The Reader: Keinesasih Hapsari Puteri

 

Telah mulai membaca komik sejak umur 4 tahun, komik memang selalu menjadi bagian penting dalam hidup Keinesasih Hapsari Puteri, seorang penulis komik yang berbasis di Jakarta. Ines, demikian ia bisa dipanggil, punya reputasi cukup tinggi di media sosial dan komunitas fandom karena passion dan aktivitasnya pada hal-hal yang dianggap “geeky” seperti video game, kultur Jepang, dan tentu saja, komik. Namanya semakin mencuat ketika bersama teman-teman sevisinya di awal 2014 lalu meluncurkan proyek Nusantaranger, sebuah serial webcomic tentang pasukan pembela kebenaran a la Power Rangers dengan muatan lokal yang kental. Dalam proyek yang diprakarsai oleh Shani Budi Pandita dan Tamalia Arundhina tersebut, Ines yang merupakan penggemar berat komikus Hiromu Arakawa (Fullmetal Alchemist) dan Brian K. Vaughan (Saga, Ex Machina, the Private Eye) berperan sebagai penulis cerita, sesuatu yang telah menjadi impian perempuan kelahiran 1988 tersebut sejak lama. Walau belum punya pengalaman menulis komik sama sekali, just like a duck to water, tulisannya diapresiasi positif oleh para pencinta komik dan hype yang diraih Nusantaranger turut menggairahkan kembali geliat komunitas komik lokal yang sempat lesu. Kini, di samping menyiapkan follow-up project bersama tim Nusantaranger, Ines disibukkan dengan menjadi pembicara di berbagai event komik, menulis cerita untuk sebuah studio game independen lokal dan sebuah project terbaru dengan judul God Complex. Kali ini, Ines pun menyempatkan diri menjawab beberapa pertanyaan sekaligus merekomendasikan beberapa judul graphic novel favoritnya dan menegaskan kembali jika siapapun boleh menikmati komik dengan bebas.

Hi Ines, sejak kapan mulai tertarik dengan komik? Masih ingat nggak komik apa saja yang paling berkesan bagimu saat kecil dulu?

Mungkin sama seperti banyak orang seumuran saya, komik-komik pertama saya adalah manga (komik Jepang) seperti Doraemon, Tekken Chinmi (Kung-Fu Boy), dan Sailor Moon. Saya juga suka komik Eropa seperti Asterix dan Spirou, tapi baru berkenalan dengan komik Amerika setelah mulai remaja karena peredarannya relatif jarang di Indonesia. Dulu, komik yang saya baca adalah apa pun yang dibawa pulang oleh kakak. Baru setelah masuk SD saya memilih komik yang saya baca sendiri. I used to burn all my allowance on comic rental shop, hahaha. Judul yang berkesan ada banyak sekali, tapi salah satu momen yang paling berkesan berhubungan dengan SHOOT! karya Tsukasa Ooshima. Satu adegan sedih di sana berhasil membuat saya yang waktu itu masih kelas 3 SD menangis tersedu-sedu di kasur dan menolak makan sampai orang tua saya bingung.

Komikus idolamu siapa saja, Nes?

Saya sangat mengidolakan Hiromu Arakawa, komikus sekaligus penulis Fullmetal Alchemist dan Gin no Saji (Silver Spoon). Ia memiliki fleksibilitas dan jangkauan tema yang mengagumkan—mulai dari genre aksi yang mengandung muatan filosofis sampai genre slice of life yang sarat bumbu komedi, semua bisa dieksekusi dengan baik dan selalu laku keras, yang berarti komiknya bisa diterima oleh kalangan luas. Saya juga mengidolakan Brian K. Vaughan (Saga, Ex Machina, the Private Eye). Komik-komik yang ia tulis selalu memiliki world building yang sangat imajinatif dan rapi, karakter yang mudah disukai, serta cerita yang menghibur dan kritis di saat yang sama. Selain itu dia juga sangat produktif!

Dari sekian banyak komik, apa judul yang membuatmu berpikir jika komik bukan sekadar bacaan anak-anak?

I’ve always known that the appeal of comic book is universal. Tapi kalau ada sebuah judul yang membuat saya berpikir, “Damn, komik ternyata bisa gini juga,” yang pertama adalah Monster karya Naoki Urasawa. Saya terbiasa membaca manga yang rata-rata sangat cartoonish dan hiperbolis, dan Monster sama sekali tidak seperti itu―it’s serious, mature, grim, and psychologically brutal.

Boleh cerita soal God Complex?

God Complex adalah sebuah IP (intellectual property) yang diciptakan oleh Bryan Lie dari GLITCH Network. Awalnya, karakter-karakter God Complex dirilis sebagai figurine saja, dan universe-nya ditulis oleh Bryan sebagai latar belakang mereka. Tapi, karena permintaan dari berbagai pihak, akhirnya GLITCH Network memutuskan untuk membuat komiknya. Kebetulan mereka membaca Nusantaranger, menyukainya, dan meminta saya untuk menulis ceritanya God Complex. Berbeda dari Nusantaranger dengan cerita kepahlawanannya yang sangat lugas dan cenderung aman untuk semua umur, God Complex akan lebih dewasa, kelam, dan sedikit bermain-main dengan filosofi. Komiknya juga ditulis dalam bahasa Inggris. Ceritanya bertempat di dunia di mana dewa-dewa yang selama ini hanya kita kenal dari mitologi betul-betul ada, namun mereka tidak lagi relevan dalam kehidupan manusia. I’m very excited and, honestly, a bit scared to see how people will react to this title. But mostly excited!

Secara singkat, bagaimana kamu melihat industri komik lokal saat ini?

Saya termasuk pendatang baru di dunia komik, jadi tidak bisa berbicara banyak. Tapi, yang saya lihat, industri komik ini antara ada dan tiada. Bisa dibilang ada karena banyak komikusnya dan rilisannya bisa ditemukan di toko-toko buku (walau tenggelam di lautan komik-komik terjemahan), tapi bisa juga dibilang tidak ada karena kondisi dan infrastrukturnya belum memadai. Jumlah penerbit komik bisa dihitung dengan jari. Jumlah editor yang mengerti bagaimana cara menyunting komik bahkan lebih sedikit lagi. Standar industri pun boleh dibilang tidak ada. Misalnya, berapa honor minimal untuk komikus amatir? Bagaimana dengan yang profesional? Ini juga diperparah dengan banyaknya komikus yang hanya mengerti bagaimana cara ngomik saja, tapi tidak paham atau bahkan malas mempelajari bisnis dan cara memasarkan karya. Setahu saya ini sudah berlangsung bertahun-tahun, dan sangat patut disayangkan mengingat dunia komik Indonesia tak kekurangan talenta hebat. Beberapa judul yang bisa dicek antara lain Pusaka Dewa karya Sweta Kartika yang juga ilustrator Nusantaranger dan Arigato Macaroni karya Erfan Fajar yang juga akan segera merilis Manungsa yang diprediksi akan menjadi hit di tahun ini. Keduanya bisa dibaca secara gratis di internet, just give them a google.

Sebagai perempuan, suka risih nggak kalau dicap sebagai comic geek? I mean, seperti ada dua kutub yang berbeda ketika bicara soal itu. Di satu sisi, banyak pria yang menganggap perempuan yang suka baca komik Marvel contohnya, itu keren, sampai jatuhnya seperti fetish atau sexualization tersendiri, tapi ada juga yang melihatnya negatif dengan melontarkan sexist remarks atau menuduh poser karena sekadar ikut-ikutan tren. What do you think?

Maaaaan, we fetishize everything and anything. Bagaimana lagi bisa ada akun Instagram yang berisi foto-foto laki-laki tampan sedang membaca buku—harus buku, tidak boleh tablet—di subway yang diambil diam-diam? Tidak penting apakah kamu betul-betul suka membaca atau buku apa yang kamu baca. Pokoknya kalau kamu ganteng dan kamu terlihat sedang membaca, kamu seksi. Begitu juga dengan komik. Cewek pembaca komik terlihat menarik karena mereka tidak sesuai dengan stereotipe pembaca komik pada umumnya. Apalagi kalau cantik, semakin terlihat eksotislah dia. Tapi saya rasa, karena komunitas pembaca komik adalah lingkungan yang sedikit “eksklusif” sebelum kesuksesan film-film superhero, beberapa anggotanya bereaksi tidak ramah terhadap orang yang terlihat berbeda dari “kalangan dalam” mereka. Misalnya, cewek yang baca komik kemudian dibilang ikut-ikutan atau poserwhich is weird because, shouldn’t they be happy if the stuff they love received wider recognition? Kalau mau dibahas terus, bisa panjang sekali jawabannya. Tapi yang jelas bagi saya kedua kutub ini sama tidak pentingnya. Membaca komik tidak membuatmu otomatis keren karena, let’s be honest, banyak juga komik yang jelek. Tertarik pada komik setelah menonton filmnya juga tidak membuatmu jadi poser, karena komik seharusnya bisa dibaca oleh siapa saja.

What’s the next project/plan?

Tahun ini masih konsentrasi ke God Complex dan follow-up project dari tim Nusantaranger. I’m still new in this so I’m taking my time to adjust with the pace of the industry, which can fluctuate a lot between the busy and slow days. Tapi mudah-mudahan tahun depan saya bisa mulai mengerjakan judul saya sendiri. Selama ini, komik-komik yang saya tulis seperti God Complex dan Nusantaranger selalu berasal dari gagasan orang lain, and I want to release something that’s meaningful to me and truly comes from within. Until then, I’m building my skills and confidence so I can come up with a story that I can really be proud of. Wish me luck!

INES’ GRAPHIC NOVEL RECOMMENDATIONS:

 ms_marvel_cover_a_p

Ms. Marvel

Story: G. Willow Wilson

Art: Adrian Alphona, Jacob Wyatt (#6-7), Elmo Bondoc (#12), Takeshi Miyazawa (#13-15)

Ketika pertama kali membaca Ms. Marvel, saya berpikir, “Finally, sebuah komik yang patut dibaca oleh cewek di mana pun tanpa terkecuali.” Kamala Khan a.k.a. the newest Ms. Marvel adalah protagonis perempuan yang paling relatable bagi saya sepanjang sejarah membaca komik. Sebagai remaja Muslim-Amerika keturunan Pakistan, Kamala tidak hanya bergulat dengan identitas gandanya sebagai superhero merangkap pelajar SMA, namun juga dengan keluarganya yang kolot dan kepercayaannya. Ms. Marvel bukanlah sekadar cerita superhero, namun juga cerita tentang remaja dan perjuangan mereka untuk “fit-in” dengan lingkungannya, sekaligus untuk menemukan jati diri mereka sendiri. Seandainya komik ini sudah ada saat saya SMA, mungkin saya akan merasa menemukan sosok sahabat dalam diri Kamala.

Monster

Monster

Story & art: Naoki Urasawa

Banyak orang menyebut Monster sebagai salah satu psychological thriller terbaik, dan mereka tidak melebih-lebihkan. Komik ini menceritakan perjalanan Dokter Kenzo Tenma yang dihantui rasa bersalah karena sembilan tahun lalu ia menyelamatkan nyawa seorang anak yang ternyata tumbuh menjadi psikopat paling berbahaya di Eropa. Johan Liebert, karakter antagonis dalam komik ini, mungkin adalah salah satu karakter antagonis paling berkarisma sekaligus membangkitkan bulu kuduk yang pernah ditulis. Jika Monster adalah kisah nyata, ibu-ibu di Jerman pasti akan menakut-nakuti anak mereka yang nakal dengan, “Awas nanti didatangi Johan Liebert.”

saga

Saga

Story: Brian K. Vaughan

Art: Fiona Staples

Bayangkan Romeo & Juliet bertemu Star Wars. A very trippy, psychedelic Star Wars. Cerita utama Saga memang sangat sederhana—dua orang dari ras yang saling bermusuhan saling jatuh cinta dan menjadi buronan di seluruh galaksi karena anak mereka dianggap sebagai simbol persekutuan yang tabu—namun Brian K Vaughan dan Fiona Staples berhasil mengemasnya menjadi bacaan yang sangat menghibur berkat desain karakter yang super keren, dialog cerdas, serta dunia yang tak kurang dari ajaib. Kalau kamu jeli, kamu juga bisa menjumpai sentilan-sentilan berbau kritik sosial yang menggelitik di sana-sini, yang merupakan ciri khas setiap komik karya BKV.

Bakuman

Bakuman

Story: Tsugumi Ohba

Art: Takeshi Obata

Bagi yang menyukai komik, khususnya manga, Bakuman adalah bacaan yang tidak boleh dilewatkan. Komik ini membeberkan cara kerja dan infrastruktur industri komik Jepang dan seberapa keras persaingan yang harus dihadapi para mangaka (komikus) sekadar untuk mempertahankan karier mereka dengan cara yang ringan dan mudah dimengerti. Penggemar karya duet Ohba-Obata sebelumnya, Death Note, juga mungkin akan terhibur karena mereka banyak menyelipkan curhat colongan tentang Death Note ke dalam Bakuman. Pokoknya, setelah membaca Bakuman, saya jadi jauh lebih menghargai manga dan para mangaka, serta makin iri pada industri mereka.

CIVWAR_CVRS.indd

Civil War

Story: Mark Millar

Art: Steve McNiven

Sebuah reality show yang dibintangi beberapa superhero kurang berpengalaman mengalami kecelakaan yang menewaskan ratusan korban sipil. Masyarakat Amerika pun mulai resah dan menuntut para superhero untuk mendaftarkan diri di bawah pengawasan pemerintah. Tuntutan ini melahirkan Superhuman Registration Act yang memecah para superhero menjadi dua kubu, yaitu pro-registrasi yang dipimpin oleh Iron Man dan anti-registrasi yang dipimpin oleh Captain America. Mengingat film Captain America: Civil War akan dirilis bulan Mei tahun depan, kamu mungkin ingin segera membaca seri ini, terutama jika kamu ingin punya geek cred di hadapan teman-teman setelah menonton filmnya. Selain itu, Civil War juga bisa jadi entry point bagi kamu yang baru ingin membaca komik-komik Marvel, karena ada banyak hero yang terlibat dalam cerita ini.

fullmetal

Fullmetal Alchemist

Story & art: Hiromu Arakawa

Sebuah kegagalan ritual alkimia mengakibatkan Edward Elric kehilangan tangan kanan dan kaki kirinya, sementara adiknya, Alphonse, kehilangan seluruh tubuhnya dan hanya hidup sebagai roh yang melekat pada sebuah baju zirah raksasa. Fullmetal Alchemist menceritakan perjalanan kakak-beradik ini untuk mengembalikan tubuh mereka seperti sedia kala. Serial ini adalah bukti bahwa komik remaja tidak harus selalu dangkal atau simplistis. Mulai dari filosofi “equivalent exchange” yang dapat diaplikasikan pada alkimia sekaligus dalam kehidupan, world building yang kompleks, drama yang menyentuh, hingga karakter yang membuat pembaca jatuh hati, semua dapat diramu dengan baik, dengan penyampaian yang ringan dan penuh bumbu komedi. Ending-nya pun terbilang sempurna—sesuatu yang jarang dimiliki serial manga lain. Untuk alasan-alasan ini, saya berani bilang bahwa FMA adalah salah satu manga terbaik yang pernah ada.

Ghosted

Ghosted

Story: Joshua Williamson

Art: Goran Sudzuka

Kalau kamu penggemar genre heist dan horor sekaligus, bergembiralah. Dalam Ghosted, kamu akan diperkenalkan dengan Jackson T. Winters, seorang pencuri handal sekaliber Danny Ocean, yang dihantui trauma setelah seluruh krunya tewas secara aneh dan brutal saat hendak membobol sebuah kasino. Winters mengira kariernya sebagai pencuri sudah tamat saat tiba-tiba seorang miliuner eksentrik membebaskannya dari penjara dan memintanya mencuri hantu dari sebuah mansion angker. Jika sinopsis ini terdengar edan, maka kamu sudah mendapat gambaran yang tepat tentang Ghosted. Selain ceritanya, hal terbaik dari serial ini adalah Jackson Winters sendiri. You will hate to love him, and you will love to hate him. Atau, jika kamu—seperti saya—memiliki soft spot untuk karakter antihero dengan masa lalu kelam, kamu akan jatuh cinta habis-habisan pada Winters.

The Wicked

The Wicked + The Divine

Story: Kieron Gillen

Art: Jamie McKelvie

Bagi beberapa fanboy dan fangirl di luar sana, status idola mereka mungkin sudah mendekati nabi atau dewa-dewi. Tapi bagaimana jika para rockstar ini memang dewa-dewi dalam arti sesungguhnya? Dalam dunia The Wicked + The Divine, setiap sembilan puluh tahun sekali, dua belas makhluk ilahi mewujud dalam diri manusia-manusia muda. Mereka akan menjadi pujaan dan sumber inspirasi manusia selama dua tahun untuk kemudian menghilang, dan kembali lagi sembilan puluh tahun mendatang. The Wicked + The Divine adalah renungan yang menarik tentang pop culture, industri budaya, dan spiritualisme. Namun, yang lebih penting, serial ini adalah bacaan yang sangat menghibur.

All You Need Is Kill

All You Need is Kill

Story: Sakurazuka Hiroshi

Art: Takeshi Obata

Keiji Kiriya adalah seorang prajurit biasa yang direkrut untuk berperang melawan alien Mimics yang menyerang umat manusia. Namun, setiap kali Keiji tewas di medan perang, ia akan terbangun di pagi hari yang sama, menjalani rutinitas yang sama, berperang, tewas, begitu terus berulang-ulang. Satu-satunya petunjuk bagi Keiji untuk keluar dari loop tersebut adalah Rita Vrataski, prajurit terbaik umat manusia yang dijuluki Full Metal Bitch. Jika plot All You Need is Kill terdengar familiar, itu karena manga ini merupakan adaptasi dari novel berjudul sama karya Hiroshi Sakurazaka, yang juga sudah diadaptasi ke dalam film layar lebar berjudul Edge of Tomorrow, dibintangi Tom Cruise dan Emily Blunt. The manga is as fast-paced as the movie, and is equally entertaining. And Takeshi Obata deserves to be in this list twice because his art is that good.

As published in NYLON Indonesia August 2015 

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s