Film Strip: Geliat Tiga Film Festival Indonesia

Baru-baru ini saya berkesempatan untuk menonton tiga film kelas festival Indonesia yang berjaya di festival-festival film luar negeri namun masih minim rekognisi dari negeri sendiri. Here’s my two cents about those three movies.

SWONSHB

SOMEONE’S WIFE IN THE BOAT OF SOMEONE’S HUSBAND
Sutradara: Edwin

Berbicara film-film Edwin, berarti bicara tentang film sebagai medium berpuisi. Puisi berbahasa visual yang membuai mata penonton sekaligus memberi kesempatan bagi setiap orang untuk mengartikannya sesuai nalar masing-masing. Dalam film panjang terbarunya, Someone’s Wives In The Boat of Someone’s Husband, Edwin menggunakan insting sebagai instrumen utamanya bernarasi di samping kejelian matanya untuk menangkap visual-visual cantik sarat makna.
Tanpa naskah, tanpa survei lokasi pra-syuting, tanpa apapun selain niat bikin film, Edwin dan tim kecilnya yang meliputi Nicholas Saputra dan Mariana Renata datang ke Desa Sawai di Pulau Seram, Maluku, dengan berbekal sekelumit ide cerita hasil interpretasi dari cerpen Seno Gumira Ajidarma yang berjudul Cinta di Atas Perahu Cadik. Di film ini, Mariana adalah seorang perempuan yang datang ke Sawai untuk melacak sebuah legenda tentang kisah cinta terlarang Sukab dan Halimah. Sukab adalah seorang pelaut. Dia juga suami orang. Halimah pun istri orang. Namun, keduanya nekat pergi naik perahu bersama dan tidak pernah terdengar lagi kabarnya. Dengan gigih, Mariana bertanya soal kebenaran legenda itu kepada para penduduk lokal Sawai yang tentu saja tidak pernah mendengar legenda yang sebetulnya memang tidak pernah benar-benar terjadi di daerah itu.
Di sudut lain pulau tersebut, ada seorang pria muda yang diperankan Nico yang juga gemar mendengarkan hikayat para penduduk lokal. Sama seperti sang perempuan, pria ini juga seorang pendatang. Jelas hanya masalah waktu sebelum keduanya berpapasan. Ketika itu terjadi dalam suatu pagi yang canggung, terungkap jika sang pria bernama Sukab, persis seperti legenda yang dibawa oleh sang perempuan yang tidak pernah kita kenal namanya. Sukab yang tertarik pada cerita yang dibawa sang perempuan akhirnya ikut menemaninya mencari jejak-jejak imajiner Sukab dan Halimah dalam rentetan dialog tentang pencarian dan gambar-gambar cantik panorama Sawai yang membingkai film berdurasi 55 menit ini.
Banyak adegan dalam film minim skenario ini terjadi secara spontan dengan mengandalkan stimulasi dari percakapan dengan penduduk lokal dan alam Sawai yang memang menginspirasi sehingga Edwin bisa dibilang sedang melakukan pertaruhan kepada isi cerita film ini sendiri. Sebagai film panjang, film ini pada akhirnya memang lebih terasa seperti kolase adegan-adegan puitis yang membiarkan interpretasi kita terombang-ambing dengan bebas. Namun, dengan panorama Indonesia Timur yang masih murni dan aura Mariana Renata yang begitu memesona membuat film ini cantik secara literal. Di bulan April ini, film ini beserta film produksi babibutafilm lainnya seperti Rocket Rain, Postcards From The Zoo, dan Babi Buta Yang Ingin Terbang akan diputar di Kineforum secara berkala. Follow @Kineforum dan @babibutafilm untuk infonya.

Something in the Way
Something in the Way
Sutradara: Teddy Soeriaatmadja

Kehidupan malam di jalanan Jakarta yang gritty belum berhenti menginspirasi sutradara Teddy Soeriaatmadja. Setelah di film sebelumnya, Lovely Man, ia mengangkat kisah seorang transgender, kali ini Teddy kembali turun ke jalan untuk membuat film ketujuhnya, Something in the Way.
Terbagi menjadi tiga chapter, chapter pertama berjudul “Ahmad” mengenalkan kita pada seorang supir taksi bernama Ahmad (Reza Rahadian) yang hidup dalam dua ekstrem. Di satu sisi ia adalah seorang muslim taat, namun, di sisi lain ia juga seorang pria muda yang frustrasi secara seksual dan menyalurkan kegelisahannya dengan bermasturbasi di segala kesempatan, entah itu di taksi ketika ia menunggu penumpang ataupun di unit rumah susun miliknya sambil menonton DVD porno yang berserakan di lantai kamarnya, di lantai yang sama dengan tempat ia menggelar sajadahnya.
Chapter kedua, “Change”, mempertemukannya dengan seorang PSK bernama Kinar (Ratu Felisha) yang ternyata tinggal berseberangan di rumah susun yang sama dengan Ahmad. Pertemanan yang terjalin berujung pada one nite stand, dan Ahmad pun merasa menemukan cinta yang ia cari. He’s simply smitten by the prospect of love dan menjadi pahlawan bagi sang damsel in distress. Semuanya bermuara di chapter ketiga “Righteousness” ketika Ahmad setelah mendengarkan ceramah ustadz tentang jihad, menemui Pinem (Verdi Solaiman), mucikari tempat Kinar bernaung, hanya untuk tertampar pada kenyataan dan terbangun dengan mata gelap dan simbah darah.
Dari nuansa yang dibangun sejak awal film, jelas kita cukup tahu diri untuk tidak berharap banyak adanya happy ending. Namun, akhir cerita yang seperti dipaksakan tragis dalam iringan simfoni “Air on the G String” karya Bach tetap terasa pahit, whether you already anticipate it or not.

Jalanan

Jalanan
Sutradara: Daniel Ziv

Sebagai founder dari majalah Djakarta! yang kerap mengupas ibukota kita dengan cara yang witty, tidak mengherankan jika Daniel Ziv yang sejatinya adalah seorang ekspat asal Kanada bisa melihat Jakarta dengan kacamata yang mungkin luput dari penduduk Jakarta itu sendiri. Dalam film dokumenter ini, Ziv mengajak kita berkenalan dengan tiga orang pengamen sembari menelusuri jalanan Jakarta yang berdebu dan naik kopaja tua yang sumpek oleh penumpang yang berjejalan.
Pengamen pertama bernama Boni tinggal di kolong jembatan, tidak bisa menulis, namun tetap happy go lucky mengamen menyanyikan lagu ciptaannya sendiri. Pengamen kedua, Ho, di balik rambut gimbal dan penampilan lusuhnya ternyata adalah seorang filsuf jalanan yang berorasi lewat lirik lagu satir namun romantis terhadap pujaan hatinya. Sementara Titi adalah seorang istri dan ibu muda yang menafkahi keluarga dengan mengamen sambil berjuang mendapat penyetaraan ijazah SMA untuk mencari kehidupan yang lebih layak bagi keluarganya.
Ziv menghabiskan empat setengah tahun untuk mengikuti ketiga pengamen tersebut. Yang kita lihat adalah gambaran nyata tentang susahnya struggling untuk hidup dari hari ke hari bagi kelas ekonomi bawah yang diwakili oleh Boni, Ho, dan Titi. Sebelum diputar di bioskop bulan ini, Jalanan telah melakukan premiere di Busan Film Festival tahun lalu dan menyabet best documentary award, sementara saya sendiri menontonnya dalam gelaran Ubud Writers & Readers Festival, Oktober lalu. Saya masih ingat bagaimana penonton, baik lokal maupun internasional, silih berganti dibuat tertawa, merenung, dan pada beberapa momen menahan air mata. Untungnya, air mata yang menggantung di ujung mata saya waktu itu bukan akibat adegan sentimenal yang dibuat-buat, melainkan karena film ini secara jujur mengingatkan saya jika kebahagiaan itu bukan dari yang apa kita punya, tapi lebih ke bagaimana cara kita memandang sesuatu dan bersyukur. Jalanan sendiri akhirnya akan diputar di beberapa bioskop bulan ini dan sayang untuk dilewatkan begitu saja. Follow @JalananMovie untuk info.

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s