On The Records: Jonathan Kusuma

Lewat berbagai project yang ia geluti, Jonathan Kusuma berusaha menghidupkan denyut lain dari skena musik Jakarta yang terluput oleh orang banyak.

Tanpa adanya plang bertuliskan Rossi Musik, mungkin orang akan sedikit kesulitan saat mencari gedung di Jalan Fatmawati Raya nomor 30 tersebut. Hanya dinding penuh graffiti dan serakan gig flyers di parkiran yang meyakinkanmu jika kamu telah sampai di Rossi Musik, salah satu hot spot bagi skena musik underground Jakarta beberapa tahun terakhir ini. Dari luar, bangunan ruko tersebut tampak sunyi, padahal di dalamnya bercokol sekolah musik, studio rekaman, dan venue musik yang sering dipakai untuk gig berbagai macam genre; mulai dari metal, grunge, hardcore, hingga elektronik dari band-band domestik maupun luar negeri. Seiring waktu, Rossi Musik pun berkembang menjadi salah satu simpul budaya musik sidestream ibukota dan melahirkan satu skena musik tersendiri yang terdiri dari para musisi eksperimentalis dengan warna musik yang berbeda. Menaiki sebuah elevator tua yang berderit cukup mengkhawatirkan, saya sampai di lantai 3 gedung tersebut untuk menemui Jonathan Kusuma yang merupakan salah satu tokoh kunci di skena yang sedang berkembang ini.

Biasa dipanggil Ojon, pria kelahiran Jakarta 13 Juli 1983 tersebut adalah seorang komposer, multi-instrumentalis, DJ, dan desainer grafis yang dikenal sebagai separuh nyawa dari Space System, sebuah duo electronic garda depan yang ia bentuk bersama rekannya Aryo Adhianto. Tak berhenti dengan membuat musik di Space System maupun solo project atas namanya sendiri, passion musikalnya juga diwujudkan dengan menjadi co-founder dari Space Records, sebuah label independen yang menampung musisi cutting edge lokal dari berbagai genre, serta Akamady Online Music Store yang bisa dibilang online record store pertama di Jakarta. Di ruang kantornya yang dipenuhi tumpukan plat,saya pun berbincang tentang bagaimana ia memandang project yang ia tekuni dan kaitannya dengan skena musik Jakarta saat ini.

Boleh cerita dari kapan mulai terjun ke musik? Dan kenapa memilih elektronik?
Dari SD sebetulnya udah mulai ngeband, tapi baru nyadar kalau ini yang pengen gue lakukan baru sekitar 7 tahun terakhir. Kalau akhirnya mulai bikin musik elektronik, dulu waktu SMP gue pernah dipinjemin alat namanya Groovebox sama temen gue. Tapi waktu itu belum ngerti kalau ini musik elektronik atau apa, masih buyar lah, belum paham klasifikasi musik. Baru beneran mulai pas ketemu partner gue di Space System sekarang, Aryo. Dia yang paling banyak ngajarin gue musik. Kenapa elektronik, soalnya gue lahir di zaman yang apa aja yang lo temuin di kehidupan sehari-hari itu berhubungan sama elektronik. Lo bisa bikin suara pake handphone atau apalah. Jadi kebetulan aja gue besarnya di abad segini dan rasanya cocok.

So, which came first: Space System or Space Records?
Space System. Jadi Space Rec itu awalnya ada untuk merilis materi Space System, sesimpel itu. Kita waktu itu bertiga, yaitu gue, Aryo, sama sahabat SMA gue namanya Pattra Pangestu, dia yang jadi manajer Space System sekarang dan running Space Rec secara total. Dari yang awalnya untuk merilis Space System aja, terus Space Rec jadi nyari teman-temannya Space System yang lagunya mirip dan berpotensi. Awal-awal yang gabung juga teman-teman kita sendiri kaya Voyagers of Icarie atau Svarghi yang kebetulan roommate-nya Aryo di Bandung. Abis itu ada Curah Melodia Mandiri alias Abim, dia kebetulan yang mengelola gedung ini (Rossi-red). Kita ketemu Abim karena dikenalin Gerhan Ferdinal yang studionya di sebelah kita. Gerhan yang bikin Akamady juga.

Apa misi utama dari Space Rec?
Awalnya cuma buat rilis lagu-lagu lokal dan untuk bisa wadah atau inspirasi. Kalau misi utamanya, bukan klise ya, tapi sejujurnya pengen majuin musik Indonesia. Mungkin emang susah banget, tapi harus ada yang mulai.

Banyak yang bilang kalau musik-musik Space Rec cenderung eksperimental dan susah dimengerti orang awam.
Itu susah menjelaskannya sih kenapa kita milih musik-musik ini, gue pribadi masih susah merumuskannya. Kadang kalau dari struktur lagunya sih agak nggak mirip, tapi ada satu benang merah dan rasa connect yang susah dijelasin sama kata-kata. Kalau dibilang eksperimental, bermusik itu sendiri menurut gue udah bereksperimen. Yang paling menjelaskan mungkin ada karakteristik dari musisi-musisinya, maksudnya sikap mereka sebagai musisi itu gimana, itu yang biasanya jadi penilaian. Jadi dia beneran serius di musik nggak atau ngeliat musik kaya apa, lebih ke situ sih kaitannya. Gue sering nemu orang sini bikin musik bagus di Soundcloud atau apa tapi ya udah gitu aja. Nggak ada pertanggungjawaban dia atas karyanya. Dirilis kek, reply ke orang kek, kasih ke record label gitu, haha. Jadi kurang konsisten sih. Tapi emang susah, balik lagi bermusik di Jakarta saat ini susah, apalagi bermusik tanpa mau dengerin kata publik.

Records

Menurut lo sendiri, gimana sih scene musik Jakarta sekarang?
Bisa dibilang banyak sih. Banyak yang bikin ini itu tapi kurangnya menurut gue masih kurang bergabung, itu klise juga, tapi kaya ada semacam barrier yang misahin scene A, B, dan C. Kurang integrated, soalnya kalau dilihat masing-masing scene sama-sama berpotensi cuma kaya nggak gabung aja. Kita jadi nggak bisa saling introspeksi atau kasih feedback di musik. Orang luar negeri juga akan mengenali music scene Jakarta kalau rame-rame. Kalau kecil gitu nggak akan dibilang scene. Makanya harus join, bedanya itu. Kalau orang luar kan kaya integrated gitu ya musik, art, visual, dance, semua jadi satu. Makanya penyebaran dan promosinya bisa booming.

Bagaimana dengan tanggapan kalau Rossi Musik dan Space Record disebut sebagai bikin scene sendiri?
Itu kebetulan terjadinya gitu, kita nggak merencanakan apa-apa. Kaya gue sama Gerhan kenalannya waktu manggung bareng. Gue suka banget lagu-lagunya dia dan ngajak kenalan. Kebetulan kita orangnya sama-sama bisa dibilang ansos, jadi scene-nya sebenarnya kita-kita aja, tapi kalau misalnya ada yang wah kayanya orangnya bisa diajak ngobrol nih, kita terbuka-terbuka aja. Kita pengennya juga terbuka. Kalau mungkin kita keliatannya tertutup, kita nggak bermaksud gitu. Kita tetap pengen saling interaksi.

Okay moving on, boleh cerita soal Akamady?
Akamady inisiasinya dari Gerhan. Dia sebenarnya DJ yang lama di San Francisco. Pas dia di sana, scene dance-nya SF lagi booming banget, ketika pulang dia bawa culture record collecting yang di sini saat itu gue sama Aryo kalau nyari lagu itu kayanya susah banget. Kita suka dengerin mixtape orang yang lagunya bagus-bagus banget, sampai hafal lagunya tapi nggak ada yang tau itu lagu apa. Gerhan dateng, dia sharing tentang musik, bawa plat dan akhirnya pengen buka record store. Awalnya seperti itu, tapi kita nggak mau kalau musik terbatas harus plat. Mulai dari CD, kaset, atau lo burn CD di rumah terus dihargain berapa, itu bisa kita jual. Sampai alat musik, kabel, dan kebetulan tahun ini kita baru rilis record-nya Gerhan. Jadi Akamady akhirnya punya sub sendiri, Akamady Records yang tahun ini dijadwalin sekitar 5 rilisan, plat semua.

Jadi apa bedanya antara musik yang dirilis Space Rec dan Akamady Records?
Bedanya? Kalau yang gue liat secara pribadi, kalau Space Rec musiknya lebih serius, dalam arti ada karakteristik eksperimentalnya dan pendalaman teknis atau yang komposisinya lebih nggak biasa. Kalau Akamady gue liat komposisinya lebih 4/4 atau lagu-lagu yang dance. Kita kantornya juga barengan, jadi bisa saling interact. Misal Space Rec ada artis yang kira-kira cocok buat Akamady, kita bisa kasih referensi atau sebaliknya. Jadi udah punya perannya masing-masing. Menurut gue perlu lebih banyak record label yang saling integrated.

Akamady

Menurut lo masih penting nggak sih bentuk fisik album di era digital sekarang?
Penting tapi nggak harus. Penting dalam arti kadang musik yang berbentuk itu lebih ada rasanya. Kalau gue nge-DJ, gue lebih suka masukin CD karena gue bisa lebih hafal lagunya, gue jadi lebih bisa mendekatkan diri ke materi lagunya.

Bagaimana Akamady melihat kultur record collecting lokal?
Menurut gue masih terpaku vinyl. Bukan collecting music tapi lebih ke collecting records. Kalau gue lebih setuju collecting music, mau bentuknya kaset atau CD. Yang paling penting kan musiknya, bukan cover atau bukan vinyl-nya. Scene di sini jujur masih vinyl-oriented banget terus gue sering overheard kaya ada kesan kalau musik digital itu jelek. Gue setuju kalau musik digital yang pembajakan, itu memang nggak bagus tapi kalau buat orang yang emang beli musiknya di iTunes gimana? In the end, it’s about the music itself.

Apa tantangannya dengan memutuskan jualan record secara online?
Itu sampai sekarang masih perlu strategi sih. Kultur ini kan dari dulu udah ada aturannya kalau kita dateng ke record shop, liat-liat cover, cobain, terus ngobrol sama penjaganya, dapet rekomendasi. Itu yang masih susah karena kita nggak bisa kasih pengalaman itu secara digital, lewat internet apalagi. Susah banget ngajak orang buat digging music secara digital tapi untuk vinyl. Itu aja udah aneh karena udah ganti media berapa kali. Sekarang strategi kita dari Facebook page-nya kita coba post video tentang kulturnya. Kalau ada artikel tentang electronic kita share atau kalau kebetulan kita ada rilisan Kraftwerk misalnya, kita kasih brief sejarahnya Kraftwerk. Sebagai proses pembelajaran di musik juga.

Last, apa harapan lo untuk skena musik Jakarta?
Harapan gue music scene Jakarta selain maju, gue pengen kita punya karakter Indonesia. Karakter itu nggak harus batik atau wayang atau gamelan lah, itu bisa aja hanya simbol. Karakter Indonesia dalam arti sifat Indonesia yang sekarang, kaya budaya gotong-royong atau kesopanannya, karakter seperti itu yang udah di-translate ke art & music. Kita maju tapi tetap dengan karakter Indonesia. Jangan kita maju tapi cuma minjem karakter Barat. Kalau gitu kan jadi cuma copycat.

https://soundcloud.com/jonathan-kusuma

Foto oleh: Sanko Yannarotama

As published in Nylon Indonesia March 2014

Space. Recommended
Sejak dibentuk tahun 2006 silam, Space Records telah menjadi rumah bagi musisi-musisi seminal dalam negeri dari berbagai genre dengan karakter distinctive. Berikut adalah beberapa di antaranya:

pantai

Curah Melodia Mandiri
Curah Melodia Mandiri (CMM) adalah solo project dari Syafwin R. Bajumi yang menghasilkan bebunyian elektronik tidak biasa dengan instrumen utama sebuah Gameboy dan Nanoloop 1.3. Ia menjelaskan musik Chiptune yang ia ramu sebagai bunyi sintetis lo-fi berpadu dengan idenya akan musik tradisional kontemporer. Lewat beberapa rilisan seperti Pantai EP dan album debut Mashed yang kental akan elemen musik tradisional lokal, CMM merumuskan cetak biru dari musik Chiptune rasa Indonesia.

Duck Dive

Duck Dive
Bagi Muhammad Fahri alias Gonzo yang membuat musik dengan nama Duck Dive, kecintaannya pada bunyi lautan dan misteri di dalamnya menjadi inspirasi terbesar dalam musik ambient/electronic yang ia buat. Album debut yang dirilis tahun 2007 bertajuk Inner Projections yang berisi deburan repetitif melodi dan influens dari era awal munculnya genre electronic mengajak kita menyelami musik elektronik sebagai sebuah sesi eksperimen suara dan nalar.

https://soundcloud.com/duck-dive

SPACE SYSTEM
Space System
Merefleksikan diversitas budaya yang membentuk Jakarta hari ini, Space System menggabungkan berbagai elemen dan genre musik seperti electronic, jazz, krautrock, dance, psychedelic, hingga Gamelan menjadi racikan eklektik dari musik yang mereka sajikan. Terbentuk dari tahun 2005, Space System yang dibentuk oleh Aryo Adhianto dan Jonathan Kusuma yang pada perkembangannya turut diperkuat oleh Erlangga Utama dan Gerinov Medaimanto berhasil menempatkan nama Jakarta di peta musik dunia.

https://soundcloud.com/spacesystem

Suarasama

Suarasama
Diprakarsai oleh Irwansyah Harahap dan Rithaony Hutajulu yang keduanya merupakan dosen Etnomusikologi di Universitas Sumatra Utara, Suarasama merupakan kolektif musisi yang menghasilkan musik kontemporer dengan pendekatan world music serta elemen dari musik tradisional Sumatra Utara. Album Timeline yang dirilis tahun 2013 lalu adalah perayaan ulang tahun ke-18 mereka sekaligus bab baru dalam pembelajaran musik Indonesia.

http://www.last.fm/music/Suarasama

Komodo

Komodo
KOMODO merupakan dub disco house project dari Gerhan Ferdinal, seorang DJ Jakarta yang menyerap influens dari pergerakan kultur dance San Francisco di tahun 90-an. Telah mulai menjadi DJ di program Reggae Revolution di klub legendaris Jakarta bernama Parc, menjadi awak Quirk It! Sound System, hingga saat ini membentuk Akamady Online Music Store, Gerhan tak berhenti memajukan skena musik elektronik Jakarta.

https://soundcloud.com/space-rec/komodo-music-akamady

Advertisements

One thought on “On The Records: Jonathan Kusuma

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s