The Bewitching Hour of Audrey Kitching

Fashions fade, style is eternal. Being on top since the early heydays of social networks, the original internet queen Audrey Kitching is simply adapting both IRL and URL while maintaining her mystical side. We are trying to catch up.

photo-aug-02-12-01-12-pm

Jauh sebelum munculnya Twitter, Tumblr, Instagram, dan social media lainnya yang melahirkan the idols and celebrity of modern age dalam wujud socmed influencers dengan jutaan followers dan personal brand yang kuat by simply being themselves, ada sebuah situs social network bernama MySpace di mana kita bisa membuat personal profile dan mengkustomisasinya sesuka hati dengan foto, musik, dan video. Jika kamu sempat membuka MySpace di pertengahan 2000-an, most likely yang akan kamu lihat adalah halaman profile dengan kode HTMLyang telah diedit untuk memunculkan glittery fonts, customized mouse click, lagu yang secara otomatis terpasang (most of it adalah lagu band-band emo yang waktu itu memang sedang meledak), dan bulletin board untuk tempat berkeluh kesah dan menyalurkan semua kegelisahan masa remajamu (and for passive-aggressive drama, obvi). It’s simply like you create your own diary dan membagikannya ke seluruh dunia untuk dilihat. Hal itu mungkin sama sekali tidak terdengar impresif saat ini, namun pada masanya, MySpace adalah salah satu tempat di internet di mana kamu bisa menjadi dirimu sendiri (or secretly trying to be someone else) dan berinteraksi dengan orang-orang dari seluruh dunia tentang hal-hal yang menarik perhatianmu. Dengan semua daya tarik tersebut, tidak mengherankan jika dari tahun 2005 sampai 2009, MySpace adalah situs social network yang paling banyak digunakan di seluruh dunia and at some point  bahkan sempat mengalahkan Google sebagai website yang paling banyak dikunjungi di Amerika Serikat. Namun, sebagaimana sewajarnya sebuah komunitas dengan segala dinamika sosial yang menyertainya, there’s certain social hierarchy yang terjadi dengan sendirinya.

MySpace di masa kejayaannya adalah tempat berkumpulnya generasi cool kids yang disebut sebagai the Scene Kids, alias para remaja berpenampilan eksentrik yang menjadikan MySpace sebagai platform to express themselves dan menghabiskan waktu sebagai microcelebrities (“Oh you know, I’m kinda famous on MySpace!”) dengan mengunggah foto personal style mereka (the typical look adalah rambut yang dicat warna-warni menyolok, makeup emo, dan gaya pakaian seperti paduan Hello Kitty meets Courtney Love yang meliputi neon bikini, cat ears, leather boots, leopard print, band tees, dan baby dolls) serta saling bergosip satu sama lain di chat room tentang drama frenemies di antara mereka, melahirkan kontroversi yang akhirnya membuat anak-anak lain penasaran untuk membicarakan mereka dan secara ironis membuat mereka semakin terkenal. Rebellious namun tetap relatable, mereka adalah orang-orang yang seru untuk dibicarakan dan sebagai remaja, you want to know more about them dan berharap mereka menyetujui friend request darimu. On top of the social ladder, there are the Scene Queens practicing their status quo as the new internet famous and Audrey Kitching is one of them.

Lahir di Philadelphia, Audrey Kitching memulai karier modeling di umur 14 tahun setelah ditemukan oleh seorang agen modeling saat ia sedang mewarnai rambutnya di sebuah salon. Muncul sebagai model untuk beberapa iklan, ia juga sering menjadi model bagi beberapa teman fotografernya yang akhirnya menarik perhatian publik saat ia mengunggah foto-fotonya ke situs-situs seperti Live Journal, Xanga, Buzznet, dan MySpace. Seperti mereka yang lantas disebut sebagai the It Girl, ada sesuatu yang berbeda dari diri Audrey yang menarik perhatian orang dan membuat mereka ingin tahu tentang apapun yang ia lakukan, orang-orang yang ada di lingkup pergaulannya, musik yang ia dengarkan, caranya berdandan, serta personal style yang terdiri dari pakaian murah dari toko bekas yang ia modifikasi untuk menciptakan outfit yang terinspirasi runway looks.

As an early adopter, Audrey adalah salah satu pengguna MySpace yang paling terkenal dan bersama beberapa nama lainnya seperti Jefree Star, Jac Vanek, dan Hanna Beth dijuluki sebagai The Scene Queens, yaitu beberapa figur yang memiliki paling banyak followers dan diberkahi the power of social media bahkan sebelum social media itu sendiri lahir di dunia. “This was all really just an outlet for teenage angst if I’m being completely honest,” kenangnya. “Bagi saya internet adalah tempat di mana saya bisa menjadi diri sendiri dan melarikan diri dari semua hal-hal menyebalkan yang muncul saat saya beranjak remaja dan menghadapi masa SMA. Saya tidak pernah bercita-cita untuk dikenal orang lewat internet, it was more of a place to be weird and accepted.”

Ketika kamu mencari “Audrey Kitching” di Google images, yang pertama muncul adalah foto-fotonya as the original wild child of the internet. Rambut warna pink yang menjadi trademark-nya menyala terang even in the darkest clubs, di mana ia seringkali terlihat berpesta dengan gaya pakaian yang bisa dideskripsikan sebagai gabungan antara Harajuku girl, emo fairy, dan skater girl. Ditambah dengan segala dramanya dengan sesama Scene Queens dan hubungannya dengan Brandon Urie sang vokalis Panic! At The Disco, Audrey adalah sosok kontroversial yang mengundang pro dan kontra. Its either you love her or hate her (and secretly want to be her). Kemunculannya di berbagai acara paling happening dan red carpet membuatnya dijuluki “fashion forward female” sekaligus “fashion disaster” dan sebutan lain seperti “It Kid”, “princess of pop culture”, “social media queen” dari berbagai media.

photo-aug-02-12-14-58-pm

Namun, menyebutnya sekadar famous for being famous adalah sebuah kesalahan. Apa yang membedakan Audrey dengan jutaan scene kids lainnya adalah kemampuannya membawa kepopuleran dunia mayanya ke dunia nyata. Sama halnya dengan beberapa nama seperti fotografer hipster Mark “Cobra Snake” Hunter atau club kid dan model Cory Kennedy, mereka memiliki satu kesamaan sebagai the early adopters yang dengan lihai memanfaatkan internet untuk membangun persona mereka dan meraih ketenaran. Ketika kepopuleran MySpace telah usai dan digantikan oleh Facebook dan social media lainnya, Audrey telah meraih kesuksesan mainstream dengan bertransisi sebagai legit public figure. Berbagai hal telah ia kerjakan dalam satu dekade terakhir ini, dari mulai menjadi spokesmodel dan wajah dari banyak desainer dan label terkenal, dia juga telah tampil dalam berbagai editorial di seluruh dunia, dari Skandinavia sampai Jepang di mana ia melakukan lebih dari 4 editorial setiap bulannya, tampil di beberapa serial televisi dan film sebagai dirinya sendiri, dan merilis beberapa clothing line dan kolaborasi dengan nama-nama seperti H&M, Kerol D Milano, dan Vera Wang. Audrey yang menjalani gaya hidup vegan juga menjadi public person untuk kampanye “Fur Is Dead” bersama Peta2 dan menentang animal testing dalam industri personal care.

            Kini, di umurnya yang telah menginjak 31 tahun, Audrey menemukan dirinya di era yang berbeda dengan pemikiran yang tentu saja sudah jauh meninggalkan masa-masa teenage angst dalam hidupnya. Rambutnya memang masih berwarna pink, namun sekarang ini ia cenderung memilih warna pastel yang dreamy dan menukar gaya hot mess dengan estetika New Age yang ethereal seperti yang terlihat dari akun Instagramnya yang diikuti oleh 273K followers. Naturally against the currents, di era socmed yang serba candid dan terbuka, Audrey justru terasa seperti sosok mistis di internet yang lebih peduli soal inner peace dalam dirinya dibanding menanggapi komentar orang lain.

More than just another internet famous, Audrey saat ini adalah seorang model merangkap desainer dan penulis yang tengah disibukkan dengan usahanya menjalankan clothing line bernama LUNA yang terinspirasi oleh hal-hal seperti astrologi dan magic serta menjadi founder dan CEO dari Crystal Cactus, sebuah lini aksesori yang mencakup crystal pendant jewelry, produk holistic spa, dan gifts yang turut dijual di Urban Outfitters dan mendapat respons positif dari banyak pihak. Menjauh dari gemerlapnya industri fashion dan kehidupan malam yang liar di kota besar, Audrey yang juga menjadi seorang praktisi new age sedang memetik karma baik yang ia terima dan berusaha menyebarkan energi positif ke dunia. We want to know more of her magic.

photo-aug-02-11-54-07-am

Hi Audrey, how are you? Where in the world are you right now, what are you wearing and what you doing before answering this email? Saat ini saya sedang berada di rumah saya di Philadelphia. I’m wearing a nude silk slip and an olive green silk button down shirt tied up. Saya baru saja menyiram tanaman dan menyalakan dupa dan lilin sebelum duduk untuk menjawab interview ini.

Boleh cerita soal aktivitasmu belakangan ini? Sekarang saya sedang menikmati masa-masa kebebasan. Tahun ini telah menjadi tahun yang sangat transformatif bagi saya. I stepped away from the industry in all aspects of the sense and really started to focus on my passions without that influence. I have been really just enjoying the simple pleasures of creating art and living.  

Bagaimana biasanya kamu memulai harimu? Ada ritual harian yang kamu lakukan? Saya punya banyak ritual. I am a ritual. Hari-hari saya selalu dimulai dengan mengisi makanan burung di bird feeders, membuka tirai, mandi, membuat teh, menyiram taman, memberi makan binatang peliharaan saya yang terdiri dari kucing, burung, dan ikan (who are all best friends I might add), memasak sarapan, membaca astrologi atau mencari inspirasi di sudut-sudut internet. As far as my day’s go, saya biasanya di studio untuk mengurus metaphysical shop saya, Crystal Cactus atau melakukan pemotretan dengan teman-teman kreatif saya, lost in an adventure in nature atau jalan-jalan ke museum seni. I always try to have fun and enjoy simple things every day. I have really learned the true meaning of work smart not hard.

Kamu telah biasa tampil di NYLON US, tapi ini pertama kalinya kamu muncul di NYLON Indonesia, apa yang kamu pikirkan saat mendengar Indonesia? I love culture in all aspects. Saya tahu jika Indonesia punya keindahan alam dan candi-candi yang megah. Saat masih remaja, saya dulu sering ke restoran kecil bernama Banana Leaf di California karena mereka punya menu vegetarian Indonesia yang sangat lezat.

Boleh cerita soal pemotretan kali ini bersama Bruno? Kalian sangat sering berkolaborasi belakangan ini, bagaimana sebetulnya kalian pertama bertemu? It was fantastic. Kami punya vibe yang sama dan merupakan hal yang alami jika pada akhirnya kami menjadi creative partners. I will text him and say “I got an idea!” atau kalau dia punya kamera atau film baru, dia akan menelepon saya dan bilang “We have to test this out and experiment!” Menemukan seseorang yang punya kesamaan artistik sama susahnya seperti mencari jarum di tumpukan jerami menurut saya… Terutama saat saya masih berada di industri. Banyak orang yang membuat sesuatu hanya demi pujian dan ketenaran. I create because it’s my soul’s way of survival. I have to create, hal itu bukan pilihan tapi sebuah keharusan bagi saya pribadi. Saya berkarya untuk membuat sesuatu yang tidak bisa saya ungkapkan lewat sekadar kata-kata. Menemukan seseorang yang punya ketertarikan pada seni dengan alasan yang sama bisa dibilang sebagai a blessing in a dark, dark realm of ego centric moldings. Saya ingat awalnya kami kenal saat dia mengirim message ke saya dan bertanya, “Hey want to be in my Polaroid book?” Saya mengiyakan, dan setelah pemotretan dia baru bilang jika sebetulnya he had no idea tentang siapa saya dan tidak pernah mendengar tentang saya sebelumnya. Saya berpikir, “Fantastic, we are going to make some killer creations together.”

 photo-aug-02-11-52-08-am

Apa yang pertama kali membuatmu tertarik pada fashion? Apa inspirasi awal yang membentuk personal style bagimu? Self-expression. Saya bahkan belum pernah mendengar Marc Jacobs sampai saya berumur 21 tahun. I didn’t know what that was and never cared. Saya merasa saya tercebur ke industri fashion hampir seperti sebuah kecelakaan. Fashion was always just self expression to me; it was art living and creating. The fashion industry is about fame, money, fitting in… I was never about that. Saat saya kecil, ibu saya sering mengajak saya ke thrift stores untuk membeli pakaian and we would dye the clothing, add lace and paint on it. It was always just natural to me. 

Apakah kamu memang berasal dari keluarga yang kreatif? Ya, bisa dibilang seperti itu.  Waktu kecil saya mengambil kelas seni, I was always painting, creating, making films in my backyard, doing magic spells, collecting fairy’s… Semua hal itu yang mempengaruhi saya sampai sekarang. Ibu saya adalah seorang seniman dan ayah saya seorang pelaut.

 Di mana kamu tinggal sekarang dan apa yang kamu sukai dari tempat itu? Saya tinggal di Philadelphia. Ini adalah kota di mana saya lahir dan dibesarkan. Saya sudah pernah tinggal hampir di semua penjuru Amerika Serikat namun pada akhirnya saya memilih pulang ke kota asal saya. I guess the soul recognizes a good thing when it feels it. Saya suka semua hal dari kota ini, mulai dari budaya, makanan, dan seninya. Kami punya beberapa taman dan hiking trails paling indah di Amerika, fantastic foods, museum, dan hidden gems lainnya. Kamu bisa pergi ke pantai atau ke pegunungan hanya dalam hitungan jam. It’s truly beautiful. Semua hal positif dari hidup di daerah perkotaan tanpa adanya stress, polusi, dan negativitas.

Kamu telah aktif di internet sejak pertama kali munculnya situs-situs social networks, apa yang kamu pikirkan tentang internet dan social media saat ini bila dibandingkan masa sebelumnya? It is so watered down with people all fighting for their 15 minutes of fame. Mungkin saya tidak akan eksis jika saya baru muncul sekarang. I was just being myself which was rebellion in its own right. Saya menentang norma yang ada dan orang-orang menyukainya, and it caught on. Sekarang orang-orang akan melakukan apapun demi mendapat sedikit perhatian. Rasanya menyedihkan. I’m very far removed. Sekarang, media sosial yang saya follow adalah akun-akun tentang real art, sejarah, astrologi, dan film. Kamu harus hati-hati menghadapi media sosial. What you look at your invite in. 

Buzznet mungkin tidak terlalu populer di Indonesia, namun MySpace was a big thing di tahun 2000-an dan saya ingat saat pertama kali melihat profile-mu di MySpace dan langsung kagum. Apakah kamu masih ingat apa yang mendorongmu untuk membuat akun MySpace dan aktif di situs tersebut? Apa yang paling kamu rindukan dari era tersebut? That’s powerful that you remember that feeling. I cherish that, thank you. Sejujurnya waktu itu saya hanya mencoba mencari jati diri saya. Internet telah dan akan selalu menjadi creative outlet bagi saya. It is a blank canvas waiting for paint. Saya hanya mencoba menjadi diri saya sendiri dan hal-hal yang memang biasa lakukan hanya saja kali ini saya menunjukkannya di area publik. Yang saya rindukan adalah rasa authenticity. Sekarang ini hampir semua posting adalah posting berbayar dan tersponsor, bahkan sampai ke pakaian yang mereka kenakan.

photo-aug-02-12-01-54-pm

Apakah kamu pernah bertemu langsung dengan Tom dari MySpace? Sayangnya tidak pernah. Saya juga tidak yakin apakan dia akan suka pada saya. 

Seperti yang kamu bilang, di era social media saat ini, it’s literally 15 minutes of fame untuk semua orang, jadi bagaimana caramu agar tetap relevan di media sosial/internet dan bersikap dewasa? That’s a fantastic question and it’s almost a trick question because I never was focused on being relevant. Beberapa orang mungkin hanya akan posting di jam-jam yang telah mereka tentukan sendiri, mencoba untuk stay on top on trends dan melakukan cross promote. Saya tidak melakukannya. Jika suatu hari saya mempunyai banyak hal yang ingin saya ungkapkan, saya mungkin akan posting 100 tweets di Twitter atau posting sepuluh foto di Instagram. Saya memperlakukan media sosial sebagai platform kreatif, bukan untuk dikagumi. Saya tidak mencari pujian. Saya hanya ingin menjadi diri saya sendiri dan berharap hal itu bisa menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Apakah kamu merasa fans-mu dari zaman MySpace masih mem-follow dirimu sampai hari ini? Bagaimana caramu berinteraksi dengan para followersThey do, which is wild. Saya merasa banyak followers saya yang beranjak dewasa bersama saya. They stuck by me through the most radical evolution that can exist. Saya orang yang agak sulit dipahami. Saya bukan tipe orang yang paling mudah didekati dan saya tahu hal itu berdasarkan energi yang saya pancarkan. Orang juga tahu saya tidak terlalu peduli soal komentar dan penerimaan dari orang lain. They kinda just take it in and move on. I appreciate that.

Apa yang kamu rasakan saat melihat foto lamamu di internet? Kalau boleh melihat ke belakang, adakah hal yang kamu sesali, mungkin hal-hal yang tidak seharusnya kamu ucapkan atau lakukan? Sejujurnya, saya merasa dulu sangat out of control dalam kehidupan publik saya. I mean that in the most respectful authentic way. Saya masih 100% orang yang sama dengan sosok di foto itu namun sudah lebih terpoles. Apakah ada orang yang melihat foto diri mereka tujuh tahun lalu dan merasa keren? Mungkin tidak, tapi saya selalu menjadi diri saya sendiri dan tidak ada yang saya sesali. I am 100% still that person just more refined. Does anyone look back at photos of themselves 7 years ago and think it was a fantastic look? Probably not, but I was just doing me and I don’t regret a thing.

Apa media sosial favoritmu saat ini dan kenapa? Saya suka Tumblr untuk posting hal yang personal dan mengumpulkan inspirasi. Twitter untuk berkeluh kesah dan mengeluarkan unek-unek apapun di kepala, sedangkan Instagram lebih untuk curated art. Saya tidak memakai Facebook atau Snapchat because those don’t resonate with me at all.

Tell me about Crystal Cactus, apa yang menginspirasimu untuk membuat label ini? It’s a soul mission. Salah satu alasan kenapa saya ada di sini sekarang. Saya tahu dengan sendirinya jika saya harus punya toko dengan healing power di baliknya walaupun sebelumnya belum terlalu yakin dengan apa yang akan saya buat. Butuh proses yang lumayan panjang. Saat memulainya, hanya ada saya di rumah yang mengerjakan semuanya. Saya akan membayar saudara saya untuk melakukan pengiriman seminggu sekali. Dan hal itu berkembang dengan sendirinya. Saya sudah punya tim karyawan cukup besar dan produknya sudah terjual di banyak retail chains di seluruh dunia. Namun, itu menjadi pelajaran besar bagi saya dan saya sadar bukan itu yang saya inginkan untuk saya maupun perusahaan ini. I scaled back down to basics and it’s coming together beautifully. Rome was not built in a day. 

Apa yang menurutmu menjadi pencapaian terbesarmu sampai hari ini? Being here right now in my home answering these questions by my own will. Saya telah memecat publicist saya dan meninggalkan industri, tapi saya masih mampu mengerjakan apa yang saya suka dengan cara saya sendiri. Having people like you guys support me in that is so powerful. To me that is success.

photo-aug-02-12-03-07-pm

What’s your most prized possession? My soul. 

What are you obsessed with right now and why? Apapun yang menyangkut zaman Medieval dan mitologi Yunani… Saya selalu suka keduanya dari dulu namun belakangan ini saya semakin mendalaminya. Dan juga memasak. I really love to cook. I always have but I’m finding more time for it now. 

Apa satu hal yang ingin kamu lakukan tapi belum sempat terlaksana? Pergi ke Italia lagi. Saya berencana pergi ke sana musim semi ini. I am very Italian and have so many powerful past lives from that region. Saya telah mendedikasikan hidup saya untuk pekerjaan setahun terakhir ini, but I feel Rome at my fingertips and she is waiting.

Bicara tentang entrepreneurship, apakah kamu punya sosok favorit yang kamu anggap sebagai #girlbossJoan of Arc mungkin, atau Aphrodite… Para wanita yang tidak tunduk pada lelaki manapun. Para wanita di sejarah dan mitologi yang berani menentang keadaan. They can sit at my lunch table and they are on my kickball team.  

Apa yang biasanya kamu lakukan untuk memotivasi diri sendiri saat terjadi hal yang kurang menyenangkan? Kamu hanya harus mengingatkan diri sendiri: THIS TOO SHALL PASS. Kalimat tersebut telah banyak membantu saya. Nothing is permanent. Perubahan adalah ritme natural bagi alam semesta. 

Apa hal terakhir yang membuatmu marah? Society. I woke up in a random rage about how people are pushed into conformity. Saya geram melihat ketidakadilan. Beberapa ajaran spiritual  bilang jika amarah adalah sesuatu yang buruk. Saya tidak setuju. Amarah mendorong perubahan, kejujuran, dan keadilan. You need anger. Merupakan hal yang penting untuk bicara menentang ketidakadilan. Penting bagi kita untuk punya rasa marah. I think being neutral, having no emotional charge is bad. Quite the opposite. 

Terakhir, jika kamu bisa memberikan saran ke dirimu sendiri saat masih remaja, apa yang akan kamu katakan? Things will get better. Keep being you. Never give in to the masses.

photo-aug-02-12-23-01-pm

 All photos by Brian Bruno @brunoroids 

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s