Film Strip: Tabula Rasa

“Makanan adalah iktikad baik untuk bertemu.”

Rasanya memang cukup mengherankan jika Indonesia yang terkenal dengan kekayaan kulinernya yang sangat beragam dari Sabang sampai Merauke ternyata belum memiliki film yang benar-benar mengangkat kuliner lokal sebagai menu utamanya, terutama ketika rendang sebagai salah satu menu ikonik Indonesia dinobatkan menjadi santapan terenak di dunia versi CNN. Berangkat dari kesadaran itu, LifeLike Pictures memproduksi film ketiganya yang bertajuk Tabula Rasa.

Disutradarai oleh Adriyanto Dewo dan naskah oleh Tumpal Tampubolon, film ini bercerita tentang Hans (Jimmy Kobogau), seorang bintang sepakbola muda di Serui, Papua yang berangkat ke Jakarta hanya untuk mengalami nasib yang tak secemerlang bakatnya. Dengan kaki patah dan mimpi yang remuk, ia terdampar menjadi gelandangan dan dihantui keinginan bunuh diri sebelum akhirnya bertemu dengan Mak (Dewi Irawan), seorang pemilik rumah makan (lapau) Padang sederhana. Tak tega melihat Hans terkapar dengan kepala terluka di atas jembatan, Mak dan anak buahnya, Natsir (Ozzol Ramdan) membawa Hans ke lapaunya dan menyuguhkannya semangkuk gulai kepala kakap dan nasi hangat yang membangkitkan kenangan akan rumah dan semangat hidup di diri Hans. Selang beberapa hari dan interaksi, Hans menjadi sebuah fixture tersendiri di rumah makan tersebut. Ia membantu Mak apa saja yang bisa ia lakukan dan mulai membuka dirinya.

Kehadiran Hans mendapat tentangan dari Parmanto (Yayu Unru) yang tidak setuju untuk menambah pengeluaran di saat rumah makan mereka sedang dalam kondisi sepi pengunjung, belum lagi ketika sebuah franchise restoran Padang besar membuka cabangnya tepat di seberang mereka. Konflik pun memanas dan berakhir dengan keputusan Parmanto untuk meninggalkan rumah makan itu, meninggalkan Mak kebingungan sebelum akhirnya mengajak Hans ikut turun tangan membantu di dapur. Interaksi keduanya terjalin hangat di antara bumbu rempah dan kebulan asap dapur. Faktanya, keduanya sama-sama perantau. Bila Hans datang untuk mengadu nasib sebagai pemain sepakbola, Mak mengungsi ke Jawa setelah kampungnya hancur dilibas gempa yang juga menewaskan putra semata wayangnya. Keduanya seolah menemukan sisi yang hilang dalam hidup. Gulai kepala kakap di awal cerita yang merupakan menu favorit almarhum putranya menjadi kunci memori tersendiri. Bagi Mak, memasak gulai kepala kakap adalah sebuah ziarah, namun pada akhirnya ia tergerak untuk mewariskan resep gulai kepala kakap terhadap Hans dan menu itu pula yang menjadi instrumen vital untuk meluruskan segala konflik di film ini.

kepala kakap
Disajikan dengan alur sederhana, permasalahan yang manusiawi, dan pemain inti hanya berjumlah 4 orang yang tampil dengan sangat baik, film ini terasa intim dan relatable bagi siapa saja yang pernah jauh dari rumah. Ada satu adegan yang membuat saya sampai ikut menitikkan air mata karena teringat nasi hangat dan menu sederhana buatan ibu di rumah, but don’t get me wrong, tak ada drama yang dibuat berlebihan dalam film ini. Begitu pun dengan interaksi antara Mak dan Hans di mana keduanya berasal dari dua kultur dengan stereotype masing-masing, ucapan Mak tentang tak butuh alasan untuk menolong orang lain dan makanan hangat sebagai salah satu bentuk perhatian yang paling primal, film ini berhasil menyinggung isu Bhinneka Tunggal Ika tanpa kesan menggurui dan mencerminkan judul film ini sendiri yang dalam bahasa Latin mengacu pada “Kesempatan untuk memulai sesuatu yang baru tanpa prasangka.”

Hal menarik lain dari film ini adalah pemakaian kamera ARRI Alexa XT Plus yang juga dipakai dalam film Life of Pi dan Guardians of the Galaxy yang secara sangat jernih menangkap warna-warni menarik dari lanskap Indonesia Timur dan adegan memasak di dapur di mana merahnya cabai, kepulan asap, dan daging-daging yang dimasak terasa begitu vivid dan membuat saya terpaksa menelan ludah dan mengidamkan masakan Padang sepanjang film ini. Keindahan visual itu dilengkapi music score yang dengan jenial memadukan lagu-lagu Indonesia klasik dari Ernie Djohan dan Orkes Tropicana Medan, lagu kontemporer dari Dialog Dini Hari, dan original score yang memakai instrumen tradisional seperti talempong, saluang, dan tifa yang menegaskan rasa otentik film ini.

Terlepas dari beberapa plot holes dan kekurangan yang mungkin ada, (contohnya: saya berharap ada adegan Mak menjelaskan sekelumit cerita di balik menu masakan Padang dan kultur tersendiri dalam sebuah rumah makan Padang), Tabula Rasa adalah sebuah film yang dibuat dengan hati dan disajikan dengan hangat.

tabulaa

Tabula Rasa dirilis di bioskop tanggal 25 September 2014.

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s