Midnite Cruise, An Interview With Neon Indian

Lewat album Vega Intl. Night School, Alan Palomo dari Neon Indian menawarkan kelas ekstra untuk sesi berdansa tengah malam. Sign us up, pretty please.

Saat tiba di sebuah restoran di daerah Panglima Polim pada suatu Senin malam, saya sebetulnya tidak sadar jika pria berambut ikal yang sedang asik menikmati makan malamnya di salah satu meja adalah Alan Palomo, not before dia membalikkan tubuh dan mengulurkan tangannya untuk menyapa saya. Produser dan multi-instrumentalist berumur 27 tahun tersebut adalah sosok utama di balik Neon Indian, sebuah unit indietronica asal Texas yang berawal dari bedroom project sebelum berkembang menjadi full band seperti sekarang. Lewat album debut bertajuk Psychic Chasms (2009) yang melahirkan beberapa hits seperti “Deadbeat Summer” dan “Should Have Taken Acid With You”, Neon Indian dengan racikan synthesizer yang terdengar dreamy dan summer-ish dianggap sebagai salah satu pencetus lahirnya demam chillwave di awal 2010-an, sebuah genre musik yang meskipun tidak bertahan lama tapi menjadi pengantar bagi berkembangnya musik-musik chill out a la Majestic Casual, sehingga rasanya agak surreal melihat sosoknya ada di depan mata.

            Empat tahun telah berlalu sejak perilisan Era Extraña, album kedua yang menginjeksikan bunyi shoegaze dan new wave yang lebih eksperimental dan gelap ke dalam musik Neon Indian, dan kini mereka datang ke Jakarta hanya sebulan setelah perilisan album ketiga yang berjudul VEGA INTL. Night School. Keesokan harinya, Alan dan rekannya akan tampil dalam konser besutan Prasvana yang menjadi show perdana Neon Indian di Indonesia sebagai bagian dari tur Asia promosi album tersebut. “Setelah hiatus yang cukup lama, saya sudah agak lebih tua dari sebelumnya dan setelah merilis album ini saya langsung pergi tur, tapi saya bisa bilang jika mungkin kurang dari sebulan lalu kami baru bisa mendapatkan groove-nya kembali. Selalu ada satu titik dalam sebuah tur di mana semuanya akhirnya terasa make sense, semua orang bahagia, and we’re just having fun dan itu juga yang menjadi tujuan utama dari tur Asia ini, untuk bisa menikmati waktu. Jadi kami selalu menyempatkan waktu untuk melihat-lihat saat tiba di sebuah tempat baru,” jelas Alan saat saya bertanya bagaimana rasanya kembali tur.

Bila Psychic Chasms adalah soundtrack senja musim panas yang riang dan Era Extrana adalah pengiring malam musim panas yang kontemplatif, maka VEGA INTL. Night School bisa dibilang mengambil inti sari terbaik dari kedua album sebelumnya tersebut dan membawanya ke level yang baru. Judul albumnya sendiri cukup menjelaskan tentang apa yang menjadi benang merah 14 lagu di dalamnya dengan kata “VEGA” yang merujuk pada proyek musik dance Alan sebelum Neon Indian terbentuk. “Pada awalnya saya berniat untuk merilis album untuk proyek VEGA, tapi kemudian saya menyadari jika saya tidak harus terpaku pada apa materi yang bisa dikategorikan demo untuk VEGA atau demo untuk Neon Indian karena pada akhirnya komponen produksi keduanya saling bersinggungan dan menjadi katarsis tersendiri. Adalah hal yang lebih konstruktif untuk terus berkarya dan baru memikirkan mau disebut apa musik itu setelah selesai. Jadi saya terus merekam dan walaupun judul album ini terinspirasi dari proyek saya sebelumnya, tapi album ini bergerak ke arah yang benar-benar baru. Saya memiliki ide untuk membuat sebuah rekaman yang terdengar seperti kolase dari macam-macam genre dan dekade dalam musik dance, namun tetap memiliki benang merah. Referensi nama VEGA di judulnya adalah sebuah perayaan dari merger kedua proyek ini sekaligus merujuk bagaimana Neon Indian akhirnya mengkanibal Vega dan menyerapnya menjadi kesatuan,” papar Alan soal ide tercetusnya album tersebut.

            Clue selanjutnya adalah kata “International” di judul. Sebagai sebuah album berkonsep kolase, album ini memang berisi referensi musikal dari musik dance berbagai negara selama empat dekade terakhir, dari mulai disco, funk, R&B, hingga reggae. “Annie” yang menjadi single pertama adalah homage untuk lagu pop 80-an dengan lirik naratif berisi nama perempuan dan nomor telepon dengan elemen reggae yang kental. “Adalah hal yang menarik ketika ‘Annie’ pertama kali keluar dan pendengar Amerika merasa lagu itu mirip lagu Ace of Base. Jika sebuah lagu terdengar upbeat dan agak ‘etnik’, mayoritas pendengar Amerika akan langsung menyebut sesuatu yang sangat pop untuk menjadi referensi mereka, yang bagi saya sangat aneh karena lagu ini sama sekali tidak terdengar ‘Eropa’, its a lot of calypso, cumbia, dan komponen dari musik Latin Amerika lainnya. Saya berasal dari Meksiko dan walaupun saya tidak secara aktif dan sadar mendengarkan genre tersebut saat beranjak dewasa, tapi baru ketika lagu itu jadi, saya baru berpikir ‘Holy shit, it’s like early 90’s cumbia’. Bagian menyenangkan dari jalan-jalan keliling dunia adalah menyerap sensibilitas musik setempat dan menyadari jika semua genre bisa hidup di universe yang sama. Saya rasa hal itu yang agak hilang di musik indie dan saya ingin membawanya kembali.”

            Alih-alih menjadi stadium banger seperti mayoritas dance music saat ini, album ini adalah tribute bagi kehidupan club malam yang sempit dan penuh keringat. There’s a sense of humidity di lagu-lagu seperti “61 Cygni Ave” dan “Smut!” yang sensual dan intim, sesuatu yang tercetus dari New York sebagai latar belakang. “Saya pikir New York adalah latar yang menarik karena kota itu selalu bermutasi,” cetus Alan sebelum melanjutkan, “Saya tinggal di New York baru sekitar enam tahun tapi saya merasa kota itu adalah city of transplant. Selalu ada orang yang pindah ke sana. Saya ingat ketika pergi makan malam di salah satu restoran lokal favorit saya di Williamsburg, saya menyadari jika semua orang berbicara dalam bahasa-bahasa Eropa asing, semua yang ada di sana adalah turis, tidak ada orang lokal. Banyak anak muda pindah ke New York setelah lulus SMA dan kita bisa merasakan bagaimana mereka berusaha keras untuk dilihat seperti apa yang mereka inginkan instead of bagaimana diri mereka sebenarnya. They’re full of drugs and booze, dan apa lagi sih yang dicari orang saat larut malam selain drugs, booze, and getting laid? Ada kejujuran yang datang dari lingkungan itu, people are just acting like animal and they’re lacking experience, atau sekadar perasaan kamu tiba di New York untuk pertama kalinya dalam hidupmu. Itu hal yang menarik untuk menjadi latar dari sebuah album,” ungkapnya tentang album yang lahir dari apartemennya di Brooklyn namun dibesarkan di atas kapal pesiar.

Saudara kandungnya, Jorge Palomo, yang menjadi drummer Neon Indian terikat kontrak dengan kapal pesiar yang mengharuskannya berlayar selama enam bulan dan terancam meninggalkan Alan untuk menunda produksi selama setengah tahun. Apa yang Alan lakukan? Well, mengepak pakaian serta peralatan rekamannya dan memesan tiket pesiar bersama seorang engineer-nya. “Saya langsung mabuk laut,” cetusnya sebelum menenggak birnya sambil terkekeh. “Waktu itu adalah bulan Desember, bukan bulan yang bagus untuk berlayar karena ombaknya kencang. Ada dua cara untuk mengatasi hal itu, yang pertama kita bisa meminum obat yang disediakan di kapal dengan beberapa efek samping atau cara kedua yang banyak dipilh orang: mabuk. Jadi Jorge akan pergi ke toko duty free dan membawa beberapa botol alkohol ke kabin dan saya berusaha untuk menghindar dari rasa mual itu tapi juga tidak terlalu wasted karena saya berusaha menjadi seorang produser yang baik dan menginstruksikan arahan, its very frantic,” simpulnya.

Seolah pelayaran di atas kapal pesiar saja tidak cukup untuk menekankan rasa “internasional” di dalamnya, cover art album ini turut dihiasi kanji yang membuatnya terlihat seperti album rilisan Jepang, yang terinspirasi dari kegemaran Alan berburu plat rekaman di tempat yang ia datangi. “Salah satu favorit saya adalah Dessinee Shop di Shibuya. Mereka punya koleksi lengkap diskografi Yellow Magic Orchestra, semua album solo personelnya, Yukihiro Takahashi, Haru Hosono, Ryuichi Sakamoto, dan semua album yang mereka produseri seperti Akiko Yano, Sandii & the Sunsetz dan semua album Jepang itu dilengkapi obi strip di sampulnya dan saya ingin album ini memiliki rasa yang sama dengan album yang mungkin bisa kamu temukan tanpa sengaja di sebuah record store di negara asing,” jelasnya. Sama fasihnya ketika ia berbicara soal musisi-musisi Jepang favoritnya, ia pun menyebut film-film Seijun Suzuki, Sion Sono, serta anime seperti Akira dan Perfect Blue sebagai bagian dari referensi sinematik yang menginspirasinya. Minatnya pada film juga disalurkan dengan menyutradarai beberapa video untuk album ini dan ia pun mengungkapkan rencananya untuk membuat sebuah film pendek. Tapi untuk sekarang, Alan masih akan berkonsentrasi menyelesaikan tur internasionalnya. “Saat kamu merilis album, kamu harus siap untuk berada di jalan selama 18 bulan lebih, so we’re still doing that,” pungkasnya dengan tegukan bir terakhir. Masih terlalu dini untuk pulang dan kelas malam besutannya masih terbuka lebar, kamu belum terlambat.

 

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s