The Curious Case of Björk

Lewat album terbaru bertajuk Vulnicura, Björk menyembuhkan luka patah hati dengan berefleksi ke masa awal dan membalutnya dengan therapeutic strings. Brutally honest dan musikalisasi yang magis, its simply Björk at her best.

Sebagai salah satu legenda musik kontemporer paling ikonik sampai hari ini, jujur saja memori awal saya tentang Björk tidak terlalu bagus. Ketika pertama kali melihat video “Hunter” dari album Homogenic yang dirilis tahun 1997, saya sebagai anak kecil hanya bisa terbengong menyaksikan wanita botak di layar TV yang bertransformasi menjadi beruang kutub tersebut dan berpikir: “Ini musik apa sih? Who’s this crazy lady? Bejork? What a weird name! (its “bee-york” actually).” Saya sempat sebal setiap kakak saya memainkan musiknya yang sama absurdnya dengan segala pakaian yang ia pakai (ingat the swan dress yang ia pakai ke Oscar 2001?). Björk is weird, period. Butuh waktu cukup lama bagi saya untuk akhirnya bisa mengapresiasi musik yang dihasilkan musisi eksentrik Islandia tersebut. But, once you go Björk, you’ll never go back.
Ketika album Medúlla dirilis di tahun 2004, saya sedang duduk di kelas dua SMA dan sudah lumayan terpapar oleh berbagai jenis musik. Saya memutuskan membeli CD-nya, out of curiousity karena melihat sampulnya. It’s not exactly an instant love, to be honest. Butuh berapa saat sampai akhirnya saya bisa mencerna segala kompleksitas yang tersimpan di dalam album yang hampir seluruhnya dibangun secara a cappella tersebut, and it became a pleasure. Lalu saya mulai mendengarkan diskografi sebelumnya dan semakin menyadari betapa jeniusnya wanita bernama lengkap Björk Guðmundsdóttir tersebut. Dalam setiap albumnya, Björk menciptakan dunia sendiri yang dibangun oleh vokal sopran khasnya yang celestial dan mengancam di saat yang sama, aransemen musik yang luar biasa detail dan kompleks, serta eksplorasi musikal tanpa batas yang ia tempuh, mulai dari electronic, trip hop, rock, classical, jazz, dan bahkan hip hop. There’s no other words to describe her music beside eclectic and avant-garde.
Di balik segala keeksentrikan seorang Björk, yang membuat saya akhirnya jatuh cinta adalah passion dan totalitas yang begitu besar dalam dirinya. Semua karya yang ia buat selama tiga dekade kariernya berasal dari hati. Di antara tema-tema seperti kosmologi, alam semesta, dan kultur, lagu-lagu terbaik yang Björk hasilkan adalah lagu yang berbicara tentang hubungan dan kejiwaan manusia secara puitis dan blatant di saat yang sama. Namun, tampaknya belum ada yang setelanjang secara emosi seperti album terbarunya, Vulnicura, sebuah breakup album yang ia tulis pasca perpisahannya dengan seniman Amerika garda depan, Matthew Barney, seorang long time partner sekaligus ayah dari anaknya. Meneruskan tradisi panjang seniman wanita yang mencurahkan perasaan paling personalnya ke publik dalam bentuk seni sebagai terapi, sekaligus personal reclaiming.
Vulnicura yang berarti “Cure for Wounds” dan diproduksi dari 2 tahun lalu adalah sebuah album yang terlahir prematur. Album kesembilan itu awalnya dijadwalkan rilis Maret ini bersamaan dengan peluncuran buku Björk: Archives dan sebuah pameran seni retrospektif tentang karier tiga dekade Björk di MoMA, New York. Namun, menyusul online leak awal tahun ini, Vulnicura dirilis lebih cepat dua bulan, Januari silam. Sebuah keputusan reaktif yang cepat dan menjadikannya salah satu dari sedikit album Björk yang dirilis tanpa gimmick apapun. Tapi dengan tema yang begitu personal, hal itu justru bagai blessing in disguise, membuat album ini bisa dinikmati secara utuh tanpa perayaan dan distraksi yang tak perlu.
Björk mendeskripsikannya sebagai album yang ditulis secara tradisional dengan pemakaian strings yang dramatis dan bebunyian elektronik eksperimental sebagai pengingat album Homogenic, namun secara tematis album ini lebih dekat pada Vespertine (2001), sebuah album penuh konflik yang terasa intim, dingin, domestik dan “sangat feminin”, sekaligus album yang dibuat ketika ia mulai menjalin hubungan dengan Barney tahun 2000 silam. Di Vulnicura, Björk menjalani proses pemulihan diri dengan cara self-questioning, merenungkan apa yang salah dalam hubungan mereka lalu mencurahkannya dalam lirik-lirik paling jujur dan rapuh yang pernah ia buat. Sebuah proses penyembuhan yang mungkin sama brutalnya dengan melakukan self-amputate. “Ketika saya membuat album ini, dunia saya terasa runtuh. Saya tidak punya apapun yang tersisa. Hal itu adalah pengalaman paling menyakitkan dalam hidup saya. Satu-satunya jalan untuk menghadapinya adalah dengan membuat musik. Saya mulai menulis komposisi strings dan menjadi violin nerd. Saya punya sekitar 20 teknologi baru yang bisa saya coba, namun album ini tidak bisa terasa futuristik. Album ini harus terasa singer/songwriter. Old school. It had to be blunt,” ungkap wanita berumur 49 tahun tersebut dalam sebuah interview emosional penuh air mata yang ia lakukan bersama Pitchfork tentang album ini.
Di Vulnicura, Björk menggandeng kolaborator utama Alejandro Ghersi, yang lebih dikenal dengan nama Arca, seorang produser musik Venezuela berbasis di London yang juga menjadi otak kreatif di balik LP1 milik FKA twigs dan Yeezus milik Kanye West. Arca yang merupakan long time fan Björk menjalani hubungan guru dan murid sekaligus nahkoda untuk dirinya, memandu semua emosi mentah untuk tetap berada di jalur dan mengeluarkan potensi terbaik yang ada, musically dan stylistically. Vulnicura disajikan berdasarkan kronologi hubungannya yang kandas. Tiga lagu pertama, “Stonemilker”, “Lionsong”, dan “History of Touches” adalah dialog yang terjadi di periode sebelum perpisahan. Lagu keempat “Black Lake” yang berdurasi 10 menit merupakan center piece dari album ini dan berisi internal monolog dari masa paling depresif pasca perpisahan, di mana Björk berbisik secara retoris “Did I love you too much?” di antara bunyi strings yang menyayat sebelum ketukan glitch elektronik ritmis di menit keempat mencapai klimaks di menit selanjutnya dan menciptakan momen terbaik dalam album ini.
Lima lagu sesudahnya, termasuk “Family” yang turut diproduseri The Haxan Cloack dan “Atom Dance” yang menghadirkan Antony Hegarty sebagai vokalis tamu menceritakan masa-masa pemulihan yang lambat. Sepuluh lagu di dalamnya yang berdurasi total 58 menit dengan mulus terajut menjadi tragedi musikal lethargic yang tak hanya menyembuhkan dirinya sendiri secara emosional, tapi juga menemukan kembali jati dirinya sebagai musisi dan seniman, “It’s been a strange album. Album paling menyakitkan yang pernah saya buat, tapi juga yang paling melegakan,” tandasnya. Sublime, emotionally demanding, dan dewasa, Vulnicura menjadi salah satu album paling gemilang dari sepanjang diskografi Björk yang secara ironis tercipta di saat yang paling rapuh, sekaligus paling humanis.

Björk’s Essentials:
Dalam sepanjang karier musikal yang dimulai dari tahun 1977, Björk telah menghasilkan sembilan album seminal peraih ratusan penghargaan yang belum termasuk album soundtrack, remix, live, dan greatest hits, ataupun album-album dari band tempatnya bernaung sebelum bersolo karier. Never too late to listen some Björk, here’s some concise guide:

BjorkBjörk (1977)
Dirilis ketika masih berumur 11 tahun, album ini adalah perkenalan pertama seorang Björk dalam dunia musik. Berisi 10 lagu berbahasa Icelandic yang dibuka oleh bunyi sitar dalam lagu “Arabadrengurinn (The Arab Boy)” yang ditulis oleh ayah tirinya, album ini juga berisi cover dari lagu The Beatles (“The Fool on the Hill”), Edgar Winter (“Alta Mira”), dan Stevie Wonder (“Your Kiss Is Sweet”) dalam bahasa Islandia, serta satu lagu instrumental yang ditujukan sebagai tribut untuk pelukis Islandia Jóhannes Kjarval yang ditulis sendiri oleh Björk. Mendapat respons yang cukup bagus di negaranya, ia mendapat tawaran untuk membuat album kedua bersama labelnya, Fálkinn, namun menolaknya dan memilih membeli piano dari royalti penjualan albumnya untuk belajar membuat lagu-lagunya sendiri.

DebutDebut (1993)
Setelah band alternative rock The Sugarcubes yang digawanginya memutuskan bubar, Björk pindah ke London untuk bersolo karier dan memberi judul Debut bagi album solo keduanya ini sebagai fresh start. Dibuka oleh single pertama “Human Behaviour”, lagu dance dengan sample gitar bossa dari Jobim dengan video klip yang digarap oleh sutradara Prancis Michel Gondry yang kelak menjadi long time collaborator untuk video-video ajaibnya, album yang diproduseri Nellee Hooper ini berisi jazz, trip hop, house, dan disebut sebagai salah satu album pertama yang mengenalkan electronic dance music ke ranah mainstream pop. Berisi lagu-lagu seperti “Venus As a Boy”, “Big Time Sensuality”, “Like Someone in Love”, dan “Violently Happy”, album yang menjadi best-selling albumnya ini mencerminkan Björk di awal usia 20-an yang penuh cinta dan berbicara tentang cinta dengan cara yang tak biasa.

PostPost (1995)
Menyambung kesuksesan Debut, Björk kembali bekerjasama dengan Nellee Hooper dan beberapa produser lainnya seperti Tricky, Howie B, dan Graham Massey untuk terus bereksplorasi dengan banyak genre. Diawali industrial beat untuk lagu pembuka “Army of Me”, Post yang bercerita tentang perasaan Björk sebagai seorang gadis muda yang meninggalkan rumah dan berada di negeri asing juga menghadirkan trip hop di “Possibly Maybe”, elektronik sinematis yang dreamy di “Hyperballad” dan “Isobel” serta lagu jazz dengan komposisi big band orchestra yang sangat playful di “It’s Oh So Quiet” dengan video klip yang disutradarai oleh Spike Jonze sekaligus mengukuhkan nama Björk sebagai musisi perempuan fearless paling eklektik yang bisa diterima oleh masyarakat umum.
homogenicHomogenic (1997)
Menyusul ancaman acid bomb dari seorang penggemar maniak, Björk memilih meninggalkan London untuk sementara waktu, sekaligus image eccentric pixie girl dari dua album sebelumnya. Homogenic yang direkam di Spanyol adalah album konseptual pertamanya dan disebut sebagai salah satu karya Björk yang paling eksperimental dan emosional. Dengan tema utama kerinduannya pada Islandia, Björk berusaha menggambarkan lanskap ethereal negara asalnya tersebut lewat komposisi strings yang megah dari String Octet asal Islandia dengan glitch elektronik glasial seperti yang terekam sempurna dalam lagu “Jóga” dan “Unravel”. Album yang menjadi kolaborasi pertamanya dengan produser Mark Bell ini juga menghadirkan video-video Björk paling ikonik seperti “Bachelorette” oleh Michel Gondry, “All Is Full of Love” oleh Chris Cunningham, dan “Hunter” oleh Paul White.

VespertineVespertine (2001)
Björk menulis album kelima ini ketika ia menjadi pemeran utama di film Lars Von Trier berjudul Dancer in The Dark yang mendapat P’alme d’Or di Cannes. Proses syuting yang melelahkan dan penuh konflik membuat album ini terasa lebih gelap dan meditatif dari album sebelumnya. Di sisi lain, Björk yang baru menjalin hubungan dengan Matthew Barney menuangkan keintiman tersebut dengan begitu lugas seperti yang terdengar di lagu “Hidden Place” dan “Cocoon” yang berisi narasi erotis berbalut manipulasi micro beats dari duo Matmos, koir wanita Inuit, dan chamber orchestra. Sensual dan dingin di saat yang sama, video “Pagan Poetry” yang disutradarai Nick Knight disebut sebagai salah satu musik video paling kontroversial. Vesper sendiri berarti evening prayers, dan album ini bisa dibilang sama personalnya dengan melihat Björk di balik kamar tidurnya.

MedullaMedúlla (2004)
Dengan tema a cappella, di album yang judulnya diambil dari bahasa Latin untuk “sumsum” ini, Björk bereksplorasi dengan potensi vokal manusia. Hampir keseluruhan komposisi album ini dibangun dari bunyi vokal, baik vokalnya sendiri, maupun manipulasi vokal dari penyanyi throat, beatboxer, avant-rocker, dan choir. Contoh paling gemilang adalah “Oceania” yang dibawakan di pembukaan Olimpiade Yunani 2004, di mana Björk menyanyikan lirik tentang evolusi manusia di antara racikan beatboxing dari Shlomo dan paduan suara London dan menjadi highlight album ini di samping “Who is It” dan “Triumph of a Heart”. Sekilas, album yang banyak berisi lagu Icelandic ini terasa lebih senyap dan berbisik dibanding album sebelumnya, namun di saat yang sama juga menjadi album yang diakuinya paling politis menyusul reaksi atas rasisme dan patriotisme pasca 9/11.

VoltaVolta (2007)
Pulang dari mengunjungi korban Tsunami di Aceh, Björk menulis lagu industrial “Earth Intruders” yang menjadi lagu pembuka di album ketujuh ini yang didominasi oleh energi yang meluap dari brass section dan bunyi African beats. Selain Mark Bell, Björk juga mengajak produser hip hop Timbaland dan Danja sebagai kolaborator utama album ini, yang membuatnya dianggap sebagai album paling pop dan mainstream dari Björk, which is not very true. Walaupun tidak seeksperimental tiga album sebelumnya, Volta adalah taman bermain bagi Björk sebagai musisi untuk mengeksplor world music, mulai dari musik tribal Afrika dan elemen hip hop di “Innocence”, brass section oleh 14 musisi wanita Islandia, pemain kora dari Mali, ensemble dari Kongo, dan pemain pipa Cina, serta berduet dengan Antony Hegarty di lagu “The Dull Flame of Desire” dan “My Juvenile”. Primal dan cenderung liar, album ini juga berisi “Declare Independence” yang merupakan anthem anti tirani yang memancing kontroversi di banyak negara.

BiophiliaBiophilia (2011)
Terinspirasi hubungan antara lingkungan, musik, dan teknologi, Björk menghadirkan Biophilia yang merupakan proyek multimedia yang meliputi album musik, apps teknologi, dan educational workshop tentang alam semesta. Tema itu terwujud dalam “Crystalline” yang menjadi single pertama adalah lagu elektronik yang menghadirkan instrumen one of a kind bernama “gameleste” yang merupakan gabungan dari gamelan dan celesta yang dimainkan secara digital, serta struktur musikal yang dipengaruhi fenomena alam, seperti rotasi bumi di “Solstice”, musical cycle di lagu “Moon”, dan arpeggios di “Thunderbolt”. Disebut sebagai “app album” pertama di dunia, setiap lagu di dalamnya memiliki iPad interactive apps masing-masing yang juga menjadi downloadable apps pertama di Museum of Modern Art, New York.

VulnicuraVulnicura (2015)
Pasca kematian long time collaborator Mark Bell dan perpisahannya dengan long time partner Matthew Barney, Björk meninggalkan tema-tema besar tentang dunia dan alam semesta dan beralih sejenak ke hal-hal yang lebih substantif dan personal secara emosional. Menggandeng produser Arca yang berada di balik kesuksesan FKA twigs sebagai kolaborator utama, album berisi 9 lagu ini lebih dari sekadar breakup album, tapi juga salah satu album Björk yang paling genuinely honest, heartbreaking, and hopeful at the same time. Selain perilisan buku Björk: Archives dan ekshibisi retrospektif di MoMA yang akan meng-cover perjalanan musik Björk dari Debut sampai saat ini, ia juga bersiap melakukan Vulnicura Tour di Amerika, Eropa, and hopefully, Asia.

Advertisements

2 thoughts on “The Curious Case of Björk

  1. Ya ampun, nih yg nulis se jenius bjork… Pround of U, andai ada teman berbagi hal musik sejenius kamu, liar biasa, saya sampai gak habis fikir kamu bisa merangkai kata sama seperti bjork menciptakan musiknya, pasti kamu org yg sangat keren,

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s