On The Records: SARANA

 

Sebagai sebuah aliran musik yang lahir dari memanfaatkan bebunyian ganjil dan bising yang dianggap polusi suara menjadi estetika tersendiri dengan cara yang imajinatif, noise pada hakikatnya adalah genre yang sukar untuk diapresiasi telinga umum. Niche dan tidak terpaku pakem apapun, noise dan para pengusungnya mungkin tidak akan merajai chart tangga lagu radio mainstream dalam waktu dekat, namun menampiknya begitu saja tanpa berusaha membuka telinga dan pikiran adalah satu hal yang patut disayangkan. Untungnya, Indonesia tidak pernah kehabisan aksi noise yang mumpuni, dan Sarana adalah satu nama yang sedang mengorbit pesat. Datang dari Samarinda, Kalimantan Timur, Sarana terdiri dari Annisa Maharani, Istanara Julia Saputri, dan Sabrina Eka Felisiana yang bertemu saat menjadi panitia Record Store Day East Borneo tahun lalu sebelum memutuskan membentuk unit experimental dark ambient yang namanya diambil dari akronim dua huruf terakhir ketiganya ini. Dengan kejelian mereka meracik bebunyian yang lahir dari efek gitar, kaosilator, monotron spoken words, dan shaker box, tak butuh waktu lama bagi Sarana untuk unjuk gigi sebagai lineup di Veganophone Tour, sebuah gigs noise besutan Mahakam Kolektif dan merilis debut EP bertajuk Heal yang mendapat respons positif tak hanya dari skena lokal tapi juga internasional.

sarana2
Dari Kiri: Annisa Maharani, Istanara Julia Saputri, Sabrina Eka Felisiana. 

Bagaimana awalnya kalian bertemu dan apa yang mendorong kalian untuk bermusik bareng? Dan kenapa memilih genre Noise?

Kami pertama kali bertemu saat terlibat dalam pelaksanaan Record Store Day East Borneo 2015. Kebetulan, pada waktu itu kami jadi panitia bareng. Kedekatan kami pun berlanjut saat Mahakam Kolektif mengadakan Veganophone Tour, sebuah gigs kecil yang mengundang DJ Urine sebagai line up utama. Dari situ, kami bertiga iseng membuat grup noise ini dan ikut menjadi line up di acara Veganophone Tour juga. Alasan kenapa memilih noise, awalnya karena ada influence dari Sabrina, yang emang udah berkecimpung di dunia noise lebih dulu, selain itu noise juga tidak memiliki batasan, batasan dalam arti harus menggunakan alat musik (karena kita bertiga nggak ahli-ahli banget dalam bermain musik hehe) untuk menghasilkan bunyi, jadi dengan noise kita bisa mengeksplorasi lebih luas lagi dan membuat alat-alat experimental sendiri. Selain itu, Noise bagi kami merupakan sarana untuk mengekspresikan perasaan masing-masing dari kami.

Apa saja yang jadi influens musikal untuk kalian? Bebunyian apa aja yang biasanya jadi inspirasi?

Kebanyakan SARANA mendapatkan influence dari musik-musik experimental contohnya seperti suara gitar dari Sonic Youth serta dari beberapa penampilan dari Noise Acts yang lain. Bebunyian yang biasanya menjadi inspirasi kami adalah suara noise yang sebenarnya akrab sekali dengan keseharian kita (contoh: suara orang berbicara, klakson mobil atau kucing yang berkelahi). Nggak hanya bebunyian, kondisi di sekitar kami juga terkadang membuat kami berupaya untuk meng-audiokannya lewat noise yang kami ciptakan.

 

Okay, what are your favourite noises then?

Sabrina: Thurston Moore dan Prurient.

Annisa: Kontroljet, Zulhezan, dan Pedestrian Deposit.
Istanara: Pharmakon dan Pripoy.

 

Bagaimana biasanya proses bikin lagu buat kalian, is there a lot of argument? Instrumen/program apa aja yang paling sering kalian pakai?

Kita kalau take biasanya dibantu teman. Usually, we dont have argument during recording, because we working it together, each of us know what parts we should fill in and if the recording seems a lil bit less, then we discuss what gear or instrument that we need to complete it.

 

Apa cerita di balik single “Anxiety Inhaler”? Betul nggak sih ada suara hantu di dalamnya?

“Anxiety Inhaler” itu berawal dari kebosanan, jadi waktu itu kita iseng coba buat video call bertiga padahal kita semua ada di dalam satu ruangan yang sama. Mungkin karena pengaruh ponsel yang berdekatan jadi audio dari video call kita jadi storing dan delay, akhirnya kita merekam percakapan dan barang-barang sekitar yang menghasilkan bunyi hanya dengan menggunakan handphone aja. Untuk masalah yang suara hantu itu, pertamanya kita juga nggak nyadar sampai ada salah satu teman kita yang notice dan setelah kita dengarkan ulang ternyata emang ada suara selain suara kita bertiga.

 

Apa pengalaman tampil terseru buat kalian sejauh ini?

Pengalaman manggung terseru ya waktu di RRREC FEST IN THE VALLEY 2016 di Tanakita Camping Ground Situ Gunung, Sukabumi karena kita di sana pertama kali tampil di acara besar dan ditonton oleh massa yang lebih banyak. Dan setelah kami main, senang banget ternyata orang-orang pada welcome dengan apa yang kita mainin.

 

Kalian sudah dapat respons yang bagus nggak cuma dari Indonesia tapi juga media luar, how do you feel about it?

We’re so happy to know that people out there listening to SARANA, and even great when we know they like our songs. Kita nggak pernah nyangka bakal banyak mendapat respons yang baik seperti sekarang. Kan kalau dipikir-pikir sebenarnya noise ini tidak memiliki tempat di masyarakat, so we kinda feel pessimistic at times, tapi dengan adanya respons dan dukungan dari mereka kita jadi yakin untuk tetap bermain noise sampai sekarang ini, jadi terima kasih orang-orang yang baik.

 

Boleh ceritakan sedikit soal music scene di Samarinda saat ini menurut kalian?

Menurut kami, scene musik di Samarinda saat ini sedang berkembang. Walaupun tidak sebesar scene yang ada di luar Kalimantan seperti di Jakarta atau Bandung. Era digital sangat membantu sekali untuk membantu musisi-musisi di sini untuk mengeksplor beragam jenis musik yang ada dan mengembangkan ide untuk berkarya.

Kegiatan masing-masing personel di luar Sarana apa saja?

Sabrina kerja sebagai pegawai swasta, Istanara sedang menyelesaikan kuliahnya di semester akhir, Annisa selain menyelesaikan kuliahnya di semester akhir, juga menjadi freelance writer dan media officer salah satu klub bola di Samarinda.

Apa yang kalian lakukan seandainya di dunia ini nggak ada yang namanya social media/internet?

Annisa: Baca buku tiap hari, keliling Indonesia (amin!) dan berusaha untuk bisa olahraga lagi, hahaha.

Istanara: Keliling dunia pakai balon udara.

Sabrina: Kalau nggak ada internet ya tetap hidup kaya biasanya. Kalau untuk memperkenalkan Sarana tanpa intenet mungkin bakal rilis beberapa CD terus kasih ke orang-orang lewat secara random aja.

 

Apa lagi rencana selanjutnya?

Rencananya pas dua tahunnya Sarana nanti mau bikin album, dan semoga tahun depan Sarana diundang ke festival noise di Jepang doain ya hehe.

Terakhir, apa tiga hal favorit kalian dari skena musik di Samarinda saat ini?

Band: Murphy Radio.

Record: Loudness Recs.

Gigs/Event: Titik Berat dan Record Store Day East Borneo.

Foto: Achmad K. Farouk. 

https://saranamusic.bandcamp.com

Advertisements

One thought on “On The Records: SARANA

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s