mewawancarai Ayu untuk edisi Anniversary NYLON Januari tahun ini. Sekarang, mereka berdua sengaja dipasangkan berkat film terbaru mereka, What They Don’t Talk About When They Talk About Love, di mana keduanya berperan sebagai penyandang disabilitas yang menjalin hubungan yang “tidak biasa”.

Bila film-film bertema disabilitas pada umumnya dibanjiri drama air mata serta pesan-pesan preachy, film kedua karya sineas perempuan Mouly Surya ini memilih menunjukkan realita di balik tembok sebuah Sekolah Luar Biasa dengan apa adanya secara humanis. Dalam film dengan ensemble cast yang turut dibintangi oleh Karina Salim, Anggun Priambodo, dan Lupita Jennifer ini, Ayushita berperan sebagai Fitri, seorang remaja tunanetra di sebuah asrama untuk visually impaired yang terobsesi pada cerita hantu, dan selayaknya remaja seumurnya, she’s dying to feel some love. Saban malam Jumat, ia pergi ke kolam renang sekolahnya untuk bercerita kepada sesosok hantu dokter yang konon merupakan urban legend di sekolahnya, sampai suatu hari “hantu” itu muncul dan berkomunikasi dengannya lewat surat yang ditulis dengan huruf Braille. Fitri tak tahu jika dokter hantu pujaannya itu ternyata seorang pemuda tunarungu bergaya punk bernama Edo (Nicholas Saputra) yang diam-diam sering memperhatikan Fitri.

Semboyan love is blind menjadi hal yang literal dalam cerita ini. Terlepas dari keterbatasan fisik keduanya, mereka pun menjalani hubungan yang sangat passionate lewat sentuhan fisik dan momen-momen ajaib dari minimnya komunikasi di antara mereka. Menariknya, di film ini Mouly menghadirkan twist berupa alternate reality di mana keduanya adalah pasangan normal yang sangat komunikatif satu sama lain walaupun tinggal di sebuah kamar kos sempit, yang semakin terasa pengap dengan rentetan dialog klise orang mabuk cinta yang bila diresapi ternyata sangat “kering” dan dipaksakan. Conversation is (sometimes) overrated adalah pesan yang terpapar dari sini, dan membuat kita bertanya do they really fell in love? Atau justru seperti yang Fitri ungkapkan, apa mereka hanya jatuh cinta dengan konsep jatuh cinta itu sendiri?

Dengan premis skenario yang menarik tersebut, film ini berhasil disertakan dalam World Cinema Dramatic Competition di Sundance Film Festival tahun ini yang juga membuatnya menjadi film Indonesia pertama dalam salah satu festival film dunia paling bergengsi itu. Setelahnya, film ini juga ditayangkan di Rotterdam, Goteborg, dan Hong Kong International Film Festival dan mendapat respons gemilang dari semua media. Well, setelah menontonnya sendiri, kamu akan langung mengetahui penyebabnya. Script yang memang menarik itu diperkuat oleh pendekatan sinematik khas Mouly yang dipenuhi sinematografi cantik dan penuh simbol. Tak hanya secara visual, dari audio pun film ini memaksa kita menajamkan indera pendengaran kita. Di satu titik di mana tidak ada audio sedikit pun, kita dibuat “tuli” sesaat dan seluruh bioskop terasa hening sampai-sampai penonton seperti menahan napas menunggu suara muncul kembali. Komposisi musik yang digarap Zeke Khaseli dan Yudhi Arfani dengan cerdas juga menjadi elemen penting yang menggambarkan emosi internal setiap karakter, salah satu yang paling memorable adalah lagu “Twinkle, Twinkle, Little Star” dengan lirik lagu “twinkle, twinkle, little star. How I wonder what you are,” yang terasa menusuk saat dinyanyikan karakter bernama Maya (Lupita Jennifer). Somehow, saya merasa lirik tersebut juga menggambarkan sosok Nicholas dan Ayushita. Keduanya memang bukan “bintang kecil”, dan hampir semua orang mengenal mereka, tapi apakah persepsi publik sudah cukup mewakili kepribadian mereka di dunia nyata? That’s what I try to find out this time.

IMG_0454 copy

Ayushita datang tepat waktu dan mulai menjalani proses makeup saat saya tiba. Sama seperti perjumpaan kami sebelumnya, ia terlihat riang dan bersemangat walau jam masih menunjukkan pukul sembilan, jam yang menentukan mood kita sepanjang sisa hari nanti. Satu-satunya yang berubah adalah kilatan warna turquoise yang kini menghiasi sebagian rambut belakangnya. “Sundance was so cold!” katanya riang saat saya menanyakan ceritanya ikut ke Sundance bulan Januari silam, “tapi aku sama Lupita pulang duluan karena aku harus nyiapin launching album. Yang senang pas lagi screening itu, kita juga nervous dan mereka tahu ini film Indonesia pertama yang masuk Sundance, tapi mereka memberikan respons yang baik, nggak ada penonton yang walkout, mereka stay sampai film selesai, dengerin Q&A, dan banyak yang pengen foto bareng. Aku pikir cuma hari itu aja, tapi the next day kita jalan-jalan, ada orang yang bilang, ‘kamu yang main di film itu ya?’ Terus ngajakin foto bareng, terus besoknya lagi pas kita jalan-jalan makan siang di main street ada orang yang bilang “Hey I saw your movie! Congratulation, we love it!’ terus banyak yang bilang ke Mbak Mouly, ‘terima kasih sudah bikin film yang bagus,’” ceritanya sambil tersenyum.

Gadis kelahiran 1989 ini punya alasan kuat untuk tersenyum. Kuartal awal tahun ini kariernya bisa dibilang tengah mengalami transformasi. Ia menggebrak dengan dua project besar sekaligus, yaitu film ini dan album musik solo pertamanya yang bertajuk Morning Sugar. Beberapa minggu sebelumnya, ia mengadakan mini concert di gedung PPHUI untuk perilisan albumnya, satu hal yang ia turun tangan sendiri menyiapkan segala sesuatunya. Musik di album ini sendiri sejujurnya bukan sesuatu yang akan kamu sangka dinyanyikan oleh Ayushita yang sebelumnya lekat dengan cap Bukan Bintang Biasa (BBB). Dibantu oleh Ramondo Gascaro (eks-keyboardist SORE) dan Ricky Virgana dari White Shoes & The Couples Company, album ini berwarna indie pop Indonesiana. “Banyak yang kaget sih, wah kok sekarang jadi kaya gini ya? Banyak juga yang agak sarkastik, tapi…I’m okay. Maksudnya sudah terbiasa dengan hal-hal kaya gitu,” cetusnya sambil mengangkat bahu. “Aku sebetulnya nggak ngerasa ini hal yang baru buat aku, untuk di depan publik mungkin iya. Mereka kan mikirnya aku sangat mainstream atau gimana, aku keburu udah di tengah-tengah, I like the off-stream, but I don’t hate the mainstream either, to be realistic aja sebetulnya. In real life, ini musik yang aku suka juga. iPod aku terlalu beragam playlist-nya dan indie pop adalah salah satu jenis lagu yang aku suka banget.”

Terjun ke dunia showbiz sejak kecil, Ayu memang telah terbiasa dengan berbagai pemberitaan menyangkut dirinya di media, entah kariernya sebagai aktris maupun sebagai penyanyi, walau ada satu sisi dirinya yang belum terekspos. “They don’t know if I love cooking a lot! Recently aku baru belajar baking. Baking itu lebih susah dibanding masak Italian or Japanese food, aku pernah mau bikin kue ulang tahun belajarnya kaya orang mau ujian, berkali-kali sambil nonton YouTube. It was fun. Terakhir aku bikin Strawberry Shortcake, dan Alhamdulilah rasanya kaya punya restoran yang emang aku suka Strawberry Shortcake-nya, Ahaa… gue punya resepnya! Bisa nih bikinnya! Haha!”  ungkapnya dengan wajah excited.

IMG_0532 copy

            Jam sepuluh kurang sedikit, Nico akhirnya tiba. Ia meminta maaf atas keterlambatannya, walaupun saya bisa memakluminya. Baru malam sebelumnya, ia pulang ke Indonesia dari traveling ke New York dan daerah selatan Prancis. Sialnya, setelah tiga minggu meninggalkan Indonesia, ia harus langsung berhadapan dengan schedule super padat, hari itu pun ia hanya punya waktu sampai jam 12 siang untuk memenuhi jadwal lainnya sampai malam. Sambil menunggu Ayushita selesai makeup, saya pun, melakukan ice breaking dengan aktor berusia 29 tahun tersebut. So how was Sundance? “Sundance…Ok, good… Di sana kita sepuluh hari di Park City, kota kecil di Utah yang pusat ski resort, waktu itu pas lagi peak musim orang main ski.tapi karena di sana dingin jadi kita maunya masuk bioskop terus. Responsnya oke, sebetulnya film ini kan bukan tipikal film Amerika, jadi buat mereka ini sesuatu yang baru dan beda dibanding film-film Amerika,” tandasnya.

Nico menjawab setiap pertanyaan dengan singkat dan tegas, mengingatkan saya akan perannya di film AADC yang melambungkan namanya. Mungkin karena faktor jet lag, ia agak terlihat lelah dan kurang mood untuk bicara panjang lebar. I know my safest bet adalah bertanya seputar film terbarunya ini. “Proyek film ini dimulai tahun 2010, awalnya memang diajakin Mouly untuk film ini, syutingnya Juni tahun lalu, reading dua bulan dan syuting dua minggu. Saya riset ke SLB tunarungu di daerah Cipete, ikut kelas mereka beberapa kali, ikut proses belajar. Banyak yang didapat sih, sebelumnya kita cuma mikir mereka nggak bisa dengar dan nggak bisa ngomong, tapi ternyata banyak hal yang bisa mereka lakukan,” jelas Nico sebelum tiba-tiba mengalihkan pandangan dan berseru, “Wohoo, thanks for the diet!” dengan cengiran iseng saat melihat Ayushita keluar dari ruang makeup dengan mengenakan look pertama yang terdiri dari crop top Topshop dan celana rok Balenciaga. Ayushita hanya tertawa menanggapi celetukan itu. Obrolan canggung saya dan Nico pun harus terhenti karena kini gilirannya berganti wardrobe dan memulai pemotretan.

Thanks for their role as a couple, mereka sudah tidak risih lagi saat harus berpose berdua. Frame demi frame dilewati keduanya dengan santai dan diselipi beberapa inside jokes. Saat hampir jam 12, Nico berulangkali melirik jam dan smartphone miliknya. Di saat ia mengira pemotretan sudah selesai, ternyata masih ada satu look lagi yang harus ia pakai, dan Nico pun berbesar hati menyanggupi. Ia berganti baju dengan cepat dan tanpa buang waktu menuntaskan sisa pemotretan. Setelahnya, dengan agak tergesa, Nico membereskan barang bawaannya, mengucapkan terima kasih ke semua orang dan segera melesat ke appointment berikutnya. Sebelumnya, kami berjanji untuk bertemu lagi besoknya untuk melanjutkan interview dan saya pun melanjutkan interview dengan Ayu saat ia juga telah menyelesaikan pemotretannya.

Melihat keakraban keduanya saat photoshoot, saya bertanya kepada Ayu tentang caranya membangun chemistry bersama Nico untuk film ini. “Aku baru kerja bareng Nico di film ini. I was so nervous sebetulnya karena dia jam terbangnya udah jauh lebih banyak dan ada hal-hal yang aku belum pernah jalanin di film tapi dia udah. Cara Mbak Mouly nge-direct itu lebih diskusi dan nanya opini kita kaya gimana scene-nya, jadi kita banyak ngobrol karena aku scene-nya paling banyak sama Nico. Kita spend time quite long sepanjang syuting selama dua minggu. I don’t really think about the chemistry, tapi justru karena ada satu adegan yang harus dilewati itu, yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. I have to pull myself together. Jadi aku milih dengerin iPod dan duduk sendiri dulu. Waktu liat set adegan itu aku yang ‘Oh no!nervous banget! Aku nggak omongin ke siapa-siapa, tapi semua yang ada di situ tau dan mereka nggak push aku untuk apapun, mereka benar-benar memberi waktu ke pemain dengan ketegangan kita masing-masing,” papar Ayu mengingat kembali salah satu adegan di film ini yang merupakan tantangan baru bagi dirinya sebagai aktris.

Risque scene aside, sama seperti Nico, Ayu juga belajar banyak hal dari film ini tentang penyandang disabilitas. Ia belajar huruf Braille dan meningkatkan sense selain penglihatan dengan menutup mata seharian dan berjalan dengan meniti railing di tembok lokasi syuting. “Waktu pertama kali datang ke lokasi ada banner foto-foto kegiatan mereka dan judulnya ‘Jangan Kasihani Kami’, aku yang ’owkaaay…’ Aku nggak tau yang lain notice apa nggak tapi itu yang pertama aku liat. Begitu masuk, ternyata mereka sama aja kaya kita, saling ngeledekin temen-temennya yang pacaran, ada yang busted lagi ngapain, terus jadi bahan omongan,” kenangnya. “Mereka punya passion yang sama dan feeling yang lebih kuat dari kita. Mereka juga mandiri, ada yang selalu pulang sendiri ke Bogor naik bus, padahal dia cewek. Setelah menjalani film ini aku mikir, oke aku nggak kasihan lagi sama mereka. Karena mereka hebat dan mereka memang nggak suka dikasihani, kaya ‘kenapa? I’m happy dengan keadaan ini’,” imbuhnya dengan mimik serius. “Yang jelas, aku jadi belajar lebih embrace dengan apa yang kita punya,” tuntas Ayu.

Besoknya, saya pergi ke kantor Cinesurya di daerah Melawai untuk melanjutkan interview dengan Nico dan kali ini berharap ia mau sedikit lebih bercerita dibanding pertemuan sebelumnya. Nico terlihat sama kasual dari hari sebelumnya dengan paduan polo shirt putih dan jeans. Dari dekat, saya bisa melihat kantung matanya masih agak tebal, ia mengaku baru tidur jam satu malam dan bangun jam 10, “Knocked out!” cetusnya sambil tersenyum kecil. Anyway, setelah tidur 9 jam, tampaknya mood Nico jauh lebih rileks hari ini. Saya memulai obrolan dengan topik-topik ringan, seperti musik apa yang biasanya ia dengarkan, “I listen a lot of rock, jazz music, yang sekarang ini apa ya? Gue lebih suka band-band lama…Emerson, Lake & Palmer, terus yang di playlist gue belakangan ini paling Depeche Mode sama Tears for Fears!” jawabnya sambil sesekali menghisap rokok. Saya menyinggung sedikit perannya sebagai Edo di film ini yang bergaya punk dengan jaket kulit, rambut dicat, dan tindikan di bibir, walaupun Edo sebetulnya tidak bisa mendengar, “Yeah, sometimes people do that, sekarang kan orang gaya apa belum tentu denger musiknya ya sesuai gayanya. Yang penting kan orang gayanya apa juga bebas-bebas aja,” ujarnya. Nico mengaku sudah lumayan lama sejak ia terakhir kali datang ke sebuah konser, karena kesibukannya traveling dan main film. Bagi orang awam, mungkin nama Nico seperti menghilang, walau sebetulnya ia masih rutin terlibat produksi film. Harus diakui belakangan ini ia cenderung bermain dalam film-film festival yang kurang terdeteksi publik umum. Hal itu menurutnya bukan suatu kesengajaan, tapi karena ia memang tertarik pada skrip yang ditawarkan dengan peran-peran tidak umum. “Too many characters in the world, gue nggak pernah yang pengen karakter ini karakter itu, sebetulnya karakter sederhana  justru bisa dibuat menarik karena kesederhanaannya,” tukasnya.

IMG_0240 copy

Satu dekade berkecimpung di entertainment, apakah Nico puas dengan portrayal media tentang dirinya? “Portrayal gue di media? Aduh sebetulnya gue nggak terlalu perhatiin sih, nggak sempet, paling kalau lagi berhubungan sama filmnya aja, pengen tau kritik, pengen tau review, pandangan orang sama kerjaan gue, biasanya ya gitu aja sih, yang hubungannya sama pekerjaan,” ucapnya. Dari sini pembicaraan pun bergulir dengan sendirinya, kita telah memasuki zona nyaman Nico dengan topik seputar kariernya di industri yang menurutnya harus selalu dikembangkan lagi. “Sebetulnya kritik atau review film di Indonesia masih perlu dikembangin, karena kita masih sedikit banget punya kritikus yang menurut gue capable mengkritik film dan sebetulnya itu juga bagian penting dalam industri film sih,” lugasnya sambil menambahkan, “kritikus tugasnya mewakili masyarakat tapi juga meng-educate masyarakat supaya hubungan antara filmmaker dan penontonnya ada, ini sebetulnya link yang harus dimiliki industri film. Sekarang banyak medium blog film juga bagus banget, pertama karena melatih mereka untuk menulis dan berpendapat soal film, terserah lo mau nulis apa, it’s a free country. Mudah-mudahan 5 atau10 tahun ke depan kita punya banyak kritikus yang bagus dan ngerti film,” paparnya panjang-lebar.

Selain film, traveling menjadi hal lain yang akan memacu Nico untuk dengan senang hati bercerita. Apakah ia masih menganggap dirinya sebagai full time traveler, part-time actor seperti yang tercantum di bio Twitter-nya? “So far, iya, haha!” responsnya sambil terkekeh, “itu joke aja sih sebetulnya, karena pekerjaan utama gue ya main film. Traveling itu penting buat gue karena selain dari dulu seneng jalan-jalan, penting buat cari inspirasi, cari hidup, Maksudnya kita tinggal di Jakarta, you live in the bubble, dan bubble itu makin lama makin tebel dindingnya, dan gue pengen keluar dari bubble itu untuk bisa refresh. Traveling itu lo ngeliat dunia, kalau akting juga ngaruh karena lo dapet references yang banyak dari kehidupan orang. Lo bisa lebih eksploratif, bisa melihat banyak kehidupan, sama to get away… kalau gue traveling ke luar negeri ya untuk menikmati hidup di suatu kota atau lingkungan tanpa ada yang minta foto atau hal yang berhubungan dengan pekerjaan gue,” ungkap Nico seraya menegaskan jika bukan berarti ia selalu memilih traveling ke luar negeri. Ia sempat selama dua tahun fokus traveling dalam negeri untuk lebih mengenal Indonesia dan jatuh cinta dengan Pulau Komodo yang menjadi lokasi diving favoritnya.

Somehow, I still can manage it sih, gue bukan tipe yang 9 to 5, yang kerja kaya maraton gitu, kalau kerja monoton gue cepet bosen,” kata Nico saat saya bertanya tentang caranya mengatur schedule yang padat. “Gue lebih suka sprint. Jadi gue rileks, santai tapi abis itu gue ngebut, that’s how I do my muscle. Mending kalau nggak ada kerjaan, gue cabut, pulang-pulang kerjaan numpuk tapi abis itu gue bisa rileks lagi,” imbuhnya.  Untuk menjaga stamina, Nico rutin berlatih Muay Thai dan renang yang diakuinya seperti meditasi, sambil bersiap terlibat dalam produksi film selanjutnya yang akan berskala besar akhir tahun ini.

Untuk menutup pembicaraan siang itu yang diselingi cemilan pisang asam dari Thailand, saya meminta Nico berandai-andai tentang hal yang ingin ia lakukan jika ia memiliki waktu luang, “Do nothing, gue akan ada di suatu kapal di Komodo, ngopi seharian dan diving sesuka hati, but I got many times like that sih sebetulnya. Seminggu kosong nggak ngapa-ngapain, I know the art of doing nothing, definitely!” jawabnya sambil tertawa renyah.

            In the end of the day, saat saya memikirkan kembali tujuan utama saya dalam menulis artikel ini, tentang apakah Ayu dan Nico adalah orang yang sama saat ada di depan dan belakang sorotan kamera, hal itu menjadi tidak relevan lagi. Satu hari jelas tidak akan cukup menjawabnya, yang pasti mereka berdua adalah orang yang passionate di bidang yang mereka geluti dan tak takut menjadi diri sendiri. No sugarcoated words, and of course, no superficiality.

As published in NYLON Indonesia May 2013

Photo by Hakim Satriyo

Styling by Anindya Devy

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s