#30DaysofArt 8/30: Kara Andarini

Sebagai seorang visual artist dan ilustrator, Kara Andarini percaya jika ada hal baru yang dapat dipelajari/dikembangkan di setiap karya yang dibuat, bahkan dari sebuah kesalahan sekalipun. “Ayah suka menggambar, dan dari kecil saya senang melihat cara beliau menarik garis… Itu salah satu pengalaman visual di masa kecil yang masih teringat sampai sekarang, hehe,” ucap wanita kelahiran Jakarta, 10 Februari 1989 ini. Saat masuk jurusan Seni Grafis di ITB, ketertarikannya pada garis diperkuat oleh eksplorasinya saat menggambar sketsa dengan ballpoint. Dari mulai memainkan tekanan dan tebal-tipis garis arsiran, mencoba tekstur yang berbeda di setiap jenis kertas, hingga hal tak disengaja seperti tinta yang bocor, semua hal tersebut yang kemudian mempengaruhi permainan komposisi garis yang padat dan arsiran bertekstur dari ballpoint dalam karya-karya penuh detail miliknya yang juga banyak terinfluens oleh minatnya pada arsitektur dan peta.

foto-profile

Hai Kara, boleh cerita sedikit soal masa kecilmu dan bagaimana hal itu memengaruhi karyamu saat ini?

Saya lahir dan tinggal di Jakarta, dibesarkan oleh orang tua yang senang berpetualang ke daerah Puncak. Waktu kecil hampir setiap weekend saya dan keluarga pergi ke Puncak untuk menikmati kebun teh dan jagung bakar. Kadang kami jalan-jalan menelusuri hutan pinus. Sepertinya pengalaman berjalan-jalan, jalan kaki, dan memperhatikan suasana lingkungan sekitar mempengaruhi metode berkarya saat ini.

Apa yang mendorongmu berkarya?

Menggambar seperti bercerita atas apa yang saya amati di keseharian. Setiap berkarya ada rasa penasaran yang selalu muncul terhadap apa yang saya buat dan amati, entah itu mengenai teknis atau bentuk visual akhir.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Karya saya biasanya banyak bermain dengan komposisi garis yang padat dan arsiran bertekstur dari ballpoint.

dscf0229

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium favoritmu?

Waktu kuliah Seni Rupa di Bandung, di tingkat 2 saya masuk jurusan Seni Grafis. Proses berkarya selalu dihadapkan dengan membuat sketsa menggunakan medium sederhana seperti kertas dengan pensil/pena/cat air, kemudian gambar sketsa dipindahkan di atas plat cetak. Dari proses sketsa tersebut saya menikmati eksplorasi dengan ballpoint, memainkan tebal tipis garis dan mengarsir, apalagi ketika tinta ballpoint bocor dan beleber… Saya malah senang melihatnya. Ketika mengarsir saya seringkali amazed bagaimana hasil arsiran dapat menimbulkan efek tekstur berbeda-beda di setiap jenis kertas.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Shantell Martin, Agus Suwage, Aytjoe Christine, Egon Schiele, Lebbeus Woods, Chiharu Shiota, Louise Despont.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Pameran drawing “How to Draw” di YPK Naripan Bandung tahun 2008, karya di pameran tersebut menggunakan pensil di atas kertas A3. Senang sekali waktu itu untuk pertama kalinya bisa lolos kurasi pameran bersama dengan mahasiswa seni lainnya.

fragmen-1-dialog

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Pengalaman residensi di Bandung tahun 2015 di Selasar Sunaryo Art Space selama 3 bulan. Bisa bertemu dan belajar dengan seniman lain dan praktisi seni lainnya seperti Pak Sunaryo dan Hendro Wiyanto.

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Cukup merasa beruntung karena banyak akses untuk men-share karya kita ke jaringan yang lebih luas dan dapat menyerap informasi banyak hal, dari informasi seni sampai hal-hal yang nggak penting tapi menghibur, hehe.

Bagaimana kamu melihat skena seni di kotamu?

Sangat berkembang dan masyarakat mulai aware dengan pameran seni dan desain, walaupun mungkin hanya datang untuk sekadar update di social media hehe, tapi nggak apa-apa juga, saya yakin ini bentuk awal dari bagaimana seni akan semakin diterima lagi oleh masyarakat luas.

 versus

What’s your current obsession?

Gas mask.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Di rumah, streaming TV series atau Youtube.

Project saat ini?

Lagi mempersiapkan karya untuk pameran di Surabaya dan Jogja.

Target sebelum usia 30?

Travelling ke luar Indonesia tanpa itinerary.

therraporum-03

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s