On The Records: Danilla

Danilla2

Darah musisi mengalir kental dalam keluarga Danilla Riyadi, penyanyi solo muda asal Jakarta. Kakek-neneknya adalah pasangan penyanyi keroncong dan seriosa, ibunya adalah penyanyi jazz Ika Ratih Poespa sementara pamannya adalah musikus terkenal Dian Permana Poetra. Musik mungkin menjadi hal natural bagi gadis berusia 24 tahun tersebut, namun nyatanya ia mengaku tak pernah berniat mengikuti jejak ibunya sebagai penyanyi. Sebelumnya ia lebih dulu menjadi keyboardist di band Britpop bernama Orca sebelum bertemu dengan Lafa Pratomo yang mendorongnya menjadi solo singer dan memproduseri album debut Danilla yang berjudul Telisik. “Bahkan sebenarnya pas buat album ini pun saya masih nggak percaya kalau saya bisa nyanyi. Kalau ditanya ada influens nyanyi dari siapa itu nggak ada sama sekali satu orang pun karena saya sendiri pun merasa ‘kayanya gue nggak bisa nyanyi deh’ jadi seadanya aja keluarnya kaya gitu. Awalnya disuruh bawain pop, tapi kalau memang terlanjur bermusik, saya mau sejujur-jujurnya saya. Indie dikit lah,” ungkap gadis yang mengaku seorang introvert ini. Telisik, album berisi 13 lagu dengan tema seorang stalker berjiwa romantis dengan sisi gelap ini memiliki beragam influens mulai dari ballad, jazz, swing, dan bossanova. Yang menjadi benang merah adalah vokal classy Danilla dan aransemen yang membuai. “Ada yang saya lupa, harusnya di album ini saya ketik ‘Album ini bisa menyebabkan kantuk’, karena semua orang yang dengerin, biasanya nyebutnya lullaby,” ucapnya sambil tersenyum.

WHERE: Jakarta.

INFLUENCES: Coldplay, Radiohead, Jay-Jay Johanson, Rumer.

LISTEN THIS: “Buaian”, single pertama bernuansa swing dengan video klip hitam putih yang menarik, “Rezte Avec Moi” lagu karya ibunya yang berbahasa Prancis dan “Junko Furuta” yang terinspirasi kasus penculikan seorang gadis sekolah di Jepang. “Itu true story kan, nggak tau kenapa pas saya baca cerita itu pas kuliah pengen banget bikin lagu buat dia.”

FIRST GIG: “Pertama kali perform sendiri itu di Prime Cafe Bandung. Itu pertama kalinya saya ngerasa percaya kalau ada orang di luar sana yang suka musik saya. Gugup sih, terus malu karena biasanya saya pegang keyboard sekarang nyanyi sendirian, tapi akhirnya blend juga sama bandnya dan orang-orang. Sekarang udah biasa sih, udah enak perform-nya tapi ada juga yang bilang ‘Danilla kalau manggung merem melulu, nanti penontonnya kabur’ haha!”

DREAM COLLAB: Jay-Jay Johanson & Sean Lennon.

LOCAL MUSIC HEROES: “Tiga Pagi. Itu band Indonesia pertama yang saya suka banget sepanjang hidup saya. Saya jarang dateng ke gigs, yang saya kerahkan dengan sepenuh jiwa sih kalau Tiga Pagi manggung, nggak mau tau harus dateng.”

HOMETOWN GLORY: “Kayanya memang saya juga sadar sih kalau lagu di album Telisik mungkin nggak bisa dinikmatin banyak orang, tapi kalau lagu-lagu yang sekarang beredar di industri musik Jakarta kayanya memang yang porsinya pas untuk orang Jakarta sendiri. Tapi lumayan bagus sih ya, daripada yang kemarin itu musiknya sempat freak banget, Melayunya ngangkat banget. Sekarang sih udah bisa lah.”

NEXT PLAN: “Banyakin gigs, banyakin mondar-mandir dalam jangka waktu dekat mau maksimalin promo album, dan bersenang-senang sih, program utama adalah bersenang-senang lewat musik.”

Telisik

https://soundcloud.com/danilla-jpr

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s