Film Strip: Filosofi Kopi the Movie

FilKopIt’s not rocket science, it’s just coffee.”

Begitu yang melintas di kepala saya setiap melihat para pencinta kopi yang dengan sangat antusias membicarakan soal rasa biji-biji kopi dari berbagai negara, teknik membuat kopi, sejarah kopi, dan hal-hal lain yang beraroma kopi. Saya bisa mengerti its about passion, namun kopi bagi saya hanya sebuah minuman, yang sayangnya tidak bisa saya nikmati. Saya telah mencicipi beberapa macam kopi dalam hidup saya, obviously, namun tidak pernah mengerti apa yang membuat kopi tertentu dianggap lebih hebat dari kopi lainnya. Yang saya rasakan hanya rasa pahit dan jantung berdebar (yup, it’s turn out that my body couldn’t handle caffeine). So, saya dan kopi memang seperti tidak ditakdirkan untuk berjodoh, which is a shame, karena saya hidup di tengah coffee culture yang sedang harum-harumnya saat ini.
Mungkin ungkapan di atas muncul tanpa sadar, karena sebagai “outsider”, saya tak bisa mengerti bagaimana seseorang bisa begitu passionate dalam soal kopi dan universe di dalamnya. Namun, kini saya punya sedikit celah untuk mencoba memahami filosofi di balik kopi. Celah itu bernama Filosofi Kopi, sebuah film yang diadaptasi dari cerpen berjudul sama karya Dee Lestari. Diproduksi oleh Visinema Pictures dan Kopi Torabika, film ini disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko yang baru saja meraih penghargaan Film Terbaik di FFI 2014 untuk filmnya Cahaya Dari Timur: Beta Maluku, sebuah film yang juga menjadi breakthrough career untuk Chicco Jerikho dalam dunia akting dan menganugerahinya Pemeran Utama Pria Terbaik di ajang yang sama.
Maka tak heran jika Angga kembali menggandeng Chicco untuk menjadi salah satu pemeran utama di film terbarunya ini lewat peran Ben, seorang barista di coffee shop bernama Filosofi Kopi yang dirintis bersama sahabatnya sejak kecil, Jody (Rio Dewanto). Bila diibaratkan, Jody adalah kepala yang harus memikirkan bagaimana kedai kopinya bisa terus survive dan beroperasi secara finansial, sementara Ben adalah hati yang membawa nyawa di Filosofi Kopi dengan passion obsesifnya terhadap kopi (“Gue gak pernah bercanda soal kopi” menjadi semacam tagline bagi barista yang percaya setiap jenis kopi memiliki filosofinya tersendiri itu). Kedua sahabat karib yang sudah seperti kakak-adik itu tengah mengalami masalah pelik. Almarhum ayah Jody yang juga membesarkan Ben dari kecil meninggalkan hutang sebanyak 800 juta dan debt collector yang mengintai. Di tengah keadaan yang nyaris putus asa, peluang emas jatuh dari langit ketika seorang pengusaha dan asistennya yang cantik (Tara Basro) datang ke Filosofi Kopi dengan satu tantangan: meracik kopi yang bisa membuat si pengusaha memenangkan tender dari kliennya yang merupakan pencinta berat kopi. Walaupun awalnya hanya menanggapi setengah hati, atas desakan Jody, Ben pun bersedia ikut dalam tantangan itu demi Filosofi Kopi. Ia mulai bereksperimen dengan berbagai macam biji kopi dan teknik pembuatannya, hingga lahirlah Perfecto, sebuah kopi yang kemudian menjadi signature coffee di Filosofi Kopi dan disebut sebagai kopi paling enak di Jakarta, bahkan di Indonesia.

FIlKopiSemuanya terasa melegakan, sampai akhirnya datanglah El (Julie Estelle), seorang Q Grader bersertifikat internasional yang sedang menulis buku tentang kopi di Indonesia. Kepercayaan diri dan gengsi Ben sebagai seorang barista goyah ketika El secara innocent berkata jika masih ada yang lebih enak dari Perfecto buatannya. Kopi Tiwus yang dimaksud El adalah kopi yang diracik secara sederhana di kebun kopi milik Pak Seno (Slamet Rahardjo) dan Bu Seno (Jajang C. Noer), yang kemudian menjadi pilihan terakhir bagi semua permasalahan di Filosofi Kopi sekaligus menjadi jawaban untuk pertanyaan dan trauma masa kecil yang dicoba untuk dikubur dalam-dalam.
Dengan durasi yang cukup lama (117 menit), film ini untungnya tidak terasa membosankan. Chemistry di antara pemain, khususnya Rio dan Chicco membuat keduanya terlihat seperti sahabat yang memang telah berteman sejak kecil. Begitupun dengan peran-peran kecil seperti Joko Anwar sebagai debt collector dan Tara Basro (kita seakan melihat teaser dari film terbaru Joko yang dibintangi Chicco dan Tara). Angga sebagai sutradara tak lupa menyajikan visual khasnya yang indah, tak hanya berupa lanskap pemandangan yang diiringi soundtrack yang menarik, tapi juga, close up pada proses pembuatan kopi yang seakan membuat kita bisa turut merasakan panasnya uap dan harumnya biji kopi yang sedang dimasak. Secara alur, semua jawaban akan pertanyaan yang muncul di benak penonton bisa dijawab tanpa tergesa. Pun beberapa adegan yang sukses memancing air mata saya untuk keluar, bisa dipaparkan tanpa dramatisasi berlebihan. Saya jujur saja, belum pernah membaca cerpen aslinya, sehingga saya datang menonton tanpa membawa ekspektasi apapun dan tak mengetahui sejauh apa adaptasi yang ditulis oleh Jenny Jusuf sebagai penulis skenario film ini. Namun di penghujung hari, Filosofi Kopi terasa seperti menyesap sesuatu yang hangat dan menimbulkan kerinduan akan sosok keluarga, selayaknya kopi itu sendiri.

Apakah setelah menonton film ini saya akan mencoba meminum kopi lagi? Well maybe. Tapi untuk sekarang saya hanya ingin menyimpulkan:

For some people, its not just about coffee, its a way of life.”

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s