Smells Like Teen Spirit: The Boys of Saint Laurent Fall/Winter 2014 and Their Bands

Hedi Slimane
Which came first? Fashion or music? Bagi Hedi Slimane, dua hal tersebut adalah yin & yang tak terpisahkan. Musik adalah passion utama seorang Slimane dan hal itu tercermin dalam setiap hal yang ia kerjakan. Jauh sebelum dikenal sebagai desainer andal di balik kesuksesan Dior Homme (2000-2007) yang mengubah paradigma dunia menswear dengan siluet skinny kebanggaannya, pria berdarah Italia-Tunisia tersebut adalah seorang fotografer black and white yang menghabiskan waktunya di konser-konser musik rock dan mencari band-band baru yang paling keren. Bercita-cita menjadi jurnalis dan reporter, awal kariernya dalam fashion bermula ketika mendesain baju untuk dirinya sendiri saat berusia 16 tahun. Dengan visinya yang liar dan cenderung rebel, Slimane dengan mudah menarik perhatian rumah mode terkenal seperti Yves Saint Laurent dan Jil Sander untuk memperkerjakannya sebagai creative director lini pakaian pria mereka sebelum akhirnya ia memilih berlabuh di Dior Homme di mana pada tahun 2002 ia menjadi desainer pakaian pria pertama yang meraih Council of Fashion Designers of America Awards For International Designer.

Stay true to his love for rock music, Slimane memperkenalkan siluet kurus khasnya yang memadukan unsur rock n roll jalanan dan presisi desain rumah mode Prancis yang sophisticated dan digandrungi oleh musisi dan band seperti The Libertines, Franz Ferdinand, Mick Jagger, Daft Punk, dan David Bowie. Ia terbiasa memilih modelnya sendiri dari pemuda-pemuda yang ia temui di jalanan, mereka biasanya kurus dan memiliki image cuek dan pemberontak khas remaja yang membedakan mereka dari para model pria profesional dengan tubuh tegap dan wajah sempurna. Hasilnya, karya Slimane selalu terlihat standout dari berbagai desainer pria lainnya, and he become the wild child of fashion industry. Semua orang ingin memakai rancangan Slimane, mulai dari Brad Pitt yang memakai rancangan Slimane untuk pernikahannya, Nicole Kidman dan Madonna, hingga Karl Lagerfeld yang rela diet keras hanya untuk bisa memakai hasil desain Slimane.

Salah satu yang juga menjadi ciri khas dari pagelaran modenya adalah ia kerap menghadirkan langsung band-band terkenal seperti Phoenix, The Rakes dan Razorlight ataupun memperkenalkan band baru seperti These New Puritans untuk membuat musik eksklusif dalam runway-nya. Kecintaannya pada musik rock terus menjadi benang merah dalam estetika Hedi Slimane, tak terkecuali bagi rumah mode tempatnya bernaung saat ini, Saint Laurent Paris. Dalam gelaran koleksi pakaian pria Fall/Winter 2014 rumah mode legendaris tersebut, Slimane membangkitkan kembali pesona dari rocker era 50-an dan gaya Teddy Boys dalam koleksi yang dihiasi motif pinstripes, tweeds, studded leather jacket, animal print, dan tentu saja the everlasting skinny jeans. Di tangan Slimane, koleksi tersebut tak hanya menjadi sekadar fashion statement belaka. Yang membedakan Slimane dengan desainer lain adalah, he live with the spirit of rock and roll himself dan tak gentar untuk mendorong hal tersebut ke level selanjutnya. Caranya? Ia memilih untuk stay di creative studio di Los Angeles alih-alih menetap di headquarter Saint Laurent di Paris dan lagi-lagi menunjukkan ketajaman radarnya dalam menemukan bakat-bakat baru dalam musik dan mode. Dalam show-nya kali ini yang diiringi musik oleh band Froth, ia memilih langsung musisi-musisi indie dari berbagai kota seperti New York, London, California dan Brighton untuk berjalan di atas catwalk dan secara legit membawa efek cool khas musisi yang lebih authentic. Dan sekarang, mari berkenalan sejenak dengan beberapa musisi yang beralih menjadi model dan muse untuk koleksi Saint Laurent Fall/Winter 2014 tersebut.

Joo-Joo

Joo-Joo Ashworth
Vokalis dan gitaris dari Froth, kuartet asal El Segundo, California yang meramu musik rock dengan unsur psychedelia yang kental, serta influens surf pop dan lo-fi garage khas Pesisir Barat Amerika Serikat. Patterns, debut bercitarasa DIY yang terdengar seperti dibuat dengan iseng di garasi rumah mereka berhasil menarik perhatian Hedi Slimane yang meminta mereka merekam ulang single “General Education” yang aslinya berdurasi kurang dari 4 menit untuk diperpanjang menjadi 20 menit dan menjadi runway soundtrack di show Saint Laurent Fall/Winter 2014.

http://froth.bandcamp.com/

Jake Smallwood
Jake Smallwood
Vokalis dari White Room, band alternative rock asal Brighton, Inggris yang terinfluens band-band seperti The Doors, Brian Jonestown Massacre, dan Pink Floyd. Band yang sebelumnya memakai nama The Basis ini telah mendapat banyak rekognisi berkat aksi live mereka dan menjadi supporting act untuk Miles Kane dan Paul Weller. Tak hanya berjalan di runway Saint Laurent, Jake juga menjadi model untuk lookbook koleksi Fall/Winter tersebut.

https://soundcloud.com/whiteroomhq

Jake Williams
Jake Williams
Jake Williams adalah vokalis sekaligus pemain gitar, bass hingga piano di band asal Brooklyn, Dr. Skinnybones yang pertama kali terdengar ketika single “Bad Education” mereka masuk dalam kompilasi band-band baru asal New York yang dirangkum oleh Oliver Ignatius. Band ini membawakan post-punk beroktan tinggi dengan bebunyian terompet, cello, biola, dan euphonium serta lirik-lirik bertema patah hati, mabuk di bar, dan mengacungkan jari tengah ke semua orang.

http://drskinnybones.bandcamp.com/

Joey Vittotoe
Joey Vittetoe
Vokalis dari Solid Brown, sebuah trio asal Phoenix, Arizona yang menyebut genre musik yang mereka mainkan sebagai “cock rockin’” yang mungkin lebih mudah diterjemahkan sebagai musik lo-fi rock seperti yang bisa didengar dalam Tape, sebuah rekaman berisi tiga lagu yang direkam dalam bentuk homemade CD-R berbungkus plastik dan pesan personal. As moody as afternoon road trip in the desert.
http://solidbrown.bandcamp.com/

Rexx
Rex Osterkamp
Seorang figur karismatik di balik Rexx, sebuah project bedroom indie pop asal Orange County, California yang telah merilis album bertajuk Death, and Other Ways to be Artsy, sebuah album berisi 12 lagu indie pop berlirik kelam dengan harmoni jangly, estetika lo-fi dan reverb manis yang membuatmu ingin berdansa dan melakukan suicide sprint di saat yang sama.

http://rexxagain.bandcamp.com/

Jaime Carpena
Jaime Carpena
Setengah bagian dari Blurry Boys, duo asal New York City yang terdiri dari dirinya dan Jared Reisch yang terbentuk di tahun 2012. Musik mereka adalah avatar dari scene musik di kota New York itu sendiri di mana hip hop, punk, ambient, dan rave bertabrakan menjadi warna musik yang menyegarkan, seperti yang tercetus dalam single “Make Me Feel”. Its a first step of everything.

https://soundcloud.com/blurryboys

Angus McGuinness
Angus McGuinness
Seorang model dan frontman band asal Teddington, London yang bernama Jungle Doctors. Awal terbentuk di tahun 2011, mereka memainkan musik folk sebagai trio sebelum menambah dua personel baru dan berubah aliran menjadi indie rock. Lagu-lagu seperti “Dry”, “Talk To Me” dan “Can You See It” adalah nomor-nomor indie rock yang uplifting dengan aura slengean British lads yang khas.

https://soundcloud.com/jungledoctors

Jonny Powell

Jonny Powell
Peniup terompet dan backing vocal dari The Din, band asal Camden, London yang menciptakan musik menarik hasil kolaborasi indie-folk, flamenco, dan gypsy jazz (mereka menyebutnya sebagai Alternative Shizzle) dengan didukung oleh penampilan live yang energetik.

https://www.facebook.com/thedinofficial

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s