She’s All That! An Interview With Chelsea Elizabeth Islan

IMG_2406

Cantik, cerdas, dan classy, NYLON menemukan sosok seorang “It Girl” Indonesia selanjutnya dalam diri Chelsea Elizabeth Islan. Get ready for some serious girl crush! 

NYLON bulan November 2013 lalu mengangkat tema “It Girl”, satu istilah yang sering terdengar namun tak pernah benar-benar bisa didefinisikan. “The ‘It Girl’ is the girl that EVERYONE wants to be. She has everything that you want so you tend to envy her. She does all the things that you can’t do so you grow to hate her.” Demikian salah satu pengertian “It Girl” yang terdapat di Urban Dictionary. Ketika saya coba mengaplikasikan definisi tersebut pada aktris pendatang baru Chelsea Elizabeth Islan, tampaknya saya kurang setuju pada poin terakhir. Well, melihat sosoknya yang effortlessly pretty, it’s easy for anyone to envy her for sure. Namun saat berbincang langsung dengannya, you can’t help but notice kalau dia ternyata tak hanya menarik secara fisik saja. Di balik wajah cantiknya, terdapat personality yang santai namun berprinsip kuat. It’s almost impossible to hate her, and you’ll know why.

            Chelsea, demikian gadis kelahiran New York 18 tahun yang lalu ini biasa dipanggil, datang ke studio pemotretan sendirian tanpa ditemani manajer. Ia mengaku belum punya manajer dan masih mengatur semua jadwalnya sendiri. Tanpa canggung, ia menyapa semua orang dengan manis dan segera bersiap untuk di-makeup. Dengan makeup minimalis dan wardrobe yang didominasi oleh lace pieces membuatnya terlihat angelic, Tanpa bersusah payah, ia mengikuti arahan fotografer dan setiap gestur kecil dari dirinya yang terkadang candid justru menjadi momen-momen yang menarik untuk difoto. It all seems natural. Tak heran jika ia mengawali karier dengan terpilih sebagai juara utama sebuah pemilihan cover girl majalah remaja, sebelum pada bulan Juni lalu membintangi debut layar lebarnya di film Refrain garapan Fajar Nugros yang juga dbintangi oleh Maudy Ayunda dan Afgansyah Reza.

            Akting sendiri bukan hal yang asing baginya. Dimulai dari peran sebagai salah satu bunga di drama Wizard of Oz di sekolahnya saat masih SD, teater menjadi salah satu passion-nya sampai saat ini di samping fotografi, fashion, dan art. Tak puas hanya di depan kamera, Chelsea pun gemar menulis cerita dan mewujudkannya dalam bentuk film pendek yang ia buat sendiri. “Film itu adalah media di mana aku bisa mengekspresikan pikiran aku dan mengembangkan kaya pikiran orang lain biar terinspirasi juga. Di film pendek pertama aku, judulnya The Junk Society tentang anak muda yang mencintai seni. Aku bilang seni di Indonesia belum banyak yang menghargai dan belum banyak yang memikirkan kalau seni itu useful. Banyak yang bilang ‘ih kok suka seni sih? Mau jadi apa?’ Pertanyaan-pertanyaan itu yang mau aku coba jawab di film aku itu,” ungkapnya.

            Bila di Refrain, ia berperan sebagai Annalise, seorang sweetheart yang tak jauh beda dari dirinya sehari-hari, maka bersiaplah melihat sisi lain Chelsea dalam peran terbarunya sebagai Karina di film action karya Awi Suryadi berjudul Street Society yang akan dirilis awal tahun depan. “Karina ini orangnya tricky banget, dominan, powerful, aduh… pokoknya dia temperamen banget dan agak psychotic. Jadi beda banget sama Annalise. Aku suka dari dua peran ini aku bisa jadi yang biasa dan yang tidak biasa. Karena menurut aku akting kan harus bisa semuanya. Lewat akting aku juga belajar facial expression sama tubuh juga harus gimana. Jadi akting bukan sekadar be someone else, tapi harus menghayati and be the character,” tandasnya.

Chelsea3

            Untuk pemotretan look terakhir, ia meminta berpose bersama salah satu kucing peliharaan di studio. Dengan sigap ia menggendong kucing Persia tersebut dengan gemas. Saya mengira jika ia adalah seorang cat person, namun saat dikonfirmasi, dengan tegas ia mengaku lebih menyukai anjing daripada kucing. “Aku lebih suka anjing karena bisa jagain kita dan setia. Kalau kucing keliatan lemes, males,” ujarnya. Sekali lagi, ia mematahkan persepsi awal saya. Penampilannya memang girly, tapi ternyata Chelsea besar sebagai anak yang cukup tomboy. Dari kecil ia ikut taekwondo, bermain go-kart dan motor ATV, bahkan pernah menjadi best soccer player di sekolahnya. Sekarang, ia memilih berenang dan diving sebagai olahraganya. “Kalau diving belum terlalu sering sih. Aku terakhir diving ke Tulamben di Bali, ke Liberty shipwreck, jadi di sana sekitar 12 meter di bawah laut itu ada shipwreck. Agak angker tapi it’s a good experience,” ceritanya dengan semangat. Ia lantas mengungkapkan keinginannya pergi ke Pulau Komodo dan menyebut Riri Riza dan Mira Lesmana sebagai sutradara yang dikagumi. “Mau banget kerja sama mereka. karena mereka bener-bener down to earth dan kalau kita lihat kerjaan mereka, there is always something to do with Indonesia. Mereka keliatan cinta banget sama Indonesia dan caring about society,” jelasnya.

            Terlepas dari peran debutnya di film drama romantis, Chelsea mengaku dirinya bukan penggemar cerita cinta. “It’s not my cup of tea. Bukannya aku tidak menghargai cinta, tapi terkadang semua terlalu sentimental,” cetusnya. Tak heran bila kamu tak akan menemui film cheesy romance dalam film favoritnya. Ia lebih tertarik pada film berbau sejarah seperti Gie misalnya yang diperankan Nicholas Saputra yang menjadi aktor favoritnya. “Dari semua filmnya, dia punya prinsip. Yang bikin aku suka sama orang itu dia punya prinsip atau tidak. Dia mau memerankan karakter yang benar-benar mendidik dan ada moralnya. Like Twilight, what are you gonna get from that? Bukannya mau sok pinter atau apa, tapi lebih baik kita nonton film yang memberikan ilmu kan?”

            Chelsea sering sekali disebut mirip Mariana Renata, dan itu juga yang saya pikirkan. Namun saat interview, saya menangkap dari angle tertentu ia justru terlihat seperti Dian Sastro, dan kesan itu bertambah kuat saat ia mengungkapkan pemikiran yang sama kritis dan idealisnya dengan Dian. Entah coincidence atau bukan, Chelsea sendiri berencana melanjutkan kuliah di almamater Dian, yaitu Universitas Indonesia, tepatnya jurusan Sosiologi. Penggemar buku-buku Paulo Coelho ini punya alasan kuat untuk pilihan tersebut. “Menurut aku sosiologi itu akar dari segalanya, karena kita mempelajari manusia, mempelajari masyarakat, tata kota, semuanya. Salah satu cita-cita aku selain jadi film director dan fashion editor, aku juga pingin jadi menteri pemberdayaan wanita gitu,” ujarnya dengan serius, sebelum melanjutkan, “aku memang agak feminis. Bukannya sexist atau apa tapi memang aku ingin wanita bisa maju. Di sini wanita menurut aku belum ada freedom of expression, aku nggak mau ngomongin agama atau apa. Tapi wanita itu belum equal. Dari situ aku pingin memajukan wanita Indonesia. Deep inside, I want to change Indonesia, nggak tau gimana makanya menurut aku kalau belajar sosiologi itu udah bisa relate ke semua aspek kehidupan,” imbuhnya.

            Social awareness tersebut menurutnya sudah dipupuk sejak ia masih kecil. Dan jangan kira ia hanya berwacana tanpa berbuat hal yang nyata. Sekarang pun, di samping semua aktivitasnya di dunia showbiz, ia berperan aktif menjadi ambassador generasi muda di gerakan LovePink untuk isu breast cancer di Indonesia. ”You have to be the change that you want to see in this world. And you have to make the difference and believe nothing it’s impossible,” tutupnya sambil tersenyum. Biasanya ungkapan a la buku Chicken Soup tersebut hanya terdengar seperti jargon kosong. Namun entah kenapa, saya percaya gadis cantik ini bisa mewujudkannya.

IMG_2837

Styling by Patricia Annash

Photos by Andre Wiredja

Makeup by Marina Tasha

Advertisements

7 thoughts on “She’s All That! An Interview With Chelsea Elizabeth Islan

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s