#30DaysofArt 9/30: Kathrin Honesta

Menurut gadis kelahiran Medan 25 Desember 1993 ini, nuansa dreamy, calming, whimsical, dan terkadang mempunyai kesan dark pada karyanya berakar dari hobinya membaca dan mengarang komik sejak kecil. Meskipun berasal dari keluarga pebisnis, minatnya pada seni yang turut didukung oleh orangtua mendorongnya kuliah graphic design & advertising di The One Academy, Kuala Lumpur dan sempat bekerja di Leo Burnett KL sebelum akhirnya kembali ke Jakarta dan menjadi freelance illustrator dengan beragam project, mulai dari advertising campaign, branding, buku cerita anak, cover buku, maupun aktif di pameran yang salah satunya adalah Unknown Asia Art Exchange 2016 di Osaka, Jepang bersama 6 seniman muda Indonesia lainnya. Kathrin percaya jika seni seharusnya tidak hanya sedap dipandang tapi juga harus memiliki makna. “Saya percaya tentang seni yang mempunyai purpose di baliknya. Bisa saja purpose itu adalah untuk seseorang secara pribadi, suatu cause secara spesifik ataupun masyarakat,” tegasnya.

profile_image

Bagaimana masa kecilmu memengaruhi karyamu saat ini?

Saya aslinya dari Medan, besar di situ, tapi pada saat kelas 6 SD, saya sekeluarga pindah ke Jakarta karena tuntutan pekerjaan papa. Jadi saya sudah di Jakarta selama hampir 10 tahun. Dari kecil, secara natural saya sudah tertarik dengan dunia ilustrasi. Awalnya itu bermula dari buku cerita dan komik yang dibelikan mama. Setelah baca komik, saya suka banget ngarang cerita dan gambar komik versi saya sendiri. Sejak kecil, saya anaknya rumahan banget dan agak pendiam dan mainan saya dulu hanya kertas dan pensil. Kalau sudah ada dua itu, saya bisa duduk berjam-jam hanya untuk menggambar saja. Dan dari situ, saya sudah punya tekad untuk mau menjadi desainer atau bekerja apapun yang berhubungan dengan dunia seni ketika sudah besar nanti.

Siapa yang pertama kali memperkenalkanmu pada seni?

Setelah dipikir-pikir, uniknya, tidak ada satupun di keluarga saya yang bekerja di bidang yang ada hubungannya dengan seni. Kebanyakan dari mereka itu adalah para wirausaha dan pebisnis. Jadi sebetulnya tidak ada yang mengarahkan saya secara khusus untuk tertarik pada seni, itu terjadi secara natural saja.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Yang mendorong saya untuk berkarya itu mungkin karena passion dan ketertarikan saya di bidang seni itu sendiri. Melihat banyak ilustrator/seniman hebat yang karyanya saya kagumi banget juga bisa menjadi inspirasi yang mendorong saya untuk terus berkembang dan berkarya. Saya juga beruntung punya orangtua yang selalu mendukung saya di bidang seni ini, jadi itu juga menjadi mental support yang penting buat saya.

drowning-in-thoughts_coral

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Style dan medium saya berkembang secara gradual lewat eksplorasi dan project yang saya kerjakan. Sampai sekarang, saya masih terbuka untuk perkembangan style dan medium. Meskipun medium yang paling sering saya pakai itu digital, tapi saya ingin lebih mengeksplor medium-medium tradisional juga di kesempatan mendatang.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Karya pertama saya yang menjadi permulaan dari style ilustrasi saya adalah project terakhir saya pada saat kuliah, berupa sebuah buku portfolio berjudul The Undaunted Dandelion. Saya membuat cerita ilustrasi pendek tentang seorang gadis bernama Dandelion yang sedang dalam perjalanan untuk mencapai mimpinya. Dalam langkah awalnya, dia dipenuhi dengan keraguan dan ketakutan sebelum akhirnya dia mempunyai keberanian untuk meneruskan perjalanannya. Sebenarnya cerita itu mewakili apa yang saya rasakan pada saat itu, sebelum benar-benar lulus kuliah dan menghadapi the real world of creative industry.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Edward Gorey, Maurice Sendak, Isabelle Arsenault, Lisk Feng, Carson Ellis, dan masih banyak lagi!

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Personal breakthrough yang paling berkesan adalah suatu Christmas project yang secara inisiatif saya kerjakan dengan teman saya, Kay Jen Ong, seorang penulis. Project itu berupa buku cerita berjudul The Shadow & The Star. Buku ini bercerita tentang bagaimana seorang gadis berhadapan dengan loneliness-nya. Kami mengangkat tema loneliness karena kami sadar kalau terkadang di saat-saat festive seperti hari Natal ini lah, di mana rasa kesepian terasa lebih kuat. Project ini berkesan karena respons dari orang yang membaca cerita ini, di mana mereka sharing kalau mereka bisa relate dengan gadis di cerita itu dan berujung di mana mereka juga menceritakan kisah mereka sendiri. Banyak orang juga menceritakan interpretasi mereka yang berbeda-beda tentang cerita ini dan menurut saya hal seperti itu adalah hal yang sangat menarik.

princessthegoblin 

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Saya sangat beruntung untuk bisa menjadi seorang seniman di era sosial sekarang. Kita bisa berelasi langsung dengan klien ataupun kustomer kita secara langsung hanya dengan comment di Instagram, atau email. Era ini juga memungkinkan saya untuk menjadi seorang freelancer, karena untuk mengerjakan suatu project, saya tidak perlu berada di lokasi yang sama dengan client. Saya bisa mengerjakan project luar negeri dari Jakarta dan bisa meeting via Skype. Hal-hal seperti ini pastinya belum available di jaman dulu dan yang pasti menjadi seorang freelance illustrator tidak pernah dimudahkan seperti sekarang ini.

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekelilingmu saat ini?

Saya merasa art scene di Jakarta sebagai komunitas yang sangat variatif dan inspiratif. Komunitas yang selalu berkembang, unik, ramah, dan juga sangat terbuka untuk hal hal baru. Banyak sekali para seniman yang sangat berbakat dan saling mendukung satu sama lain.

 

Current obsession?

Apapun yang berbau vintage! Tapi sering sekali yang authentic vintage pasti mahal harganya. Jadi sebisa mungkin, kalau mengunjungi suatu tempat, saya sempatkan ke vintage market atau toko second-hand dan biasanya hunting barang yang lebih affordable; seperti buku-buku vintage, bros, pin jadul, dan pernak-pernik lain.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Weekend adalah saatnya saya hang out bareng teman setelah kerja sepanjang minggu. Saya suka nongkrong dan mencoba café baru di Jakarta (karena hampir setiap saat ada yang baru) atau kadang mungkin di rumah saja baca buku, spending time with family.

Project saat ini?

Buku cerita anak dan spot illustrations untuk suatu novel. Untuk selanjutnya, saya berencana membuat project insiatif lain berupa buku cerita. Setelah mengerjakan commisioned works, saya ingin lebih bisa fokus ke project ini.

Target sebelum usia 30?

Sebelum 30, saya harap saya sudah bisa menjadi seorang internationally established illustrator. Saya harap sebelum itu, saya sudah bisa menerbitkan sebuah illustrative story book yang saya tulis & gambar sendiri. Dan yang paling utama, supaya saya tidak berhenti untuk membuat good art with purpose and art which people could relate to.

Print

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s