The Hills Have Eyes, A Trip To Haw Par Villa

Bagi mayoritas orang, Haw Par Villa mungkin telah menjadi bagian dari sejarah yang nyaris terlupakan di Singapura yang kian modern. Namun, jika kamu bosan dengan mainstream tourist spot yang itu-itu saja, this abandoned theme park bisa menjadi pilihan destinasi offbeat yang tidak biasa. After all, a little thrill won’t hurt, right? 

Processed with VSCO with hb2 preset

I always love abandoned space. Ada semacam rasa sentimental yang aneh dan surreal dari tempat yang dulunya ramai penuh orang, namun seiring waktu dan berbagai sebab akhirnya terlupakan. Tempat-tempat yang seakan terjebak di masa lalu, tidak tersentuh waktu dan kehidupan di sekitar mereka. A place frozen in time, I would call it. Haw Par Villa adalah salah satu dari tempat tersebut. Terletak di sebuah bukit di Pasir Panjang Road, Haw Par Villa adalah sebuah theme park bertema mitologi dan folklore Tiongkok yang berisi 1000 lebih patung dan 150 diorama raksasa di dalamnya. Theme park yang dibangun di tahun 1937 ini pada masanya adalah sebuah tujuan wisata yang cukup populer bagi warga Singapura. Namun, karena beberapa faktor, taman wisata itu kemudian semakin ditinggalkan dan nyaris dilupakan, seolah tidak tersentuh ritme modernitas Singapura saat ini.

Ketertarikan saya pada Haw Par Villa timbul setelah menonton video “REALiTi” milik Grimes yang dibuat saat ia melakukan tur Asia tiga tahun silam. Selain Gardens by the Bay, video tersebut juga menampilkan Grimes berdansa di antara diorama yang ada di Haw Par Villa, and it looks interesting. Setelah quick research di Google untuk mengetahui soal taman tersebut, saya pun memasukkan Haw Par Villa ke tempat yang harus dikunjungi di Singapura dan kesempatan itu tiba di bulan April lalu saat saya melakukan solo weekend trip ke sana. Menggunakan MRT untuk mencapai stasiun Haw Par Villa di jalur Circle Line ke arah barat Singapura, perjalanan dari hotel saya di Orchard memang tergolong lumayan jauh untuk ukuran setempat. Ketika sampai di stasiun Haw Par Villa yang hanya terletak dua kilometer dari bibir pantai, begitu keluar stasiun dan berjalan ke kanan, the theme park is literally ada di samping stasiun, jadi tidak mungkin kamu tersesat.

Processed with VSCO with hb2 preset

Saat saya tiba, tidak tampak pengawas atau penjaga karcis karena memang untuk masuk ke Haw Par Villa tidak dikenakan biaya apapun alias gratis. Walaupun saat itu hari Sabtu, namun tampaknya tidak banyak pengunjung yang datang. Hanya ada beberapa pasangan yang sibuk berfoto di depan beberapa patung dan diorama. Beberapa travel agent sebetulnya menawarkan trip ke Haw Par Villa lengkap dengan pemandu yang akan menceritakan sejarahnya, namun saya memilih datang seorang diri dan hanya berbekal informasi yang saya kumpulkan dari internet. Menapaki jalanan mendaki dengan diorama harimau, Buddha, dan dewa-dewa Konfusius di sekelilingnya, saya pun siap untuk mengeksplor theme park ini.

Processed with VSCO with hb2 preset

Sedikit sejarah soal Haw Par Villa, tempat ini dinamakan berdasarkan para pemiliknya, yaitu dua bersaudara Tionghoa berdarah Burma bernama Aw Boon Haw dan Aw Boon Par yang juga dikenal sebagai pewaris usaha minyak balsem paling ikonik di Singapura, Tiger Balm. Dan memang sampai sekarang pun masih banyak peninggalan bertema Tiger Balm yang tersisa, sehingga tidak heran jika taman ini juga dikenal dengan nama Tiger Balm Gardens. The villa itself terletak di puncak bukit dan dirancang oleh seorang arsitek terkenal Singapura bernama Ho Kwong Yew. Memiliki enam ruangan yang terdiri dari dua kamar tidur, ruang tengah, ruang melukis, dressing room, dan ruang makan serta enam puncak yang melingkar, villa berwarna putih dengan pemandangan menghadap laut ini termasuk salah satu mansion paling megah di Singapura di tahun 30-an.

Processed with VSCO with hb2 preset

Di masa kejayaannya, taman ini bahkan memiliki kebun binatang. Namun, ketika tentara Jepang menginvasi Singapura saat Perang Dunia II, dua kakak beradik tersebut kabur ke luar negeri dan tentara Jepang menggunakan villa ini sebagai watch tower untuk mengawasi kapal yang mendekat ke pantai. Setelah perang berakhir, Aw Cheong Yeow yang merupakan keponakan dari Boon Haw kembali ke villa tersebut untuk meneruskan visi pamannya membangun taman yang mengajarkan legenda Tiongkok. Taman ini menjadi tujuan wisata yang cukup populer bagi warga Singapura di tahun 70 dan 80-an. Jika kamu bertanya ke warga Singapura di atas 30 tahun, besar kemungkinan mereka pernah ke Haw Par Villa dalam rangka school trip. Namun menjelang akhir 90-an, dengan biaya masuk yang mahal dan banyaknya tempat wisata yang baru, jumlah pengunjung turun drastis dan mereka mengalami kerugian, hingga di tahun 1998 mereka terpaksa menghapus biaya masuk.

Processed with VSCO with hb2 preset

Dengan makin sedikitnya pengunjung, Haw Par Villa pun akhirnya melahirkan banyak kisah misteri sendiri. Ada rumor yang bilang jika Haw Par Villa terletak di mulut Neraka, dan para penjaga malam bercerita soal bagaimana patung-patung di dalamnya akan hidup di malam hari, dan bahkan rumor jika beberapa patung sebetulnya mayat manusia yang dilapisi oleh lilin (House of Wax, anyone?). Hal itu tertanam kuat dan sampai sekarang pun, ketika sedang berjaga malam, para security guards akan meninggalkan sesajen seperti makanan dan rokok untuk beberapa patung.

Processed with VSCO with hb2 preset

Well, saya memang tidak bisa melihat hal-hal supranatural, tapi saya percaya tempat ini angker. Overall it’s quiet and eerie, bahkan di siang hari sekalipun, ketika cuaca mulai mendung dan semilir angin yang berbunyi di antara rimbunnya bambu menambah nuansa mistis, but I brave myself dan mulai menjelajah. Melewati sebuah information center yang hanya dijaga seorang kakek, nyaris tidak ada orang lain saat saya berjalan menuju Ten Courts of Hell yang merupakan atraksi paling ikonik di tempat ini. Both creepy and kitsch at the same time, beberapa patung yang ada di taman tampak jelas telah dimakan usia dan cuaca, dengan cat yang sudah mengelupas dan retakan di sana-sini. Ada juga beberapa daerah dengan tanda restricted yang tidak boleh dimasuki. I choose to stay on the path dan tiba di gerbang neraka yang dijaga oleh dua patung penjaga neraka berkepala kuda dan banteng.

Processed with VSCO with hb2 preset

Dulunya, tempat ini seperti Istana Boneka di Dunia Fantasi, di mana kita akan duduk di sebuah perahu kayu kecil menyusuri sungai buatan memasuki mulut naga sepanjang 60 meter. Sekarang, kepala naga itu sudah tidak ada dan pengunjung harus jalan kaki untuk masuk ke dalamnya. Untuk yang mengikuti Snapchat saya pasti tahu saya berusaha menutupi ketakutan saya dengan merekam video, but I wouldn’t lie, it’s creepy as hell! Di dalamnya berisi diorama ratusan patung-patung lilin kecil yang menceritakan proses manusia setelah kematian versi mitologi Tiongkok dan ajaran Buddha di mana neraka terdiri dari 10 tingkat dengan penguasa dan siksaan masing-masing. Suka menonton porno dan menyisakan makanan? Hukumannya adalah badan dibelah dengan gergaji raksasa. Kurang ajar terhadap orangtua? Hatimu akan dicabut besi panas, and so on. Kalau kamu pernah baca komik Siksa Neraka, kurang lebih seperti itu. Sialnya, saat saya hendak keluar dan menjelajah diorama lain seperti Journey to the West, White Snake Legend, dan Romance of Three Kingdoms, hujan deras datang tiba-tiba dan saya terpaksa berteduh di dalam neraka selama sejam lebih. Untungnya saya tidak sendiri karena beberapa pengunjung yang ada juga berteduh di sana. But still, it feels like an eternity karena tidak ada yang bisa saya lakukan selain bolak-balik mengamati setiap level neraka.

Processed with VSCO with hb2 preset

Ketika hujan akhirnya reda, jarum jam telah menginjak pukul tiga sore dan saya harus bergegas pergi. Masih banyak sekalian bagian lain yang belum saya lihat, tapi sebelum pergi saya menyempatkan untuk melihat wilayah kolam dengan paviliun dan pagoda di tengahnya (and even Liberty miniature!). Terlepas dari suasana creepy yang menyelimutinya, Haw Par Villa sebetulnya dibuat untuk menunjukkan kasih sayang seorang kakak terhadap adiknya dan sebagai pengingat soal tradisi dan ajaran leluhur mereka, sehingga kalau diperhatikan banyak motif melingkar di taman ini yang menyimbolkan harmoni dan keluarga. Karena sebetulnya masih belum puas, dengan berat hati saya pun berjalan keluar menuju stasiun MRT sambil berjanji untuk kembali ke Haw Par Villa dalam kunjungan berikutnya.

Processed with VSCO with hb2 preset

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s