Million Dollar Baby, An Interview With Chelsea Islan

Dengan talenta yang kian terasah dan komitmen penuh di dunia seni peran, Chelsea Islan telah merekah sebagai seorang aktris dan pekerja seni yang mumpuni, sekaligus bintang baru paling bersinar saat ini.

IMG_9334

Dress oleh Argyle & Oxford, coat oleh Zara

Chelsea Islan bersandar di dinding sambil sesekali tertawa renyah dan secara refleks menyipitkan matanya serta membetulkan poninya yang tertiup angin. Effortlessly quaint seperti Audrey Hepburn di film Roman Holiday, ia menggenggam setangkai bunga matahari berwarna kuning sempurna yang terlihat kontras dengan coat merah yang ia kenakan. Bunga matahari tersebut juga seolah mewakili gadis cantik yang memegangnya itu sendiri: vibrant, full of life, dan dengan mudah menginjeksikan semangat bagi setiap mata yang memandangnya. It’s a blooming time indeed, metaphorically speaking.

Ini bukan kali pertama paras manis gadis bernama lengkap Chelsea Elizabeth Islan tersebut muncul di majalah NYLON. Kami telah memotret profilnya dalam edisi It Girl di November 2013 lalu sebagai aktris muda yang baru mulai meniti karier di dunia film setelah sebelumnya telah lebih dulu menjadi seorang model remaja. Saat itu ia baru saja merampungkan film debutnya, Refrain, yang juga dibintangi oleh Maudy Ayunda dan Afgansyah Reza. Meski hanya supporting role, namun perannya sebagai Annalise di film itu berhasil membuat publik penasaran mengenal sosok gadis kelahiran New York tersebut lebih dalam lagi.
Disambung film Street Society di awal 2014, berbagai iklan komersial, menjadi brand ambassador dan aktif di berbagai isu sosial, popularitasnya terus menanjak sepanjang tahun 2014 lalu, khususnya ketika ia menjadi bintang serial sitkom Tetangga Masa Gitu? di Net TV yang membuahkan mainstream popularity baginya. Rasanya, kini hampir semua orang telah mengenal nama Chelsea Islan sebagai bintang pendatang baru yang menuai banyak pujian berkat kiprah dan image positif yang melekat pada dirinya. She’s been on high demand, baik di dunia film maupun dunia media yang berlomba menampilkan dirinya. Tak terhitung banyaknya request yang masuk ke redaksi untuk meminta Chelsea muncul sebagai cover kami, and obviously it’s just a matter of time. But of course, we save her for the best moment, which is to grace our 4th Anniversary cover.
Setelah beberapa kali bertukar pesan di Whatsapp dan email, kami berhasil mencocokkan jadwal pemotretan di suatu Rabu di awal Desember silam. Bila di pertemuan kami sebelumnya Chelsea masih datang sendirian tanpa ditemani siapapun, kali ini ia telah memiliki manajer dan asisten untuk membantunya mengatur jadwal yang terus memadat. Hari itu saja kami hanya punya waktu sekitar 4 jam untuk merampungkan pemotretan karena ia telah memiliki jadwal taping di sebuah talkshow sesudahnya. Ia datang dengan wajah bersih dari riasan apapun dan dengan senyuman hangat menyapa tim pemotretan. Setelah saling bertukar kabar, tanpa membuang waktu, kami pun segera berbincang setelah sebelumnya ia dengan penuh kesadaran meletakkan teleponnya dalam tas agar bisa lebih fokus bercerita.

The first question tentu saja menyoal kesibukannya akhir-akhir ini. Kesan yang saya ingat dari Chelsea masih sama seperti perbincangan kami setahun sebelumnya, ia sangat passionate dan begitu eloquent (if not even getting better) ketika diajak berbicara soal kariernya. Seperti yang sudah disebut, selain daily activity berupa syuting Tetangga Masa Gitu? (TMG) yang sudah mencapai season kedua dengan 120 episode lebih, Chelsea baru saja merampungkan berbagai project film yang menarik. Yang paling awal rilis adalah Merry Riana: Mimpi Sejuta Dollar, sebuah film biopik di mana Chelsea mendapat peran utama sebagai the eponymous Merry Riana, seorang motivator, penulis, dan pengusaha Indonesia yang inspiratif.
Diangkat dari buku biografinya yang berjudul A Gift From a Friend, film ini menceritakan kisah perjuangan Merry Riana, seorang gadis berdarah Tionghoa yang mengungsi ke Singapura ketika peristiwa 98 pecah. Di sana, dengan membawa uang sangat minim ia berhasil diterima sebagai mahasiswi di Nanyang Technological University walau harus berhutang sebanyak 40 ribu dolar Singapura. Usahanya dalam membayar hutang dan bertahan hidup di negeri orang dengan bekerja keras dari mulai kerja serabutan hingga bermain saham pun membuahkan hasil. Tahun 2007, kisah perjuangannya mencapai sukses diliput oleh harian The Strait Times dengan judul “She’s made her first million at just age 26”, sebuah cerita penuh motivasi dan inspiring yang sayangnya mungkin masih banyak orang yang belum tahu, termasuk Chelsea sendiri sebelum ia terlibat dalam project ini.
“Ceritanya itu dari Januari 2014 aku udah ditelepon oleh pihak Dapur Film, komunitas filmnya Mas Hanung Bramantyo untuk ditawarin main film ini, awalnya aku emang nggak tau itu film tentang apa, kisahnya siapa, based on what, jadi pertama-tama aku masih yang ‘Oh oke, coba kita atur jadwalnya.’ Akhirnya aku dateng terus langsung ketemu sama sutradaranya, Mas Hestu Saputra. Ngobrol, terus dia bilang ‘Kamu harus ambil film ini nih,’ Awalnya aku nggak punya bayangan bagusnya seperti apa. Jadi aku baca skripnya dari awal sampai akhir dan aku kaya ‘Okay, I should buy the book first, baru aku balik lagi untuk kasting.’ Aku baca bukunya sampai selesai abis itu aku search Merry Riana di YouTube dan keluar banyak banget ternyata, pas dia di Singapura, pas jadi pembicara di seminar, jadi ternyata dia itu emang sosok motivator dan sosok inspiratif bagi anak muda dan untuk orang dewasa juga, dari situ aku langsung ‘Wah ini keren banget,’ Kaya one day aku juga pengen jadi someone yang inspiring untuk anak muda dan orang di sekitar. Ini one of the dreams yang sebenarnya aku pengen, main di film yang inspiring, nah setelah ini aku langsung oke, aku akhirnya casting,” ungkap Chelsea tentang film ini.
Nama Chelsea bukan satu-satunya yang dikasting untuk peran ini, ada banyak kandidat lainnya baik sesama pendatang baru maupun yang sudah lebih senior, namun dengan banyak support, ia berhasil mendapat peran ini. “I was nervous juga karena kastingnya sendiri memang dilakukan dengan profesional. Nunggu kabar sampai akhirnya bulan Maret dipanggil ke MD Pictures, ketemu Pak Manoj Punjabi, ngobrol, terus dia bilang ‘You should take this movie,’ semuanya kaya bilang gitu terus aku juga berpikir mungkin Tuhan memang memberikan film ini untuk aku, ya kan menurut aku coincidence itu nggak ada, sebetulnya semua udah diatur sama yang Di Atas, dan kita dipertemukan sama orang-orang yang akan kita kerjasama, aku kaya ‘Okay, mungkin ini something that I have to do, okay I’m taking this movie.’”

IMG_9598

Dress oleh Monday to Sunday, sepatu oleh Dr. Martens.

Praktis, sepanjang tahun lalu Chelsea fokus di film yang juga dibintangi oleh Dion Wiyoko dan Kimberly Ryder tersebut. Berperan dalam biopik dengan pesan yang kuat, Chelsea mengaku banyak mendapat hal positif dalam pembuatannya. “This is something new yang belum pernah aku coba, karena film ini mengangkat sosok inspiring dan banyak orang berharap sama dia. Untuk menjadi dia I really had to work hard dan ini bukan hal yang gampang. Tapi sejak memainkan peran ini aku juga jadi positive thinking banget. Aku jadi merasa bersyukur karena nggak ada second chance lagi untuk main di film seperti ini. Dan dari mbak Merry aku juga belajar banyak sekali, kan kita banyak one on one discussion-nya sebelum syuting, kita lunch, dinner bahkan ke gereja bareng, dan yang main di film ini kebetulan semua seiman juga, jadi mbak Merry memberikan kita rosario merah dari Jerussalem dan masih ada di tas aku sampai sekarang,” ungkapnya sambil tersenyum. “Aku pengen dia bangga sama film ini, karena ini kan film tentang dia, kehidupan dia, struggle-nya dia sebagai seorang perempuan sendiri di negara orang lain dan dia bisa sukses. Nothing is impossible, dia aja bisa kenapa kita nggak bisa? Dan Mbak Merry selalu memotivasi aku jadi aku juga tambah giat. Seru banget,” tandasnya.
Terlibat dalam kegiatan dan gerakan dengan isu positif sama sekali bukan hal baru bagi Chelsea, bahkan sebelum ia menjadi public figure. Kampanye anti bullying, breast cancer awareness, dan Hari Aids Nasional adalah segelintir di antaranya. Baru-baru ini Chelsea juga berpartisipasi dalam gerakan Indonesia Menari yang mengajak anak muda untuk peduli dan melestarikan budaya dan seni Indonesia. Dibimbing oleh koreografer terkenal Eko Supriyanto (Madonna’s dance mentor!) Chelsea yang telah memiliki basic menari dari kegiatan ballet dan teater di masa sekolahnya menari dengan 1200 peserta lainnya.

So far 2014 itu banyak pembelajaran, banyak experience baru yang aku gali, banyak opportunity, kesempatan baru, nah aku sih berharap di 2015 akan ada banyak lagi opportunity dateng dan mudah-mudahan bisa menginspirasi lebih banyak orang lagi,” ujarnya saat merefleksikan tahun 2014. Apakah Chelsea termasuk orang yang selalu membuat resolusi tahun baru? “Kalau aku sih kadang-kadang. Mungkin untuk tahun ini aku mau kasih resolusi biar terarah tahun depan maunya gimana, karena kan kadang aku masih bingung antara pendidikan atau karier, dan lain-lain. Antara mau lanjut kuliah atau masih karier atau gimana.” Tahun lalu Chelsea sebetulnya sempat mengungkapkan keinginan untuk kuliah Sosiologi namun hal itu urung terlaksana karena 2014 memang menjadi tahun sibuk baginya. Selain Merry Riana, Chelsea pun telah merampungkan dua film bertema sejarah yang tak kalah menarik, yaitu Dibalik 98 dan Guru Bangsa: Tjokroaminoto.
Dalam film Dibalik 98 yang menjadi debut penyutradaraan oleh aktor Lukman Sardi, Chelsea berperan sebagai seorang aktivis dan demonstran di zaman Trisakti sementara dalam film Guru Bangsa: Tjokroaminoto yang disutradarai oleh Garin Nugroho, Chelsea berperan sebagai Yildiz, seorang anak umur 15 tahun berdarah campuran Belanda-Indonesia dengan rambut kepang a la Dorothy Gale dan putri seorang nyai di mana pada masa itu warga blasteran belum memiliki posisi yang melindungi mereka secara jelas di mata hukum. Dari sini kita bisa melihat adanya benang merah dari film-film yang dibintangi oleh Chelsea. Semuanya menceritakan tentang perjuangan dalam berbagai bentuk. “Aku sebetulnya nggak pernah ada spesifikasi sih, tapi aku bener-bener melihat dari moral story dari cerita film itu sendiri,” tukas Chelsea tentang pertimbangannya dalam memilih peran, sebelum menambahkan, “Aku juga ingin main di film action kaya The Raid atau jadi psikopat. Selama ini kan perannya yang baik-baik aja, pengen coba jadi antagonis, sebagai aktor ingn coba semua sih, pengen eksplor lagi,” akunya.

IMG_9474

Kemeja dan oversized biker jacket oleh Argyle & Oxford.

Ada cerita menarik di balik keterlibatan Chelsea dalam film kolosal musikal terbaru Garin Nugroho yang juga dibintangi oleh Reza Rahardian dan Christine Hakim tersebut. Chelsea yang sempat sekolah film di SAE Institute awalnya berniat magang menjadi asisten sutradara untuk film ini, sebelum akhirnya diminta ikut kasting untuk peran Yildiz. “Awalnya kastingnya bukan akting, tapi nyanyi. Yildiz ini ceritanya suka nyanyi lagu Burung Kakak Tua versi anak-anak Belanda. Jadi aku disuruh dateng untuk nyanyi, direkam, terus Mas Garin bilang ‘Oke bagus nih, kita jadi shoot ya, kamu jadi Yildiz,’ terus aku yang ‘Aduh gimana nih? Terus magangnya gimana?’ Jadi itu lucu banget, aku nggak tau deh, nggak nyangka juga, terus aku bilang ‘Oke, ya udah kali ini saya main tapi next time saya magang beneran ya,’ haha,” ungkap Chelsea sambil menyunggingkan senyum.
Dengan persiapan yang sangat minim, Chelsea dituntut untuk bisa akting, menari, dan menyanyi dalam film sejarah yang dikemas dengan unsur musikal seperti Les Misérables ini. “Aku cuma dua minggu udah harus banyak latihan workshop. Diajarin Bahasa Belanda gitu dan Mas Garin tipe yang workshop on the spot, jadi sebetulnya workshop yang kita lakukan sebelum syuting itu hanya pemanasan, tapi real-nya di shooting location di Jogja & Semarang dan itu beda banget. Yang kita latih sama sekali nggak sama dan kita harus langsung siap. Aku yang ‘Oh my God’, ada beberapa gerakan tari yang nggak dikasih tau, harus nari langsung, terus disuruh nyanyi Burung Kakak Tua yang untungnya udah dilatih juga. Aku bukan penyanyi, tapi di sini bukan suara bagus yang dicari, tapi sikap dari karakternya Yildiz sendiri, gimana sih si anak 15 tahun ini nyanyi Burung Kakak Tua dengan lonely sambil ngitung duit,” kenangnya. Di sini, pengalaman teater yang dimiliki Chelsea menjadi penyelamatnya karena ternyata hampir semua pemain di film ini memang mereka yang memiliki pengalaman teater. “Pressure pasti but I feel happy karena bisa melewati tantangan itu, seneng sih bisa berpartisipasi dalam film itu karena aku harus bisa disuruh apa aja. Seperti teater sih sebetulnya, ada improvisasi dan commedia dell’arte, di situ jadi belajar banyak banget sama Mas Garin,” imbuhnya.
Tertunda dari rencana semula untuk di belakang layar, tampaknya Chelsea tak harus menunggu lama untuk bisa mencoba berkiprah sebagai sutradara. Sempat terdengar kabar jika Chelsea akan terlibat dalam proyek film omnibus bergenre horror. “Iya, ada yang nawarin aku bikin film omnibus sama 3 sutradara lainnya, tapi aku masih nggak tau ini jadi apa enggak. Dan aku masih mempertimbangkan karena kalau horror kan harus mateng banget dari efeknya, kalau mau ada hantunya juga jangan sampai bad quality. Aku udah bikin cerita sih, dari 4 sutradara itu genre horrornya beda-beda, ada yang thriller, slasher, psychological thriller, satu lagi kalau nggak salah yang beneran tentang roh. Kalau yang aku psychological thriller, aku bener-bener main di psikologis karakternya, aku pengennya sih ceritanya tentang psikiater. Yang mau aku gali sih moral story-nya, jadi jangan cuma horror aja. Aku mau bikin twist-nya juga, the different side of psychiatrist. Tapi belum tentu bikin sih, masih fifty-fifty tapi kalau jadi aku mau banget.”

Terlibat dalam banyak produksi film dan berbagai kegiatan lainnya yang menguras waktu dan tenaga, Chelsea mengaku lumayan kesulitan mencari quality time untuk diri sendiri. She usually unwind herself with diving, baca buku, dan melakukan treatment (“Aku nggak girly tapi sekali-sekali harus memanjakan rambut,” cetusnya) dan uniknya, serial sitkom Tetangga Masa Gitu? bisa dibilang menjadi kesibukan sekaligus safety net tersendiri baginya. “Tetangga Masa Gitu kalau buat aku lebih ke fun, karena kalau di film biasanya aku milih cerita yang serius, di TMG aku bisa lebih banyak ketawa dan mengeluarkan sisi sehari-hari aku. Actually di situ you don’t have to act tapi udah jadi si karakternya senatural mungkin. Aku udah merasa nyaman dan semua pemain juga udah into character banget.” Dalam sitkom ini, Chelsea berperan sebagai pasangan muda bersama Deva Mahenra yang bertetangga dengan pasangan suami-istri yang sudah jauh lebih berpengalaman yang diperankan oleh Dwi Sasono dan Sophia Latjuba. Chelsea sendiri mengaku tak mengalami kesulitan berperan di wedding life. “Soal wedding life, kita bangun chemistry dan field research dari focus group discussion tentang pernikahan. Untungnya karena karakternya nggak serius banget, mereka sebetulnya kaya masih anak-anak kecil, biar kontras sama yang udah lama nikah. Jadi walaupun udah nikah, bukan berarti mereka udah nggak kekanak-kanakan, tapi justru seru sih kaya stay young gitu,” ujarnya. Apakah bermain di sitkom ini memengaruhi pandangannya soal pernikahan? “Belum sih, jadi benar-benar acting as character and not influences me in real life,” jawabnya lugas.
Baik itu teater, film, maupun serial TV, tampaknya Chelsea sudah mencicipi berbagai medium akting dan belum berniat untuk menghentikan momentumnya. Ia mengungkapkan jika ia sempat berbincang dengan Garin Nugroho untuk membuat pementasan monolog dan ada satu project film berbasis karya sastra Indonesia yang masih tentative untuk tahun depan. Melihat sosoknya yang nyaris tanpa cela tersebut, saya pun penasaran, apa sih mimpi sejuta dolar bagi seorang Chelsea Islan? Ia menjawabnya sambil tersenyum, “Kalau aku hampir sama seperti Mbak Merry sih, aku ingin menginspirasi banyak orang, aku ingin mereka lebih aware sama social dan environment issue. Peduli budaya dan seni Indonesia. Mimpi aku masih banyak, mimpi-mimpi kecil seperti men-direct film, ingin bikin buku, bikin drama musikal. Aku lebih ingin banyak di belakang layar walaupun di depan juga masih ingin, cuma lebih selektif aja,” ungkap Chelsea dengan optimis. “Aku juga belajar untuk tidak cepat puas, itu nomor satu sih buat aku. Jadi belajar terus,” tuturnya menutup interview kami.

IMG_9413Sweater oleh Topshop, celana oleh Monday to Sunday, sepatu oleh Stacatto.

Foto oleh: Michael Cools. Styling oleh: Anindya Devy. Makeup Artist: Ryan Ogilvy. Asisten stylist: Priscilla. Lokasi: Vodka & Latte, Kemang.

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s