So, What Is A Hipster Anyway? An Open Discussion

Tulisan ini adalah bab awal dari proyek tentang hipster yang sedang saya kerjakan. Sengaja saya post di sini untuk sneak peek sekaligus memancing feedback. So feel free to discuss on comment box. EDIT: I open the comment box for anonymous account, so anon, let all Hell breaks loose!!!

Josephmark-Illustration-PocketHipster-LowRes-1

So, what is a hipster anyway?

“Hipsters are a subculture of men and women typically in their 20’s and 30’s that value independent thinking, counter-culture, progressive politics, an appreciation of art and indie-rock, creativity, intelligence, and witty banter.” ~ Urban Dictionary

Jadi, apa sih sebetulnya kata “hipster” yang sering kamu dengar dan baca sekarang ini? Well, kalau kamu pikir hipster yang akan dibahas di sini adalah model celana panjang dengan potongan ngepas di bawah pinggul yang sempat ngetren di kalangan cewek-cewek Indonesia, maka kamu salah besar karena saya enggak bakal ngomongin soal celana model hipster tersebut. Kata “hipster” yang dimaksud di sini mengacu ke sebuah fenomena subkultur anak muda paling signifikan di kota-kota urban seluruh dunia sepanjang dekade 2000 lalu sampai hari ini. Sebagai gambaran awal, pengertian hipster menurut situs Urban Dictionary di atas adalah persepsi tentang hipster yang paling gampang dicerna.

Yup, secara umum istilah hipster yang berasal dari Amerika Serikat memang merujuk pada sosok pria maupun wanita berumur belasan sampai tiga puluhan yang mengagungkan hal-hal independen (indie), kreatif, berwawasan luas dan progresif, menolak hal-hal yang dianggap umum dan populer (mainstream), serta menunjukkan sisi individualisme mereka lewat pemikiran maupun penampilan yang terkadang dianggap eksentrik bagi orang awam. Di negara asalnya, mereka biasanya berasal dari kalangan kelas menengah di kota-kota urban yang kental lingkungan kreatif dan kultur anak mudanya seperti New York, San Francisco, dan Chicago. Walaupun berasal dari Amerika Serikat, tentunya sekarang kita enggak usah jauh-jauh ke kawasan Brooklyn atau Wicker Park untuk mengenal kaum hipster. Berkat kemajuan internet dan arus informasi yang semakin hari semakin cepat, tren dari luar negeri dengan gampang bisa masuk dan diserap dengan cepat juga oleh anak-anak muda lokal yang melek teknologi dan tanggap pada perkembangan zaman.

Istilah hipster sendiri sudah mulai terdengar di Indonesia sejak pertengahan tahun 2000-an dan semakin banyak peminatnya 3 dan 4 tahun lalu di kota-kota seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Yogya. Sekarang, kemanapun kita pergi ke tempat atau acara yang didominasi anak muda, dengan gampang kita akan menemukan orang-orang yang secara penampilan bisa masuk kategori hipster. Dalam konteks lokal, khususnya di Jakarta, hipster adalah orang-orang yang bisa dijumpai di setiap konser musik garapan Ismaya Live, semua cabang toko buku Aksara, di concept store seperti The Goods Dept, acara budaya di Goethe dan Salihara, atau kafe-kafe berinterior trendi minimalis di daerah Senopati, Kemang, dan Panglima Polim.

You’ll know a hipster dari gaya mereka yang stylish, terlihat cerdas, mempunyai aura kekerenan, dan sering menyelipkan kosa kata Inggris atau kalimat berbau sarkastik dalam obrolan. Kalau masih ragu, coba lihat ciri-ciri lain yang lebih visual seperti celana digulung, kacamata berbingkai klasik, tote bag, iPhone, atau jam tangan Daniel Wellington mereka.

Enggak bisa dipungkiri, ketika istilah hipster semakin populer dan dikenal oleh banyak orang, mau enggak mau semakin banyak juga anak-anak muda yang ingin dianggap bagian dari that cool people with great sense of style and fantastic tastes tersebut. Kesan eksklusif dan trendi itu juga yang membuat banyak orang tergoda untuk ikut-ikutan bergaya seperti hipster yang akhirnya memperkuat stereotipe negatif jika hipster adalah anak-anak berduit, superficial, dan hanya mementingkan gaya tanpa tahu substansi di balik atribut yang mereka pakai. Saat ini, ketika menjadi hipster sudah bergeser maknanya menjadi sebuah tren, semua orang bisa saja terlihat seperti hipster dengan mengikuti dress code dan hangout di tempat tertentu. Tapi how we really define someone as a hipster? Apakah dengan memakai skinny jeans dan rutin datang ke konser musik indie sudah cukup untuk mengategorikan seseorang sebagai hipster? Well, not as simple as that.

Mungkin kita sering mendengar kata “hipster” dalam obrolan sehari-hari, tapi saat kamu bertanya “Apa sih hipster itu?” kamu mungkin akan kesulitan menemukan jawaban yang pasti, karena setiap orang punya definisi masing-masing tentang hipster di kepala mereka sementara sebagian besar cuma akan mengangkat bahu, terlalu malas untuk menjelaskan hal yang sebetulnya belum terlalu mereka pahami juga. Bila kurang puas, kamu mungkin akan mencari arti hipster di internet namun itu pun enggak terlalu membantu dan malah membuatmu semakin bingung karena situs Urban Dictionary saja mempunyai 400 entri lebih tentang definisi hipster. Bahkan kamus sekelas Oxford Dictionary pun hanya mendefinisikan hipster sebagai “a person who follows the latest trends and fashions” padahal hipster secara logika justru muncul sebagai orang-orang yang menciptakan tren mereka sendiri.

Well, untuk mencari tahu persepsi orang lain soal hipster, saya pun coba membuat survey kecil tentang hipster di Google Drive yang saya sebar di social media pribadi saya dan dijawab oleh 100 orang responden secara anonymous. Berikut adalah beberapa respons yang saya pilih secara acak dari pertanyaan “Menurut kamu, hipster itu apa?”

• Orang yang pengen beda sendiri, tapi enggak mau dibilang trendsetter, pengen dibilang eksklusif.
• Form of self-expression in quirky way.
• Hipster is being yourself. Simply loving something down to the edge, doing it in your daily life, and putting some spotlight so people have the perspective why you love that thing so much.
• Orang yang mengetahui dan mencari sendiri apa yang ia suka.
• Snob, terlihat casual padahal pakai barang mahal, ironis.
• Seseorang yang memiliki style tersendiri dan cuek terhadap komentar orang lain.
• Orang-orang yang menghindari apa yang dianggapnya sudah terlalu umum, terlepas baik atau tidaknya hal tersebut.
• Someone who is too cool to follow the mainstream and create his/her own definition of cool instead.
• Hipster itu pergi buat sahur ke warteg aja pake docmart, belagu banget.
• Orang yang selalu ada dan datang di setiap lokasi dan acara yang lagi happening.
• Sok asik, trying so hard to be cool by acting and dressing differently to impress others.
• Unique, original, calm, deep.
• Hipster itu semacam kata ejekan.
• People who dabble in art. Maybe. Dont know.
• People who want to be hip – 3G – gaya gaul global.
• Overrated. Some people are just trying too hard to be hipster while I personally believe that some people were born with hipster gene.
• Open minded, walaupun naif seenggaknya mereka enggak munafik.
• Unik. Punya keseruan sendiri di dunia mereka yang kadang orang umum enggak paham kenapa mereka bisa suka.
• Hipsters are ok, posers are not! Although I personally think that the term ‘hipster’ is overrated.
• Anak Gaul Jakarta
• They looks cool and different, but in the end they looks the same as the other hipster.
• Hipster sama aja kayak anak-anak. Sama-sama menyukai apa yang mereka suka.
• Suatu culture baru dari sebuah fasis, SARA, dan kasta.
• Selalu (mencari) tau hal-hal yang paling baru berkaitan tentang life style dan mulai meninggalkan hal-hal tersebut ketika udah banyak orang-orang yang tau.
• Anak muda yang menjadi gejala postmodern. Terobsesi dengan otentitas dan ide-ide kebaruan.

Seperti yang sudah bisa diduga, respons yang masuk memang cukup beragam. Dari mulai yang bernada positif, netral, sampai yang cenderung negatif. Jelas bukan hal yang simpel untuk mendefinisikan hipster secara spesifik tapi secara garis besar kita pun bisa merangkum pengertian kolektif tentang hipster sebagai orang-orang yang ingin membedakan diri dari lingkungan mereka melalui sikap, pemikiran, dan atribut yang melekat pada diri mereka. Yang membedakan adalah standar dan pandangan personal masing-masing orang tentang hipster. Sebagian orang memandang hipster sebagai orang-orang yang merasa nyaman dengan menjadi diri mereka sendiri dan tahu apa yang mereka sukai, sementara sebagian lainnya menganggap hipster justru orang-orang yang tidak punya jati diri dan butuh pengakuan eksistensi dari sekitar mereka dengan cara mengejar ketrendian. Saya akan coba mengupas definisi hipster secara lebih mendalam di post-post selanjutnya, tapi untuk saat ini, I think we should agree that everyone have their own opinion about hipster and nothing wrong with that.

“Opinions are like assholes. Everybody’s got one and everyone thinks everyone else’s stinks.” ~ Simone Elkeles

So, what’s your own asshole opinion about hipster?

Write it on the comment box below 🙂

Advertisements

32 thoughts on “So, What Is A Hipster Anyway? An Open Discussion

  1. Menurut aku hipster itu salah satu penggerak dalam dunia fashion loh.. Contohnya dulu kaum hipster mulai pake kaos-kaos distro semua langsung beralih ke kaos-kaos distro, di saat hal itu udah jadi mainstream kaum hispter langsung ninggalin dan beralih ke gaya pakaian lain lagi. Kaya contohnya ke club gitu misalnya….pernah gak sih mikir siapa penggerak cowo-cowo pake kemeja sepatu pantofel buat joget dan cewe-cewenya pake mini dress sama high heels? Pasti kaum hipster yang ngelakuin, karena kalo ngeliat zaman dulu orang ke club paling pake jaket kulit, kaos, jeans, ya pokoknya baju-baju yang nyaman buat ajojing. Ya gak sih? Maafkan ya pemikirannya sungguh cetek 😀

  2. menurut gua hipster itu penikmat musik, film, atau karya seni dari artist indie dan menurut gua hipster yang beneran gak selalu ngikutin gaya pakaian ‘hipster’ seperti yang di deskripsikan orang-orang karena menurut gua mereka cuman trying to be on the gank! lol, this is my subjective

  3. momen hipster adalah ketika orang-orang membahas kebencian mereka terhadap mereka yang dituduhkan hipster. momen hipster adalah ketika orang-orang yang benci kepada mereka yang dituduhkan hipster merasa gaya biasa saja tapi justru lebih pretensius dengan attitude ‘biasa saja’. the anti hipster is now the new hipster.

    1. anti hipster is always a hipster itself, because of the apathy..
      you cant self declare that you are one, you need someone else to do that, and once they did, you need to denied it, cuz if you agreed upon it, then you’re not a hipster but a pretentious douche..

  4. hipster adalah orang yang senang dengan suatu hal yang hanya kalangan tertentu saja yang tahu. setelah salah satu kesukaannya disukai banyak kalangan, biasanya beralih menyukai hal yang lain…

  5. Based on Urban dictionary
    “Hipsters are a subculture of men and women typically in their 20’s and 30’s that value independent thinking, counter-culture, progressive politics, an appreciation of art and indie-rock, creativity, intelligence, and witty banter…”

    1. if they still drinking the same coffee today, then they’re not hipsters, they’re coffee geek, just like me..
      I’ve been drinking the same coffee since being allowed to..

      if they’re not drinking the same coffee, but looking for another beverage to spend their time to, such as wine, then yes, that’s the one..

  6. orang hipster menganggap dirinya normal, meskipun terkadang mungkin dia mikir kalo kadar normalnya memang berbeda dari orang lain.

  7. Menurut aku sendiri hipster itu lebih ke pakaiannya. Anti-mainstream, lebih eye-catching tapi sama sekali nggak norak. Nggak norak, karena aura dari personality mereka terpancar, open minded. Kayak, percaya diri dengan apa yang diinginkan dalam hidup.

    1. its not about the clothes, poseurs think about the clothes when hipsters already reminiscing a new one..
      if they have high level of self-esteem, they wouldnt change their opinion about something once it became known to others, but instead, once something becomes mainstream, they’d look for any little piece of shit that no one knows nor care about..

      the things that separate them and poseur or any normal people, is their insecurity and their financial resource to find something new..

  8. saya masih menganggap kata ‘hipster’ adalah labeling yang ngeselin. tidak jauh beda dengan kata ‘alay’.

    i do believe that those first-generation-anti-mainstream-people would feel offended being called hipster.

    mau dibilang anti-mainstream juga, kata dasarnya ‘hip’ yang -kalau saya tidak salah ingat- merupakan slang yang artinya mendekati kekinian. kontradiktif ga sih kalau dibilang antimainstream tapi kekinian?

    anda kesal? saya juga.

    tapi ada banyak cara mencoba mendefinisikan hipster, ijinkanlah saya beropini. 🙂

    1. hipster are those who went to cool concert.
    seperti yang dibilang mas alex di atas, hipster adalah mereka yang pergi ke konser-konser musik garapan ismaya -yang mahal dan ramai dan dipenuhi anak-anak gaul ibu kota.
    menurut saya malah hipster adalah mereka yang pergi ke gig-gig kecil band indie indonesia yang tidak banyak yang tau dan masih off major label. mengapa? karena merekalah yang memenuhi kriteria ‘anti-mainstream’.

    2. hipster are those who dressed cool and do their shopping in goodsdept kinda store.
    setau saya gaya berpakaian hipster itu adalah street style. terlihat cuek dan kasual karena first generation hipster itu belanja bajunya di secondhand store. somehow related with being ‘rebel’
    intinya mereka bukanlah orang yang mengenakan new arrivalnya zara atau summer collectionnya mango. they just dont care. mungkin ini yang dimaksud dengan ‘menciptakan gaya sendiri’.

    ya kira-kira begitulah opini saya.

    1. 1. cool concert doesnt always mean tight budget concert, any hot-new-upcoming-gig that nobody knows nor everyone-knows-but-couldnt-buy-the-ticket is a cool concert..
      2. I assume you refer to a thrift store, but no, most of them bought it from a not-yet-known concept store, its like, when people nowadays want to buy any local handmade shoes from lets say, brodo, the hipsters are already have tons of it and are selling it..

  9. Hipster adalah mereka yang mempunyai selera musik, film, fashion, politics, and art yang berbeda. Biasanya mereka ga terlalu suka sesuatu yg mainstream. Salah satu new hipster trend yang baru yg kuliat di sosmed adalah mereka lagi menyukai kultur jepang(maybe) yg indie gatau deng sotoy –“

  10. klo menurut saya…hipster tuh perpaduan gaya berpakaian kayak tahun 60an sampe 70an..
    sebutan hipster awalnya digunakan untuk penggemar yang mengerti musik jazz, kata hipster udah dikenal dikalangan musisi jazz sejak tahun ’40-an..yang menemukan kata hipster adalah Harry Gibson seorang pianis terkenal di swing street NY.

    kata hip digunakan untuk penggemar yang mengerti musik jazz dan squares sebutan untuk penonton yang tak mengerti musik jazz. Nah saat Gibson melakukan pertunjukan dia menyapa penontonnya dengan teriakan “all you hipsters” (ini untuk menyatukan antara penonton hip dan squares). Tahun 1940 teman2 Gibson memberikan julukan pada Gibson “The Hipsters”. tahun 1944 Gibson meluncurkan album bertitel “Handsome Harry, The Hipster” sejak itulah istilah Hipster atau Hipsters mendunia hingga sekarang, yang akhirnya merambah juga kedunia fashion

  11. Menurut gua sih kak, hipster is a form of expression, that they will not follow what the society think, they do and wear what they feels right.
    They will not go to a fast food chain but instead, go to the local place so that they will help people to get rich rather than helping rich people became richer. They will not listen to a song produced by a major record label, they listen to indie artist not becuase it’s cool but they think that indie artist doesn’t care about money, while mainstream artists are already affected by fame and money.
    A lot of indonesian girls think drinking starbucks, wearing ripped shorts, collecting vinyl, and listening to arctic monkey (and doesn’t listen to other indie band) are what it takes to be a hipster.
    But in my opinion, a hipster is a person who appriciate indie art, songs, local coffee shops ( so that they help the locals) and doesn’t care what the society thinks about them.
    They maybe sounded like a snob, but hey, they isn’t the one who listen to shitty songs, and eats junk food.
    And they always make the best mixtape.
    And they always watch the best movie (500 days of summer, the graduate, garden state, submarine, a clockwork orange, juno, nick and norah infinite playlist, etc)

    Maaf post nya long banget, i tend to write long opinions.

    1. Couldn’t agree more! Gue setuju banget sih sama yang ini.

      Menurut gue, being hipster itu lebih ke way of life, bukan cuma sekedar style. I personally consider myself as a hipster (tapi nggak suka begitu dilabelin ‘hipster’) karena lebih suka produk lokal, lebih suka spending my weekend doing cultural activities daripada pergi ke mall, cooking my own food, etc.

    2. there’s nothing special about indie music, lets coin a new term, unknown-obscure-band, that’s more like it, hipsters tend to listen to any of the-unknown-obscure-band whether it came from indie or major label..
      oh and buying coffee from a local coffee shops doesn’t mean their helping the farmer nor the coffee plantation both financially and politically, I’m certain about this..

      the people that doesn’t care what the society thinks about them is called nerd or, in a delicate way, geek and the term otaku in japan is one that describes it perfectly.. nerds are too self-conscious to care anything but themselves & what they do..

      while hipsters do care about what people think about them.. they dont wanna end up called poseur, they dont wanna be associated with any scene including the hip/new one, they dont wanna be put into any social class, they dont stand for any political agenda, they dont stand for any idea at all, because once they stand for something, say: british music, they’ll be called britpop/mods..

  12. Ini menarik banget nih. menurut aku, di negara asalnya, amerika serikat, menjadi hipster itu adalah menjadi seseorang yg punya gaya hidup berbeda, anti mainstream, punya gayanya sendiri (sesuai definisi urban dictionary) yang semuanya dilakukan dengan budget terbatas. Mereka pake baju dengan gaya mereka sendiri, yang kebanyakan dibeli di toko2 secondhand atau exchange stores yang dikelola juga sama anak2 muda, semacam Crossroadstrading atau Buffalo Exchange. Dan kebanyakan dari hipster di AS berasal dari kalangan menengah (kaya yang Alex bilang), jadi biaya hidup mereka sangat terjangkau kalo dibanding dengan rata2 pengeluaran orang AS pada umumnya. Sayangnya, saat budaya ini masuk ke Indonesia, jatuhnya jadi beda. Menurut aku di Indonesia, hipster yang benar2 hipster bukan orang2 yg dengan ciri2 yg disebutin di atas (nonton konser ismaya, dkk). Orang2 itu mah cuma sekedar anak2 gaul jakarta yang kebetulan gaya berpakaiannya ala2 hipster dan biasanya mereka dari kalangan menengah atas *catet*. Walaupun mungkin juga beberapa di antara mereka memang berjiwa hipster. Tapi kalo gaya hidup hipster Indonesia dibanding hipster Amerika jauh bangettt.. Aku ngerasa di Indo, menjadi hipster itu ya buat anak2 gaul yg banyak duit. Coba deh bandingin, kalo di Amrik, hipster ke mana2 naik sepeda atau transport umum, alasannya ya karena mereka budget terbatas dan sekaligus mereka menjaga lingkungan. Nah di sini? Hampir semuanya naik mobil. Aku punya temen yg dandanannya hipster abis tapi hampir ga pernah naik trans jakarta. Tapi ada juga sih temen aku yg hipster dan tau semua rute kopaja sama metro mini. Intinya adalah, kalo menurut aku menjadi hipster itu adalah panggilan jiwa bukan cuma sekedar cara berpakaian atau cara bersenang2 yang anti mainstream. Karena anti mainstream pun sekarang sudah menjadi mainstream.

    1. Penjelasan yang menarik, opini berdasarkan sejarah dan perbandingan hipster di tempat asalnya lahir dan di Indonesia, karena kebanyakan komentar di atas hanya melihat hipster dari sisi “Indonesia”nya. *kakubanget

  13. Hipster? Sekelompok anak muda yang berkarya tanpa peduli dengan omong kosong haters. Sederhananya mereka bagai “pencipta” bukan pengikut.

  14. setuju sama kak Sekar hhee, karena anti mainstream pun sekarang menjadi sangat mainstream. orang yang benar-benar nyaman dengan pemikirannya sekalipun itu berbeda dengan orang kebanyakan tapi dia tetap beranggapan bahwa apa yang dia pikir selama ini benar dengan tetap menjaga norma dan agama kemudian dia menjalani gaya hidup ala “dia” tanpa mempedulikan bagaimana orang lain saat ini dan pendapatnya, menyukai dan mengerjakan hal-hal yang tidak banyak orang pikir sebelumnya namun menghasilkan karya baru setidaknya bagi dirinya sendiri. begitulah hipster menurut ku, meskipun aku tidak terlalu suka dengan labeling hipster itu sendiri..

  15. Aku lagi dalam proses pembuatan skripsi mengenai konsep diri anak hipster dimana mencari tau apa yang menyebabkan mereka ingin menjadi seorang pencipta bukan pengikut. Jika ada yang mau membantu saya akan berterima kasih kembali…

  16. I couldn’t care less about hipsters. I’m way too old to be called one anyway (although they say that – ehem – I look 25 lol). But I do like looking different and wearing quirky things. I do it more for myself – for me, clothing is a form of self expression/identity. Kalo orang lain mau pake baju gaya “hipster”, ya monggo saja. Mau gaya feminin, silahkan. 90s/etnik juga boleh… why is it our place to judge their decision? In the same spirit though, I couldn’t less about what other people think about how I dress.

    Yah namanya juga ABG. AGJ. Labil. Ntar kalo trend “hipster” udah lewat juga ganti lagi.
    By the way, ini sih udah ada tiap dekade ya, always rebellious youth trying to be different/newer/cooler than those older/more traditional than them! Asal jangan ingetin ke jaman 80s aja.. ah, those tight lycra men legging #huek

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s