#Xinjiapo, My Singapore Trip Part 1: Gillman Barracks

Menjelang akhir Januari lalu saya berkesempatan melancong ke Singapura dan ini sekelumit oleh-oleh cerita dari saya.

First thing first: Saya belum pernah ke Singapura sebelumnya, and in my defense, sebetulnya saya tidak pernah berencana sama sekali untuk mengunjungi negara tetangga kita tersebut. Kenapa? Karena selama ini kalau mendengar kata Singapore, yang biasanya langsung terbayang di benak saya adalah turis-turis Indonesia yang heboh belanja di Orchard Road, foto-foto di depan Merlion atau di depan logo Universal Studios, belanja IKEA, atau hal-hal lain yang intinya memang cuma buat belanja dan kegiatan yang “turis banget”. Belum lagi kalau mengingat dollar Singapura saat ini sudah hampir menyamai dollar Amerika. “Mahal!” cetus saya saat sahabat saya mengajak jalan-jalan ke Singapore setelah rencana trip kami ke Bangkok batal. Di dalam pikiran saya, selain mahal, jalan-jalan di Singapura akan membosankan karena yang dilihat hanya gedung-gedung lagi, penduduknya yang kaku dan taat hukum, serta suasana perkotaan yang sama saja dengan Jakarta, mungkin minus sampah tapi penuh dengan polisi yang dengan ajaib akan segera muncul kalau kita melakukan pelanggaran sedikit saja seperti membuang puntung rokok, menyeberang jalan sembarangan, atau sesimpel menginjak rumput. Intinya, saya tidak pernah tertarik ke Singapore! Kecuali untuk festival musik tahunan Laneway Festival. Dari dulu saya ingin sekali datang ke Laneway karena lineup mereka keren-keren dan pergi ke Coachella bagi saya seperti mimpi siang bolong.

The funny thing, saat tahun lalu mendengar kalau lineup Laneway 2015 akan mengundang FKA twigs, Little Dragon, dan St. Vincent, saya sebetulnya bertekad untuk pergi. Saya bahkan punya rencana untuk datang pas hari H, langsung ke Laneway, dan langsung pulang kembali ke airport. Tapi seperti biasa, rencana tinggal rencana. Uang saya sudah habis untuk keperluan lain, tiket Laneway pun dikabarkan sudah sold out sebelum hari H. Saya pun cuma bisa gigit jari dan berharap salah satu musisi yang tampil di Laneway tersebut mampir ke Jakarta (one of them actually did that, Mac DeMarco!). Namun, sama sekali tidak disangka, keinginan itu tiba-tiba terwujud begitu saja di tengah bulan Januari ketika saya mewakili NYLON Indonesia diundang oleh Singapore Tourism Board untuk merasakan trip ke Singapura, for free! Termasuk Laneway! Haha! (hashtag: #rezekianaksoleh).

Studio M
Studio M Hotel

Singkat cerita, tanggal 23 Januari lalu saya pun berangkat ke Singapura bersama Christina Alfiani dari Edelman Indonesia, Rigel Haryanto dari Rolling Stone Indonesia, dan Keenan Pearce sebagai salah satu influencer yang diajak. Tiba di Changi sekitar jam 2 siang, kami segera menuju hotel tempat kami menginap, Studio M Hotel di Nanson Road dekat area Clarke Quay. Hotelnya bagus, konsepnya loft dua lantai dengan glass window lebar sampai ke langit-langit, walau standing shower-nya sangat mini. Istirahat sejenak dan mandi, kami pun siap jalan-jalan di hari pertama ini. Selain Laneway keesokan harinya, Singapura juga sedang mengadakan Singapore Art Week yang digelar dari tanggal 17 sampai 25 Januari. Kami pun menuju ke salah satu venue yang menjadi bagian dari SGArtweek tersebut. It’s called Gillman Barracks.

Sampai di Gillman Barracks!
Sampai di Gillman Barracks!

Terletak di 9 Lock Road Alexandra Road, Gillman Barracks sendiri merupakan bekas area barak infantri Inggris di Singapura tahun 1936-an yang mendapat namanya dari Sir Webb Gillman, seorang jendral terkenal asal Inggris yang pernah mengomandoi infantri Inggris di Singapura. Di tahun 1971, militer Inggris mengembalikan barak ini ke Singapura dan tentara Singapura pun pindah ke barak ini dan membuka fasilitas olahraganya untuk umum. Tahun 1996, tentara Singapura mengosongkan area ini dan Gillman Barracks pun berganti nama menjadi Gillman Village, di mana muncul beberapa restoran, bar, dan toko furnitur sebelum akhirnya di tahun 2010 muncul ide untuk merestorasi area ini dan mengembalikan namanya ke nama semula. Dua tahun kemudian, Gillman Barracks pun resmi dibuka untuk umum dan menjadi sebuah pusat untuk contemporary art SIngapura.

Gillman3Gillman2

Salah satu galeri di Gillman Barracks, FOST Gallery, sedang menyelenggarakan pameran tunggal seniman Singapura Jimmy Ong. Bertajuk {History of Java}, beliau mengangkat tema sepak terjang Sir Stamford Raffles di Pulau Jawa.
Salah satu galeri di Gillman Barracks, FOST Gallery, sedang menyelenggarakan pameran tunggal seniman Singapura Jimmy Ong. Bertajuk {History of Java}, beliau mengangkat tema sepak terjang Sir Stamford Raffles di Pulau Jawa.

Di area yang tenang dan hijau seluas 6,4 hektar ini, terdapat 17 galeri seni internasional yang menghuni gedung-gedung klasik bergaya kolonial di dalamnya, termasuk Centre for Contemporary Art Singapore. Tagline mereka sendiri adalah Where Art Meets History, dan hal itu sangat terasa saat menelusuri gedung-gedung kolonial berwarna putih yang beberapa di antaranya juga dihiasi oleh mural. Walaupun hari sudah menjelang senja saat kami sampai, orang-orang justru semakin ramai berdatangan karena Jumat malam itu mereka mengadakan event bertajuk Art After Dark, di mana semua galeri seni dibuka sampai malam (free entry!) dan diisi oleh berbagai kegiatan seru seperti bazaar makanan, pameran mobil antik, live jazz music, dan macam-macam live art performance. Rasanya tiga jam berada di sini tidak akan bosan, saya bahkan belum sempat mendatangi semua art gallery yang ada, tapi sudah waktunya dinner dan kami pun berjalan menuju Timbre @ Gillman, sebuah bistro di dalam area Gillman Barracks yang menggabungkan live music, makanan enak, dan tentu saja, seni. Great ambiance and great food (their 6 Hours Slow Braised Beef Cheek is to die for!) membuat bistro ini selalu ramai, beruntung kami sudah reservasi terlebih dulu, kalau tidak kami harus ikut mengantre di barisan orang-orang waiting list yang panjang.

Mumpung belum terlalu larut, dari Gillman kami melanjutkan perjalanan ke daerah Haji Lane. Di siang hari, area ini terlihat vibrant dengan deretan ruko warna-warni yang kerap menjadi latar foto OOTD para hipster lokal, sementara di malam hari Haji Lane menjadi pusat bar-bar trendi, live music cafe, toko-toko vintage, dan butik-butik independen lokal yang dipenuhi para ekspat, backpackers, dan warga lokal dari berbagai etnis. Sebuah bar bernama Bar Stories menjadi salah satu tempat yang wajib kamu datangi di Haji Lane karena konsepnya yang unik. Di sini, kamu tak akan menemukan menu apapun, the waiter merangkap bartender akan bertanya minuman seperti apa yang kamu inginkan serta rasa yang kamu sukai dan meracik cocktail yang personally yours! Saya meminta something sweet, a bit airy, dan memiliki aroma yang harum, dan inilah yang saya dapat. It was good!

Bar Stories.
Bar Stories.
Tokyobike,, salah satu toko sepeda di Haji Lane yang bisa dibilang paling terkenal di Singapore.
Tokyobike, salah satu toko sepeda di Haji Lane yang bisa dibilang paling terkenal di Singapore.

Setelah menghabiskan cocktail, kami melanjutkan jalan-jalan di seputar Haji Lane. Saya harus setengah mati menahan keinginan untuk masuk ke sebuah cat’s cafe yang ada di sana dan memborong pernak-pernik vintage di salah satu toko sebelum akhirnya menyempatkan diri untuk menikmati live music di Blu Jaz Cafe. Kabarnya malam itu akan ada seorang DJ yang memainkan musik dari vinyl, namun tampaknya kami harus menyimpan energi untuk Laneway Festival besoknya. So, kami pun kembali ke hotel untuk beristirahat. Malam pertama saya di Singapura, saya sudah melihat bagaimana warga Singapura begitu antusias terhadap seni dan basically enjoying life with great food, drinks and live music. Stay tune untuk post selanjutnya ya!

Advertisements

2 thoughts on “#Xinjiapo, My Singapore Trip Part 1: Gillman Barracks

  1. Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
    Jika ya, silahkan kunjungi website ini http://www.kumpulbagi.com untuk info selengkapnya.

    Oh ya, di sana anda bisa dengan bebas mendowload music, foto-foto, video dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis 🙂

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s