#30DaysofArt 1/30: Ahdiyat Nur Hartarta

 Preambule: 

Pada edisi November 2016 NYLON Indonesia yang mengangkat tema art, saya menulis profil 30 orang seniman lokal yang berumur di bawah 30 tahun sebagai artikel feature utamanya. Sebuah keputusan yang sebenarnya ada nilai personal bagi saya. Bulan sebelumnya saya menginjak usia 30 tahun, dan walaupun yang namanya mid-life crisis sebenarnya sudah saya rasakan dari 25 tahun, tetap saja ketika angka 3 resmi menempel, ada semacam kecemasan tentang hidup dan apa saja hal yang telah saya jalani. Berangkat dari situ saya pun tergelitik mengangkat angka 30 sebagai tema artikel ini sekaligus berupaya menelisik sedikit bagaimana para seniman ini memandang usia 30 tahun tersebut. Di hari pertama 2017, saya pun memutuskan untuk menaikkan satu profil seniman setiap hari selama 30 hari yang dirangkum dalam tagar #30DaysofArt ini. 

adit

Ahdiyat Nur Hartarta

Biasa dipanggil Adit, visual artist & art director kelahiran Sleman, 2 Maret 1990 ini tumbuh di keluarga seniman. Kakek dan neneknya adalah perupa, sementara sang ibu adalah fashion designer sehingga berkecimpung di dunia seni adalah cita-citanya sejak dini. “Ibu selalu ‘memaksa’ saya untuk selalu menggambar, setiap hari, di mana saja, sejak saya berumur 3 tahun. Namun, ayah lah yang senantiasa mengajari saya menggambar sejak kecil,” ungkap pria lulusan FSRD ITB ini. Dikenal dengan lukisan realis hitam-putih bermedium charcoal di atas kanvas, karya-karya pria yang kini juga berkarier di dunia periklanan di Jakarta ini sarat akan isu cultural, sosial, dan ideologi yang tak jarang disisipi dengan catatan kaki dari riset yang ia lakukan saat berkarya.

echo-from-purdah-3echo-from-purdah-2echo-from-purdah-1

Apa yang mendorongmu berkarya?

Keinginan untuk didengar, mencurahkan kegelisahan, dan keluar dari zona nyaman. Dengan berkarya seni, apapun bentuknya, kita bisa mengekspresikan diri kita seegois dan sebebas mungkin.

Masih ingat karya pertamamu?

Dulu saya ingat ketika SD, karya saya pernah dipamerkan di lorong sekolah bersama karya anak-anak lainnya. Kalau tidak salah karya itu berupa gambar T-rex. Ketika kecil saya pernah sempat tergila-gila dengan Jurassic Park, sehingga hampir seluruh gambar saya bercerita tentang kehidupan dinosaurus.

Bagaimana kamu menemukan medium favoritmu?

Ketika kuliah dulu, salah seorang dosen saya (Tisna Sanjaya) yang juga seorang seniman grafis dan art performer terkesan melihat aliran gambar saya yang ekspresionis. Beliau lalu menghadiahkan saya sebuah charcoal dan sejak saat itu saya banyak berlatih menggunakan medium tersebut hingga akhirnya jatuh hati pada teknik drawing realis yang sulit dan menantang untuk dikerjakan.

Siapa saja seniman yang menjadi inspirasi?

Saya sangat suka karya-karya Mella Jarsma, Jompet Kuswidananto, dan Shirin Neshat. Mereka adalah seniman yang konsisten mengeksplorasi identitas manusia terutama tubuh yang bersinggungan dengan gender, budaya, politik, hingga agama. Gagasan-gagasan mereka sedikit banyak telah mempengaruhi karya saya.

 welcome-to-2

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Karya saya selalu hitam putih dan realis, yang bertujuan membuat audiens lebih spesifik dalam melihat bentuk, merasakan emosi, dan fokus pada gagasan di balik karya yang saya buat.

Apa yang menjadi pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Pencapaian tertinggi saya adalah ketika karya yang saya buat banyak memunculkan interpretasi yang berbeda-beda dan diskusi setelahnya. Jadi tidak hanya berhenti pada apresiasi visual dan teknis, tapi juga pada gagasan di baliknya.

Bagimu, apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Social media is the new digital gallery. Social media merupakan platform yang memudahkan saya terhubung dengan audiens, penikmat seni, sesama seniman, hingga kolektor.

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekelilingmu saat ini?

Sudah kurang lebih hampir 2 tahun saya tinggal di Jakarta. Namun hanya sedikit pameran seni yang saya kunjungi dalam kurun waktu tersebut. Entah mengapa saya lebih suka atsmosfer berkesenian di Yogya ataupun Bandung yang lebih hangat. Suasana pamerannya pun lebih membumi, bersahabat, dan semua orang saling kenal saling sapa. Tak sedikit yang melanjutkan dengan diskusi ringan setelah pembukaan sebuah pameran. Art scene di Jakarta terlalu dingin menurut saya, cuma buat kolektor dan sosialita.

welcome-to-3

Punya talenta rahasia di luar seni?

Saya tukang tidur yang sangat andal, bisa curi-curi tidur kapan saja dan di mana saja, skill yang cocok bagi pekerja kreatif yang selalu diburu waktu dan deadline.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Bioskop atau tempat makan, atau bioskop saja, karena saya suka makan sambil nonton.

Project yang sedang atau akan kamu lakukan selanjutnya?

Saat ini saya sedang rehat dari dunia seni rupa dulu, karena sedang asyik menjajal dunia periklanan. Namun untuk proyek jangka panjang saya sedang merancang pameran yang saya dedikasikan untuk kakek dan nenek saya. Semoga dalam waktu 1 hingga 2 tahun lagi keinginan saya tersebut dapat terwujud.

Target sebelum usia 30?

Pameran tunggal!

welcome-to-1

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s