Picture Perfect, An Interview With Gianni Fajri

 

Berawal dari tugas membuat video dan foto promo untuk clothing brand saat mendalami Fashion Business di LaSalle College, Gianni Fajri menyadari jika menyajikan sebuah presentasi visual adalah pelampiasan sempurna bagi kreativitas dalam dirinya, apapun mediumnya. Sempat bekerja di sebuah fashion company, karier profesional gadis kelahiran Bandung yang akrab disapa Ghyan ini di bidang filmmaking dimulai saat ia dipercaya menggarap Behind The Scene dari Filosofi Kopi. Ditambah berbagai project seru lainnya seperti video campaign dan dokumentasi untuk beberapa clothing label maupun company hingga music video untuk Maliq & D’Essentials, Neonomora, dan LCDTRIP, namanya pun mencuat sebagai salah satu director muda dengan resume yang kian hari kian menarik perhatian. Kini, di usia 25 tahun, Gianni dikenal sebagai seorang film director yang memiliki production house sendiri bernama Maji Piktura, creative director dari sebuah creative studio bernama Anara, serta art director untuk PonYourTone. Her upcoming project? Sebuah debut film pendek berjudul Julian Day yang terinspirasi dari album milik band Elephant Kind. 

gianni

Tell me about your background, sejak kapan kamu tertarik pada directing/filmmaking dan apakah kamu mempelajarinya secara akademis atau otodidak?

My background was in a Fashion Industry, I went to LaSalle College majoring Fashion Business and have worked with several fashion company. Filmaking adalah media yang sempurna untuk melampiaskan kreativitasku. Berawal dari tugas kampus yang membutuhkan photo & video untuk promo brand baju, dari situ aku belajar sendiri dari mulai mengambil foto, edit foto sampai ke video. That’s when I started to learn and jump in into the film industry. The right word is otodidak.

Apakah dalam berkarya kamu berusaha memiliki satu ciri khas yang “Gianni banget”? Kalau iya, how would you describe it?

Beauty shoot, neon lights and dynamic shot (ghostly) and there must blue in it.

Siapa saja sosok visual maker yang influential bagimu?

Sofia Copolla, Terrence Malick, Gregg Araki, Nabil (music video director), Chan-wook Park, Wong Kar Wai.

Apa yang biasanya kamu lakukan untuk mencari inspirasi?

Being out of the circle, matiin handphone. Getting lost somewhere and talking with stranger/people randomly. Being sensitive with surroundings.

Sejauh ini, project apa yang paling berkesan bagimu dan kenapa?

Director Behind the Scene, Filosofi Kopi. Punya kesempatan berkarya & belajar di industri film kemudian dibayar pula, hahaha.

Bagaimana kamu melihat peran media sosial bagi kariermu?

Social media nowadays is very important apalagi di industri kreatif. Social media menjadi media promosi yang bisa membantu karya teman-teman sineas & seniman dilihat/didengar lebih luas lagi. Getting inspired and being inspired is what I’ve learnt in social media.

Apa advise terbaik yang pernah kamu dapat soal profesimu?

David Lynch salah satu director yang mempunyai pola pikir spiritual yang sangat menginspirasiku saat melahirkan karya. Ada dua quotes terbaiknya yang selalu kupegang teguh saat mulai berkreasi. Yang pertama: “If you stay true to your ideas, film-making becomes an inside-out, honest kind of process.” Dan yang kedua: “Every viewer is going to get a different thing. That’s the thing about painting, photography, cinema.” Berkarya dengan tujuan, jangan memikirkan yang lain because we’re not a Nutella jar, we cannot make everyone’s happy. So trust your guts, if you don’t feel like you’re doing it, then don’t.

What’s your current obsession?

Writing and walking. 

Benda apa saja yang selalu ada di tasmu?

Books, phone, lipstick, wallet and note book.

What do you love and hate the most about the creative scene in Jakarta right now?

Love: It’s growing! Banyak yang sudah mengapresiasi dan teknologi sudah mendukung. I’m sure it’s getting big kalau kita sama-sama mengapresiasi dan berkarya dengan jujur. Hate: I don’t do hate. But more to critical, kalau karya seni itu butuh proses. Banyak orang yang ingin cepat jadi hanya di layer pertama kemudian membodohi penikmatnya yang membentuk satu benchmark yang tidak jujur dan original.

Tell me about your dream project/collaboration?

Writing my own feature film yang mengangkat sisi humanisme dengan packaging yang sangat fresh.

Apa project selanjutnya yang bisa dibocorkan untuk saat ini?

Preparing my next film, hehehe. Still a secret tho. Well for this year, lagi persiapan buat TV series Viva Barista kedua (it’s a documentary about coffee, lifestyle & travel hosted by 3 boys: Rio Dewanto, Muhammad Aga, dan Roby Navicula) we did it the first time online on Metro TV. Should be exciting!

Gianni’s Watch List:

the-handmaiden-cannes

The Handmaiden

Craziest & exciting plot ever, should watch!

lost-in-translation-2

Lost in Translation

My forever favorite movie, in love with the soundtrack and what they called platonic love.

 knight-of-cups-bale-blanchett

Knight of Cups

Very poetical movie by Terrence Malick, if you feel like you’re in the mood of gloomy, should watch this movie,

viceland-vice-media

Viceland

YouTube channel yang dipimpin oleh Spike Jonze. Content yang sangat menarik untuk generasi millenials tentang social, politic & lifestyle!

death-proof

Death Proof

ITS VERY SATISFYING!

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Picture Perfect, An Interview With Gianni Fajri

  1. uh wow, begitu muncul di feeds wordpress, langsung klik postingan ini! heheu. penasaran dunia kreatifnya mbak-mbak manis yg di instagramnya selalu menuai haters karena hubungannya sama bang Keenan, tapi pas baca postingan ini langsung salut dengan kreativitasnya! 😀 😀

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s