The Characteristic of Contemporary Hipster

Berbicara karakteristik dari hipster modern, mungkin sebaiknya kita harus terlebih dulu mencoba memahami esensi hipster dari kacamata subkultur. But first thing first, dari awal mungkin kamu bertanya-tanya tentang apa sih sebetulnya pengertian subkultur? In a nut shell, subkultur adalah sebuah gerakan yang dilakukan secara kolektif oleh sekelompok orang yang merasa kurang nyaman dan memisahkan diri dari kultur dominan di sekitar mereka. Dalam praktiknya, subkultur bisa dibilang melakukan perlawanan terhadap lingkungan mereka yang bentuknya bisa berupa apa saja. Mulai dari agama, ideologi, politik, musik, gaya hidup, hingga fashion. Untuk membedakan diri dari orang-orang umum (the mainstream) di sekitar mereka, para penganut sebuah subkultur biasanya menunjukkan identitas diri lewat simbol-simbol tertentu seperti pakaian, musik, literatur, bahasa slang, dan berkumpul dengan orang-orang yang memiliki estetika, selera, dan ideologi yang sama.
Sebagai subkultur tersendiri, budaya hipster pun enggak lepas dari beberapa simbol tersebut. Namun bila diamati, ternyata subkultur hipster sebetulnya enggak memiliki satu keseragaman yang benar-benar bersifat unik dan kolektif seperti umumnya subkultur sebelum mereka. Secara visual, kita dengan mudah bisa mengenal kaum hippie dari baju dan musik psikedelik mereka atau anak punk dari jaket kulit dan rambut mohawk mereka. Dalam kasus hipster kontemporer, ternyata cukup sulit untuk menunjuk dengan pasti siapa saja yang bisa disebut sebagai hipster. Gadis berkacamata tebal yang gemar memakai vintage dress dan mendengarkan lagu-lagu pop Prancis tahun 70-an bisa dibilang sebagai hipster. Seorang desainer grafis yang hobi mengoleksi sepatu sneakers dan selalu update dengan lagu-lagu elektronik terbaru bisa disebut hipster. Demikian juga dengan seorang barista berkumis tipis dengan tato segitiga di lengan yang terkadang tampil sebagai DJ amatir di gigs lokal, dia pun bisa dibilang hipster. Secara penampilan, mereka memang terlihat berbeda tapi ketiganya bisa dengan cepat dicap sebagai hipster. Apa yang benar-benar menandakan jika mereka bernaung di bawah satu payung besar bernama hipster?
Dibandingkan beberapa subkultur populer sebelumnya, subkultur hipster yang lahir di era dengan keadaan sosial-politik yang relatif stabil terlihat tidak memiliki agenda perlawanan yang khusus selain kecenderungan mereka melawan kapitalisme dan kemonotonan hidup. Secara umum, it’s more like a fight against the boredom in life. Kultur hipster lebih ke arah individualisme, tentang bagaimana mengekspresikan diri sendiri lewat pemikiran maupun penampilan dan melakukan hal-hal yang memang kamu sukai tanpa takut dianggap aneh oleh orang lain. Secara natural, semua orang ingin terlihat stand out di antara sekumpulan orang lainnya dengan cara mengadopsi kode-kode visual tertentu seperti pakaian yang kamu pakai, musik yang kamu dengarkan, buku yang kamu baca, dan sebagainya sebagai simbol identitas diri. Hipster datang dari berbagai latar dan selera yang berbeda-beda, kesamaan yang menyatukan hipster adalah obsesi mereka untuk breaking away from the mainstream and making some personal statement.

Bila subkultur sebelumnya biasanya dimulai dari skena musik tertentu, dalam kasus hipster, internet lah yang menjadi faktor dominan di balik transformasi budaya. Dalam buku Strauss-Howe yang berjudul Millenials Rising: The Next Great Generations, mereka beropini jika generasi Millenials adalah generasi dengan sense of community yang kuat baik secara lokal maupun global, dan hal itu terbukti lewat internet. Bila di masa sebelum internet sebuah subkultur membutuhkan beberapa tahun untuk akhirnya terekspos media dan menjadi sebuah tren, kini hal itu bisa terjadi dengan sangat cepat lewat berbagai situs dan blog yang menjadi sumber informasi paling viral dan instan dibanding media standar seperti televisi atau majalah.
Hanya dengan duduk di depan komputer, kita bisa melihat gaya apa yang sedang ngetren di kota-kota besar seluruh dunia lewat berbagai street style blog atau mendengarkan band yang sedang happening di Brooklyn dan membangun komunitas secara online lewat orang-orang sedunia. Hipster yang besar di zaman internet memiliki kemudahan untuk menemukan berbagai referensi dari segala masa dan tempat dalam membentuk personal identity dan image, yang secara sadar atau tidak, ingin kita tampilkan ke dunia baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Booming berbagai situs social networking seperti Friendster, MySpace, Facebook, dan Twitter seakan menjadi wadah untuk menunjukkan taste personal kita dan menciptakan sebuah identitas baru yang enggak jarang jauh lebih keren dari bagaimana diri kita yang sebenarnya di dunia nyata.
Like suddenly, anak culun pendiam di kelasmu ternyata punya selera musik yang keren dan punya lebih banyak followers di Twitter dibanding kamu berkat isi tweet-nya yang witty dan sarkastik. Atau temanmu yang sebelumnya kamu ledek karena suka memakai baju ketinggalan zaman tiba-tiba menjadi seorang fashion blogger terkenal. The internet give you a chance to show the better and cooler version of your personal image. Disusul dengan makin canggihnya smartphone dan aplikasi seperti Instagram atau Path, yang melahirkan online sharing culture, yaitu tendensi bagi kita untuk memberitahu apapun yang sedang kita lakukan, makanan apa yang sedang kita makan, lagu yang sedang didengarkan, dan sebagainya secara langsung lewat social media. Kelihatannya memang enggak penting, tapi entah kenapa ada saja orang yang peduli dan enggak jarang kita ikut menikmati hal tersebut. Walau sharing culture ini juga yang membuat generasi Millenials dianggap generasi yang narsis dan terobsesi pada diri sendiri, namun its already became our culture dan menjadi cara untuk menunjukkan personal image kita ke dunia.

Enggak jarang juga, personal statement seseorang kemudian menular ke orang lain dan menjadi sebuah tren. Siklusnya kurang lebih seperti ini:

• Seorang hipster menjadi early adopter dengan mengadopsi satu referensi yang terlihat unik dan berbeda dibanding selera hegemoni di sekitarnya.

• Awalnya dia mungkin ditertawakan atau dianggap aneh, namun hal itu justru membuatnya merasa puas karena memiliki satu ciri yang berbeda dari orang lain. Dengan cuek dan penuh kebanggaan, ia memakai pakaian dan atribut yang menunjukkan referensi tersebut.

• Beberapa orang di sekitar hipster tersebut diam-diam mengagumi gaya berpakaiannya dan mulai meniru style yang sama sehingga menjadi sebuah tren di segelintir orang.

• Seiring waktu, tren yang dilakukan oleh segelintir orang tersebut menarik perhatian media yang memang selalu haus untuk memberitakan sesuatu yang baru. Media akan membahas tren tersebut, membuat sebuah istilah untuk menyebutnya, dan menetapkan beberapa stereotipe atau aturan sesuai persepsi mereka sendiri.

• Seorang selebriti terkenal ikut memakai gaya tersebut, dibahas oleh semua media lainnya, lalu tren tersebut secara resmi menjadi sesuatu yang dianggap cool dan trendi. Tak lama, beberapa toko retail pakaian besar seperti Zara, Topshop, atau Forever 21 memproduksi secara massal dan menjual tren tersebut sebagai koleksi musim terbaru mereka.

• Di poin ini, tren tersebut telah menjadi sesuatu yang mainstream. Orang-orang yang tadinya menertawakan sang hipster yang pertama kali memakainya, secara ironis akhirnya memakai gaya yang sama dengan harga yang lebih mahal dan model yang pasaran.

• Bagi hipster, tren tersebut sudah kehilangan nilai eksklusivitasnya dan mereka pun segera mencari referensi lain sebagai tandingan dari tren yang sebetulnya mereka ciptakan sendiri.

• Ulangi lagi semua proses tadi. Wash, rinse, repeats.

Tentu saja, sesuai kodratnya hipster secara reaktif akan mencoba menghindari apapun yang sedang ngetren dengan cara mengadopsi referensi yang belum dilirik orang lain. Tapi dengan semakin gampangnya sesuatu menjadi tren, hal itu pun terus terjadi berulang-ulang dengan cepat dan lama-lama akhirnya terjadi semacam kompetisi di kalangan hipster itu sendiri. Dari yang awalnya murni karena ingin menunjukkan selera pribadi, akhirnya mereka seperti berlomba untuk menjadi yang paling unik, paling beda, paling pertama menemukan the next big thing dibanding hipster lainnya. Istilah hipster berubah menjadi label bagi para pencetus tren dan menjadi target market potensial bagi industri mode dan gaya hidup yang akhirnya membuktikan definisi hipster menurut Oxford Dictionary: A person who follows the latest trends and fashions, especially those regarded as being outside the cultural mainstream.

Makna hipster sendiri akhirnya sudah bergeser dari sebelumnya. Hipster hari ini adalah mereka yang dianggap atau merasa dirinya cool, keren, dan selalu paling update soal tren terbaru. Menjadi hipster adalah jalan pintas bagi some people untuk berlomba menjadi keren. Mereka pergi ke acara yang sama dengan mayoritas orang lainnya, memakai pakaian dengan gaya yang sama, label yang sama, bucket hat yang sama, membaca majalah yang sama, mendengarkan musik yang sama, ikut heboh color run atau car free day bukan karena memang mendalami olahraga lari dan peduli kesehatan tapi demi update status di Path dan pamer sepatu Nike terbaru. Kata “hipster” sudah tidak lagi berkonotasi dengan “otentik” dan “unik”, namun menjadi sinonim bagi kata “gaul” atau “trendi” yang terasimilasi oleh the mainstream culture and its become a mainstream lifestyle.  istilah hipster menjadi sesuatu yang overused dan berubah menjadi komoditi kapitalis and it’s time to redefining the term all over again, for better or worse.

Advertisements

2 thoughts on “The Characteristic of Contemporary Hipster

  1. Saya tidak tahu bagaimana hipster jakarte ye. Karena ane kagak tinggal di sane. Tapi di jogja, rasa rasanya kata hipster terasa trendi hanya di lingkungan indie. Terutama kelompok indie budaya pop. Yg (sama kayak kata dirimu) sgt mementingkan/membutuhkan akses internet, baik sebagai media pencari refrensi ato sebagai media eksistensi.

    E tapi itu konteksnya hanya di kata hipster. Tapi soal kebudayaanya, soal bagaimana orang berdialektika dgn kombinasi dirinya, lingkungan, kebutuhan finansial, dan internet, kayaknya emang hipster udah terlalu mainstream deh. Buktinya, banyak bgt yg lebih mentingin dirinya dan/atau kelompoknya sendiri. Makin egois.

  2. Kebalikan dari kaum alay yang menghendaki semacam recognition bahwa mereka adalah bagian dari trend, dari arus kebanyakan, dari mereka yang keren, para hipster sangat ingin merasa dibedakan dari orang kebanyakan, alay atau tidak. Mereka merasa bahwa mereka adalah segelintir orang yang punya selera seni yang paling keren. Itu sebabnya ketika atribut kekerenan mereka menjadi bagian dari arus utama, mereka mendesis. Tentu. Sah-sah saja merasa begitu. Seperti Anda sah-sah saja merasa menjadi orang paling ganteng sejagad raya. Lalu, masalahnya apa, toh? Kenapa mereka menyebalkan? Sebenarnya tidak ada masalah kalau memang dunia para elitis ini tidak bersinggungan dengan dunia orang kebanyakan, orang biasa-biasa saja seperti kita-kita ini (Anda ikut kita?), yang ironisnya adalah alasan mengapa mereka para hipster merasa hipster dan bisa disebut hipster. Iya, bukan? Karena kalau semua orang bisa punya selera fashion dan musik yang sama dengan para hipster, secara teknis mereka bukan hipster lagi, bukan? Karena itu mereka harus berjarak. Tidak dosa memang. Saya pun mengambil jarak dari orang kebanyakan, atau mungkin mengambil jarak juga dari para hipster itu, tetapi saya…ah, baiklah, saya memang sama elitis dan bajingannya juga dengan para hipster itu. Tetapi karena alasan yang berbeda. Ketika saya mengambil jarak dari orang lain, dan berupaya untuk bersikap otentik, otentisitas itu bisa dipertanggungjawabkan sedikit untuk menyatakan individualitas saya. Sementara para hipster? Mereka, seperti halnya kaum alay, haus dan butuh pengakuan, legitimasi sebagai hipster — sebuah nilai kekerenan yang diakui secara mutawatir oleh mereka yang sudah dibaptis sebagai hipster. Dan ini membuat upaya mereka menjadi tidak berbeda, karena di mana ada individualitas apabila apa yang keren ditentukan oleh apa yang Aksara dan Pithcfork pikir keren? Mereka mau beda dengan menyeragamkan diri, meski dengan membentuk komunitas yang mereka pikir lebih kecil, lebih elitis dan eksklusif. Dan mereka salah. Hipster itu fenomena global, dalam berbagai variannya — ada di mana-mana. Di situ mungkin paradoksnya. Di situ pula, saudara-saudara, mungkin letak menyebalkannya di mana. Singkat kata. Hipster adalah alay yang elitis. Alay yang elitis.

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s