#30Days0fArt 12/30: Maharani Mancanagara

Lahir di Padang dengan campuran budaya Jawa Timur dan Sumatera Barat dari orangtuanya, semasa kecilnya seniman kelahiran 28 September 1990 yang akrab disapa Rani ini terbiasa mendengar cerita perjalanan ayahnya yang merupakan seorang peneliti ke berbagai daerah terpencil di Indonesia. Ditambah cerita tentang asal-usul keluarga dan generasi sebelumnya, ketertarikan alumni FSRD ITB ini pada identitas diri dan sejarah pun diwujudkan dalam bentuk karya seni yang menggabungkan potret-potret lama, kolase, dan ilustrasi charcoal dengan medium kayu dan kinetic. “Semasa kuliah, saya senang sekali mengumpulkan barang-barang aneh yang sudah tidak terpakai dan kemudian mencari tahu asal-usulnya. Berawal dari situ lah, gagasan mengenai hal-hal yang terjadi di masa lampau mulai menjadi bahasan di dalam karya dengan cara merekonstruksinya,” jelas gadis yang kini berkarya dan menetap di Bandung tersebut.

foto-diri-maharani-mancanagara-3

Kapan dan siapa yang pertama kali membuatmu tertarik pada seni?

Perkenalan saya dengan seni berawal dari hobi beberapa sanak keluarga, melihat lukisan-lukisan yang dibuat almarhum Pakde saya, mendengar Pakde saya yang lain bermusik dengan kawan-kawannya dan sering diajak keluarga untuk berkelana mencari objek foto. Pembiasaan tersebut yang membuat saya akrab dengan dunia visual dan mulai mencoba menggambar secara otodidak. Kemudian ketika sekolah menengah atas, secara impulsif ibu saya membawa formulir salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung, dengan modal penasaran, saya memilih jurusan seni rupa di perguruan tinggi negeri tersebut tanpa mengetahui seluk-beluk jurusan tersebut. Keingintahuan saya berjalan ketika saya memulai studi di perguruan tersebut.

Apa yang mendorongmu untuk berkarya?

Adiksi dari berkarya itu sendiri! Berawal dari keingintahuan dan kegelisahan personal, dilanjutkan dengan kepuasan dalam proses dan hasil berkarya itu sendiri. Sangat menarik!

Apa idealismemu dalam berkarya?

Study the past if you would define the future” – Confucius. Bagi saya, suatu penemuan di masa depan tidak lepas dari perjalanannya di masa lalu, maka jika tidak tahu asal-usulnya, bagaimana bisa menemukan itu di masa depan?

artwork-1398928019

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium favoritmu?

Ketika kuliah, terlontar percakapan dengan seorang dosen di studio mengenai identitas diri, berangkat dari hal tersebut, saya mulai menelusuri darimanakah saya berasal, apa yang membentuk karakter saya dari dahulu hingga kini dan lain sebagainya hingga penelusuran tersebut bertemulah saya dengan tumpukan buku harian seorang yang belum pernah saya kenal dan temui langsung, kakek saya. Melalui buku harian tersebut, membuka pandangan saya terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lalu melalui sudut pandang seorang biasa yang jujur apa adanya. Timbul pertanyaan-pertanyaan yang meluas dalam diri saya mengenai sejarah yang saya tahu melalui bangku sekolah.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Leonid Sokov dan Christian Boltanski!

Masih ingat ekshibisi pertamamu?

Ekshibisi pertama saya ketika baru menginjak studio di jurusan Seni Grafis di tahun 2009. Berawal dari lontaran dosen di studio, Tisna Sanjaya, untuk kami mahasiswa baru di studio, memperkenalkan diri kepada publik seni rupa di kampus. Belajar bagaimana membuat karya, mengelola pameran, dan mempertanggungjawabkannya kepada publik sekaligus. Berawal dari ekshibisi itu lah yang membangun kebiasaan untuk berkarya juga mengelola pameran secara mandiri.

artwork-1398928023

Apa yang menjadi pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Masuk artikel Nylon 30 under 30 Indonesian artist HAHAHA!

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Rasanya ya gitu aja sih. Era social media cukup membantu untuk mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Saya bisa melihat pameran di MoMa atau di Fukuoka tanpa harus datang ke sana (ya meskipun tetap lebih enak melihat karya langsung daripada di layar smartphone).

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekelilingmu saat ini?

Bandung katanya disebut sebagai kota dengan industri kreatif yang mumpuni dengan perkembangan merata ada di bidang kesenian, desain, film, gastronomi, sastra, media, dan seni musik. Saya kurang tahu persis kenapa, mungkin karena kreativitas orang-orang di dalamnya mampu menggerakkan sektor ekonomi kota ini, sehingga sentra industri kreatifnya menjadi daya tarik orang banyak untuk mengunjungi kota ini.

Mungkin, berangkat dari hal tersebut, ruang berekspresi menjadi tanpa batas, para pekerja kreatif di dalamnya pun bebas melakukan eksperimen untuk bisa menghasilkan sesuatu yang berbeda dari yang lainnya. Begitu pula di dalam seni rupanya, menurut saya, medan seni di Bandung banyak menampung profesi yang dilahirkan dari beberapa akademisi berbasis seni rupa, namun dengan perkembangan merata pada sektor kreatifnya, setiap individu pun memiliki karakter yang terpaut satu dengan yang lain.

artwork-1398927400

Current obsession?

Kain dan tenun!

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Biasanya di studio tempat saya berkarya, atau di Wot Batu.

Project saat ini?

Sehari-hari saya menyibukkan diri berkarya di studio, saat ini sedang dalam persiapan pameran tunggal saya. Selain itu saya juga membantu mengelola Wot Batu (sebuah public art space di daerah Bandung Utara), terkadang juga menjadi asisten seniman Sunaryo untuk beberapa proyek seni yang sedang dijalani.

 

Target sebelum usia 30?

Punya studio dan kitchen kaya seniman Olafur Eliasson (Soe Kitchen)!

artwork-1461824326

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s