Time For A Change, Time To Move On

Apa yang terjadi setelah kamu menjalani passion yang kamu miliki? Well, hidup ternyata tak berhenti di titik itu. Everything’s changing dan kita harus selalu siap.

Its not quite a secret anymore kalau belakangan ini saya sering menghabiskan waktu di ask.fm, sebuah situs social network di mana para penggunanya bisa saling bertanya satu sama lain. Terlepas dari image negatif sebagian orang kalau ask.fm isinya hanya orang-orang narsis yang kurang kerjaan, situs ini sebetulnya bisa menjadi tempat untuk saling berbagi cerita dan inspirasi, ataupun bertanya kepada mereka yang lebih berpengalaman. Salah satu pertanyaan yang paling sering saya terima di situs tersebut adalah bagaimana saya bisa memulai karier di majalah dan menemukan passion saya.

passion

Tentu saja bukan rahasia lagi jika tidak sedikit orang yang mengaku belum menemukan passion masing-masing, mereka yang masih clueless dalam memilih jurusan kuliah atau karier, maupun mereka yang merasa sedang stuck di rutinitas yang sama dan tidak sesuai dengan apa yang sebetulnya ingin mereka kerjakan. Well, guess what? Saya pun pernah berada di titik seperti itu, dan sekarang izinkan saya bercerita tentang bagaimana I finally able to pursue my passion and write my own story.

It’s all started ketika saya masih menjadi mahasiswa di Program Studi Cina, FIB Universitas Indonesia. Back in the days, saya tergolong mahasiswa dengan prestasi akademik yang sangat rata-rata dan bahkan harus mengulang mata kuliah wajib sampai dua kali. Dari awal, saya memang ingin kuliah sastra walau sejujurnya pilihan pertama saya adalah Jepang atau Prancis. Waktu itu saya memilih Sastra Cina simply karena orangtua bilang jurusan itu lagi banyak diminati dan akan membuat saya mudah mendapat kerja. Waktu itu saya belum paham bagaimana kita sebaiknya tidak memilih jurusan kuliah hanya dengan alasan “biar gampang dapat kerja”, instead of memang niat mempelajari ilmunya. Seiring waktu, dengan banyaknya peer pressure dan tekanan dari dosen, ada banyak momen yang membuat saya berpikir “Kayanya gue salah jurusan deh.” Pikiran itu memuncak ketika saya tidak lulus untuk kedua kalinya dan terancam drop out. Saya merasa serba salah. Mau meneruskan rasanya sudah tidak ada gairah, mau mengundurkan diri pun rasanya tanggung karena sudah setengah jalan. But at the same time I feel like I’m not following my dream & wasting my time.

Untungnya, waktu itu saya menemukan “pelarian” dengan bergabung sebagai Music Director di radio kampus yang membuat saya tetap waras. Sebagai Music Director, saya terobsesi menemukan band-band indie atau musik-musik paling baru dan merekomendasikannya ke teman-teman melalui tulisan di Notes Facebook. Dari situ, seorang teman yang sering menjadi sasaran curhat saya suatu hari berkata, “Kenapa elo nggak bikin blog aja, Lex? Daripada cuma browsing dan stress kuliah?” Waktu itu saya hanya menanggapinya malas-malasan, tapi diam-diam saya berpikir, “Betul juga sih, I need to change my routine, indeed.” Akhirnya bulan Februari 2010, saya iseng membuat blog di Tumblr yang isinya tulisan soal musik dan passion saya yang lain, yaitu fashion.

Beda dari fashion blogger umumnya yang gemar menampilkan personal style mereka, saya sebetulnya tidak merasa sebagai orang yang trendi. I just love watching fashion show on YouTube and write my impression about the show and the collection on my blog. Dari yang awalnya iseng, perlahan kegiatan blogging menjadi rutinitas baru yang menyenangkan. Hari-hari saya tidak lagi terasa membosankan. Karena waktu itu saya menulis dalam bahasa Inggris (sekalian latihan) dan selalu me-link postingan blog ke Twitter dan Facebook, saya mulai mendapat respons dari orang yang membaca blog saya. Dengan makin banyaknya interaksi dan atensi, saya makin bersemangat menulis blog dan sadar jika ternyata saya masih bisa mengejar passion saya.

nikicio

Nikicio Mixte Vol. 05 Fashion Show yang menjadi fashion show pertama yang saya liput:

Satu hari, tanpa diduga saya dihubungi tim dari fashion label Nikicio untuk hadir ke fashion show mereka. Waktu itu Nikicio adalah label yang terbilang masih baru namun sangat populer dan menjadi bagian dari kebangkitan fashion independen lokal circa Brightspot Market. Terus terang, saya cukup shock karena blog saya ternyata bisa di-notice label betulan. Akhirnya, saya pun datang ke fashion show Nikicio di Salihara and it was my first ever fashion show. Pulangnya saya langsung menulis review soal show tersebut dan me-link post itu ke Twitter. Tak disangka, ternyata postingan tersebut dibaca oleh Nina Nikicio, the designer herself, dan dia me-retweet sambil menambahkan “Best review ever”. Tentu rasanya senang banget dan membuat saya semakin bersemangat ngeblog. Tak berhenti di situ, beberapa hari setelah di-retweet Nina, tiba-tiba saya mendapat message dari wakil pemimpin redaksi majalah Cleo Indonesia untuk datang ke kantor mereka. “Kenapa nih?” pikir saya sempat ragu, walau akhirnya saya memutuskan untuk datang ke kantor Cleo.

It turns out, ternyata Mbak Ein Halid, wakil pemred Cleo tersebut membaca blog saya dari retweet-an Nina. Ia mengajak saya ngobrol tentang blog saya, about fashion dan terutama, passion saya. Tak disangka, saat itu juga beliau tertarik untuk menawari saya menjadi kontributor untuk halaman fashion di Cleo! Hal yang sangat surprising, kalau kata zaman sekarang sih “dah aku mah apa atuh”, haha. Hanya blog biasa tiba-tiba mendapat kesempatan menulis untuk majalah skala nasional. Saya yang biasanya selalu ragu-ragu dan cenderung berpikir lama dalam menentukan sesuatu (bawaan Libra) akhirnya berani untuk break free dari zona nyaman saya dan memilih mengikuti kata hati, I said yes! Walaupun tentu masih grogi dan cemas apakah tulisan bisa delivered sesuai ekspektasi atau tidak. Tapi saya meyakinkan diri, kapan lagi mendapat kesempatan seperti itu?

Di hari itu juga saya diajak ikut liputan ke pembukaan Level One di Grand Indonesia dan merasakan langsung jadi reporter untuk pertama kalinya. Dari situ, saya mendapat tawaran menulis secara berkala dari Cleo. Rasanya senang ketika akhirnya merasakan dapat honor, tapi jauh lebih senang lagi ketika melihat tulisan saya bisa dimuat di majalah dan dibaca orang lain secara luas. Waktu itu untuk pertama kalinya saya merasakan momen eureka, “This is it, this is what I wanna do in life. I want to write my own story, and I’ll follow my passion.”

cleo

cleo2

Cleo1 Beberapa tulisan saya untuk Cleo Indonesia.

Semangat tersebut menular ke aspek hidup lainnya. Saya jadi semangat belajar, serius kuliah, dan bertekad lulus secepatnya. Setelah lulus, saya pun langsung melamar kerja di berbagai majalah sampai akhirnya diterima di Nylon Indonesia yang baru terbit awal tahun 2011. Di Nylon, tahun pertama saya menjadi junior writer dan untuk pertamakalinya melihat nama lengkap saya ada di jajaran masthead sebuah majalah, dream came true! Tahun berikutnya saya di-promote menjadi associate editor sebelum dipromosikan lagi menjadi senior editor dari tahun 2013 sampai sekarang.

NYLON Indonesia January 2015
Lima tahun bekerja di tempat yang sama, apalagi untuk ukuran first time job, bukan waktu yang sedikit. Tak bisa dipungkiri jika bekerja di manapun pasti ada momen-momen melelahkan atau kejadian yang membuat bad mood. Namun, semua stress itu hilang jika saya mengingat lagi masa-masa yang menentukan itu. Saya hanya cukup bersandar sejenak and realize that I already follow my dreams, I’m on the right track to pursue my passion & I just need to keep deliver the unexpected result, even for myself. Di Nylon, saya dibebaskan penuh untuk menulis topik apapun yang saya suka, mulai dari musik, seni, fashion, dan creative culture lainnya. Meskipun begitu, tetap saja terkadang saya mulai merasa bosan atas pekerjaan menulis yang telah berubah menjadi rutinitas dan merasa telah terjebak di comfort zone. Beberapa kali saya berpikir untuk resign dan mencoba bekerja di tempat lain. Di sisi lain, saya merasa target saya di Nylon belum tercapai, dan akhirnya saya pun memilih untuk stay. Saat passion telah berubah menjadi habit atau routinity, sebetulnya kita punya dua pilihan: Resign dan mencari pekerjaan baru atau menggali lagi passion dan bakat lain yang selama ini mungkin belum kamu sadari ada di diri kamu. Saya memilih yang kedua.

photo 5Change The Ordinary
People often says to be yourself, tapi bagi saya hal itu sebetulnya tidak cukup. We need to be the better version of ourselves. Caranya banyak sekali. Dari hal sesimpel bangun lebih pagi dari biasanya, menyelesaikan deadline lebih awal, atau mengikuti suatu workshop dan mendapat skill baru. Cara paling ampuh adalah trying something new atau pergi ke tempat baru. Bila sebelumnya saya memilih menghabiskan weekend di rumah saja, belakangan saya lebih rajin keluar rumah dan mencoba banyak hal. Sesimpel quick getaway ke Bogor dengan kereta, nonton festival musik, river tubing di Sukabumi, solo traveling ke Ubud, atau ikut workshop membuat barang handmade. (Saya sempat belajar membuat tote bag sendiri and it is super fun!) Sebagai penulis, saya sadar jika kebiasaan berdiam di kamar hanya akan mengurung kreativitas saya. I need to keep myself updated and be inspired to deliver the unexpected!

life

Satu hal yang saya pelajari dalam hidup, saya beruntung bisa mengejar passion yang saya punya dan saya percaya semua orang juga pasti bisa melakukannya. If you want to do something, just go ahead, follow your dream, give it your best shot and the universe will work its way. Namun, apakah semuanya selesai sampai di situ? No, it’s not. Passion yang dibiarkan statis hanya akan menjadi rutinitas dan tak ada yang lebih membosankan dibanding terjebak dalam rutinitas yang sama selama bertahun-tahun. Seperti quote di atas, kita harus terus bergerak dan berani break away dari rutinitas and keep surprising yourself! Life is nothing but series of challenges, tak jarang justru kita lah yang harus menantang diri sendiri untuk berani berubah. As for me personally, saya merasa 5 tahun adalah waktu yang cukup lama untuk berdiam di satu tempat dan saya sadar tidak mungkin selamanya stay di satu tempat yang sama. There’s still a lot of things I want to do, tantangan baru, dan pencapaian-pencapaian baru. Salah satunya sedang saya kerjakan sekarang, yaitu menulis sebuah buku. Sebuah project yang sudah terbengkalai terlalu lama dan sudah waktunya diselesaikan. It’s time to keep moving forward.

And it’s only just the beginning of the next chapter of my life 🙂

Disclaimer: judul postingan ini diambil dari judul album milik Pure Saturday, band favorit saya yang saat ini juga sedang mengalami momen perubahan. God speed!

quotes

Advertisements

9 thoughts on “Time For A Change, Time To Move On

  1. Alex!! i feel like slapped right in my face. Tulisan lo ngena banget buat gue. Jalan hidup kita kurang lebih hampir sama. Bedanya, i’m still trapped in my comfort zone and doin’ nothing. Gue udah 8 tahun jadi jurnalis di Bintang dan hampir semua impian gue udah terwujud. Indeed, gue ga akan dapet apa-apa lagi kalau gue ga bergerak kemana-mana…huhuhu Thanks sir Alex for reminding me that it’s time for a change, time to move on. Cheers 🙂

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s