On The Records: The Trees And The Wild

Ketika tampil menghiasi edisi perdana NYLON Indonesia yang terbit Januari 2011 silam, The Trees and The Wild (TTATW) merupakan trio folk-post rock pendatang baru dengan sebuah debut album gemilang bertajuk Rasuk yang bisa dibilang berhasil menaikkan batasan dan derajat musikalitas album indie Indonesia di masa itu dan seterusnya. Mendapat apresiasi positif dari publik dan media hingga disebut sebagai salah satu band Asia yang wajib disimak versi majalah TIME di tahun 2011, it’s only natural jika kita bertanya-tanya akan seperti apakah kelanjutan dari awal yang menjanjikan tersebut. After all, album kedua adalah sebuah pertaruhan dan tantangan pribadi bagi setiap musisi dengan album perdana yang sukses. Apakah mereka memilih bermain aman di resep yang sama atau justru membanting kemudi ke arah yang sama sekali berbeda? Band asal Bekasi yang terbentuk dari 2005 ini pun menjawabnya setelah tujuh tahun kemudian, dengan sophomore album bertajuk Zaman, Zaman.

s4fq-m8n

            Rentang waktu tujuh tahun bukan tanpa alasan dan hambatan. Gitaris Iga Massardi mengundurkan diri, meninggalkan Remedy Waloni (vokal/gitar) dan Andra Budi Kurniawan (gitar) sebelum akhirnya TTATW resmi bertransformasi menjadi unit lima personel dengan bergabungnya Charita Utami (keyboard/synth/vokal), Hertri Nur Pamungkas (drum), dan Tyo Prasetya (bass). Ada masa di mana seolah TTATW menarik diri dari publik lokal dan fokus tampil di luar negeri, mulai dari region Asia Tenggara, hingga negara Eropa seperti Jerman, Finlandia, dan Estonia, merilis beberapa materi baru seperti album mini Tuah/Sebak di 2012 dan Ekati di 2014 yang rilis terbatas di Helsinki, Finlandia, serta beberapa single seperti “Empati Tamako” dan “Saija” yang tidak pernah dirilis resmi namun dimainkan di atas panggung, sebagai teaser untuk warna baru musik mereka yang lebih ambisius yang akhirnya disempurnakan ke dalam Zaman, Zaman yang telah dirilis bulan September kemarin via Blank Orb Recordings.

            Berdurasi tujuh lagu dengan durasi sekitar 52 menit, Zaman, Zaman merupakan sebuah album experimental indie rock dengan kekuatan utama aransemen eksploratif dan meruang di mana setiap detail instrumen dan vokal diperhatikan secara cermat dengan proses mixing yang sama jelinya. Terasa penuh dan luas di saat yang sama, Zaman, Zaman adalah tipe album yang baiknya didengarkan dari awal secara runut sampai selesai dengan soundscape naratif dan sinematik di setiap lagu yang akan membawa emosi dan imajinasimu terbang liar ke negeri-negeri dalam sebuah epos atau hikayat. Dikerjakan dengan semangat Do It Yourself yang kental, mayoritas lagu yang ada mungkin sudah beberapa kali kamu dengarkan versi demo atau versi live-nya, namun tentu mendengarkan hasil akhirnya adalah hal yang sama sekali berbeda dan di luar ekspektasi. Di akhir hari, terlepas dari segala hype, perasaan overestimate maupun underestimate, dan segala prasangka lainnya, TTATW berhasil menjawab penantian selama tujuh tahun tersebut dengan caranya sendiri dan membuka zaman baru bagi arah bermusik mereka and it looks damn glorious.

Tell me about the dynamics between members, dengan bertambahnya kepala, bagaimana cara kalian menyatukan ide dan ego selama proses pembuatan album ini? Tidak terlalu sulit untuk menyatukan ide karena kita bermusik sudah 15 tahun lebih jadi kita sudah memiliki pengalaman, sudah tahu kemampuan masing-masing dan arah musik yang ingin kita tuju. Dan rasanya kita sudah ketuaan untuk memikirkan ego. Yang hanya kita pikirkan adalah bagaimana bisa membuat karya terbaik kita.

Bicara soal influens mungkin agak klise, tapi adakah hal-hal di luar musik yang memengaruhi emosi di album ini? Pastinya hal di luar musik memengaruhi musik yang kita buat. Justru itu yang menjadi sumber inspirasi musiknya. Tidak hanya dari sisi yang paling klise seperti lirik, tapi dari sisi cara kerja kita dan estetika dari albumnya pun secara tidak langsung mempengaruhi proses pembuatan album ini. Salah satu alasan kenapa kita memilih untuk memiliki day job adalah agar kita bisa mendapatkan inspirasi dan pengalaman lain tersebut. Membuat musik menjadi lebih mendalam dan bukan sekadar membuat orang lain sing along atau menjadi terkenal.

Mayoritas materi di album ini sudah sering dibawakan sebelumnya atau dirilis dalam berbagai versi, bagaimana cara kalian memilih lagu mana saja yang akhirnya masuk di album ini? Berdasarkan mood, alur, dan fungsi dari lagu itu sendiri. Ada lebih dari 3 lagu yang tidak masuk karena setelah kita dengar secara keseluruhan tidak sesuai dengan warna dan alur yang kita inginkan, yang mungkin orang lain tidak bisa melihat. Kita ingin membuat sesuatu yang indah namun membumi. Di satu sisi maksimalis tapi di sisi lain minimalis.

Kenapa “Zaman, Zaman” yang dipilih menjadi single pertama dan apa ide untuk videonya? Karena kita rasa “Zaman, Zaman” bisa menjadi entry point yang baik untuk menelusuri materi yang lain. Idenya dari lagunya sendiri. Idenya untuk mengekspresikan karakter lagu tersebut.

DI beberapa lagu, vokal Charita lebih dominan dibanding Remedy, dan somehow, saya merasa vokal bagi TTATW saat ini adalah bagian dari instrumen yang berdiri sejajar dengan instrumen lain. Ada pertimbangan khusus untuk itu? Iya, kita menyesuaikan dengan kebutuhan lagu. Dan kita sudah sadar akan karakter vokal Remedy dan Charita dan bagaimana memadukan dua suara tersebut. Semua jenis mixing telah kami coba. Vokalnya di depan, di belakang, bahkan sampai yang vokalnya kita edit total menjadi seperti choir, semua kemungkinan kita coba. Dan yang terbaik dari yang terbaik adalah yang akhirnya ada di album. Di dalam tiap lagu pun, level vokal kita sesuaikan dengan staging yang ingin kita fokuskan dan yang ingin kita arahkan, di bagian verse atau chorus atau interlude dan lain lain. Seperti vokalnya “dimundurkan” sedikit agar beat bisa “muncul” dan staging-nya bisa kita bawa ke arah baru. Untuk sebagian orang khususnya yang sangat awam terhadap musik, mungkin memang kurang paham sepertinya dan tidak terbiasa dengan mixing tipe seperti ini (walaupun ada banyak sekali musik yang sudah menerapkan metode seperti ini) tapi kita tidak terlalu pikirkan. Yang kita pedulikan hanya bagaimana membuat lagu-lagu ini menjadi versi yang kita rasa terbaik.

 

Menurut kalian sendiri, apa kondisi ideal untuk mendengarkan album ini secara maksimal? Kita berharap album ini bisa didengarkan di kondisi apapun, sadar maupun tidak. Dari sisi teknis, kebetulan album ini di-master oleh Bo Kondren, salah satu engineer senior yang sudah banyak menangani album electronic dan experimental seperti Moderat, Caribou, A Winged Victory for the Sullen sampai Ryuichi Sakamoto. Jadi kami rasa album ini baik didengarkan di semua perangkat, tapi yang pasti tidak speaker laptop. Tapi mungkin dari personal preference, album ini lebih ke album yang baik didengarkan via speaker bukan headphone. Karena dengan karakter sound seperti album ini, ada jarak dari speaker dan telinga pendengar bisa menambah efek lain.

Jika bisa memilih seorang visual maker siapa saja untuk membuat Zaman. Zaman sebagai satu kesatuan sinematik, siapa yang akan kalian pilih? Terrence Malick, David Lynch, dan Roger Deakins. Karya mereka sering kita putar saat tracking dan saat menulis.

Apa impian/target selanjutnya yang ingin dicapai? Bisa membuat album ketiga.

dscf0331-640x960

 

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s