The F Word: A Dialogue About Feminism and Riot Grrrl

Apa yang kami bicarakan ketika kami berbicara tentang feminisme, riot grrrl, dan basically, bagaimana rasanya menjadi perempuan muda di tengah masyarakat patriarkal.

Ketika mendengar kata-kata seperti “feminis” dan “feminisme”, yang biasanya langsung terbayang bagi mayoritas orang mungkin sosok para wanita pemarah yang membakar bra mereka, anti makeup, dan meneriakkan kebencian mereka terhadap kaum pria serta tatanan sosial konservatif pada umumnya. Stereotipe tersebut baru sebagian kecil dari miskonsepsi yang membayangi gerakan sosial tersebut sejak awal muncul sampai saat ini dan membuat dua kata tersebut seakan menjadi momok bagi banyak orang yang salah kaprah.

Luckily, walaupun berita televisi lokal kita masih dipenuhi oleh politik absurd yang ditujukan bagi kaum wanita (virginity test, anyone?), di sisi yang lebih terang makin banyak orang-orang yang concern terhadap feminisme dan kesetaraan gender. Situs lokal seperti Magdalene dan Bracode misalnya, menawarkan perspektif segar yang tak terbelenggu nilai gender dan budaya tipikal. Sementara munculnya ikon-ikon feminis kontemporer seperti style blogger Tavi Gevinson yang rajin mengulas feminisme di situs miliknya Rookiemag, Lena Dunham lewat serial Girls, hingga Beyoncé yang menyelipkan orasi  “We should all be feminists” dari Chimamanda Ngozi Adichie dalam lagunya “Flawless” turut mengakrabkan isu tersebut ke audiens yang lebih luas. So many young girls are now educating themselves about the issue and proudly says, “I’m a feminist!”

Dalam edisi Beauty NYLON bulan April lalu, secara khusus saya ingin mengangkat soal feminisme lewat obrolan bersama Dyana Savina Hutadjulu dan Lissete Miller, dua wanita muda yang merupakan pelaku aktif dari gerakan feminisme. Nama Dyana Savina yang juga dikenal sebagai Clanirella/Vina sendiri bukan nama yang asing di indie scene Jakarta. Gadis berkacamata tersebut telah malang-melintang sebagai frontwoman dari berbagai band keren seperti Amazing in Bed, Fever To Tell, dan yang terbaru adalah all-girl band bernama WITCHES. Selain saat ini bekerja di sebuah program pembangunan yang bertujuan untuk mengurangi kemiskinan dengan cara memperkuat organisasi perempuan dan organisasi yang berkepentingan terhadap isu gender, Vina bersama temannya, Mira Sumanti, adalah dua orang di balik Bracode (http://bracodemag.com/).

Sementara Lissette yang juga dikenal sebagai DJ Afroluna adalah seorang feminis berdarah Afro-Nicaragüense yang tinggal di Washington, D.C. Di samping full time job sebagai cultural worker yang membuatnya sering berpergian ke berbagai negara, gadis berusia 25 tahun yang aktif dalam isu sosial untuk LGBT, women’s rights, immigrant rights, dan racial justice (terutama gerakan #BlackLivesMatters) tersebut juga berpartisipasi di Madre Tierra Collective, sebuah kolektif radical woman of color di Miami yang memilih medium seni dan workshop kreatif untuk menyerukan gender dan social equality. Kedatangannya ke Jakarta kali ini memang untuk urusan pekerjaan, namun di sela waktunya ia tak lupa menelusuri jejak feminisme lokal yang memperkenalkannya kepada Vina. Keduanya pun sepakat untuk duduk di sebuah coffee shop demi menjawab pertanyaan dan sharing soal feminisme di negara masing-masing yang terangkum dalam obrolan berikut.

riot3

About Feminism

So, Vina dan Lissete, boleh cerita awal mula kalian berkenalan dan tertarik pada feminisme?

Dyana Savina: Waktu kecil, ibu saya pernah bilang kalau saya waktu SD malu banget ketika harus memakai miniset. Saya memilih memakai kaus dalam untuk menutupi fakta bahwa payudara sudah mulai tumbuh. Saya ingat dulu di kelas, teman-teman perempuan saya sering diolok-olok karena sudah tumbuh payudara. Sebuah proses bullying yang cukup traumatis, meski saya dulu hanya sebagai bystander. Tetapi, karena peristiwa yang dialami teman saya begitu membekas, maka saya bersikeras melindungi tubuh saya dari ejekan cowok-cowok nakal di kelas saya. Alhasil, memakai kaus gombrong di dalam seragam. Waktu SD tentu belum mengenal paham feminisme. Lanjut SMP, olokan tersebut menjadi sapaan menggelikan yang dianggap pujian, oleh mereka yang menyapa – umumnya pria. Lagi-lagi tubuh perempuan dijadikan objek, dulu sebagai bahan cela sekarang berkembang menjadi ke pujian yang tercela. Sampai akhirnya ketika masuk kuliah jurusan Kriminologi UI, saya mulai berkenalan dan tertarik dengan feminisme. Belajar teori dan pendekatan feminisme membuat saya memahami bahwa olokan dan pujian tentang tubuh perempuan yang saya saksikan dulu merupakan sebuah perilaku yang dinormalisasi sebagai hal yang biasa, hal yang “macho”, atau hal yang bahkan dianggap wajar. Dulu, saya menganggap perilaku ini tidak mengenakkan, mulai dari bangku kuliah perilaku tersebut saya anggap penyerangan bahkan kekerasan.

Lissette Miller: Sebagai anak perempuan di keluarga imigran Nikaragua yang punya privilege untuk pulang ke Nikaragua setahun sekali, saya banyak belajar tentang struggle, tekanan, sekaligus kekuatan yang dimiliki kaum perempuan di sana. Wanita Nikaragua sangat deacachimba atau “badass”. Wanitalah yang berdagang di pasar, menjadi healers, dan mempertahankan adat-istiadat dari generasi sebelumnya. Saya belajar tentang kekuatan seorang wanita dari ibu dan nenek saya, dan feminisme menjadi senjata untuk memperkuat diri saya sekaligus menjadi kacamata bagi saya untuk melihat social justice.

Jadi apa definisi “Feminis” dan “Feminisme” bagi kalian sendiri?

DS: Feminisme buat saya adalah keadilan. Feminis adalah manusia yang percaya akan keadilan. Siapapun bisa menjadi seorang feminis: Perempuan, laki-laki, gay, lesbian, transgender, tua, muda, kakek, nenek, om, tante, dll.

LM: Feminisme yang saya usung adalah “intersectional feminism”, sebuah istilah yang digagas oleh Dr. Kimberlé Crenshaw, yang melihat bagaimana semua sistem sosial (ras, gender, kelas, ability, dan etnik) saling bersinggungan dan tidak semua feminis adalah adalah cis-gendered kulit putih dari kelas menengah dengan fisik sempurna. Sebagai seorang Afro-Latina queer femme dari keluarga imigran menengah ke bawah, saya tidak bisa hanya peduli tentang bagaimana gender saya sebagai seorang wanita memengaruhi hidup saya tanpa memedulikan privilege saya sebagai cis-gendered US citizen, light-skinned Black grrrl dengan fisik yang sehat. Hal itu tidak cuma salah, tapi juga bertentangan dengan nilai yang saya anut sebagai feminis. Sebagai seorang intersectional feminist, saya berusaha memakai privilege yang saya punya untuk mengejar kesetaraan sambil tetap memperjuangkan hak saya sebagai queer Afro-Latina.

Sejauh ini apa project feminisme paling berkesan yang pernah kalian lakukan?

DS: Blog saya, Bracode. Cerita di balik lahirnya Bracode dimulai dari ketertarikan saya dan Mira soal feminisme, budaya, dan seni. Kita pengen banget bikin sebuah ruang ekspresi, dalam hal ini berbentuk blog, di mana blog ini bisa menjadi platform untuk membahas isu-isu perempuan yang berkaitan dengan segala aspek kehidupan dari soal sepatu hingga seksualitas sampai ke hal musik dan menstruasi. Banyak sekali konteks dan tema kehidupan manusia yang sering dianggap tabu jika dikaitkan dengan perempuan, di Bracode kita berupaya membuka ruang tabu tersebut dengan diskusi dan pendapat kritis yang dikemas dengan menarik. Kami bermimpi besar untuk membawa Bracode menjadi sebuah gerakan kritis yang mempertanyakan perilaku patriarki yang mendiskriminasi perempuan, dengan format yang fun dan mudah dicerna untuk semua orang.

LM: Bersama Madre Tierra, kami membuat direct action trainings, di mana warga bisa belajar dari anggota Earth First! tentang bagaimana cara melakukan protes sipil tanpa kekerasan, menggelar poetry party dan musical performances demi menggalang dana untuk Coalition of Immokalee Workers, dan acara komunitas bersama organisasi Haitian and Afro-American di mana kami merayakan budaya kami melalui musik, tarian, dan seni.

Bagaimana kalian melihat situasi women’s rights di lingkungan kalian masing-masing?

DS: Di lingkungan saya sehari-hari, perempuan masih belum sepenuhnya diberikan ruang adil. Contoh kecil, masih banyak peraturan daerah diskriminatif di banyak daerah di Indonesia yang menyerang tubuh perempuan dan membatasi ruang gerak perempuan. Tantangan feminisme terbesar saat ini adalah ketika mendukung feminisme dianggap membangkang dari konformitas. Dan konformitas itu lebih mengedepankan budaya patriarki. Pelecehan seksual masih terjadi sehari-hari dan tidak seharusnya dianggap “normal”, hal itu bisa datang dari mana saja, bahkan dari orang-orang terdekat di lingkungan kamu. Yang paling berbahaya adalah ketika si pelaku tidak merasa salah, karena dianggap “biasa”. Biasanya, jika saya digoda orang asing di area publik, saya hanya akan memelototi mereka sambil menjauh.

My motto is safety first, with strangers you must be very careful. Tapi dengan orang di lingkungan saya, saya terbiasa untuk menyampaikan keberatan saya dan memberitahu orang itu jika apa yang ia lakukan atau celetukan sexist yang ia lontarkan membuat saya tidak nyaman. Start small, from your closest family to circle of friends. Then hopefully it will pay forward.

LM: Di Amerika, kami sedang berjuang untuk wanita dan siapapun yang terjebak di pusat detensi imigran dan penjara. Kesejahteraan bagi kaum wanita, queer, dan transgender non-kulit putih di pusat imigran dan penjara sangat mengkhawatirkan. Reproductive justice, sebuah gerakan yang dimulai oleh seorang wanita kulit hitam berjuang demi hak untuk memutuskan punya anak atau tidak dan hak untuk merawat anak di lingkungan yang aman dan sehat sangat diperlukan, terutama bagi wanita hamil yang dipenjara dan tak mendapat perawatan yang layak, bahkan ada laporan wanita yang melahirkan di penjara masih dalam keadaan diborgol. Begitu juga klinik aborsi yang gencar ditutup dan para pekerja rumah tangga yang mayoritas adalah wanita imigran juga sering diabaikan haknya. Setiap hari ada tiga wanita yang terbunuh dalam kejahatan yang melibatkan pasangan di Amerika. Misogini dan patriarki masih bertahan kuat bahkan di lingkungan “kekirian” dan progresif. Masih banyak kaum pemerkosa dan misoginis yang masih berlindung di kelompok yang mengklaim berjuang untuk kebebasan, kita yang harus bertanya, kebebasan siapa yang sedang mereka perjuangkan?

About Riot Grrrl

Bagaimana dengan gerakan Riot Grrrl? How do you found it?

DS: Saya pertama kali mengenal gerakan Riot Grrrl di masa kuliah, ketika saya mencari referensi band-band yang digawangi wanita. Saya menemukan band-band seperti Bikini Kill, Bratmobile, Le Tigre, dan saya langsung jatuh cinta dengan Riot Grrrl. I adore their character and sense of empowerment, on stage and at society. Selain Simone De Beauvoir, Kathleen Hanna dan gerakan Riot Grrrl 90-an lah yang memberi sumbangsih penguatan paham feminis saya. Selain memberikan puisi yang kuat soal marjinalisasi dan pengalaman diskriminasi lewat lirik-liriknya, musik yang diciptakan memiliki pesan advokasi yang influential.

LM: Saya tidak ingat kapan pertama kali saya mendengarkan Bikini Kill, mungkin saat SMA, tapi energi, fierceness, dan pesan anti-patriarki yang mereka usung menarik hati saya sejak itu. Saya sudah mendengarkan musik punk dari kecil, tapi setiap saya mendengar vokal wanita berteriak di balik mic, saya sangat excited. I also love the zine and DIY culture of Riot Grrrl, terutama gagasan jika kita tidak harus menjadi bagian dari budaya kapitalis dan mainstream untuk melakukan hal-hal yang kita suka. Kita bisa mempromosikan karya dan prinsip kita sendiri untuk membagi pengetahuan. We can tell our own stories because we tell them best. Saya melihat Riot Grrrl sebagai sisi musikal dan artistik dari feminisme, sebuah gerakan di mana kita bisa menyuarakan rasa frustrasi terhadap patriarki, kapitalisme, heteronormativity dan apapun yang merampas self-determination orang-orang.

N: Tell me some of your favorite women in music.

DS: Saya mengagumi Kathleen Hanna dari Bikini Kill karena ia konsisten mengawinkan seni, budaya, dan feminisme lewat musiknya. Beth Ditto dari The Gossip for staying true to herself, and for being a great poet in her music. Kim Gordon dari Sonic Youth for being the ultimate Alpha-Female. Dan Kartika Jahja dari Tika and The Dissidents, karena ia menjadi salah satu dari sedikit wanita di skena musik Indonesia yang mengadvokasi hak-hak wanita lewat musik. It can be tough for a girl who conforms to its patriarchal cult, but it can be interesting and fun for a girl who stay true to herself.

LM: Kebanyakan musisi yang saya dengarkan adalah wanita. Ana Tijoux, Erykah Badu, M.I.A., Björk, Santigold, Valerie June, low leaf, Ibeyi, dan masih banyak lagi. Saya mencintai musisi wanita karena saya bisa relate terhadap kisah mereka and because their music speaks to my life. Saya bisa membayangkan sulitnya berjuang di dunia musik bagi wanita, namun perjuangan itu juga yang mungkin membuat musik mereka jauh lebih powerful lagi. Saya selalu marah jika mengingat dibutuhkan pengakuan dari kaum pria dan kapitalis untuk menjadi musisi yang sukses dan hidup dari karya mereka sendiri. I am so grateful to the women and grrrls who do their thing and whose music keeps me going.

About Beauty

Bagaimana persepsi kalian tentang beauty standards saat ini?

DS: Beauty standards are constructed by fundamentalists, product developers and mass media.

LM: Saya rasa setiap wanita harus punya pendirian yang kuat dan personal value untuk menghargai diri mereka sendiri. Itu adalah perlindungan kita dari berbagai iklan yang mendoktrin bagaimana seharusnya wanita terlihat dan bagaimana kita harus bersikap, dan apa yang harus kita beli untuk meraihnya.

Siapa beauty icon kalian dan kenapa?

DS: Ultimate beauty icon saya Alexa Chung karena dia effortlessly cool, dan all time fave adalah Audrey Hepburn karena dia super classy.

LM: Frida Kahlo. Terutama bagaimana kecintaannya pada beauty, warna, hidup, dan alegria atau kebahagiaan berasal dari rasa sedih dan penderitaan yang ia alami. Tapi itu juga yang membuatnya menjadi wanita yang kuat. Dia bertahan dari norma gender yang eurocentric tentang bagaimana seorang wanita harus berdandan dan bersikap dengan cara menonjolkan kecantikan alaminya, her facial hair, and her ferocity.

 Apakah kalian punya beauty routine khusus?

DS: Good facial wash, clean teeth, eyeliner and red lippy.

LM: Tidak ada yang membuatmu lebih bersinar dibanding asupan air yang cukup, deep breaths, tertawa, dan berada di lingkungan orang-orang yang bersikap positif padamu. A holistic healthy lifestyle will do wonders to your face.

Terakhir, ada pesan untuk siapa saja yang membaca artikel ini?

DS: Stand true to yourself and always wear a good BRA at all times – BRain and Attitude!

LM: You are so beautiful. I wish I had half the strength and energy that you do. You inspire me daily to keep moving forward, and to work with you to build a better Earth. Thank you.

riot2

Foto oleh: Willie William.

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s